ANMELDENKeesokan harinya.Arthur merapikan kemeja yang dipakainya sambil berjalan menghampiri Kian yang masih tertidur pulas.Arthur bangun lebih awal, dia harus melihat kondisi pabrik sebelum pergi ke perusahaan untuk menghadiri rapat dengan jajaran direksi.Arthur duduk di tepian ranjang, satu tangannya mengusap lembut kening istrinya. “Kian,” panggilnya lirih.Jemari Arthur terus mengusap lembut kening Kian, sampai sang istri membuka mata.Mata Kian perlahan mulai terbuka. Dia melihat sosok suaminya yang sudah berpakaian rapi ketika sudah membuka dengan sempurna kelopak matanya.“Kamu sudah mau berangkat ke kantor? Ini jam berapa?” Suara Kian sedikit serak. Dia bangun perlahan, Arthur membantu Kian bangun.Begitu sudah duduk di atas ranjang, tatapan Kian tertuju pada Arthur yang tersenyum padanya.“Ini masih gelap, kamu bisa tidur lagi jika masih mengantuk.” Arthur mengusap rambut Kian, sebelum kembali berkata, “Aku mau ke pabrik sebentar, setelahnya langsung ke perusahaan.”Melihat diamny
Malam hari.Arthur duduk di ruang kerjanya, membaca laporan kebakaran yang terjadi hari ini.Nilai kerugian sudah ditafsir, Arthur diam memandangi rincian kerugian yang dialami perusahaannya.Masih fokus pada laporan yang dibacanya di tablet pintar, Arthur mendengar suara ketukan pintu dari luar.Sebelum mempersilakan, pintu ruang kerjanya sudah lebih dulu terbuka.Tatapan Arthur tertuju pada sang kakek yang baru saja masuk ke dalam ruang kerja.“Ini sudah larut lama, kenapa Kakek tidak beristirahat?” Arthur bangkit dari duduknya. Dia meninggalkan meja kerjanya dan menghampiri sang kakek.Arron menggeleng, napasnya berembus panjang.Arthur mengajak Arron duduk.Bahkan dia menuang teh untuk sang kakek.Arron menatap cangkir yang baru saja Arthur berikan, napasnya berembus pelan.“Ada apa? Kakek mau minum yang lain?” Arthur memperhatikan tatapan sang kakek yang tertuju pada cangkir.Arron menoleh Arthur, kepalanya menggeleng pelan. “Bukan.”Arron pelan-pelan menyesap teh yang masih meng
Arthur semakin terkejut mendengar apa yang Kian katakan.“Kamu ini bicara apa, huh? Siapa yang mengatakan itu?” Arthur langsung memeluk Kian. Direngkuhnya tubuh sang istri dengan sangat erat.Sedangkan Kian tenggelam dalam hangat pelukan suaminya, meski ada beban yang tak bisa dia ungkap.“Bagaimana bisa kamu mengatakan itu semua, hm? Bagaimana bisa kamu menyebut dirimu sendiri sebagai pembawa sial?”Mendengar apa yang Arthur katakan, tangis Kian semakin pecah. Kedua tangannya membalas pelukan Arthur dengan erat.Setelah beberapa saat menangis.Akhirnya Kian bisa sedikit tenang.Arthur mengajak Kian duduk. Jari-jarinya menghapus jejak air mata yang tertinggal di wajah Kian.Arthur menatap Kian yang terus menundukkan kepala.Napas Arthur berembus pelan. Dia menggenggam kedua telapak tangan Kian.“Kenapa kamu tiba-tiba mengatakan itu? Apa ada yang mengataimu seperti itu?” Arthur memastikan.Tidak mungkin Kian tiba-tiba menangis dan menyebut diri sendiri sebagai pembawa sial tanpa sebab
Tatapan Arthur tertuju pada bangunan yang sudah hangus terbakar.Api sudah padam, tapi belum ada yang diperbolehkan mendekat karena ditakutkan masih ada titik api yang menyala.“Pak, kami sudah meminta keterangan dari para karyawan dan mendata semua karyawan yang masuk malam ini.”Tatapan Arthur tertuju pada staff pabrik yang baru saja bicara.“Apa ada korban jiwa?” Arthur memastikan. Karena untuk sekarang, inilah yang terpenting.“Jika data absensi tidak salah, harusnya tidak ada, Pak. Semua karyawan berhasil meninggalkan bangunan sebelum api membesar.”Arthur menghela napas lega. Dia mengangguk-angguk pelan.“Baguslah,” kata Arthur meski wajahnya begitu lesu, “siapkan data untuk kerugian material yang para karyawan alami dan santunan untuk mereka yang terluka.” Staff mengangguk, sebelum meninggalkan Arthur.Arthur kembali diam memandang bangunan yang sudah berdiri kokoh selama bertahun-tahun dan menjadi mata pencaharian banyak orang, kini harus hangus tak bersisa.“Tuan, Anda istir
Arthur mengemudikan mobil menuju pabrik.Saat hampir tiba di area pabrik, tatapan Arthur tertuju pada kepulan asap hitam yang membumbung tinggi di udara.Jemari Arthur mencengkram erat setir kemudi. Jantungnya berdegup cepat, pikirannya terus tertuju pada kondisi pabrik milik keluarganya ini.Setibanya di area pabrik.Mobil-mobil pemadam kebakaran sedang sibuk memadamkan api.Begitu turun dari dalam mobil. Tatapan Arthur tertuju ke arah buruh pabrik yang gemetaran panik di seberang pabrik, beberapa di antaranya harus mendapat oksigen dari ambulance yang ada di sana.“Tuan.”Tatapan Arthur tertuju pada Kendrick yang berlari menghampirinya.“Bagaimana situasinya?” Arthur langsung memastikan.“Apinya menyebar hampir di seluruh gedung. Hampir delapan puluh persen bangunan habis terbakar, Tuan.” Tatapan Kendrick begitu pilu. Dia juga tak pernah membayangkan kejadian seperti ini akan terjadi.Arthur tetap tenang, sampai tatapannya tertuju ke karyawan yang beberapa di antara menangis karena
Di tempat persembunyian Hendra.Hendra duduk dengan satu kaki disilangkan.Telunjuknya mengetuk-ngetuk tepian kursi, matanya menyorot lurus ke depan.Dia baru saja mendapat kabar soal Arthur yang menggeledah rumahnya.Ternyata perkataan Anan benar, Arthur akhirnya tahu jika dialah yang membawa bayi Arthur.“Permainan ini akhirnya membosankan.” Bibir Hendra bergumam pelan.Hendra memejamkan mata, dia menarik napas dalam-dalam saat mengingat masa kecilnya.‘Kamu anak haram, sampai kapan pun kamu tidak akan pernah bisa diterima di keluarga Hadwin.’Suara Arron masih terngiang di telinganya, mencabik-cabik jantungnya.‘Kenapa kamu harus lahir? Kamu hanya bisa mempersulitku.’Keberadaannya hanya dianggap aib untuk Dimitri, walau pria itu tetap membesarkan dan mencukupi kebutuhannya secara diam-diam.‘Walau mengalir darah keluarga Hadwin. Dia hanya akan menjadi aib di keluarga ini. Demi melindungi nama baik keluarga, lebih baik dia tidak pernah tinggal di sini. Dan, kita anggap dia tak pern
Melangkah meninggalkan meja Kanaya setelah menyerahkan file desain revisi yang Kian buat. Kian sekarang masuk ke dalam lift, lalu naik menuju rooftop perusahaan.Ketika menginjakkan kaki di rooftop, tatapan Kian langsung tertuju pada Arthur. Suaminya sudah di sana, kini berdiri memandang ke hampara
Daniel terkapar dengan darah segar yang menggenang di lantai setelah Oliver mengambil ponselnya dan meninggalkannya begitu saja.Yang tanpa Oliver tahu, Daniel memiliki ponsel lain yang dia gunakan untuk menyimpan semua bukti-bukti kejahatan Oliver.Dengan napas yang berat dan kesad
Di rumah mewah Arron.Napas kasar berulang kali Arron embuskan. Kedua tangannya kini meremat kuat pangkal tongkat yang digenggamnya.“Apa Arthur sudah ada tanda-tanda mengajukan perceraian dengan wanita itu?” Tatapan Arron menajam saat tertuju pada Malvin–asisten pribadinya.Malvin menggeleng pelan
Saat jam istirahat.Kanaya masih duduk di belakang meja kerjanya. Matanya menelisik ke seluruh ruangan, memastikan sudah tidak ada satu karyawan pun yang tertinggal di ruang departemen desain, semuanya pergi ke kantin untuk makan siang.Bangkit dari duduknya, lalu melangkah menuju meja Kian. Kanaya







