Beranda / Zaman Kuno / Istri Gadai Marquess Kejam / Bab 4: Pernikahan Tanpa Cinta

Share

Bab 4: Pernikahan Tanpa Cinta

Penulis: Celestial Soul
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-17 10:32:42

“Apakah Anda, Emily Fitzwilliam bersedia menerima Lucien Montague sebagai suami Anda? untuk mendampinginya dalam suka dan duka, dalam sakit dan sehat, hingga maut memisahkan?”

Pendeta mengulangi sekali lagi janji suci itu. Emily menelan ludah susah payah. Kedua tangannya memegang erat buket bunga berukuran mini itu.

Tatapan pendeta tersebut tidak menghakimi. Sebaliknya, menunggu dengan sabar seraya tersenyum tipis.

Lucien hanya berdiri diam di samping Emily. Pria bertubuh tinggi tegap tersebut tidak bergerak.

“Ya. Saya bersedia.”

Akhirnya Emily mengatakan itu. Dia merasa tubuhnya terasa berat. Begitu pula napasnya. Emily ingin sekali pingsan tetapi seumur hidupnya, belum pernah terjadi.

“Dengan kesaksian Tuhan ….” Pendeta berkata lagi, “dan orang-orang yang hadir di sini, saya nyatakan kau berdua sebagai suami istri. Semoga Tuhan selalu menyertai dan membimbing kau berdua dalam perjalanan hidup bersama.”

Pendeta yang tidak Emily tahu namanya itu menatap Lucien yang berdiri di samping Emily.

“Kau boleh menyematkan cincin di jari istrimu sekarang,” kata pendeta.

Emily menoleh. Dia memerhatikan tangan Lucien yang merogoh saku celana yang dipakainya lalu mengeluarkan satu buah cincin.

Itu merupakan cincin Gibi. Cincin Gibi yang terbuat dari emas itu dihiasi permata merah berukuran kecil di tengahnya, memiliki desain dua tangan saling menggenggam.

Emily mengulurkan tangannya. Lucien menyematkan cincin yang termasuk popular itu  di jari manisnya. Ditatapnya Lucien. Pria itu tidak tersenyum. Hanya menatap Emily sekilas lalu pandangannya beralih pada pendeta.

“Pastor John, apakah ini sudah selesai?” tanya Lucien.

Pastor John mengangguk. “Sudah.”

“Oke. Terima kasih.” Lucien berkata lalu berbalik.

Emily masih berdiri terpaku di altar. Dia tidak percaya dengan penglihatannya. Lucien berjalan begitu saja.

Beberapa detik kemudian Lucien berbalik. Ditatapnya Emily tidak sabar. “Kenapa kau masih di sana? Cepat. Aku harus mengerjakan yang lain.”

Emily berkedip. Dia mengangguk hormat pada pendeta lalu mengikuti Lucien. Jasper dan Madeline yang duduk di barisan paling depan, berdiri.

Kedua orang tua Emily tersebut tersenyum padanya lalu mengikutinya dari belakang. Emily berusaha menyeimbangkan langkah lebar Lucien yang kini sudah menjadi suaminya.

Ketika kakinya menginjak luar kapel, sebuah kereta kuda hitam tanpa lambang Montague sudah menunggu. Dua kuda berwarna cokelat berdiri gagah dan siap menarik kereta kuda tersebut.

Kusir sudah berdiri di samping pintu kereta dengan wajah tanpa ekspresi. Kusir membuka pintu tanpa sepatah kata, tanpa ucapan selamat, bahkan tidak ada senyum.

Emily menoleh pada kedua orang tuanya yang berjalan di belakangnya. Jasper dan Madeline menghentikan langkah lalu menatap Emily.

“Masuk,” ucap Lucien ketika kaki Emily hendak berbalik untuk menghampiri kedua orang tuanya.

Emily urung. Ucapan Lucien itu tanpa ada kelembutan. Yang terdengar oleh Emily hanya perintah tanpa dibalut kasih sayang sama sekali. 

Emily menurut. Dia naik ke atas kereta dengan bantuan dari kusir yang mengulurkan tangannya.

“Terima kasih,” ucap Emily pelan pada bantuan kusir itu.

Tidak ada anggukan atau senyuman dari kusir. Hal itu membuat Emily merasa tidak enak. Demi menutupi rasa tidak nyamannya itu, Emily sekali lagi menoleh pada orang tuanya.

Madeline tersenyum lebar seraya melambai tangan dengan gembira. Tidak ada air mata kesedihan. Madeline seakan melepas Emily yang ingin berlibur, bukan menikah.

Jasper hanya mengangguk saja. Anggukan yang Emily perkiraan sebagai isyarat kepuasan. Mereka, bagi Emily tidak terlihat sedih sama sekali. Justru sebaliknya. Mereka terlihat sangat lega.

Emily tersenyum. Dia melambaikan tangannya dengan anggun pada kedua orang tuanya yang masih berdiri di ambang pintu kapel.

“Jalan.”

Suara Lucien mengalihkan perhatiannya. Dia menatap Lucien yang duduk di seberangnya. Bibirnya terbuka hendak berbicara. Namun, tidak ada yang bisa dia keluarkan.

Kereta bergerak pelan keluar dari area kapel itu.

Tidak ada pembicaraan yang terjadi selama keduanya berada dalam kereta kuda. Pria itu hanya menatap lurus pada jendela yang ada di sampingnya dengan satu tangan terkepal menopang dagunya, dan tangan yang lain berada di lututnya.

‘Tidak ada yang bisa kulakukan,’ pikir Emily.

Dia menunduk. Mencengkeram buket bunga mininya erat. Jika ada pesta, dia bisa mengundang teman teaternya. Ada tradisi melempar biji beras pada pengantin sebagai simbol kesuburan dan keberkahan.

Itu adalah suatu tradisi pernikahan yang sangat Emily sukai setiap dia mendatangi acara pernikahan para bangsawan.

Setelah perjalanan yang terasa menurut Emily begitu panjang, kereta melambat. Emily menatap dari jendela.

Dia melihat gerbang besi menjulang tinggi yang dihiasi ukiran di depannya. Simbol huruf M yang dibuat dengan kaligrafi rumit yang diapit oleh hewan singa di kanannya dan di kirinya burung elang.

Ukiran itu Emily tahu sebagai lambang keluarga. Sama dengan lambang yang ada di stempel merah darah yang ada di amplop saat itu.

Gerbang itu terbuka tanpa suara oleh dua orang penjaga.

‘Waw,’ batin Emily takjub.

Kereta berhenti di depan bangunan yang lebih mirip seperti kerajaan. Namun, lebih kecil lagi. Mungkin lebih tepatnya kastil.

Bangunannya begitu megah terbuat dari batu kelabu dan jendela-jendelanya tinggi seolah sedang mengawasi ketat. Kemegahan itu sangat luar biasa bagi Emily.

Kusir membuka pintu dan Lucien turun lebih dulu. Emily menunggu. Berpikir bahwa Lucien akan mengulurkan tangannya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 6: Sebuah Aturan Mutlak

    “Ada lagi?” bisik Emily.Jantung Emily berdegup. Jarak antara dirinya dan Lucien begitu dekat hingga dapat mencium aroma tembakau dari tubuh Marquess.Jika saling meencintai, pastilah ada kehangatan terjadi. Namun, ini tidak ada kehangatan sama sekali. Sikap Lucien yang dingin itu membuat Emily ingin mundur dua langkah.“Kuminta padamu untuk tidak jatuh cinta padaku.”Emily tertegun mendnegar kalimat yang meluncur begitu mulus tanpa ekspresi itu. Emily berusaha menatap ke dalam mata hijau Lucien.Tidak ada bercanda sama sekali. Emily hanya melihat keseriusan yang begitu dingin dan kejam. Emily menghela napas pelan.“Tidak perlu khawatir, Marquess,” balas Emily berusaha untuk tenang walau hatinya berkata lain.Diangkat dagunya untuk mempertahankan sisa harga dirinya yang sudah terinjak.“Aku tahu posisiku,” katanya lagi. “Aku di sini untuk pembayar utang orang tuaku. Aku tahu betul bahwa tidak akan mencari cinta dari Anda.”Penjelasan tenang Emily itu membuat Lucien menyipitkan mata. P

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 5: Bukan Menjadi Marchioness Sejati

    Akan tetapi, Lucien tidak melakukannya. Pria itu berjalan pelan meninggalkannya.Akhirnya Emily turun segera dari kereta itu lalu mengikuti langkah Lucien.Pintu utama yang berat dan besar terbuka. Seorang kepala pelayan tua berdiri di sana, di belakang para pelayan dengan berbaris rapi. Mereka menunduk dalam diam.Lucien melangkah dengan suara sepatu menggema di lantai batu granit lalu berhenti di tengah aula. Lucien berbalik menatap Emily yang membeku di ambang pintu.‘Apakah aku harus masuk?’ pikir Emily bingung melihat Lucien yang tidak menggandengnya atau menariknya untuk mendekat.Walau tidak diundang masuk, Emily melangkahkan kakinya menuju Lucien yang sudah berada di tengah aula. Para pelayan masih menunduk hormat.“Selamat datang di rumah barumu,” kata Lucien ketika Emily sudah berdiri beberapa langkah darinya. “Marchioness,” lanjutnya.Kali ini dengan berbisik seolah tidak ingin semua orang tahu mengenai statusnya yang sudah menjadi istri seorang Marquess.Emily mendengar Lu

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 4: Pernikahan Tanpa Cinta

    “Apakah Anda, Emily Fitzwilliam bersedia menerima Lucien Montague sebagai suami Anda? untuk mendampinginya dalam suka dan duka, dalam sakit dan sehat, hingga maut memisahkan?”Pendeta mengulangi sekali lagi janji suci itu. Emily menelan ludah susah payah. Kedua tangannya memegang erat buket bunga berukuran mini itu.Tatapan pendeta tersebut tidak menghakimi. Sebaliknya, menunggu dengan sabar seraya tersenyum tipis.Lucien hanya berdiri diam di samping Emily. Pria bertubuh tinggi tegap tersebut tidak bergerak.“Ya. Saya bersedia.”Akhirnya Emily mengatakan itu. Dia merasa tubuhnya terasa berat. Begitu pula napasnya. Emily ingin sekali pingsan tetapi seumur hidupnya, belum pernah terjadi.“Dengan kesaksian Tuhan ….” Pendeta berkata lagi, “dan orang-orang yang hadir di sini, saya nyatakan kau berdua sebagai suami istri. Semoga Tuhan selalu menyertai dan membimbing kau berdua dalam perjalanan hidup bersama.”Pendeta yang tidak Emily tahu namanya itu menatap Lucien yang berdiri di samping

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 3: Dua Janji

    “Apa itu, Ayah?” tanya Emily pelan.Dia tidak terkejut sama sekali. Hidupnya yang akhir-akhir ini penuh kejutan membuatnya mulai terbiasa.Jasper menarik napas dalam. Dia melirik Madeline untuk menghindari tatapan Emily dan mencari dukungan pada istrinya.Madeline yang melihat Jasper menatapnya itu mengangguk. Seolah memberi kekuatan untuk mengatakan sesuatu yang mereka simpan selama Emily hidup.“Emily,” ucap Jasper lagi. Kali ini dia memberanikan diri menatap wajah putinya itu. “Ada hal penting yang harus kau tahu sebelum menyandang nama Montague.Emily hanya diam menunggu.“Sesuatu yang kami simpan sejak kau masih bayi,” tambah Jasper berat seolah tidak ingin mengatakannya.Emily tetap diam. Menurutnya, tidak ada lagi yang dapat membuat dirinya lebih hancur daripada sekarang. Pernikahan tanpa cinta membuatnya hancur berkeping-keping.Mereka melangkah masuk lalu duduk di sisi kanan dan kiri Emily. Keduanya terdiam sesaat.“Kau… kau bukan anak kandung kami, Emily,” kata Jasper pada a

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 2: Keputusan Sepihak

    “Apa itu, Bu?”Senyum Emily terbit mendengar ucapan Madeline. Dia bersyukur karena doanya terkabulkan. Apa pun yang diberikan Marquess pada keluarganya, dia akan berterima kasih nanti.“Kau akan menikah, Sayang!”Madeline berkata dengan suara sedikit keras lalu segera menutup mulutnya. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan.Memastikan tidak ada orang yang mendengar. Dia mendadak lupa pada perjanjian yang disepakati dengan Marquess.“Menikah?!” seru Emily.Penyiram tananman yang ada di genggamannya jatuh ke tanah. Air yang menampungnya keluar membasahi gaun berwarna kuning pucatnya pada bagian bawah.Madeline mengangguk, “ya.”“Dengan siapa, Bu? Apa aku mengenalnya? Kenapa tiba-tiba?” tanyanya. Dia tidak menyangka kedatangan orang tuanya dari tempat Marquess akan berakhir seperti itu.“Ayo kita masuk.”Madeline kemudian menarik tangan Emily masuk ke dalam rumah. Jasper sedang duduk menunggu di ruang tamu dengan wajah serius bagi Emily yang melihatnya.“Duduk dulu, Em,” kata Madeline l

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 1: Transaksi di Balik Segel

    “Permisi! Apakah ada orang?”Suara berat seorang pria terdengar dari balik pintu depan, disertai ketukan tegas. Kali ini, nada suaranya terdengar lebih sopan daripada tamu-tamu tidak diundang yang datang sebelumnya.Emily yang masih berdiri di koridor depan setelah mengusir penagih utang sebelumnya, menarik napas panjang.Dirapikan rambut dan ujung gaunnya yang sedikit kusut. Dia harus terlihat anggun walau bahaya sedang mengintai di sekelilingnya.“Ya? Mau cari orang tuaku?” Emily berkata seraya membuka pintu. “Mereka sedang tidak ada di rumah. Utang akan kami bayar—”“Bukan, Nona,” sela pria yang berdiri di hadapannya. Nada bicaranya sopan.Emily mendongak. Dia menyadari bahwa tamu kali ini berpakaian berbeda dengan para penagih utang.Pria di hadapannya mengenakan seragam rapi layaknya seorang kurir resmi dari kediaman bangsawan. Wajah kurir itu terlihat letih. Namun, tatapannya jauh lebih ramah.“Ada surat untuk Count dan Countess Fitzwilliam dari Marquess,” ucap kurir itu seraya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status