共有

Bab 31

作者: WinaraBZ
last update 公開日: 2026-03-28 21:32:48

Bukan karena ragu… tapi karena ada sesuatu yang terlintas—sesuatu dari masa lalu yang belum sepenuhnya hilang.

Hampir lima tahun. Selama itu, ia tidak pulang ke Turki. Bukan tanpa alasan.

Karim yang sejak tadi memegang ponsel, tanpa sadar menundukkan pandangannya. Ia tahu… apa yang sedang dipikirkan ayahnya. Semua berawal dari kejadian itu. Perjodohan yang seharusnya menjadi penguat hubungan keluarga… justru hampir memecah semuanya.

Perusahaan besar yang dipegang Karim di Turki—dua perusahaan r
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Investor Asing   Bab 31

    Bukan karena ragu… tapi karena ada sesuatu yang terlintas—sesuatu dari masa lalu yang belum sepenuhnya hilang.Hampir lima tahun. Selama itu, ia tidak pulang ke Turki. Bukan tanpa alasan.Karim yang sejak tadi memegang ponsel, tanpa sadar menundukkan pandangannya. Ia tahu… apa yang sedang dipikirkan ayahnya. Semua berawal dari kejadian itu. Perjodohan yang seharusnya menjadi penguat hubungan keluarga… justru hampir memecah semuanya.Perusahaan besar yang dipegang Karim di Turki—dua perusahaan raksasa yang disatukan dari dua keluarga lama, keluarga Dede dan keluarga Rima—nyaris jatuh ke tangan yang salah. Sosok itu… Seorang gadis yang terlihat lugu. Sederhana. Tak mencurigakan. Namun di balik itu semua… ia adalah racun. Seseorang yang sengaja didekatkan oleh pihak pesaing bisnis mereka. Rencana itu rapi. Jika pernikahan terjadi, kendali perlahan akan berpindah tangan. Dan bukan hanya bisnis yang hancur—kepercayaan antar keluarga pun hampir runtuh.Babaanne menahan napas. Dede memejamka

  • Investor Asing   Bab. 30

    Di depan mereka, berdiri seorang pria paruh baya dengan wajah teduh—Ahmad, orang kepercayaan Dede. Sejak lama, ia bukan hanya mengurus musholla, tetapi juga menjadi imam tetap di tempat itu. Pemahamannya tentang agama lebih dalam dibandingkan yang lain, dan Dede sendiri yang menunjuknya. Bukan tanpa alasan. Bagi Dede, urusan ibadah harus dipimpin oleh orang yang benar-benar menjaga ilmunya. Karim berdiri di saf depan, di samping Dede. Ziyan menyusul di barisan di belakangnya. Tak ada yang saling berbicara. Semua bersiap. Allahu Akbar…” Suara Ahmad mengalun tenang, memenuhi ruang musholla. Shalat dimulai. Gerakan demi gerakan dilakukan dengan khusyuk. Karim menundukkan kepalanya lebih dalam dari biasanya, seolah setiap ayat yang dibacakan mengetuk sesuatu di dalam hatinya yang telah lama sunyi.Di sampingnya, Dede berdiri tegap. Namun kali ini, ada ketenangan yang berbeda dalam dadanya.Sementara Babaanne di barisan wanita, menutup matanya lebih lama, bibirnya bergetar pelan dalam d

  • Investor Asing   Bab. 29

    Setelah hidangan terakhir disantap, Karim meletakkan sendoknya dengan tenang. Semua bergerak hampir bersamaan—sebuah kebiasaan yang sudah terlatih tanpa perlu aba-aba. Dede mengangguk pelan, lalu berdiri lebih dulu, diikuti Babaanne, Karim, dan Ziyan.Mereka kemudian berpindah menuju ruang keluarga. Ruangan itu terasa hangat—dengan perapian kecil di sudut, sofa empuk berwarna krem, dan karpet tebal yang menambah kenyamanan. Dari jendela besar, langit di Istanbul perlahan berubah menjadi biru gelap, menyisakan semburat jingga terakhir di ufuk barat. Karim duduk perlahan, lalu melirik jam di pergelangan tangannya.Waktu sudah mendekati Isya. Di kota itu, salat Isya biasanya tiba sekitar pukul setengah delapan malam, terkadang sedikit bergeser tergantung musim. Sementara itu, pikirannya melayang jauh ke Indonesia—jika dihitung dari selisih waktu, di sana sekarang baru sekitar pukul setengah tiga siang.Ia sempat terlintas untuk melakukan panggilan video. Membayangkan wajah ibunya… suara

  • Investor Asing   Bab. 28

    Mobil yang dikendarai Ziyan melaju tenang meninggalkan kawasan mansion milik Karim. Jalanan kota yang tadinya ramai perlahan berubah menjadi lebih lengang. Gedung-gedung tinggi mulai tergantikan oleh deretan pohon pinus dan rumah-rumah bergaya klasik dengan taman luas di halamannya.“Sekitar tiga puluh menit perjalanan kita, ikuti saja map yang saya setting,” ujar Karim sambil menatap ke luar jendela.Ziyan mengangguk pelan. Ia memperhatikan perubahan suasana dengan saksama—udara terasa lebih segar, langit tampak lebih luas, dan lalu lintas tidak lagi padat seperti di pusat kota.Tak lama kemudian, mereka memasuki kawasan Sarıyer, sebuah distrik di bagian utara Istanbul yang terkenal dengan ketenangan dan pemandangan alamnya. Daerah ini berada di tepi Selat Bosphorus, menjadikannya tempat favorit bagi mereka yang ingin menikmati masa tua dengan damai tanpa benar-benar jauh dari hiruk-pikuk kota.Jalanan di Sarıyer dipenuhi pepohonan hijau yang rimbun. Di beberapa titik, terlihat laut

  • Investor Asing   Bab. 27

    Tiga porsi bakso rudal sudah rapi dibungkus. Bunda Zayna, Ana, dan Zayan pun bergegas pulang untuk menikmatinya bersama. “Asyik… bakso… bakso…” Zayan bersenandung riang, suaranya melengking penuh semangat. Bakso memang jadi makanan favoritnya sejak dulu.Ana hanya tersenyum geli melihat tingkah sang adik yang tak pernah berubah jika sudah berurusan dengan makanan kesukaannya.“Yuk… mandi dulu, biar makannya lebih enak,” ajak Bunda Zayna lembut.“Oké, dech!” sahut keduanya kompak. Tak lama, suara air dan canda kecil memenuhi rumah. Setelah mandi, anak-anak itu duduk rapi, lalu menyantap bakso mereka dengan lahap. Kuah hangat dan aroma gurih membuat suasana semakin hangat. Selesai makan, mereka beristirahat sejenak. Tubuh terasa lebih segar, dan hati pun ringan.“Sudah siap ke taman Qur’an?” tanya Bunda Zayna sambil merapikan jilbabnya.“Siap, Bunda!” jawab Ana dan Zayan serempak.Tak lama kemudian, mereka pun bersiap menuju taman Qur’an—tempat anak-anak belajar mengaji dan menghafal a

  • Investor Asing   Bab. 26

    Hari itu, Bunda Zayna hanya berdagang di dua saham. Bukan karena kurang peluang—justru sebaliknya. Ia melihat ada tiga saham lain yang ritmenya mulai “hidup”, namun belum berada di waktu yang tepat untuk masuk. Pergerakannya masih mentah, tapi menjanjikan. Senyum tipis terlukis di wajahnya. “Itu nanti… di penutupan,” bisiknya pelan.Baginya, tidak semua peluang harus diambil sekarang. Ada yang lebih baik ditunggu—hingga momentumnya benar-benar matang.Dengan dua posisi yang sudah diselesaikan dengan baik, ia tidak memaksakan diri untuk terus masuk market. Ia menutup platform tradingnya perlahan.Klik.Selesai.Bagi sebagian orang, mungkin ini terasa aneh—meninggalkan market saat peluang masih terlihat. Namun bagi Bunda Zayna, inilah bagian dari disiplin. Bukan hanya soal kapan masuk dan keluar… tapi juga kapan berhenti.Ia melirik jam di dinding. Waktu telah bergeser. Dan perannya pun ikut berganti.Bunda Zayna bangkit dari kursinya, merapikan meja kerja yang sejak pagi menjadi “medan

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status