LOGINPelukan dari lelaki masa lalu masih terasa hangat. Tarikan napas dua orang dalam jarak dekat memberikan sensasi intim yang tak jelas. Ayu menunduk ragu. Dia tak berani menatap telaga mata Arka yang begitu dalam. Sementara Arka tak melepas intaian. Dengan mata sipit tajam pria itu meraba tiap lekuk wajah yang ia kecup semenit yang lalu.
"Ay, wajahmu merah,” celetuk Arka di momen yang tak tepat. Ayu buru-buru mendorong Arka untuk jauh. Wanita itu menutup setengah wajahnya dengan kepalan tangan. Malu. Dia tidak bisa menutupi kebutuhan akan perhatian dan sentuhan di masa-masa patah hati. "Kamu enggak anggap serius kata-kata cintaku ‘kan?" tanya Arka sambil memiringkan kepala. Lelaki itu mencoba menggali ekspresi Ayu yang ditutup-tutupi. "Jangan asal bicara! Aku tahu semua cuma kebohongan," gerutu Ayu sambil melangkah ke dalam ruang. Dia mendekati ranjang dengan langkah dan ayunan tangan ringan. Dia membiasakan diri. Lebih tepatnya si perempuan bekerja keras untuk terlihat santai dan nyaman. "Baguslah. Sekarang duduk. Aku akan menjelaskan semuanya." Arka berjalan ke sisi yang lain. Dia melepas jas dan menggulung bagian lengan hingga setengah. Ayu tanpa sadar memperhatikan gerak-gerik sang cinta pertama. Berbeda jauh saat melakukan sandiwara opera sabun, lelaki itu kembali tenang. Air mukanya pun hambar tak beriak. Ayu baru sadar kulit Arka makin bersih. Lebih enak dipandang mata ketimbang masa-masa mahasiswa. Tiap ulas menonjolkan garis-garis tegas. Rahang kokoh, hidung lurus, dan bibir tipis amat pas dengan ekspresi datar yang jarang membentuk senyuman. Setelah mengamati lebih lama. Ayu juga baru sadar Arka bertambah tinggi. Tubuhnya ramping. Bahu lebar dan pinggang proporsional memberi kesan maskulin. Ayu memuji. Laki-laki itu matang dengan cara sempurna. "Aku minta maaf soal tadi Ay,” ucap Arka sambil menarik kursi tone kayu di hadapan Ayu. "Tadi yang mana? Aku merasa ada beberapa kejadian yang perlu aku maafkan." Arka menyeringai. Dia terbawa suasana hingga lupa lawan bicaranya adalah Ayu Anindita. Wanita perfeksionis, elegan, dan kritis. Selebihnya dia akan pemalu, kekanak-kanakan, dan menyenangkan di kesempatan istimewa. Arka tak buru-buru menjawab saat Ayu menyudutkan komentar. Laki-laki itu menikmati laku Ayu yang lama tak terdeteksi radar. Perempuan dengan mata indah bola pingpong itu tertarik menatap sekeliling. Dia pun sempat memeriksa parfum Arka yang tergeletak di meja sisi ranjang. Terkesan. Rambut hitam legam itu membingkai pipi dengan apik. Diam-diam Arka terpana. "Oke. Pertama aku minta maaf soal acara keluarga tadi. Lalu… soal aku yang menyuruhmu bersandiwara." "Jelaskan semua. Aku benar-benar enggak paham situasiku sekarang." Arka merebahkan punggung. Dia mengelus jidat perlahan sambil melirik Ayu yang menunggu. "Hari ini aku dijodohkan, Ay. Kakekku putus asa. Di antara cucu yang siap menikah hanya aku yang terus-terusan menghindar." "Lalu?" tanya Ayu sambil menopang dagu. Dia menyilangkan kaki dengan gerakan halus nan anggun. "Aku enggak ingin menikah. Enggak mau punya anak dan enggak akan menjalani rumah tangga yang merepotkan." Ayu mengernyitkan dahi. Untuk pemikiran satu itu si wanita tak tahu menahu. Seingatnya Arka adalah lelaki biasa yang tak memiliki konsep tajam. Namun itu adalah Arka yang Ayu kenal sepuluh tahun lalu. Entah hidup seperti apa yang membuatnya berpikir jika menikah dan memiliki anak adalah beban. Ayu pun paham. Dia dibesarkan di panti dan diadopsi keluarga Sita demi sebuah ritual buang sial. Selama hidup sebagai anak yang tak diharapkan Ayu pikir lebih baik tak dilahirkan sejak awal. "Ayo kita pura-pura menikah untuk menenangkan kakek. Aku juga akan memberikan bantuan selama kamu jadi istriku.” Mulut Ayu terkatup. Dia tak bereaksi apapun sampai sang cinta pertama membelalakkan mata. “Tunggu, Ay. Jangan bilang kamu sudah jadi istri orang,” tebak Arka hati-hati. “Hampir,” sahut Ayu sambil mengubah posisi. Dia bangkit menuju sofa mocca dekat jendela. “Maksudnya?” Ayu menarik napas panjang. Dia menggeleng pelan sambil menggigit bibir pasrah. Bagaimanapun itu adalah aib. Menceritakan kegagalan sekaligus perselingkuhan mantan tunangan tak akan mengubah apapun. “Lupakan. Anggap saja aku kurang beruntung soal cinta dan pernikahan.” Arka menangkap rona sendu beberapa saat lalu. Kemudian wanita bergaun biru itu menyebar gurat marah. Membuat si pria paham jika perjalanan cinta Ayu berakhir dengan cara tak mudah. Arka turut berpindah posisi. Dia menyandarkan tubuhnya dengan santai di sofa kiri. Tatapannya tenang. Tetapi sorot mata begitu tajam seolah sedang membaca setiap kemungkinan yang berputar di kepala Ayu. "Jadi... kamu berminat dengan tawaranku?" Ayu tidak langsung menjawab. Jemarinya saling bertaut di atas pangkuan. Sementara pikiran sibuk menimbang untung dan rugi dari kesempatan yang Arka tawarkan. "Kalau dipikir-pikir apa untungnya untukku?" tanya Ayu blak-blakan. Alih-alih tersinggung sang cinta pertama justru mengembang senyum dan bersiap menjawab. "Kamu masih berada di keluarga itu 'kan?" Pertanyaan singkat itu membuat raut wajah Ayu menegang. Tepat sasaran. Mereka berdua sama-sama tahu keluarga itulah yang jadi biang kerok penderitaan. "Keahlianmu mencari celah lawan belum pudar ya," tanggap Ayu seraya tersenyum sinis. Arka terkekeh. Ia menggeleng pelan demi kerendahan hati. "Kamu bukan lawan, Ay." Tatapannya melunak. Sementara suara berat tetap menunjukkan ketegasan dalam sebuah perundingan. "Kita partner." Ayu berdehem. Dia menahan tawa yang hampir meledak jika tak dikondisikan jari-jemari. Dia belum seratus persen paham tentang latar belakang dan kehidupan Arka saat ini. Tetapi bujukan yang setimpal akan membuatnya berpikir lagi. "Satu tahun. Kita menikah dan jadi pasangan di depan kakek. Lalu pisah secara baik-baik." Punggung Arka beringsut maju. Lelaki itu siap melempar kalimat lebih meyakinkan untuk menjembatani penawaran. "Kakek akan tenang karena aku sudah pernah menjalani pernikahan. Lalu kamu..." pandangannya bertemu tepat di telaga mata Ayu, "...bisa keluar dari rumah keluarga Anggara tanpa merusak reputasimu." Tak ada paksaan. Apalagi kekerasan. Hanya sebuah tawaran yang disampaikan dengan logika dingin dan rayuan wajar. "Kalau kamu setuju aku akan menyiapkan surat kontraknya segera." Arka menatap Ayu sekali lagi. Memastikan wanita itu memahami keseriusan ucapannya. "Kita menikah bulan ini.”Deretan botol dengan kode-kode khusus tertata rapi di rak stainless. Beberapa mendekam dalam ruang terpisah sebagai hasil terbaik yang dapat diunduh satu atau dua bulan ke depan. Di ruang lengang yang berteman benda-benda transparan seorang pimpinan teliti mengejar wewangian. Dengan jaket lab kebanggaan, kacamata square frame abu muda, dan sarung tangan khas perlindungan, tertulis nama Ayu Anindita di dada kiri atas sebagai tanda pengenal. "Masih belum, Senior?" tanya satu-satunya lelaki yang ada di sana. Setengah berbisik antara gugup dan berharap segalanya segera berakhir. Sang senior membeku. Ia kipas-kipaskan blotter strip sesaat kemudian diam lagi untuk memindai notes yang menyebar pelan. Senior perfumer itu sedang menguji penciuman. Belum seratus persen tepat. Ia masih menangkap sesuatu yang terlewat. Ayu menggeser botol pertama. Ia beralih pada satu botol uji coba lalu kembali lagi pada botol yang menyita perhatian sejak awal. Dia merasa ada kurang, tetapi keempat anggo
Memasuki gedung utama tak pernah seberisik ini. Meski pagi jadi momen menyegarkan. Di kuping Ayu sekarang berdengung gumam sekitar. Perempuan itu tak terbiasa dengan gosip. Dia cenderung jadi orang yang menepi dan tak banyak berargumen selain dalam profesionalitas kerja. Kini kisah cintanya jadi konsumsi publik. Ada yang mengasihani karena Ayu ditinggal H-sebulan pernikahan. Ada juga yang bertanya-tanya apa kurangnya hingga wanita penuh power dan feminim energi itu tersisihkan."Ayu!”Si pemilik nama melambaikan tangan ringan. Sepucuk senyum dia suguhkan. Bagaimanapun dia paham. Sang sahabat akan meraung seperti manusia serigala di bulan purnama jika dia bersikap acuh tak acuh.“Selamat datang kembali di Scentara, Sister!" sapa Andini seraya memeluk manja. Sahabat Ayu sejak magang itu terlihat cerah dengan balutan blazer butter dan celana panjang tone daffodil."Lebay deh, An. Ditinggal tiga hari doang," sahut Ayu ringan. Style pakaian wanita itu berkebalikan dengan Andini yang terang
Pelukan dari lelaki masa lalu masih terasa hangat. Tarikan napas dua orang dalam jarak dekat memberikan sensasi intim yang tak jelas. Ayu menunduk ragu. Dia tak berani menatap telaga mata Arka yang begitu dalam. Sementara Arka tak melepas intaian. Dengan mata sipit tajam pria itu meraba tiap lekuk wajah yang ia kecup semenit yang lalu."Ay, wajahmu merah,” celetuk Arka di momen yang tak tepat.Ayu buru-buru mendorong Arka untuk jauh. Wanita itu menutup setengah wajahnya dengan kepalan tangan. Malu. Dia tidak bisa menutupi kebutuhan akan perhatian dan sentuhan di masa-masa patah hati."Kamu enggak anggap serius kata-kata cintaku ‘kan?" tanya Arka sambil memiringkan kepala. Lelaki itu mencoba menggali ekspresi Ayu yang ditutup-tutupi."Jangan asal bicara! Aku tahu semua cuma kebohongan," gerutu Ayu sambil melangkah ke dalam ruang. Dia mendekati ranjang dengan langkah dan ayunan tangan ringan. Dia membiasakan diri. Lebih tepatnya si perempuan bekerja keras untuk terlihat santai dan nyama
Ayu kira Arka hanya basa-basi saat bilang mengajaknya ke cafe dekat taman. Ternyata lelaki itu serius. Dia mengambil tempat duduk menghadap city light arah timur. Berbanding terbalik dengan pemandangan yang Ayu nikmati sebelum badai kebohongan melanda.Menunggu sekitar sepuluh menit. Pesanan Arka datang. Nasi pulen, rawon bumbu original, dan teh oolong tanpa gula. Ayu tersenyum. Makanan milik sang cinta pertama amat berbeda dengan suguhan di meja makan keluarga."Mau, Ay?" tawar Arka tanpa menoleh. Lelaki itu mengaduk kuah rawon sambil memastikan isian."Hem?""Kamu ngelihat makananku sampai kayak gitu. Mau?" tanya Arka sekali lagi. Kali ini dia mengangkat wajah. Menatap lurus perempuan bergaun biru yang dia bilang sebagai kekasih tercinta sejak mahasiswa."Oh enggak. Sorry."Ayu mengelus hidung seraya berdehem halus. Perempuan itu tak bermaksud mempermasalahkan selera Arka. Sejak dulu dia tahu, lelaki itu pecinta rawon dan empal goreng udang. Saat kuliah dia hanya bisa makan menu itu
Gemuruh hati tak akan pernah didengar oleh angin. Bukan soal lelaki maupun kekasih. Namun sejak kecil dia sudah mendapat lubang luar biasa besar dari orang yang seharusnya paling dicintai.Ayu Anindita. Ibu Bapaknya tak pernah menginginkan sebuah kelahiran. Dalam data panti dia tidak sungguh-sungguh ditulis sebagai anak buangan. Tetapi cerita akan pertemuan Suster Endang dengannya yang masih merah dan menginginkan ASI masih jadi legenda tak terbantahkan.Saat umur sepuluh tahun Ayu diadopsi oleh keluarga Anggara sebagai ritual. Anak mereka tercinta sakit-sakitan sejak bayi. Orang pintar bilang keadaan akan membaik jika ada anak berenergi positif menyertai.Siapa anak itu? Anak yang disekap di taman bunga tapi hanya berbekal duri dan tanah kotoran? Ya. Tak lain dan tak bukan Ayu.Sejak masuk ke rumah bak istana dia selalu menancapkan jati diri. Dia tidak akan mengharapkan sebuah keluarga yang utuh. Berkali-kali orang tua angkatnya pun memberi batas serupa.Dari gurat takdir yang kasar
Jika kesialan adalah tropi penghargaan dia akan memilikinya segudang penuh. Berkali melompat, menghindar, hingga mengubur bulat-bulat nasib buruk. Dia selalu jadi pemenang dalam perlombaan sebagai tumbal.Anniversary kedua. Saat tangan membawa hadiah dan kue cokelat merah muda Ayu melihat sang calon suami bercumbu mesra dengan adik satu-satunya. Di apartemen yang ia cicil. Di sofa merah marun yang dia beli tahun lalu."Jangan salahkan Kak Baskara, Kak! Semua salahku! Maafkan aku...," pinta si adik bersimpuh meminta pengampunan. Dia terisak. Akan tetapi suaranya terasa seperti sebuah tawa kemenangan.Kaku. Tubuh perempuan yang dikhianati tak mampu memberi respons terbaik. Dia hanya mampu berdiri dengan tatapan hambar. Tak ada makian. Tak ada kekerasan brutal."Sayang ayo bangun. Aku enggak mau anak kita yang ada di dalam perutmu kesakitan."Ucapan calon suami Ayu menyadarkan si wanita dari situasi miris. Perempuan itu buru-buru menoleh. Dia melempar tatapan sinis sekaligus jijik."Anak







