Share

Bab 4

Author: Nana Shina
last update publish date: 2026-07-25 15:05:01

Pelukan dari lelaki masa lalu masih terasa hangat. Tarikan napas dua orang dalam jarak dekat memberikan sensasi intim yang tak jelas. Ayu menunduk ragu. Dia tak berani menatap telaga mata Arka yang begitu dalam. Sementara Arka tak melepas intaian. Dengan mata sipit tajam pria itu meraba tiap lekuk wajah yang ia kecup semenit yang lalu.

"Ay, wajahmu merah,” celetuk Arka di momen yang tak tepat.

Ayu buru-buru mendorong Arka untuk jauh. Wanita itu menutup setengah wajahnya dengan kepalan tangan. Malu. Dia tidak bisa menutupi kebutuhan akan perhatian dan sentuhan di masa-masa patah hati.

"Kamu enggak anggap serius kata-kata cintaku ‘kan?" tanya Arka sambil memiringkan kepala. Lelaki itu mencoba menggali ekspresi Ayu yang ditutup-tutupi.

"Jangan asal bicara! Aku tahu semua cuma kebohongan," gerutu Ayu sambil melangkah ke dalam ruang. Dia mendekati ranjang dengan langkah dan ayunan tangan ringan. Dia membiasakan diri. Lebih tepatnya si perempuan bekerja keras untuk terlihat santai dan nyaman.

"Baguslah. Sekarang duduk. Aku akan menjelaskan semuanya."

Arka berjalan ke sisi yang lain. Dia melepas jas dan menggulung bagian lengan hingga setengah.  Ayu tanpa sadar memperhatikan gerak-gerik sang cinta pertama. Berbeda jauh saat melakukan sandiwara opera sabun, lelaki itu kembali tenang. Air mukanya pun hambar tak beriak.

Ayu baru sadar kulit Arka makin bersih. Lebih enak dipandang mata ketimbang masa-masa mahasiswa. Tiap ulas menonjolkan garis-garis tegas. Rahang kokoh, hidung lurus, dan bibir tipis amat pas dengan ekspresi datar yang jarang membentuk senyuman.

Setelah mengamati lebih lama. Ayu juga baru sadar Arka bertambah tinggi. Tubuhnya ramping. Bahu lebar dan pinggang proporsional memberi kesan maskulin. Ayu memuji. Laki-laki itu matang dengan cara sempurna.

"Aku minta maaf soal tadi Ay,” ucap Arka sambil menarik kursi tone kayu di hadapan Ayu.

"Tadi yang mana? Aku merasa ada beberapa kejadian yang perlu aku maafkan."

Arka menyeringai. Dia terbawa suasana hingga lupa lawan bicaranya adalah Ayu Anindita. Wanita perfeksionis, elegan, dan kritis. Selebihnya dia akan pemalu, kekanak-kanakan, dan menyenangkan di kesempatan istimewa. Arka tak buru-buru menjawab saat Ayu menyudutkan komentar. Laki-laki itu menikmati laku Ayu yang lama tak terdeteksi radar.

Perempuan dengan mata indah bola pingpong itu tertarik menatap sekeliling. Dia pun sempat memeriksa parfum Arka yang tergeletak di meja sisi ranjang.

Terkesan. Rambut hitam legam itu membingkai pipi dengan apik. Diam-diam Arka terpana.

"Oke. Pertama aku minta maaf soal acara keluarga tadi. Lalu… soal aku yang menyuruhmu bersandiwara."

"Jelaskan semua. Aku benar-benar enggak paham situasiku sekarang."

Arka merebahkan punggung. Dia mengelus jidat perlahan sambil melirik Ayu yang menunggu. "Hari ini aku dijodohkan, Ay. Kakekku putus asa. Di antara cucu yang siap menikah hanya aku yang terus-terusan menghindar."

"Lalu?" tanya Ayu sambil menopang dagu. Dia menyilangkan kaki dengan gerakan halus nan anggun.

"Aku enggak ingin menikah. Enggak mau punya anak dan enggak akan menjalani rumah tangga yang merepotkan."

Ayu mengernyitkan dahi. Untuk pemikiran satu itu si wanita tak tahu menahu. Seingatnya Arka adalah lelaki biasa yang tak memiliki konsep tajam. Namun itu adalah Arka yang Ayu kenal sepuluh tahun lalu. Entah hidup seperti apa yang membuatnya berpikir jika menikah dan memiliki anak adalah beban.

Ayu pun paham. Dia dibesarkan di panti dan diadopsi keluarga Sita demi sebuah ritual buang sial. Selama hidup sebagai anak yang tak diharapkan Ayu pikir lebih baik tak dilahirkan sejak awal.

"Ayo kita pura-pura menikah untuk menenangkan kakek. Aku juga akan memberikan bantuan selama kamu jadi istriku.”

Mulut Ayu terkatup. Dia tak bereaksi apapun sampai sang cinta pertama membelalakkan mata. “Tunggu, Ay. Jangan bilang kamu sudah jadi istri orang,” tebak Arka hati-hati.

“Hampir,” sahut Ayu sambil mengubah posisi. Dia bangkit menuju sofa mocca dekat jendela.

“Maksudnya?”

Ayu menarik napas panjang. Dia menggeleng pelan sambil menggigit bibir pasrah. Bagaimanapun itu adalah aib. Menceritakan kegagalan sekaligus perselingkuhan mantan tunangan tak akan mengubah apapun.

“Lupakan. Anggap saja aku kurang beruntung soal cinta dan pernikahan.”

Arka menangkap rona sendu beberapa saat lalu. Kemudian wanita bergaun biru itu menyebar gurat marah. Membuat si pria paham jika perjalanan cinta Ayu berakhir dengan cara tak mudah.

Arka turut berpindah posisi. Dia menyandarkan tubuhnya dengan santai di sofa kiri. Tatapannya tenang. Tetapi sorot mata begitu tajam seolah sedang membaca setiap kemungkinan yang berputar di kepala Ayu.

"Jadi... kamu berminat dengan tawaranku?"

Ayu tidak langsung menjawab. Jemarinya saling bertaut di atas pangkuan. Sementara pikiran sibuk menimbang untung dan rugi dari kesempatan yang Arka tawarkan.

"Kalau dipikir-pikir apa untungnya untukku?" tanya Ayu blak-blakan. Alih-alih tersinggung sang cinta pertama justru mengembang senyum dan bersiap menjawab.

"Kamu masih berada di keluarga itu 'kan?"

Pertanyaan singkat itu membuat raut wajah Ayu menegang. Tepat sasaran. Mereka berdua sama-sama tahu keluarga itulah yang jadi biang kerok penderitaan.

"Keahlianmu mencari celah lawan belum pudar ya," tanggap Ayu seraya tersenyum sinis. Arka terkekeh. Ia menggeleng pelan demi kerendahan hati.

"Kamu bukan lawan, Ay." Tatapannya melunak. Sementara suara berat tetap menunjukkan ketegasan dalam sebuah perundingan. "Kita partner."

Ayu berdehem. Dia menahan tawa yang hampir meledak jika tak dikondisikan jari-jemari. Dia belum seratus persen paham tentang latar belakang dan kehidupan Arka saat ini. Tetapi bujukan yang setimpal akan membuatnya berpikir lagi.

"Satu tahun. Kita menikah dan jadi pasangan di depan kakek. Lalu pisah secara baik-baik."

Punggung Arka beringsut maju. Lelaki itu siap melempar kalimat lebih meyakinkan untuk menjembatani penawaran. "Kakek akan tenang karena aku sudah pernah menjalani pernikahan. Lalu kamu..." pandangannya bertemu tepat di telaga mata Ayu, "...bisa keluar dari rumah keluarga Anggara tanpa merusak reputasimu."

Tak ada paksaan. Apalagi kekerasan. Hanya sebuah tawaran yang disampaikan dengan logika dingin dan rayuan wajar.

"Kalau kamu setuju aku akan menyiapkan surat kontraknya segera."

Arka menatap Ayu sekali lagi. Memastikan wanita itu memahami keseriusan ucapannya. "Kita menikah bulan ini.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 89

    Bisik-bisik lirih menyertai orang yang telah duduk di ruang rapat. Suasananya mengingatkan pada rapat pertama Arka sejak menjabat sebagai CEO Scentara. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Berbagai kabar simpang siur yang beredar sejak pagi menambah ketegangan di antara para peserta. Hampir seluruh kursi telah terisi. Hanya tersisa dua tempat duduk masing-masing di bagian ujung tengah meja dan sisi samping nomor dua. Beberapa anggota rapat mulai menduga-duga. Ada seseorang yang telah dilengserkan tanpa banyak pemberitahuan. "HeIen," panggil Hendrik kepada kepala bagian pemasaran. Perempuan itu hanya membalas dengan pandangan tenang. Sesekali ia membuka map di hadapannya kemudian mendongakkan wajah untuk menanggapi Hendrik di seberang. "Kursi wakil kepala itu—" Ucapan Hendrik terhenti ketika pintu ruang rapat mendadak terbuka lebar. Sekretaris Arka masuk lebih dahulu disusul sang CEO, dua staf khusus, dan seorang pemuda yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Arka

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 88

    Dering telepon di meja samping ranjang memecah keheningan kamar. Arka yang masih memeluk Ayu erat terpaksa melonggarkan rengkuhannya untuk meraih ponsel dan menerima panggilan. "Halo." Lelaki itu menerima sapaan dan menyimak penjelasan singkat dari seseorang di seberang sambungan. Di sisi lain Ayu menggeliat kecil. Ia membuka mata dengan kesadaran yang belum pulih sepenuhnya. "Jam berapa sekarang?" tanyanya lirih. "Jam delapan, Sayang," jawab Arka tanpa melepaskan ponsel dari telinganya. Seseorang di ujung sambungan tiba-tiba menyela. "Maaf mengganggu waktu istirahat Anda bersama Senior Perfumer Ayu." "Tidak masalah. Silakan lanjutkan." Penelepon itu kembali menjelaskan informasi mengenai rapat mendadak yang akan diadakan besok, termasuk kehadiran seseorang dari pihak CEO. Sementara itu Ayu yang semula masih menikmati empuknya kasur dan elusan lembut Arka mendadak membeku. Telinga perempuan itu menangkap jelas bagaimana seseorang di seberang menyebut dirinya. Senior Perfumer A

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 87

    "Aku enggak memaksamu untuk menyerahkan diri sepenuhnya." Suara Arka terdengar rendah. "Tapi setelah kontrak kita selesai, aku enggak akan pernah merasakan Purnama Pertama, Ay. Sampai kapanpun." Ayu berbalik. Ia meninggalkan Arka yang masih berdiri di tempatnya. Sementara dirinya kembali duduk di tepi ranjang. "Tapi kita bukan suami istri sungguhan, Ar. Aku..." Kalimatnya terhenti. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati. Ayu semata-mata menolak bukan karena tak memiliki perasaan terhadap lelaki itu. Akan tetapi ada pertimbangan lain yang membuatnya sulit memberikan persetujuan. Hati kecilnya terusik oleh naluri. Sedangkan ia harus menghargai perempuan yang dicintai oleh suami. Bagaimana jika perempuan itu mengetahui bahwa Arka telah berbagi keintiman dengannya? Jika keadaan dibalik, Ayu tak yakin sanggup menerima kenyataan bahwa lelaki yang dicintainya memeluk perempuan lain. Di sisi lain Arka ikut berpindah. Ia berjongkok di hadapan Ayu lalu meraih kedua tangan perempua

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 86

    Arka membuka pintu kamar yang telah dipersiapkan di lantai dua. Di dalamnya Ayu duduk tenang membelakangi pintu. Dengan rambut tergerai ia diam di tepi ranjang menghadap jendela.Kamar itu ditata layaknya ruang pengantin baru. Beberapa bunga segar menghiasi vas sementara lilin aromaterapi menyala di meja sudut ruangan. Cahaya lampu yang temaram berpadu dengan dominasi warna putih dan cokelat hangat. Membuat tempat itu terasa lebih rapat nan menenangkan.Dalam remang Ayu tampak begitu bersinar. Tak ada aroma yang terlalu menonjol di sana. Hanya wangi lembut chamomile dan musk dari pelita yang perlahan redup lalu terang.Perhatian Arka makin tertuju pada aroma lain yang jauh lebih menggoda. Manis, lembut, dan mengundang. Tak lain dan tak bukan adalah aroma yang berasal dari istri kontraknya.Perpaduan semerbak mawar, melati, dan rempah hangat menciptakan wangi spesial. Aroma itu menggelitik gairah Arka, seolah mengusik kendali yang sejak tadi berusaha ia pertahankan."Ar?"Ayu mendengar

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 85

    Sekembalinya ke ruang mandi putri Uma mengulang wejangan mengenai Purnama Pertama. Mulai dari pemberian tanda pertama, kedua, bagian inti hingga penyelesaian. Di sela-sela penjelasan tersebut ia juga menyelipkan sejumlah arahan penting mengenai kehidupan suami istri. Sementara itu prosesi ratus bagian bawah dan rambut tetap berlangsung sesuai aturan. Aroma yang menyelimuti Ayu datang silih berganti. Saat ratus rambut semerbak cendana, melati, mawar, dan pandan menguar cukup kuat. Sepuluh menit kemudian wangi yang datang berganti menjadi perpaduan daun sirih, manjakani, kayu rapet, dan kencur. "Uma," panggil Ayu di tengah prosesi ratus bagian bawah. Perempuan itu sudah berganti kemban. Ia duduk di sebuah kursi dengan kain batik panjang yang menutupi tubuh bagian depan. Mulai dari dada, perut, hingga paha. "Ya, Nyonya Muda?" "Tadi Mas Arka ada di kolam pemandian." "Den Arka masuk ke pemandian?" Uma spontan menoleh. Ayu mengangguk pelan. "Apa kami memang harus bersama di

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 84

    Ayu segera menundukkan kepala. Kedua tangannya bertaut di bawah permukaan air, berusaha menyembunyikan kegugupan yang mulai menjalar. Saat ia masih terdiam sebuah tangan perlahan menyentuh bahu. Ayu terkejut hingga tubuhnya sedikit tersentak. "Aku memang harus di sini, Ay. Bersamamu." Satu tangan Arka melingkar di perutnya, sementara bibir lelaki itu mulai menyentuh kulit di antara lekuk leher. "Enggak ada orang lain selain kita. Kamu enggak harus menyentuhku," ucap Ayu lirih. Ia tak berani menoleh, apalagi menatap wajah suami kontrak. Perasaannya sedang tak baik-baik saja. Di satu sisi Ayu mulai menyadari bahwa Arka kembali menjadi sosok yang selama ini ia harapkan. Namun di sisi lain mereka masih terikat kesepakatan yang sama. Ditambah bukan tak mungkin hati Arka kini telah diisi oleh perempuan lain. "Cukup, Ar. Jangan lakukan ini." Napas Ayu mulai terasa lebih berat. Ia memejamkan mata lalu perlahan melepaskan tangan Arka dari tubuhnya. "Kenapa?" "Jangan lakukan sesuat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status