MasukTanpa mengindahkan pandangan sinis Bu Suminar dan Tasya yang terus mengomel di lorong rumah sakit, Arunika melangkah gontai menuju bagian administrasi. Kedua tangannya gemetar hebat saat merogoh isi tas dan dompetnya.
Rasa cemas kembali mencengkeram dadanya. Setelah dihitung berulang kali, sisa uang tabungannya sama sekali tidak cukup untuk melunasi biaya tindakan darurat Bintang. Minta kepada ibu mertuanya? Jelas mustahil, wanita itu hanya akan melontarkan caci maki. Minta kepada Gantara? Untuk diajak bicara saja panggilan teleponnya langsung diputus sepihak. Dengan bibir yang makin pucat, Arunika melepas cincin emas polos seberat dua gram dari jari manisnya. Ia menyodorkannya ke hadapan petugas resepsionis dengan mata berkaca-kaca. "Mbak... uang saya tidak cukup," ucap Arunika lirih, menahan rasa malu yang membakar dadanya. "Boleh saya jadikan cincin nikah ini sebagai jaminan dulu? Besok pagi setelah saya cari pinjaman, saya janji akan melunasinya..." Petugas resepsionis itu tersenyum hangat, lalu menggeser kembali cincin emas tersebut ke arah Arunika. "Ibu tidak perlu menjaminkan apa pun. Semua biaya perawatan dan pengobatan Baby Bintang sudah dilunasi seluruhnya, Bu." Arunika membeku, matanya membelalak tak percaya. "G--dilunasi? Siapa yang melunasinya, Mbak? Ibu mertua saya?" Petugas itu menggeleng pelan. "Bukan, Bu. Yang melunasi seorang pria berjas rapi. Beliau tidak menyebutkan nama, hanya berpesan bahwa beliau adalah kerabat yang kebetulan melintas dan prihatin dengan kondisi Baby Bintang." Dada Arunika berdesir hebat. Pikirannya melayang pada pria jangkung berjas gelap dengan mata hazel yang menolongnya di depan lift tadi. Mungkinkah pria itu? Tapi mengapa seorang asing mau membantunya? Rasanya tak mungkin, ada begitu banyak pria berjas di luar sana. Mungkinkah Mas Gantara? Arunika meringis kecut. Jika itu Gantara, suaminya pasti tidak akan melepas kesempatan untuk mengomeli dan menyalahkannya terlebih dahulu. *** Malam baru saja merambat turun ketika Arunika tiba di rumah bersama Bintang yang terlelap dalam gendongannya. Namun, belum sempat Arunika mengistirahatkan tubuhnya yang letih di kamar, suara deru mesin mobil mewah berhenti tepat di halaman depan. Suara heboh Bu Suminar dan Tasya langsung terdengar dari arah teras, bersahut-sahutan seperti menyambut seorang raja. "Aduh, Mas Gantara datang naik mobil bagus banget, Ma!" seru Tasya histeris. "Ayo, cepat keluar! Itu pasti tamu agung yang dibilang Gantara!" timpal Bu Suminar seraya berlari kecil melewati Arunika tanpa memedulikan keberadaan cucunya yang baru saja pulang dari UGD. Arunika mengeratkan pelukannya pada Bintang. Ada firasat buruk yang mendadak melingkupi dadanya. Ia melangkah perlahan menuju pintu depan, menyaksikan Gantara turun dari kursi pengemudi. Pria itu mengitari kap mobil, lalu membukakan pintu penumpang di sampingnya dengan gerakan yang begitu manis dan perhatian. Seorang wanita muda berparas cantik dengan pakaian merek ternama keluar dari mobil tersebut. Jemari lentiknya langsung menggelayut manja di lengan Gantara. "Aduh, ya ampun! Ini dia menantu idaman Mama!" Bu Suminar langsung menyongsong wanita itu dengan senyum selebar-lebarnya. "Cantik, modis, dan kelihatan banget dari keluarga terpandang! Beda jauh sama yang di dalam rumah, kusam dan cuma bisa bikin repot!" "Iya nih, Ma! Bajunya pasti mahal banget," jilat Tasya tak mau kalah. "Cocok banget sanding sama Mas Gantara!" Wanita itu terkekeh manja, mengibaskan rambut mewahnya seraya melangkah masuk ke dalam rumah bersama Gantara, mengabaikan Arunika yang berdiri mematung di dekat lorong. Tubuh Arunika membeku. Rasa sakit karena keputusasaan di rumah sakit tadi belum juga sirna, kini hatinya kembali ditusuk belati yang tak kasatmata. "Mas... dia siapa?" tanya Arunika berusaha menahan getaran di suaranya. Gantara merapatkan posisinya dengan wanita di sampingnya tanpa ada raut canggung sedikit pun. "Ini Steffi. Dia bos baru aku di kantor." "Bos?" ulang Arunika, menatap suaminya tak percaya. "Apa pantas seorang bos bersikap seperti ini pada bawahannya yang sudah beristri?" "Halah! Emangnya kenapa?!" bentak Bu Suminar cepat, berdiri pasang badan membela Steffi. "Steffi mau bersikap gimana aja ya bebas! Dia ini membawa keberuntungan buat keluarga kami, bukan kayak kamu yang cuma bisa habisin uang dan bawa sial!" "Betul tuh, Ma!" timpal Tasya sinis. "Udah numpang hidup, nggak bisa ngasilin uang, anaknya menyusahkan, sekarang mau sok ngatur-ngatur lagi!" Gantara berdeham keras, memotong sahut-sahutan ibu dan adiknya. Pria itu menatap Arunika dengan tatapan dingin yang tak tersisa sedikit pun rasa kasih sayang. "Nika, nggak usah banyak bicara lagi," ucap Gantara datar. "Kehadiran Steffi di sini bukan cuma sekadar tamu." Arunika menatap lurus mata suaminya. "Maksud kamu apa, Mas?" Gantara menarik napas pendek, lalu berucap tanpa ragu, "Aku sudah lelah dengan pernikahan ini. Hari ini, di depan Mama, Tasya, dan Steffi... aku jatuhi kamu talak." Talak. Satu kata itu bergema keras menembus kesadaran Arunika. Gantara menyilangkan tangan di dada, menyunggingkan senyum tipis yang meremehkan. "Malam ini juga, angkat kaki dari rumahku. Bawa anakmu yang menyusahkan itu keluar dari sini." Arunika menatap tiga orang di hadapannya satu per satu dengan pandangan tajam yang menghujam. Rasa sakitnya sudah melampaui batas hingga berubah menjadi dingin dan kebas. "Baik," sahut Arunika dengan suara pelan, bernada dingin, namun bergetar penuh ketegasan yang tak pernah mereka lihat sebelumnya. "Ingat kata-kataku ini, Gantara... Setelah hari ini, aku tak akan pernah kembali."Kabin mobil sedan mewah yang terparkir di bahu jalan yang agak lengang itu mendadak menghening. Hawa dingin dari pendingin udara menusuk permukaan kulit Arunika yang tipis, membelai pipinya yang masih menyisa jejak keputusasaan setelah seharian terlunta-lunta di jalanan kota.Bisingnya arus lalu lintas di luar sana seolah teredam sempurna oleh dinding-dinding mobil yang terisolasi tebal, menyisakan deru napas halus Bintang yang tertidur lelap dalam dekapan kain gendongannya.Di balik kemudi, Altair menyandarkan punggungnya yang tegap. Tatapan mata hazel pria itu begitu dalam, tajam, dan penuh kehati-hatian, mencoba menguliti setiap riak emosi di raut wajah wanita sederhana yang duduk di sebelah kursinya. Pria itu tampak begitu sabar, namun aura kepemimpinan dan dominasi yang terpancar darinya membuat udara di dalam kendaraan itu terasa kian menghimpit."Sebutkan syaratmu," ucap Altair datar, memutus keheningan panjang.Suaranya rendah dan sarat ketegasan, tidak menyisakan ruang untuk
Langkah kaki Arunika terasa kian berat menyusuri trotoar kota yang mulai berdebu. Bayangan harapan yang pagi tadi membakar dadanya kini telah padam, berganti menjadi keputusasaan yang melumpuhkan.Niatnya untuk kembali bekerja di kantor lamanya berujung pada penolakan mentah-mentah. Alasannya hanya satu karena Arunika membawa Bintang ke tempat kerja. Manajemen kantor tidak mengizinkan karyawan membawa bayi ke area kerja karena dianggap mengganggu konsentrasi dan profesionalisme.Namun, Arunika tidak punya pilihan lain. Trauma akibat kecerobohan mantan ibu mertuanya membuat Arunika berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah menitipkan Bintang kepada siapa pun lagi.Seharian penuh Arunika berjalan dari satu toko, warung, hingga perkantoran kecil di pinggiran kota untuk melamar pekerjaan apa saja. Dari menjadi pencuci piring, kasir, hingga pelayan toko, semuanya memberikan jawaban menolak yang sama. Tidak ada tempat kerja yang mau menerima karyawan yang membawa anak bayi dalam
Pintu mobil sedan mewah itu tertutup dengan bunyi berat yang berwibawa. Altair Dirgantara melangkah keluar, merapikan jas gelap yang melingkupi tubuh tegapnya, lalu berjalan menembus keheningan pilar-pilar tinggi kediamannya. Suasana rumah berarsitektur modern itu nampak tenang seperti biasa, tenang yang selalu terasa terlalu rapi dan tertata. Langkah kaki Altair membawanya naik menuju kamar utama di lantai dua. Begitu ia mendorong pintu kayu mahoni itu perlahan, pemandangan di dalam kamar langsung menyambutnya. Di sana, di tepi ranjang berukuran king size, Alice sudah menunggu. Istrinya itu mengenakan lingerie sutra berwarna marun yang kontras, membuat kulit putih bersihnya nampak begitu menyala di bawah pendar lampu kamar yang hangat. Senyum manis nan lembut mengembang di bibir Alice, menggoda tanpa perlu banyak kata. Altair menelan salivanya perlahan. Bohong besar jika ia bilang tubuhnya tidak bereaksi. Ia pria normal, dan wanita di hadapannya adalah istri sah yang amat ia cint
Suara derit pintu kamar yang tua terdengar samar di tengah keheningan malam yang makin mencekik. Arunika melangkah masuk ke dalam kamar sempitnya, membaringkan Bintang yang tertidur lelap dengan sangat perlahan di tengah tempat tidur. Tubuh kecil itu masih terasa agak hangat, namun napasnya sudah jauh lebih teratur dibanding saat berada di UGD tadi. Arunika menarik napas panjang, mencoba menetralkan gemuruh di dadanya. Setelah kalimat talak yang diucapkan Gantara secara dingin di depan ibu dan adiknya tadi, tak ada lagi alasan bagi Arunika untuk menumpahkan air mata. Duka dan pengkhianatan yang bertubi-tubi dihantamkan padanya telah membekukan rasa sakit itu menjadi tekad yang keras. Dari sudut atas lemari, Arunika menarik sebuah koper kusam berdebu dan tas kain berukuran besar. Ia membukanya lebar-lebar di atas lantai. Jemari Arunika mulai merogoh lemari pakaian. Namun, alih-alih membereskan baju-bajunya sendiri, sembilan puluh persen ruang koper itu justru diisinya dengan perlen
Tanpa mengindahkan pandangan sinis Bu Suminar dan Tasya yang terus mengomel di lorong rumah sakit, Arunika melangkah gontai menuju bagian administrasi. Kedua tangannya gemetar hebat saat merogoh isi tas dan dompetnya.Rasa cemas kembali mencengkeram dadanya. Setelah dihitung berulang kali, sisa uang tabungannya sama sekali tidak cukup untuk melunasi biaya tindakan darurat Bintang.Minta kepada ibu mertuanya? Jelas mustahil, wanita itu hanya akan melontarkan caci maki. Minta kepada Gantara? Untuk diajak bicara saja panggilan teleponnya langsung diputus sepihak.Dengan bibir yang makin pucat, Arunika melepas cincin emas polos seberat dua gram dari jari manisnya. Ia menyodorkannya ke hadapan petugas resepsionis dengan mata berkaca-kaca."Mbak... uang saya tidak cukup," ucap Arunika lirih, menahan rasa malu yang membakar dadanya."Boleh saya jadikan cincin nikah ini sebagai jaminan dulu? Besok pagi setelah saya cari pinjaman, saya janji akan melunasinya..."Petugas resepsionis itu terseny
Dada Arunika berombak hebat saat melangkah setengah berlari menelusuri lorong rumah sakit yang dingin. Deretan lampu neon membias kaku di lantai keramik, memantulkan bayangan tubuhnya yang gemetar. Air mata tak berhenti menetes membasahi pipinya yang pucat.Di dalam pelukannya, Bintang.... bayinya yang baru berusia satu bulan menangis melengking dengan napas yang megap-megap. Tubuh kecil itu terasa begitu panas membakar, kejang tipis berkali-kali melanda jemari mungilnya."Sabar ya, Nak... Sedikit lagi kita sampai," bisik Arunika dengan suara bergetar serak.Pikirannya kalut luar biasa. Semua ini terjadi karena kelalaian Bu Suminar, ibu mertuanya. Hanya karena Bintang terus menangis saat ditinggal bekerja sebentar, wanita itu dengan gampangnya menyuapi sang bayi dengan susu formula kental dan sedikit pisang lumat, padahal pencernaan bayi satu bulan belum siap sama sekali. Bintang mendadak demam tinggi hingga melilit parah.Jemari Arunika yang bebas merogoh saku celana, mencoba menghub







