Se connecter
"Wah, apa mereka benar-benar manusia?"
Aluna Dyaksa Maheswari hampir lupa menutup mulutnya sendiri ketika melihat sepasang pengantin berjalan perlahan menuju altar. Gaun putih panjang yang dikenakan sang mempelai perempuan berkilau di bawah lampu kristal, sementara pria di sampingnya tampak tenang dan dingin, seperti tokoh utama novel yang biasa ia lihat di layar ponsel. Hari ini Aluna dipaksa mengikuti kakaknya untuk menghadiri sebuah pernikahan menggantikan orang tua mereka setelah beberapa hari ini ia mengurung diri di kamar, tapi tidak pernah wanita itu sangka kalau yang menikah adalah seorang aktris yang namanya sedang sangat 'harum' di industri hiburan. "Kenapa Papa bisa dapat undangan ke sini?” Aluna berbisik pada kakaknya, Mikail, tanpa mengalihkan pandangan dari sepasang pengantin di depan. Mikail menghela napas kecil. "Undangannya berasal dari pengantin pria," ucap Mikail pelan, menjawab pertanyaan adiknya. “Siapa?” “Erlangga Aiza Mahendra.” Aluna mengernyit. Nama itu terdengar mahal, seperti seorang pewaris kaya raya yang akan jatuh cinta pada wanita dari kalangan biasa. Sungguh hal yang mustahil terjadi di dunia nyata--meski hal ini tidak pantas diucapkan Aluna secara langsung setelah apa yang terjadi padanya. “Ini alasan kamu harus keluar untuk melihat dunia,” lanjut Mikail pelan. “Bukan hanya kejar deadline di depan laptop dan jatuh cinta pada orang brengsek.” Aluna merengut, berusaha mengabaikan sindiran Mikail yang telak mengenai jantungnya. Memang siapa yang mau jatuh cinta pada orang brengsek?! Mana Aluna tahu kalau dia akan diremehkan oleh pria yang gaji bulanannya saja jauh lebih kecil dari uang jajannya! Menghela napas, Aluna kembali melihat ke depan. Prosesi dimulai. Musik mengalun. Lampu kristal memantul di gaun sang pengantin wanita, berkilau seperti serpihan bintang. Namun, perhatian Aluna sepenuhnya berada pada si pengantin pria. Cara Erlangga yang tidak benar-benar tersenyum membuat kesan 'tokoh utama pria' yang dingin, sementara, tubuh pria itu terbalut jas formal pernikahan, menonjolkan proporsi tubuhnya yang tinggi tegap. Aluna mencatat deskripsi itu di kepala sementara prosesi pernikahan akan dimulai. “Tuan Erlangga Aiza Mahendra, apakah Anda bersedia–” “Tunggu, kenapa layarnya tiba-tiba menyala?” Perhatian semua orang langsung terarah ke sebuah layar LED raksasa di belakang altar yang tiba-tiba menyala. Sebuah video tengah diputar, menampilkan Nayara, si pengantin wanita, di sebuah kamar hotel bersama seorang pria. Bukan hanya sekali. Layar berganti, menampilkan foto dan video lain dengan pria yang berbeda, di tempat yang berbeda pula. Aluna terkesiap saat ia mendengar teriakan histeris dari si pengantin wanita. “Matikan! Matikan sekarang! Itu semua palsu!” Sementara itu, beberapa tamu menutup mulut dan sisanya langsung berbisik-bisik. Ada pula yang langsung merekam dengan ponsel. “Itu Nayara, kan?” “Artinya dia selingkuh sebelum pernikahan?” “Lihat tanggal dan jamnya. Jelas-jelas itu terjadi beberapa minggu yang lalu–yah, salah satu perselingkuhannya sih.” “Eh, di video kedua bukannya si sutradara terkenal itu? Nayara tidur dengannya?” “Wah, jangan-jangan banyak proyek Nayara yang ia dapatkan dengan cara seperti ini!” Aluna menutup matanya sejenak mendengar semua komentar para tamu di sekitarnya. Ia tidak mengenal Nayara secara pribadi, tapi melihat seorang wanita dihancurkan di depan banyak orang seperti itu … rasanya tetap mengerikan. “Nggak kebayang besok beritanya kayak apa,” gumam Aluna prihatin. Bagaimana pun Nayara itu aktris yang sedang naik daun, sudah pasti skandal sebesar ini akan dibahas hingga bertahun-tahun kemudian. Tidak perlu jauh-jauh. Dalam waktu dekat pun, pastilah Nayara akan kehilangan semuanya dan bahkan tidak akan sanggup mengangkat kepala. Tatapan Aluna tidak beralih dari Nayara yang kini sudah jatuh terduduk di hadapan Erlangga. Gaunnya kusut, maskara mulai luntur. “Ini ulahmu, Lang?” Sang pengantin wanita berucap dengan suara gemetar. “Aku akui aku salah, tapi kamu nggak berhak mempermalukanku seperti ini!” Erlangga tampak membalas tatapan itu tanpa mengatakan apa pun. Aluna mengamati sosok itu dengan perasaan campur aduk. Kagum, terpesona, tapi juga takut akan apa yang mampu dilakukan oleh pria tersebut. “Saya tidak bisa melanjutkan pernikahan dengan wanita kotor,” ucap Erlangga. Suaranya yang dingin mengandung cemooh dan arogansi. Lalu dia mengalihkan pandangan pada para hadirin. “Apa ada yang bersedia menggantikan dia menikah dengan saya?” Aluna terkejut di tempatnya. Omong kosong apa yang baru saja ia dengar? Bisik-bisik kembali muncul. Mereka yang hadir tentu tidak percaya kalau sosok yang baru saja diselingkuhi akan langsung mencari pengantin pengganti. Tepat saat itu juga. Lagi pula, mengasumsikan semua ini adalah ulah Erlangga sendiri seperti tuduhan Nayara tadi, Aluna ragu akan ada orang yang mau hidup bersama pria dingin dan arogan seperti itu. Sepertinya hanya orang gila yang mau mengangkat tangan. Tapi … kenapa wajah pria itu justru tampak puas? Aluna mengernyit, memperhatikan Erlangga yang seakan memang ini yang ia inginkan sejak awal– “Saya akan berikan uang bulanan sebesar lima ratus juta bagi yang bersedia.” Gila! Aluna sontak terkesiap. Lima ratus juta? Per bulan!? Otak Aluna langsung berteriak dan menghitung berbagai macam hal dengan kecepatan penuh, mengabaikan napas tertahan dan bisikan-bisikan di sekitar yang terkejut dengan pengumuman Erlangga. "Lima ratus juta? Itu banyak, kan?" Aluna bergumam pelan, jantungnya berdebar kencang. Untuk orang biasa, lima ratus juta itu tentu saja banyak! Kata 'banyak' itu menggantung di kepalanya. Seolah-olah angka itu sedang menertawakan kisah cinta Aluna. Menertawakan pria pilihannya. Dan seperti luka yang disentuh tanpa izin, ingatan itu tiba-tiba terbuka begitu saja— "Sampai kapan kamu cuma nulis cerita nggak jelas? Itu pekerjaan yang nggak menghasilkan apapun selain recehan!" "Kamu nggak punya apapun untuk mendukungku, nggak punya koneksi dimana pun, nggak pernah bantu aku dalam hal apapun, tapi kamu mau ikut menikmati uang yang kuhasilkan?!" "Kita putus aja. Aku nggak mau menikah sama perempuan yang cuma bisa numpang hidup. Di dunia ini, nggak akan ada laki-laki yang mau menikah dengan perempuan seperti itu! Siapa yang mau ngasih makan anak orang cuma-cuma di zaman sekarang?" "Aku kerja keras setiap hari sampai punya penghasilan besar, semua ini hasil usahaku sendiri, masa depanku cerah, jadi aku nggak mau menghabiskan waktu sama kamu yang nggak punya apa-apa. Aku sekarang ada di angka tujuh, tapi kamu masih di angka 1." Napas Aluna tercekat. Tangannya gemetar, dadanya bergejolak saat mengingat kalimat-kalimat yang diucap mantan kekasihnya beberapa hari lalu saat mencampakkannya. Padahal Aluna tidak mengatakan apa-apa tentang statusnya karna khawatir membebani dan memberi tekanan, tapi pria brengsek itu langsung lupa segalanya setelah naik tingkat sedikit. Tidak ada yang mau memberi makan anak orang secara cuma-cuma katanya? Akan seperti apa wajah si brengsek itu kalau sekarang Aluna punya penghasilan puluhan kali lipat lebih banyak hanya dengan duduk manis jadi istri orang? Iming-iming uang bulanan itu tanpa sadar membuat tangan Aluna terangkat. Tinggi, dan tampak jelas di antara kerumunan tamu yang hadir.Aluna tertegun, jantungnya terasa berdenyut aneh ketika pertanyaan itu terlontar dari bibir suaminya. Wanita itu membalas pandangan laki-laki di sampingnya, yang matanya dipenuhi kekalutan, kemarahan, kesedihan, juga ketakutan. Kenapa ada begitu banyak emosi di sana, di mata seorang pria angkuh seperti Erlangga?Siapa atau apa yang telah melukai Erlangga hingga menjadi seperti ini?"Entahlah, karena ada juga yang tidak mati meski sakit selama puluhan tahun." Aluna menjawab pertanyaan suaminya, sebelum menghela napas panjang dan melanjutkan, "--tapi yang pasti rasanya tidak akan menyenangkan," katanya.Erlangga mendengus pelan, tapi tidak mengatakan apa-apa lagi. Pria itu hanya kembali menunduk dan merenung, tidak bergerak sama sekali, bahkan suara napasnya pun terlalu pelan untuk seseorang yang sedang berada dalam kekalutan."Erlangga...." Aluna memanggil lagi, kali ini sambil meraih tangan Erlangga, "Ayo pindah," bujuknya, kembali meminta agar suaminya mau tidur di kamar.Erlangga me
Malam semakin larut, tapi Erlangga belum juga pulang atau memberi kabar. Aluna menghubungi Julian untuk menanyakan keberadaan suaminya, juga menghubungi nomor pribadi Erlangga, tapi tidak mendapat jawaban apapun. Setelah menunggu sampai hampir jam sebelas, Aluna tertidur karena lelah. Jam digital di atas nakas menunjukkan pukul satu dini hari ketika terdengar suara cukup keras dari arah ruang ganti. Bruk!Aluna mengerutkan dahi saat lagi-lagi mendengar sesuatu terjatuh. Wanita itu mengerjapkan mata beberapa kali sebelum perlahan duduk di atas ranjang."Langga?" Aluna memanggil, tapi tidak ada jawaban.Saat melihat sisi ranjang di sebelahnya masih rapi, barulah Aluna benar-benar tersadar.Artinya, Erlangga sama sekali belum pulang. Aluna menoleh ke arah jam."Sudah jam satu. Kenapa dia belum pulang?" Aluna bergumam sebelum perhatiannya teralihkan ke arah ruang ganti, arah suara yang membuatnya terbangun.Menelan ludah gugup, Aluna yang percaya tidak percaya dengan gangguan makhluk as
Aluna berdecak pelan, sejujurnya tidak suka membuka kelemahannya, tapi ia hapal tabiat teman-temannya jika tidak dijawab dengan jujur. "Awalnya aku pikir aku bisa mengabaikan komentar-komentar itu." Aluna menunduk menatap es yang perlahan mencair di dalam gelasnya. "Ternyata nggak semudah itu. Ada yang bilang aku wanita murahan. Ada yang nuduh aku sengaja menghancurkan hubungan orang. Bahkan.... ada yang menyebar fitnah katanya aku perempuan yang terbiasa menggoda cowo-cowo kaya." Suara Aluna tetap tenang selama mengatakan isi hatinya. Justru karena terlalu tenang, kedua sahabatnya tahu bahwa semua kalimat itu benar-benar melukai Aluna. Kaela berdecak pelan. "Orang-orang itu pasti hidupnya terlalu damai sampai harus ikut campur urusan orang lain." "Lebih tepatnya," sela Febia, "Mereka merasa paling tahu hanya karena melihat dan membaca beberapa unggahan." Kaela mengangguk setuju. "Lucunya lagi, kalau nanti kebenarannya terungkap, mereka cuma bakal bilang, 'Oh, ternyata salah,' hab
Nada bicara Pradipta tetap tenang, tetapi ketegasannya begitu jelas. Mikail mengambil sepotong butter cookies sebelum melanjutkan dengan nada santai. "Tim keamanan siber kita juga lagi menelusuri akun-akun yang paling aktif menyebarkan fitnah." "Ketemu semuanya?" Aluna bertanya dengan mata berbinar, penasaran. "Beberapa." "Serius?" Mikail mengangguk. "Lucunya, sebagian besar bukan orang yang tahu apa-apa soal kejadian sebenarnya. Mereka cuma ikut-ikutan dan jadi ketakutan setelah tertangkap." Pria itu terkekeh pelan, berbanding terbalik dengan sorot matanya yang dingin. "Internet memang tempat yang aneh. Ada orang yang menganggap mencemarkan nama baik orang lain itu hiburan." Aluna menghela napas pelan. "Kasihan sekali hidup mereka," katanya sembari mengingat komentar-komentar tidak masuk akal yang beredar hanya karena ikut-ikutan mengomentari yang sedang trending. "Kasihan?" Elara berdecak pelan. "Aku lebih kasihan dengan putriku." Pradipta menganggukkan kepala pelan, setuju d
Jarum jam baru menunjukkan pukul sembilan pagi ketika taman belakang kediaman keluarga Dyaksa kembali terisi penuh setelah sebulan terakhir anggotanya berkurang.Sinar matahari yang lembut menembus sela-sela pepohonan trembesi yang menaungi gazebo bercat putih di tengah hamparan rumput hijau. Embusan angin membawa harum bunga melati dan mawar yang bermekaran, berpadu dengan aroma teh hangat yang baru saja diseduh.Di atas meja bundar berbahan kayu jati, seperangkat teh porselen bermotif bunga telah tertata rapi. Uap tipis masih mengepul dari teko teh melati yang baru diseduh, di sampingnya berbagai kudapan tersaji rapi di atas piring-piring porselen. Ada scones hangat lengkap dengan clotted cream dan selai stroberi, mini fruit tart dengan potongan kiwi dan stroberi segar, butter cookies, serta Éclair cokelat."Tapi, memangnya Ayah dan Ibu nggak kesepian? Mereka kan orang dewasa nih, apa nggak butuh kehangat--aduh!" Aluna meringis sembari memegang dahinya y
Selama sebulan terakhir menjadi istri Erlangga, sekarang Aluna sudah benar-benar terbiasa ketika tidak menemukan suaminya saat terbangun. Tapi, tidak seperti biasa, kali ini Erlangga bahkan tidak ada di meja makan."Tuan sudah berangkat pagi-pagi sekali, Nyonya." Mendengar penjelasan pelayan, Aluna hanya mengangguk dan menghabiskan sarapannya sendirian. Bukankah Erlangga yang bilang untuk selalu sarapan dan makan malam bersama? "Apa dia punya urusan mendesak sampai nggak sarapan dulu?" Aluna bergumam pelan, merasa sedikit kesepian. Padahal ini akhir pekan. Selama sebulan terakhir, Erlangga tidak akan pergi kemana pun dan hanya menemani Aluna di rumah setiap akhir pekan, tapi kenapa hari ini pria itu pergi? Itu pun sejak pagi sekali. Selesai dengan rutinitas paginya, Aluna langsung memanggil sopir untuk mengantarnya ke kediaman Dyaksa. Meski Aluna bilang ingin menemui teman-temannya di kafe, tapi sebenarnya Aluna ingin pulang dulu, karena sudah tiga minggu ia juga tidak bertemu oran
Padahal Aluna yakin sekali tidak akan bisa tidur karna kehadiran orang asing di sebelahnya. Tapi tiba-tiba sudah pagi, lalu Aluna membuka mata dengan perasaan segar yang menandakan bahwa tidurnya nyenyak semalam."Ah, gila ...." Aluna menutup wajah, merasa telah melakukan kejahatan dengan membiarka
Aluna kembali ke kediaman Mahendra sore harinya, setelah seharian penuh menjelaskan banyak hal pada orang tuanya, juga pada pengasuhnya yang terus menangis karena Aluna tiba-tiba meninggalkan rumah. Setelah meyakinkan semua orang kalau Aluna akan sering pulang, barulah ia diperbolehkan kembali ke
Hari berganti dengan cepat. Aluna terbangun dengan tubuh kaku dan kepala berat. Membutuhkan beberapa menit penuh bagi wanita itu untuk mengingat bahwa ia tidak berada di kamarnya sendiri dan ini bukan rumah orang tuanya. Langit-langit tinggi berornamen klasik menyambut Aluna, dan samar-samar ia men
Melihat tingkah sang adik, di sisi Aluna, Mikail mematung dengan mata melotot. “Jangan macam-macam, Aluna, turunkan tanganmu!" desis Mikail tajam.Tapi sudah terlambat. Aluna kini menjadi perhatian ratusan pasang mata yang menoleh padanya. Dan Aluna baru menyadari bahwa ia telah berdiri, meninggal







