LOGINKamila, seorang Make Up Artist berdedikasi, dipecat setelah difitnah oleh Maleta, saingan liciknya. Kehilangan pekerjaannya, Kamila menemukan harapan baru di TLM Entertainment, agensi idol paling bergengsi. Namun, posisinya tergantung pada satu orangâKaelen, idol ternama sekaligus pemilik perusahaan yang menyimpan dendam karena pernah diputuskan Kamila di masa SMK. Dengan senyum sinis dan hati yang penuh luka, Kaelen menyambutnya dengan ejekan tajam, "Ingin melamar pekerjaan, atau melamarku?" Bisakah Kamila mengatasi masa lalunya dan membuktikan keahliannya, atau akan terjebak di antara cinta lama dan ambisi barunya?
View MoreKARI'S POV
I was to be married today.But the silk of my bridal dress felt less like a garment and more like a shroud.
As I stood before the altar in the temple of the goddess of love, I couldn't shake off the heavy weight pressing down on my shoulders.
My breath hitched against the rigid constraints of my corset as I cast a slightly nervous look around. Today, I was to become Luna of the Wilder Pack.
Today, the years of my quiet devotion to my bethroted, Titan,would finally bear fruit.
âYou look breathtaking, dear,â my sister Bianca whispered, though her smile didn't quite reach her eyes. âEveryone's thinking that, I bet he'll thinks so too.â
I swallowed hard, nodding. âI just feel as though I am walking toward a cliff's edge,â I admitted, smoothing the lace at my wrists.
âDo you think he is ready? Our bond... it has been quiet this morning. Surely that isn't normal? Perhaps he's as nervous as IâŚâ
âTitan is an Alpha, sister,â Bianca interrupted gently.
âHis mind is burdened by the weight of his pack,â my sister added, though her hand trembled as she adjusted the purple veil over my face.
âStay,â I whispered to her, unable to hold back any longer.
âWhere are you going?â
âTo stretch my legs a bit,â I answered briskly, already walking away.
The air was thick with the scent of damp stone and light perfume as I took the stairs, until I was staring down at the large expanse of the temple.
I knew there were five hundred guests here, High Alphas, Betas, and their kin, two-hundred and fifty from each side. And they all seemed to be getting along already, in preparation of the alliance that would be formed between our packs after my marriage to Titan.
âLook at her face,â I heard someone murmured behind me. âShe hasn't a clue.â
My ears twitched and strained as I leaned a bit backwards.
âPoor thing,â another voice hissed. âTo be discarded so publicly.â
My heart hammered against my ribs like a trapped bird. Discarded publicly? By who?
Where was Tifan?
I shot a panicked look at the altar, but it stood empty.
With a tight chest, I made my way back to the main temple.
I'd just turned towards Bianca's direction when the heavy oak doors at the rear of the cathedral swung open with a violence that echoed off the walls and ceiling.
Titan strode in.
My heart dropped.
Not because he was not dressed in his wedding clothes that were supposed to match mine, but because of the look on his face.
His expression was made even scarier by the way his cape was billowing behind him as he stomped closer and closerâŚ
âTitan?â I breathed as he stopped beforee me. I reached for his hand, my fingers trembling. âMy love, you are late. I was starting to fearâŚâ
He pulled his hand away as if my touch had scalded him. His eyes, usually a piercing brown, were flat and cold as funeral coins.
âCease your prattling, Kari,â he growled, his voice carrying to every corner of the silent hall.
âMilord?â I faltered, my face already starting to burn with embarrassment. âThe ceremony... the guests are already waiting.â
âThere shall be no ceremonyâŚfor you,â Titan stated. He turned his back to me, facing the assembly as he raised his voice.
âI have realized that a True Alpha requires a mate of equal fire. One who does not merely occupy a throne, but commands it.â
The side door opened and my other sister, Indira stepped out. She was draped in crimson silk, her dark hair falling over her shoulders like a waterfall of ink.
Our eyes met as she glided to my Titan's side, and he, the man who had not touched my hand in months, wrapped a possessive arm around her waist.
My whole world tilted upside down, I felt a rush of dizziness. My throat felt tight and dry, and my eyes started to burn.
âTitan, what is this madness?â I cried, my voice cracking.
âIs this a joke? I don't find it particularly hilarious.â
He scoffed, âwhat a fool you are, Kari. Thinking I could ever chose a lukewarm mouse over a fiery goddess,â he glanced lovingly at Indira at the last part.
Pain exploded in my chest.
Perhaps it was young naivety but I had wholeheartedly believed that he loved me, and wanted me the way I wanted him.
âYou can't mean this,â I murmured in stock, shaking my head repeatedly. âI do not believe it.â
âYou better believe it,â Indira sneered condescendingly.
âThis isn't happening.â
âBut it is,â Titan replied. âHonestly, I don't think anyone here is surprised at my decision.â
He gave a nonchalant shrug, âI admit, this might be a little inconvenient in timing but Kari,â he sighed, âyou're every great alpha's nightmare when it comes to marriage. You're far too weak, emotional, talkative, naiveâŚâ
âYou said you love me,â I murmured, taking in the stunned faces of the ton. âYou told me you wanted me!â
He scoffed, âwell obviously I lied,â he looked around, âIf anyone here has never told a lie before, let him or her raise their hand!â
There was a brief wave of murmurs but no hand went up, Titan turned towards me again, a gloating smile on his face, âsee?â
âI gave up my birthright for you! My packâŚI am your bonded mate!â
âA bond of convenience,â Titan sneered,staring deep into my eyes. The hatred in his gaze was like a physical blow. âIâve had the bond destroyed. It was a tether I found suffocating increasing.â
His voice was dry and bored, âyou are painfully dullâŚa grey moth, even in looks. Indira is a phoenix.â
âYou cannot do this,â I pleaded, the tears finally spilling down my face. âPlease don't humiliate me like this, my love.â
âI am the Alpha of Wilder Pack,â Titan growled, his wolf surfacing in the bright-green flash of his eyes. âI do exactly as I please.â
My response died on my tongue as he took Indiraâs hand and raised it high. âBehold!â he shouted to the gasping crowd. âYour true Luna! Indira of the Wilder Pack!â
Kamila menatap Kaelen, hatinya berdenyut perih melihat pria itu yang masih berusaha menutupi air matanya.Cahaya lampu restoran yang temaram memantulkan kilau pucat di wajah Kaelen, menyorot garis-garis ekspresi yang lebih dalam dari yang pernah Kamila ingat. Ia terlihat lebih dewasa, lebih dingin, tapi juga lebih rapuh dari yang pernah ia bayangkan.Jemari Kamila gemetar saat ia mengangkat tangannya sedikit. Ada dorongan dalam dirinya untuk menyentuh Kaelen, untuk menenangkan kegelisahan yang melingkupinya. Tapi sebelum ia bisa melakukannya, Kaelen sudah menurunkan tangannya sendiri, memperlihatkan sorot mata biru lautnya yang tajamâmata yang kini dipenuhi amarah dan kepedihan yang belum terobati."Kak Kaelen, aku minta maaf... Akuâ""Tidak perlu minta maaf!" Kaelen memotong cepat.Suaranya menggema di ruangan yang kosong, membuat dada Kamila semakin sesak. Bukan hanya karena ketegangan yang terasa di antara mereka, tetapi juga karena emosi yang mengalir deras dalam nada suara Kaelen
Restoran itu sunyi.Hanya ada dua orang di dalamnyaâKamila dan Kaelen. Tidak ada pelanggan lain, tidak ada suara bising dari meja-meja sekitar, hanya keheningan yang terasa begitu menekan.Kamila baru saja duduk ketika sebuah pertanyaan menghantamnya seperti petir di siang bolong."Sekarang suasana sudah sangat tenang. Apa yang mau kau katakan tentang... Kenapa memutuskan hubungan denganku saat kita masih SMK dulu?"Napas Kamila tercekat. Ia belum sempat menyesuaikan diri dengan situasi ini, belum sempat menenangkan hatinya yang berdebar karena pertemuan mereka, tapi Kaelen langsung menembaknya dengan pertanyaan yang selama ini ia hindari.Tangannya yang hendak merapikan rambutnya sedikit gemetar. Dengan cepat, ia menata ekspresinya agar tetap tenang, lalu mengalihkan pandangannya ke Kaelen yang duduk di seberang meja.Setelah beberapa detik keheningan, ia akhirnya menjawab dengan suara yang terdengar lebih mantap dari perasaanny
Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi lampu meja yang redup. Di tengahnya, Bleon duduk di kursi dengan santai, satu kakinya terlipat di atas lutut yang lain. Namun, ada sesuatu yang dingin dalam tatapannya saat matanya menelusuri sosok remaja lima belas tahun yang berdiri di hadapannyaâEvan, seorang trainee GS Entertainment yang seumuran dengan adiknya.Tak ada suara selain detak jam di dinding.Bleon mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, ekspresi di wajahnya penuh ketidaksabaran. "Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan apa yang aku suruh?" tanyanya, nada suaranya terdengar tenang, tetapi ada ketegangan samar yang menyelip di baliknya.Evan tidak langsung menjawab. Rahangnya sedikit mengeras, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Ia menarik napas dalam, lalu perlahan merogoh ponselnya dari saku.Bleon menyeringai. Matanya berbinar penuh antisipasi."Bagus. Ini pasti rekaman skandal yang bisa menjatuhkan Kaelen."Namun, alih-
Lorong itu terasa semakin sunyi ketika Kamila melangkah mendekat. Cahaya lampu neon di langit-langit memantulkan bayangannya di lantai keramik yang mengilap, menciptakan suasana dingin yang tak wajar. Detak sepatu haknya menggema, setiap langkah terdengar begitu jelas di antara keheningan yang menyesakkan.Di ujung lorong, Kaelen berdiri diam, nyaris tak bergerak. Kepalanya tertunduk, napasnya dalam dan teratur, tetapi ada sesuatu dalam cara bahunya sedikit tegang yang membuat Kamila tahuâdia sedang menahan sesuatu.Kemarahan. Frustrasi.Tatapan kosongnya tertuju pada lantai, namun sorot matanya tajam, seperti badai yang tengah berkecamuk di dalam dirinya. Rahangnya mengeras, otot-otot di pipinya menegang, dan kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya, seakan berusaha keras menahan emosi yang nyaris meluap.Kamila menelan ludah. Rasa ragu menyelusup di dadanya, tetapi ia tahu ia tak bisa hanya diam. Dengan sedikit keberanian yang tersisa, ia akhirnya bertanya, suaranya nyaris bergetar
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.