로그인
Ryuga baru saja melangkah pergi, ruang kopi langsung geger."Kalau Wina itu Nyonya Bos, terus Lisa itu apa?""Gila, ternyata mereka nikah siri? Misterius banget.""Tadi aku sempat maki-maki Wina, apa Bos tahu ya? Bakal diusir dari keluarga nggak ya aku?""Berarti Lisa itu pelakornya? Terus tiap hari dia sok berkuasa dan pamer di depan kita, cuma akting doang?"Hanya dengan satu kalimat, Ryuga membuat status Lisa di keluarga langsung terjun bebas.Ryuga tidak peduli lagi apa yang dipikirkan Lisa yang sedang cuti itu.Satu-satunya pikirannya sekarang adalah segera menemukan Wina dan membawanya kembali ke sisinya.Setelah menenangkan diri semalaman, dia akhirnya sadar.Dia dan Wina bukan sekadar suami istri. Mencintainya sudah menjadi kebiasaan, hingga dia sempat tidak menyadari perasaannya sendiri.Semua kesalahan ada pada dirinya.Asalkan Wina mau kembali ....Dia rela melakukan apapun untuk menebus kesalahannya.Dia mengambil ponsel, lalu teringat kalau Wina sudah menghapus nomor telep
Ryuga teringat sikap Wina yang tidak biasa, sangat dingin dan begitu teguh saat meminta cerai.Dia langsung menelepon Kevin sambil menahan amarahnya."Wina minta cerai itu ajaranmu, ya? Kamu sekarang udah jadi orang ketiga di pernikahan kami, jangan keterlaluan!""Oh, ya?" Suara yang rendah dan karismatik terdengar perlahan dari seberang."Ngomong-ngomong, aku benar-benar harus berterima kasih sama kamu. Kalau bukan karena kamu berpaling, aku nggak akan pernah dapat telepon dari Wina."Kedua belah pihak terdiam dalam keheningan yang mencekam, konfrontasi tanpa suara pun telah dimulai.Setelah sekian lama, Kevin baru berbicara dengan suara rendah setelah mendengar napas Ryuga yang makin berat, "Aku udah kasih kamu kesempatan, tapi kamu sendiri yang mengkhianatinya.""Sekarang kamu nggak bisa salahin aku. Dia pantas mendapatkan yang terbaik, sedangkan kamu nggak layak."Telepon ditutup.Ryuga duduk di lantai marmer yang dingin dan gelap, tidak lagi merasakan hawa dingin yang merayap.Dia
Tidak bisa dipungkiri kalau Lisa memang memberinya rasa segar yang berbeda dari Wina.Namun, rasa segar itu tidak cukup kuat untuk mengguncang pernikahannya.Apalagi sampai merusak perasaannya pada Wina.Dia selalu merasa dirinya tinggi dan paling meremehkan orang yang berselingkuh.Dia juga pernah mengucap sumpah di gereja kalau dia tidak akan pernah mengkhianati Wina seumur hidupnya.Karena itulah, saat menyadari ada perasaan untuk Lisa, dia berusaha menghindar dan melarikan diri.Dia bahkan merasa sangat bersalah.Untunglah, rasa suka itu tidaklah banyak.Tapi, dia tidak menyangka kalau Wina tetap bisa menyadarinya.Sikap marah dan kasar yang dia tunjukkan sebenarnya hanyalah cara untuk menutupi perasaan batinnya yang sesungguhnya.Secara logika, dia tetap menganggap cuma Wina yang bisa menjadi istrinya.Lisa hanyalah seorang sekretaris, orang asing yang cuma lewat sebentar dalam hidupnya.Dibandingkan perkataan Lisa, dia tentu lebih memercayai istrinya yang sudah melewati suka duka
Ryuga menyambar gelas di atas meja lalu membantingnya sekuat tenaga ke lantai marmer.Tato belati yang bersilangan di lengannya kini tampak makin mengerikan.Beberapa saat kemudian, Ryuga melambaikan tangan dengan lunglai. "Kamu keluar dulu, nanti aku yang hubungi dia.""Kamu selidiki keluarga mana yang berani ambil itu. Cari tahu apa mereka punya hubungan bisnis sama kita atau nggak.""Kalau ada pengkhianat di dalam keluarga, langsung habisi aja."Selama 10 tahun memimpin keluarga ini, tidak pernah sekalipun dia mengalami kerugian sebesar ini.Dulu kalau ada masalah, Wina selalu setia mendampinginya.Sesulit apa pun masalahnya, selama Wina yang turun tangan, semua pasti bisa selesai dengan mudah.Namun sekarang, Wina ingin gugat cerai dia.Dia terpaksa menghadapi situasi darurat ini seorang diri.Rasa panik dan frustrasi yang tidak berujung mulai menenggelamkannya.Fakta bahwa semua transaksi direbut orang lain berarti seluruh investasi awal keluarga sudah lenyap sia-sia.Kalau dia ti
Belum sempat aku menjawab."Ibu pasti ada urusan mendesak makanya lupa ketuk pintu.""Wina, kamu makin nggak ada tata krama ya. Kayaknya aku udah terlalu manjain kamu sampai kamu jadi ngelunjak begini."Seketika aku merasa sangat sesak karena menahan amarah. Jariku meremas surat pengunduran diri itu kuat-kuat."Aku ke sini mau ambil surat cerai.""Keluar! Jangan masuk kalau nggak bisa ketuk pintu."Suara kemarahan Ryuga menggelegar ke seluruh ruangan.Lisa langsung panik begitu mendengar soal surat cerai."Aduh Bos, jangan marah-marah dong. Ibu pasti nggak sengaja.""Pasti Ibu lagi emosi aja makanya ngomong sembarangan."Sambil bicara begitu, dia menarik lenganku dengan gaya sok polos dan berkata, "Bu, jangan emosi dulu ya. Ada apa-apa tuh diomongin baik-baik aja."Baru saja aku hendak menarik lenganku, Lisa sudah jatuh terjatuh ke samping hingga dahinya membentur lantai marmer dengan keras."Bu, aku nggak nyalahin Ibu kok. Ini emang aku aja yang kurang hati-hati."Aku baru saja ingin
Setelah kejadian itu, tatapan Ryuga selalu tertuju padaku.Saat aku menyadari hal itu dan balas menatapnya, dia selalu membuang muka secepat mungkin.Terkadang kalau aku ingin jalan kaki dan tidak minta dijemput sopir, di belakangku selalu ada ekor kecil yang mengikuti dari jauh.Suatu akhir pekan, aku dan teman-temanku janjian untuk pergi panjat tebing.Baru saja sampai di lokasi, kami berpapasan dengan Joseph, pewaris dari keluarga musuh.Aku membuang muka untuk menghindar, tapi tangan Joseph yang memegang cerutu tampak mengencang. Tatapan matanya yang kejam terus mengincarku.Baru sekitar lima menit kami turun tebing, muncul suara batu berjatuhan dan perkelahian dari puncak gunung yang seharusnya tidak ada orang di sana.Aku melihat tali utama kami bergoyang hebat, seolah ada seseorang yang sedang sekuat tenaga memotong tali itu.Belum sempat terpikir rencana darurat, terdengar teriakan Ryuga dari atas, "Wina, aku di sini!""Jangan takut, aku tarik kamu ke atas!"Setelah selamat dar







