مشاركة

Tidak Terlalu Peduli

مؤلف: Aldra_12
last update تاريخ النشر: 2025-12-18 08:51:57

Semua staff menundukkan kepala mendengar suara Arthur yang begitu lantang. Mereka tidak ada yang berani menatap ke arah Arthur.

Masih dengan tatapan tajamnya karena emosi dengan ketidakbecusan pekerjaan staffnya, Dengan sedikit suara menggeram, Arthur lantas berkata, “Bagaimana bisa kalian membuat desain seperti ini?”

Semua orang terdiam. Sampai Kanaya memberanikan diri mengangkat pandangannya ke arah Arthur, lalu dia mulai berkata, “Sebenarnya beberapa staff desain grafis kita ada yang resign,
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (1)
goodnovel comment avatar
Adeena
Arthur belum tau pesona'y Kian jd belum terpikat wkwkwk
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Saling Menguatkan

    Arthur semakin terkejut mendengar apa yang Kian katakan.“Kamu ini bicara apa, huh? Siapa yang mengatakan itu?” Arthur langsung memeluk Kian. Direngkuhnya tubuh sang istri dengan sangat erat.Sedangkan Kian tenggelam dalam hangat pelukan suaminya, meski ada beban yang tak bisa dia ungkap.“Bagaimana bisa kamu mengatakan itu semua, hm? Bagaimana bisa kamu menyebut dirimu sendiri sebagai pembawa sial?”Mendengar apa yang Arthur katakan, tangis Kian semakin pecah. Kedua tangannya membalas pelukan Arthur dengan erat.Setelah beberapa saat menangis.Akhirnya Kian bisa sedikit tenang.Arthur mengajak Kian duduk. Jari-jarinya menghapus jejak air mata yang tertinggal di wajah Kian.Arthur menatap Kian yang terus menundukkan kepala.Napas Arthur berembus pelan. Dia menggenggam kedua telapak tangan Kian.“Kenapa kamu tiba-tiba mengatakan itu? Apa ada yang mengataimu seperti itu?” Arthur memastikan.Tidak mungkin Kian tiba-tiba menangis dan menyebut diri sendiri sebagai pembawa sial tanpa sebab

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Prioritas Utama Yang Mana?

    Tatapan Arthur tertuju pada bangunan yang sudah hangus terbakar.Api sudah padam, tapi belum ada yang diperbolehkan mendekat karena ditakutkan masih ada titik api yang menyala.“Pak, kami sudah meminta keterangan dari para karyawan dan mendata semua karyawan yang masuk malam ini.”Tatapan Arthur tertuju pada staff pabrik yang baru saja bicara.“Apa ada korban jiwa?” Arthur memastikan. Karena untuk sekarang, inilah yang terpenting.“Jika data absensi tidak salah, harusnya tidak ada, Pak. Semua karyawan berhasil meninggalkan bangunan sebelum api membesar.”Arthur menghela napas lega. Dia mengangguk-angguk pelan.“Baguslah,” kata Arthur meski wajahnya begitu lesu, “siapkan data untuk kerugian material yang para karyawan alami dan santunan untuk mereka yang terluka.” Staff mengangguk, sebelum meninggalkan Arthur.Arthur kembali diam memandang bangunan yang sudah berdiri kokoh selama bertahun-tahun dan menjadi mata pencaharian banyak orang, kini harus hangus tak bersisa.“Tuan, Anda istir

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Pembawa Sial

    Arthur mengemudikan mobil menuju pabrik.Saat hampir tiba di area pabrik, tatapan Arthur tertuju pada kepulan asap hitam yang membumbung tinggi di udara.Jemari Arthur mencengkram erat setir kemudi. Jantungnya berdegup cepat, pikirannya terus tertuju pada kondisi pabrik milik keluarganya ini.Setibanya di area pabrik.Mobil-mobil pemadam kebakaran sedang sibuk memadamkan api.Begitu turun dari dalam mobil. Tatapan Arthur tertuju ke arah buruh pabrik yang gemetaran panik di seberang pabrik, beberapa di antaranya harus mendapat oksigen dari ambulance yang ada di sana.“Tuan.”Tatapan Arthur tertuju pada Kendrick yang berlari menghampirinya.“Bagaimana situasinya?” Arthur langsung memastikan.“Apinya menyebar hampir di seluruh gedung. Hampir delapan puluh persen bangunan habis terbakar, Tuan.” Tatapan Kendrick begitu pilu. Dia juga tak pernah membayangkan kejadian seperti ini akan terjadi.Arthur tetap tenang, sampai tatapannya tertuju ke karyawan yang beberapa di antara menangis karena

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Dendam Hendra

    Di tempat persembunyian Hendra.Hendra duduk dengan satu kaki disilangkan.Telunjuknya mengetuk-ngetuk tepian kursi, matanya menyorot lurus ke depan.Dia baru saja mendapat kabar soal Arthur yang menggeledah rumahnya.Ternyata perkataan Anan benar, Arthur akhirnya tahu jika dialah yang membawa bayi Arthur.“Permainan ini akhirnya membosankan.” Bibir Hendra bergumam pelan.Hendra memejamkan mata, dia menarik napas dalam-dalam saat mengingat masa kecilnya.‘Kamu anak haram, sampai kapan pun kamu tidak akan pernah bisa diterima di keluarga Hadwin.’Suara Arron masih terngiang di telinganya, mencabik-cabik jantungnya.‘Kenapa kamu harus lahir? Kamu hanya bisa mempersulitku.’Keberadaannya hanya dianggap aib untuk Dimitri, walau pria itu tetap membesarkan dan mencukupi kebutuhannya secara diam-diam.‘Walau mengalir darah keluarga Hadwin. Dia hanya akan menjadi aib di keluarga ini. Demi melindungi nama baik keluarga, lebih baik dia tidak pernah tinggal di sini. Dan, kita anggap dia tak pern

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Masih Tak Menemukan

    Masih tidak ada jawaban yang ingin Arthur dengar.“Baiklah jika kalian ingin mengambil jalan yang sulit.” Telunjuk Arthur siap menarik pelatuk.“Ampun, Tuan.” Akhirnya salah satu pelayan bersujud di dekat kaki Arthur. “Kami tidak tahu ke mana Tuan pergi, beliau meninggalkan rumah sejak siang tadi.”Setelah pelayan tua ini bicara, pelayan lainnya ikut bicara.“Benar, Tuan. Tuan Hendra tidak mengatakan apa pun.”“Soal bayi yang Anda maksud, kami juga tidak pernah melihat. Tuan tidak pernah membawa bayi kemari, Anda bisa mengecek rekaman CCTV di rumah ini jika Anda tak percaya, Tuan.”Arthur menatap satu persatu pelayan yang kini menangis meminta ampun.Amarah sesaatnya benar-benar membuat Arthur lepas kendali.Telunjuknya dilepas dari pelatuk, arah senjata api kini turun ke bawah.“Kalian, tidak membohongiku?” Arthur memastikan.“Tidak, kami tidak berani.” Pelayan menjawab serempak.Napas Arthur begitu berat.Dia sudah menemukan pelakunya, tapi masih tak bisa membawa kembali putranya.“

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Mendobrak Rumah Hendra

    Arthur mengajak Kendrick duduk.Sampai lembaran kertas berisi foto dari rekaman video yang Kendrick dapatkan, kini diulurkan pada Arthur.Arthur memperhatikan satu persatu gambar itu. Rahangnya mengeras hingga kedua pipinya tegang.Arthur mengenali postur dan tatanan rambut pria di gambar, meski wajahnya tak terlalu terlihat.“Tuan, ini rekaman saat dia datang dan pergi. Sebelumnya dia masuk taman tanpa membawa apa pun, lalu setelah keluar dari taman menuju mobil, dia menggendong sesuatu. Saya yakin itu bayi Anda.” Kendrick memperlihatkan rekaman kamera CCTV yang ada di tablet pintarnya.Tangan Arthur kini mengambil alih tablet, dia mengamati dengan seksama rekaman video yang tak terlalu jelas karena jarak kamera dengan tempat kejadian yang sedikit jauh.“Hendra.” Suara Arthur menggeram. “Beraninya kamu membawa putraku, lalu kamu datang kemari untuk bersandiwara jika kamu bersimpati pada kami!” Gigi-gigi Arthur bergemeletuk hebat.Tatapan Arthur menajam pada Kendrick, saat dia berkat

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Sikap Berubah-ubah

    Melangkah meninggalkan meja Kanaya setelah menyerahkan file desain revisi yang Kian buat. Kian sekarang masuk ke dalam lift, lalu naik menuju rooftop perusahaan.Ketika menginjakkan kaki di rooftop, tatapan Kian langsung tertuju pada Arthur. Suaminya sudah di sana, kini berdiri memandang ke hampara

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Menjadi Bukti dan Saksi

    Daniel terkapar dengan darah segar yang menggenang di lantai setelah Oliver mengambil ponselnya dan meninggalkannya begitu saja.Yang tanpa Oliver tahu, Daniel memiliki ponsel lain yang dia gunakan untuk menyimpan semua bukti-bukti kejahatan Oliver.Dengan napas yang berat dan kesad

  • Istri Kilat Presdir Tampan    Kerasnya Arron

    Di rumah mewah Arron.Napas kasar berulang kali Arron embuskan. Kedua tangannya kini meremat kuat pangkal tongkat yang digenggamnya.“Apa Arthur sudah ada tanda-tanda mengajukan perceraian dengan wanita itu?” Tatapan Arron menajam saat tertuju pada Malvin–asisten pribadinya.Malvin menggeleng pelan

  • Istri Kilat Presdir Tampan    File Hilang

    Saat jam istirahat.Kanaya masih duduk di belakang meja kerjanya. Matanya menelisik ke seluruh ruangan, memastikan sudah tidak ada satu karyawan pun yang tertinggal di ruang departemen desain, semuanya pergi ke kantin untuk makan siang.Bangkit dari duduknya, lalu melangkah menuju meja Kian. Kanaya

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status