LOGINAstin Janvier adalah iblis mafia yang sangat ditakuti oleh geng mafia lainnya. Bukan hanya terkenal kejam terhadap tawanan, dia juga tidak memiliki rasa ampun bagi orang-orang yang dianggapnya kotor. Kekejamannya bukan karena tanpa alasan, Astin memiliki misi tersendiri, yaitu mencari pembunuh keluarganya. Sadar keselamatan dirinya suatu saat akan terancam, Astin memilih memanfaatkan Karely, yang dia pikir adalah anggota khusus dari kepolisian negara. Namun, tanpa dia sadari bahwa Karely pun memiliki misi tersendiri untuk bisa mendekatinya. Di balik topeng kepalsuan dan saling menafaatkan, keduanya mencoba hidup normal. Hingga kesalahpahaman terjadi dan membuat hubungan keduanya lebih buruk dari musuh. Bahkan lebih menderita dari tragedi masa lalu mereka.
View MoreKARI'S POV
I was to be married today.But the silk of my bridal dress felt less like a garment and more like a shroud.
As I stood before the altar in the temple of the goddess of love, I couldn't shake off the heavy weight pressing down on my shoulders.
My breath hitched against the rigid constraints of my corset as I cast a slightly nervous look around. Today, I was to become Luna of the Wilder Pack.
Today, the years of my quiet devotion to my bethroted, Titan,would finally bear fruit.
“You look breathtaking, dear,” my sister Bianca whispered, though her smile didn't quite reach her eyes. “Everyone's thinking that, I bet he'll thinks so too.”
I swallowed hard, nodding. “I just feel as though I am walking toward a cliff's edge,” I admitted, smoothing the lace at my wrists.
“Do you think he is ready? Our bond... it has been quiet this morning. Surely that isn't normal? Perhaps he's as nervous as I…”
“Titan is an Alpha, sister,” Bianca interrupted gently.
“His mind is burdened by the weight of his pack,” my sister added, though her hand trembled as she adjusted the purple veil over my face.
“Stay,” I whispered to her, unable to hold back any longer.
“Where are you going?”
“To stretch my legs a bit,” I answered briskly, already walking away.
The air was thick with the scent of damp stone and light perfume as I took the stairs, until I was staring down at the large expanse of the temple.
I knew there were five hundred guests here, High Alphas, Betas, and their kin, two-hundred and fifty from each side. And they all seemed to be getting along already, in preparation of the alliance that would be formed between our packs after my marriage to Titan.
“Look at her face,” I heard someone murmured behind me. “She hasn't a clue.”
My ears twitched and strained as I leaned a bit backwards.
“Poor thing,” another voice hissed. “To be discarded so publicly.”
My heart hammered against my ribs like a trapped bird. Discarded publicly? By who?
Where was Tifan?
I shot a panicked look at the altar, but it stood empty.
With a tight chest, I made my way back to the main temple.
I'd just turned towards Bianca's direction when the heavy oak doors at the rear of the cathedral swung open with a violence that echoed off the walls and ceiling.
Titan strode in.
My heart dropped.
Not because he was not dressed in his wedding clothes that were supposed to match mine, but because of the look on his face.
His expression was made even scarier by the way his cape was billowing behind him as he stomped closer and closer…
“Titan?” I breathed as he stopped beforee me. I reached for his hand, my fingers trembling. “My love, you are late. I was starting to fear…”
He pulled his hand away as if my touch had scalded him. His eyes, usually a piercing brown, were flat and cold as funeral coins.
“Cease your prattling, Kari,” he growled, his voice carrying to every corner of the silent hall.
“Milord?” I faltered, my face already starting to burn with embarrassment. “The ceremony... the guests are already waiting.”
“There shall be no ceremony…for you,” Titan stated. He turned his back to me, facing the assembly as he raised his voice.
“I have realized that a True Alpha requires a mate of equal fire. One who does not merely occupy a throne, but commands it.”
The side door opened and my other sister, Indira stepped out. She was draped in crimson silk, her dark hair falling over her shoulders like a waterfall of ink.
Our eyes met as she glided to my Titan's side, and he, the man who had not touched my hand in months, wrapped a possessive arm around her waist.
My whole world tilted upside down, I felt a rush of dizziness. My throat felt tight and dry, and my eyes started to burn.
“Titan, what is this madness?” I cried, my voice cracking.
“Is this a joke? I don't find it particularly hilarious.”
He scoffed, “what a fool you are, Kari. Thinking I could ever chose a lukewarm mouse over a fiery goddess,” he glanced lovingly at Indira at the last part.
Pain exploded in my chest.
Perhaps it was young naivety but I had wholeheartedly believed that he loved me, and wanted me the way I wanted him.
“You can't mean this,” I murmured in stock, shaking my head repeatedly. “I do not believe it.”
“You better believe it,” Indira sneered condescendingly.
“This isn't happening.”
“But it is,” Titan replied. “Honestly, I don't think anyone here is surprised at my decision.”
He gave a nonchalant shrug, “I admit, this might be a little inconvenient in timing but Kari,” he sighed, “you're every great alpha's nightmare when it comes to marriage. You're far too weak, emotional, talkative, naive…”
“You said you love me,” I murmured, taking in the stunned faces of the ton. “You told me you wanted me!”
He scoffed, “well obviously I lied,” he looked around, “If anyone here has never told a lie before, let him or her raise their hand!”
There was a brief wave of murmurs but no hand went up, Titan turned towards me again, a gloating smile on his face, “see?”
“I gave up my birthright for you! My pack…I am your bonded mate!”
“A bond of convenience,” Titan sneered,staring deep into my eyes. The hatred in his gaze was like a physical blow. “I’ve had the bond destroyed. It was a tether I found suffocating increasing.”
His voice was dry and bored, “you are painfully dull…a grey moth, even in looks. Indira is a phoenix.”
“You cannot do this,” I pleaded, the tears finally spilling down my face. “Please don't humiliate me like this, my love.”
“I am the Alpha of Wilder Pack,” Titan growled, his wolf surfacing in the bright-green flash of his eyes. “I do exactly as I please.”
My response died on my tongue as he took Indira’s hand and raised it high. “Behold!” he shouted to the gasping crowd. “Your true Luna! Indira of the Wilder Pack!”
“Marlin, kita cari tempat makan sebelum pulang,” ucap Astin ketika mereka telah berada di dalam mobil.“Bolehkah aku memintamu langsung mengantar aku pulang saja? Aku sangat lelah,” ucap Karely.Karely sebenarnya buka wanita lemah. Bahkan saat dia harus lembur bekerja dan tidak tidur semalaman saja, dia masih bisa terlihat segar dan kuat. Kali ini, melakukan sesi foto prewedding ternyata membuatnya merasa lelah dan tidak bertenaga. Mungkin bukan karena kehabisan tenaga, melainkan pikiran dan hatinya yang lelah. Bukan juga karena Astin. Ada hal lain yang tidak bisa diungkapkan lewat kata-kata dan pada siapa pun juga. Perlahan Astin memutar leher menoleh dan memperhatikan Karely dengan seksama. Melihat wajah lelah dan redup Karely, dia pun merasa iba dan kasihan. Ada rasa bersalah juga karena telah mmebuat Karely harus mengulang foto berkali-kali karena dia.“Aku akan mengantarmu pulang, tapi kita makan dulu sebelum pulang,” jawab Astin.Karely membalas tatapan Astin.“Aku rasa tidak p
"Tuan, letakkan tangan Anda pada pinggang nona Karely!" minta fotograper pada Astin.Beberapa kali fotograper meminta Astin bergaya natural, namun terlihat lebih mesra. Sayangnya, setiap kali diarahkan, Astin terlihat sangat kaku dan canggung. Bahkan tampak enggan melakukannya. Alhasil, dia pun harus menuntun tangan Astin dan meletakkan pada tubuh Karely sesuai dengan gaya yang diinginkan agar terlihat lebih mesra sebagai pasangan kekasih."Begini?" tanya Astin.Astin tampak sangat gugup dan canggung. Ini kali pertama dia sangat dekat dengan seorang wanita. Astin tidak pernah memegang pinggang wanita, apalagi bersikap mesra seperti sekarang ini. Jelas saja hal ini membuat dadanya berdebar hebat dan jantungnya berdegub sangat cepat. Bahkan tubuh Astin sampai gemetar."Lebih dekat lagi!" mintanya lagi saat Astin mulai memegang pinggang ramping Karely.Astin sedikit melangkah maju mendekatkan diri pada Karely sesuai dengan perintah fotograper. Seiring langkahnya mendekat, saat itu juga d
"Karely?" Astin kaget melihat Karely masih belum mengenakan pakaian pengantinnya.Karely sendiri juga kaget melihat pintu terbuka dan tiba-tiba Astin telah berdiri melihatnya, sedangkan dia sendiri baru mau beranjak dari duduk setelah bersedih karena mengingat kenangan bersama Ben, tunangannya."Karely, ada apa? Apa gaunnya tidak kamu sukai?" Astin melihat ada yang aneh dari Karely. Meski dia belum mengenalnya secara penuh, namun wajah murung Karely tidak bisa menipunya. Dia pikir karena Karely tidak menyukai model gaun yang dipilih oleh Yoselin."Oh, tidak. Aku menyukainya."Cepat-cepat Karely menampik pemikiran Astin. Dia juga segera berjalan mendekati salah satu gaun yang akan dia coba.Astin mengernyitkan kedua ujung alis, tidak mudah percaya mendengar jawaban Karely. Bagi mata Astin yang sudah terbiasa membaca hal kecil dari gestur tubuh musuh dan juga aura wajah, cara Karely menghindar sangat mudah terbaca."Aku hanya bingung, gaun mana yang harus
"Kenapa kamu tidak membiarkan aku menghajar pria brengsek itu?" Astin menatap tajam Karely.Karely semakin bingung. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan Astin."Kamu mengenalnya?" Karely tidak bisa menahan untuk tidak bertanya. Dia ingin tau alasan Astin tiba-tiba memukul Deo, bahkan ingin menghajarnya. Tidak mungkin alasannya adalah cemburu karena dia tau dengan jelas Astin tidak mungkin memiliki perasaan padanya. Meskipun mereka akan menikah, apa yang dilakukan Astin tidak masuk akal.Astin membalas tatapan Karely. Cukup lama pandangan mereka saling beradu hingga akhirnya Astin menyugar wajahnya sendiri menggunakan kedua tangan sembari menghela napas panjang."Maafkan aku," ucapnya lirih, lalu berjalan dan duduk dengan kepala menunduk meredam emosi.Astin mulai bisa menguasai dirinya. Dia sendiri tidak tau kenapa tiba-tiba merasa marah melihat seorang pria tiba-tiba ingin memeluk Karely. Mungkin bila wajah dan ekspresi Karely biasa saja atau senang saat p






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.