เข้าสู่ระบบ"Pasukan Orin sudah bergerak."Satu kalimat Kanala itu membuat udara di halaman latihan yang tadinya panas karena latihan, langsung membeku.Kaelen tidak lagi terlihat seperti guru pedang yang menggoda Elara beberapa menit lalu. Punggungnya tegak, rahangnya mengeras. Duke Blackthorn telah kembali. Dan bayangan menyeramkan itu langsung muncul pertanda Kaelen benar-benar marah. "Kemana arahnya?" tanya Kaelen, suaranya rendah. Datar seperti tak berperasaan. "Perbatasan Kerajaan Velstra. Kerajaan Kedua. Mata-mata kita melihat bendera Orin sudah melewati Lembah Kabut. Mereka tidak membawa pasukan besar, Duke," Kanala menelan ludah. "Mereka membawa... sesuatu."Elara mengernyit. "Sesuatu?""Bayangan," jawab Kanala. "Seperti yang menghancurkan Kerajaan Pertama. Tidak berbentuk pasukan, tapi menghabiskan Kerajaan Ryukyu dalam semalam. Penduduk Kerajaan Velstra mulai mengungsi ke arah kita."Kaelen mengepalkan tangannya. Pedang latihan di tangannya berderak karena diremas terlalu kuat. Ela
Pagi di Kastel Blackthorn tidak pernah benar-benar tenang. Tapi pagi ini, ketegangannya berbeda.Ancaman Orin semalam masih menggantung di pikiran Elara seperti asap yang tidak mau hilang.“Datang kepadaku... atau biarkan kerajaan kedua jatuh.”Satu kerajaan di bawah naungan Blackthorn sudah hancur. Tersisa enam. Dan laporan dari mata-mata kepercayaan Blackthorn pagi ini mengatakan pasukan Orin sudah mulai bergerak lagi.Di luar, para pengawal memperketat penjagaan dua kali lipat. Denting baja dan langkah sepatu berat terdengar tanpa henti.Di dalam kamarnya, Elara tidak bisa hanya dalam terduduk tenang saja.Diam berarti menunggu enam kerajaan itu hancur satu per satu. Diam berarti terus menjadi titik lemah Kaelen. Dan dia sudah muak menjadi alasan Kaelen tidak berdaya.Dia menemukan Kaelen di halaman latihan. Tanpa jubah Duke, hanya kemeja latihan yang basah oleh keringat, pedangnya bergerak membelah udara dengan suara yang tajam dan teratur.Elara melangkah masuk ke lingkaran pasir
Bisikan misterius itu masih terasa menggema di seluruh Aula Blackthorn.“Satu dari tujuh telah jatuh.”Sesaat tidak ada seorang pun yang berani berbicara.Namun ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik.Suara kepanikan segera memenuhi seluruh aula.Para bangsawan saling berbicara. Beberapa bahkan berdiri dari tempat duduk mereka. Wajah-wajah yang sebelumnya hanya dipenuhi ketakutan kini berubah menjadi kepanikan yang nyata.Tidak lama kemudian, pintu aula terbuka dengan keras.Seorang pengawal berlari masuk dengan napas terengah-engah.Ia langsung berlutut di hadapan Kaelen.“Duke!”Kaelen menatapnya tajam.“Laporan.”Pengawal itu menelan ludah sebelum menjawab.“Kerajaan pertama... benar-benar telah diserang.”Suasana aula kembali sunyi.“Seberapa parah?”Pengawal itu menundukkan kepala.“Kami belum mengetahui pasti, Duke, apakah rajanya juga sudah terbunuh. Tapi wilayahnya... hampir seluruhnya telah dikuasai.”Beberapa bangsawan langsung berseru panik.“Kalau begitu, ancaman itu
Elara dan Kaelen masih berdiri di depan Pintu Keenam.Keduanya masih terguncang oleh perkataan sosok di balik pintu.Elara ingin bertanya lebih banyak, tetapi sebelum sempat membuka mulut, Pintu Keenam tiba-tiba kembali tertutup.DUG!Simbol lilin dan jam yang sebelumnya menyala perlahan menghilang.Cahaya hitam lenyap.Suasana di dalam kastel kembali normal seperti semula.Elara mengerutkan kening.“Apa maksudnya, Kaelen?” tanyanya polos.Kaelen tidak langsung menjawab.Namun telinganya justru terlihat memerah.Elara memperhatikannya.Kenapa telinganya merah?“Kaelen?”“Tidak usah dipikirkan. Nanti kau akan mengerti.”“Tapi kita hharus segera melakukan penyatuan, Kaelen.”“Diam, Elara!” teriak Kaelen.Elara langsung tersentak.Ia menatap Kaelen dengan mata membulat.Tidak habis pikir mengapa pria itu begitu emosi hanya karena pertanyaannya.“Aku hanya bertanya.”Kaelen menarik napas panjang.Ia tampak berusaha menormalkan emosinya.Namun sebelum sempat mengatakan apa pun—TONG!TONG!
Tok.Tok.Tok.Suara ketukan itu terdengar lagi. Dan terdengar makin aneh di telinga Elara. Seolah ketukan itu panggilan khusus untuknya. Elara berdiri di samping tempat tidurnya dengan wajah tegang.Solvaneira masih memancarkan cahaya samar.Tanda hitam di tangannya berdenyut seperti mengikuti sesuatu dari kejauhan.Kaelen berjalan menuju pintu kamar.“Jangan bergerak dari sini.”Elara langsung menatapnya.“Kau mau ke Pintu Keenam?”“Ya.”“Aku ikut.”“Tidak.”Elara mengerutkan kening.“Kenapa?”“Karena sesuatu di sana sedang memanggilmu.” Kaelen menatap tanda di tangan Elara. “Itu yang membuatku khawatir.”Elara terdiam.Dari luar terdengar suara Kanala lagi.“Duke! Lady Elara!”Kaelen membuka pintu kamar.Kanala berdiri di lorong dengan wajah pucat.Di belakangnya beberapa pelayan terlihat ketakutan.“Apa yang terjadi?” tanya Kaelen.Kanala menarik napas.“Pintu Keenam... berubah.”“Berubah bagaimana?”“Simbolnya menyala.”Kaelen langsung berjalan.Elara mengikutinya.“Kataku tetap
Elara perlahan membuka matanya. Pandangannya masih buram. Cahaya di sekelilingnya terasa terlalu terang, membuatnya harus berkedip beberapa kali. Hal pertama yang dilihatnya adalah seseorang yang duduk di samping tempat tidurnya. Kaelen. Ia duduk diam di sana dengan wajah yang terlihat sangat kelelahan. Lingkaran gelap tampak jelas di bawah matanya. Rambutnya sedikit berantakan, dan wajah pucatnya menunjukkan bahwa ia hampir tidak beristirahat selama beberapa hari. Namun, satu hal yang membuat Elara terdiam adalah genggaman tangan Kaelen. Tangan pria itu masih menggenggam tangannya dengan sangat erat. Seolah-olah jika ia melepaskannya, Elara akan menghilang. Elara mengerjapkan mata. Pikirannya masih kacau. “Kaelen...?” Mata Kaelen langsung terbuka lebar. Ia bangkit dari kursinya. “Elara.” Untuk pertama kalinya selama beberapa hari terakhir, suara Kaelen terdengar seperti seseorang yang baru saja mendapatkan kembali sesuatu yang hampir hilang darinya. Tanpa







