LOGIN“Bu Zayna, saya datang dari Bandung khusus untuk berbicara dengan Anda.”Bunda Zayna tertegun. Ia menatap perempuan di hadapannya dengan penuh tanda tanya.'Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Nyonya Rima datang menemuinya? Dan apa kaitannya semua ini dengannya?'Rima tersenyum tipis, lalu mengelus punggung tangan Zayna dengan lembut.“Seandainya kita bertemu lebih awal, sebelum Anda memiliki keluarga, mungkin saya dan keluarga sudah bersuka cita menyambut Anda.”Kening Zayna berkerut. Ia benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan perempuan itu.Namun, ia memilih diam dan mendengarkan.“Karim adalah satu-satunya putraku. Dia tipe laki-laki yang tertutup dan jarang memberikan perhatian lebih kepada seseorang, apalagi kepada seorang perempuan.”Rima menarik napas panjang. “Dulu, kami melakukan kesalahan dengan menjodohkannya dengan anak sahabatku. Awalnya Karim sama sekali tidak memiliki perasaan kepadanya. Namun, seiring waktu, karena mereka sering bersama dan Karim melihat bagaimana
Rima melihat Rangga memasuki ruang kerja Ismet. Ia pun segera menyusul dan diam-diam masuk beberapa saat setelah Rangga berada di dalam.“Tuan.”Rangga menunduk, kemudian menyerahkan tabletnya kepada Ismet. “Tuan Muda akan bertemu dengan Bu Zayna di villa yang baru saja diresmikan. Di lokasi yang sama, Nona Soraya juga dijadwalkan berada di area yang sama. Sementara itu, Nyonya Sonia terpantau juga berada di lokasi yang sama tanpa diketahui Tuan muda.”Ismet mulai membaca laporan di layar tablet. “Berdasarkan pengamatan kami, Bu Zayna selama ini mendapat pengawalan dari tim bayangan atas perintah Tuan Muda.”Rangga berhenti sejenak. “Sepertinya Tuan Muda memiliki perasaan khusus kepada beliau.”Ismet mengangkat wajahnya.Rangga melanjutkan, “Menurut salah satu pengawal bayangan yang bertugas di pos tersebut, begitu Tuan Muda tiba, beliau langsung mengamati Bu Zayna dari kejauhan. Bahkan beliau membeli beberapa makanan dan barang yang disukai Bu Zayna dan keluarganya.”Rangga membuka l
“Ziyan, kamu tinggal.”Karim menahan Ziyan setelah selesai memberikan pengarahan kepada para pengawalnya.Ketika yang lain sudah keluar dari ruangan, Karim menatap Ziyan.“Kelvin berada di sekitar sini sebelumnya. Aku bisa merasakannya.”Ziyan segera membuka laptopnya. Ia menghubungkannya dengan jaringan sistem yang ada di dalam ruangan rahasia tersebut.Sepertinya Kelvin memang sengaja meninggalkan sistem ini agar suatu saat masih bisa digunakan kembali. Siapa sangka, justru tim Karim yang akan mengambil alihnya.Untungnya, saat ini mereka berada di satu sisi yang sama.Ziyan mulai menelusuri sistem.Beberapa saat kemudian, ia menemukan sebuah sinyal samar.“Tuan...”Karim menoleh.“Sekitar empat puluh menit yang lalu, sinyal Tuan Kelvin memang terdeteksi di sekitar lokasi kita.”“Periksa kembali. Cari apakah ada sinyal atau sesuatu yang bisa menjadi petunjuk.”“Baik, Tuan.”Ziyan kembali bekerja dengan lebih teliti. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. 'Sistem ini milik Kelvin.' Bukan tid
Karim sudah membersihkan dirinya di kamar utama, kamar yang sebelumnya pernah ditempati Kelvin.Begitu memasuki kamar itu, Karim hanya melirik sekilas sebelum langsung menuju kamar mandi. Setelah selesai, ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Entah mengapa, Ia merasa telah pulang kerumah.Namun beberapa saat kemudian, Karim tersadar. Ia mengangkat tubuhnya dan kembali memperhatikan sekeliling kamar.'Kamar ini pernah ditempati Kelvin.'Kelvin bukan orang yang sederhana, beberapa hal yang pernah Karim ketahui tentangnya, ia selalu memiliki banyak lapisan rahasia.Karim bangkit memeriksa kamar itu dengan teliti, tangannya menyusuri dinding, mengetuk beberapa bagian satu per satu.Tok... tok...Suara ketukan terdengar berbeda di salah satu sisi. Karim berhenti, Ia mengetuknya lagi.Tok... tok...Kali ini terdengar gema samar dari balik dinding, Ia mengernyitkan keningnya “Ada ruang kosong di balik sini?”Ia kembali meraba permukaan dinding, mencari celah atau mekanisme tertentu, b
Eksel menunggu waktu yang dianggapnya paling tepat untuk membuka pesan yang disampaikan Soraya.Kalau kubuka di toilet, apakah aman?Pikirannya segera membantah. Tidak, lebih baik di rumah. Aku tidak ingin menimbulkan kecurigaan. Kalau Martin sampai menyadari sesuatu, pengawasannya terhadap dirinya dan Soraya bisa semakin ketat.Ketika Soraya kembali dari toilet, tidak ada interaksi yang berlebihan di antara mereka. Keduanya tetap bersikap sewajarnya, seperti dua orang yang sedang serius mendiskusikan pekerjaan.Eksel bahkan tetap pulang pada jam yang sama seperti biasanya. Begitu memasuki apartemennya, ia langsung menuju kamar tidur. Tempat itu dianggapnya paling aman untuk memeriksa sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.Ia mengunci pintu, lalu mengeluarkan selembar tisu yang sejak tadi disimpannya di saku. Perlahan ia membukanya. Tulisan di dalamnya hanya beberapa kata.“Eksel, tolong sahabatku.”Di bawahnya terdapat sebuah nomor ponsel dan nama lengkap seseorang.Eksel meng
“Cindy, panggilkan Eksel ke ruanganku.”Perintah Sonia terdengar melalui interkom yang terpasang di meja kerjanya.“Baik, Nyonya.”Cindy segera meninggalkan ruangan dan menuju ruang kerja Eksel. Namun, ketika sampai di sana, sekretaris Eksel memberitahunya bahwa atasannya sedang berada di ruang desain bersama Nona Soraya, menyelesaikan proyek koleksi terbaru.Karena ruang desain berada cukup jauh dari ruang Sonia, Cindy memutuskan untuk kembali terlebih dahulu.“Nyonya,” katanya setelah mengetuk pintu.“Masuk.”Cindy membuka pintu dan berdiri di hadapan Sonia.“Nyonya Sonia, Tuan Eksel sedang mengerjakan proyek musim ini bersama Nona Soraya di ruang desain.”Sonia terdiam sejenak, Ia memang yang menugaskan Eksel untuk membantu menggarap beberapa proyek desain musim ini. Fashion show di awal Oktober sudah semakin dekat, sehingga seluruh persiapan harus benar-benar dikawal.“Hemm.” Sonia meraih ponselnya dan segera menghubungi Soraya. Tak lama kemudian, panggilan tersambung.“Ya, Bu,”
Pagi itu udara terasa lebih sejuk dari biasanya. Karim dan Ziyan bersiap menuju lokasi lahan resort yang akan dibangun. Beberapa berkas sudah tersusun rapi di meja kecil ruang makan hotel. Karim berdiri di dekat jendela, memandang keluar sebentar sebelum akhirnya berbicara.“Ziyan.”“Iya, Tuan.”Ba
Beberapa detik suasana hening menyelimuti meja VIP itu. Bunda Zayna menunduk, kembali melihat map kontrak di tangannya.“Tuan… izinkan saya memastikan dulu dengan suami saya. Meski Tuan sudah menyarankan untuk dibaca di rumah, saya ingin beliau melihat sekilas sebelum saya benar-benar membawanya pu
“Hmm… sebelumnya saya pernah ditelepon seseorang bernama Karim,” ucap Bunda Zayna pelan, duduk berhadapan dengan suaminya di ruang tamu sederhana mereka. “Dia ingin saya mengelola akun RDN-nya. Katanya pakai referral saya, dengan pembagian hasil 75:25.”Suaminya mengernyit. “Langsung begitu saja?”
Adzan Subuh baru saja usai ketika Bunda Zayna melipat sajadahnya perlahan. Rumah masih diselimuti sunyi yang lembut. Udara pagi terasa dingin, menyusup melalui celah jendela dapur. Ia berjalan ke dapur dengan langkah ringan.Kompor dinyalakan. Wajan dipanaskan. Telur ceplok, tumis sayur sederhana,







