LOGINMemasuki gedung utama tak pernah seberisik ini. Meski pagi jadi momen menyegarkan. Di kuping Ayu sekarang berdengung gumam sekitar. Perempuan itu tak terbiasa dengan gosip. Dia cenderung jadi orang yang menepi dan tak banyak berargumen selain dalam profesionalitas kerja. Kini kisah cintanya jadi konsumsi publik. Ada yang mengasihani karena Ayu ditinggal H-sebulan pernikahan. Ada juga yang bertanya-tanya apa kurangnya hingga wanita penuh power dan feminim energi itu tersisihkan.
"Ayu!” Si pemilik nama melambaikan tangan ringan. Sepucuk senyum dia suguhkan. Bagaimanapun dia paham. Sang sahabat akan meraung seperti manusia serigala di bulan purnama jika dia bersikap acuh tak acuh. “Selamat datang kembali di Scentara, Sister!" sapa Andini seraya memeluk manja. Sahabat Ayu sejak magang itu terlihat cerah dengan balutan blazer butter dan celana panjang tone daffodil. "Lebay deh, An. Ditinggal tiga hari doang," sahut Ayu ringan. Style pakaian wanita itu berkebalikan dengan Andini yang terang bak bunga matahari. Dia memakai blouse pastel brown dan pencil skirt warna gelap. Simpel. Tenang. Tak menyita banyak mata. Ayu mengajak Andini untuk melangkah masuk. Sebelum jam menunjuk angka delapan wanita itu harus pemindaian identitas pegawai. "Senior!" Ayu tersentak. Dia buru-buru menoleh sisi samping untuk melihat siapa yang berteriak. Dari koridor divisi kreatif menghambur dua orang. Satu laki-laki berkemeja garis biru. Satu lagi perempuan cantik dengan dres bunga layer cardigan bone. Si lelaki langsung menggenggam tangan Ayu dan mengayunkannya perlahan. Sementara sang senior menaikkan alis tanda tak paham. "Jangan cuti dadakan lagi ya," pinta si lelaki melas. Dia celingak-celinguk sebentar. Kemudian tersenyum manis pada sang senior yang menggelengkan kepala. "Terbebani, Mar?" tanggap Ayu sambil terkekeh. "Takut banget rapat bareng senior lain. Berasa balik sidang skripsi zaman kuliah," ucap Damar hiperbola. Ayu melepas genggaman tangan si junior. Dia mengajak tiga orang lainnya untuk kembali turun ke ruang serbaguna lantai dua. Di sana akan ada penyambutan CEO baru. Saat Damar melongok ke dalam. Meja dan kursi dihias dengan bunga tone netral. Sementara tirai, pita, dan balon didominasi warna biru kelasi. "Ngomong-ngomong udah ada yang lihat CEO baru belum?" tanya Andini pada dua junior Ayu. "Belum nih, Kak. Padahal penasaran banget loh aku,” tanggap Santi. Anak magang tahun pertama. "Katanya beliau baru balik dari luar negeri ya?” tanya Damar turut nimbrung. Lelaki itu jalan lebih dulu untuk memilih tempat duduk di deretan tengah kanan. Sebentar si lelaki mengangkat tangan untuk menyapa divisi pemasaran. Kemudian menarik kursi untuk Ayu yang baru sampai tujuan. "Heem. CEO kita kuliah di Aussie. Ngurus cabang perusahaan di sana beberapa tahun terus balik ke sini,” jawab Santi sambil menyatukan kedua tangan. Rona di wajahnya begitu cerah. Seakan ada harapan tersembunyi dari perempuan usia dua puluhan. "Tahu enggak? Apa lagi yang bikin makin menarik?" "Apaan, San?" "Dia masih umur 30an dan belum nikah!" "Sumpah? Pasti bakal banyak yang halu.” “Halu gimana, Mar?” tanya Ayu sembari menahan senyum. “Ah Senior kayak enggak tahu aja. Macam di novel-novel. Karyawan nikah sama CEO. Impian sejuta umat itu.” Ayu makin tak bisa menahan tawa. Sebagai perempuan yang sejak kecil bekerja keras, dia tidak bisa memimpikan hal-hal penuh keajaiban seperti maksud Damar. "Udah jangan bahas yang enggak-enggak. Fokus acara aja. Udah mulai tu,” tutur Andini sambil menepuk dua orang yang dipenuhi angan-angan. Acara dimulai. Pembukaan, sambutan CEO lama, dan beberapa pidato tambahan menyertai. Ayu menikmati suasana formal itu dengan pandangan terpatri pada bunga anggrek di atas meja. Anggrek dendrobium putih itu lebih memancing perhatiannya ketimbang jajaran orang-orang penting di depan sana. "... Nah tidak perlu berlama-lama. Mari kita sambut ponakan tercinta saya. CEO baru Scentara. Arkana Banyu!" Pendengaran sang senior perfumer anjlok. Anggrek anggun nan murni tak lagi jadi pusat perhatian. Ayu membeku. Jantung pun berpacu tak beraturan. Bahu si wanita langsung menegang melihat sosok calon suami menempati posisi penting di perusahaan. Bagaimana dia bisa ada di sana? "Arka..." gumam Ayu seraya meyakinkan penglihatannya. Lelaki itu keluar dari pintu ruang bagian dalam. Dengan setelan jas abu-abu muda, dasi hitam, dan sepatu Oxford senada. Dia pantas muncul menawan dengan penuh kebanggaan. Arka naik ke atas panggung sembari menyalami beberapa orang. Sikapnya tenang. Pandangan mata yang disuguhkan tak kalah teduh dari pepohonan rindang di depan gedung utama. Ayu masih mematung. Dia tidak bisa mencerna keadaan untuk kedua kalinya. Jantungnya sudah melompat di acara makan malam beberapa hari lalu. Sekarang di acara penyambutan CEO yang ternyata adalah Arka, calon suami kontraknya. Dia tak bisa berpikir panjang. Ayu menarik napas resah. Dia berusaha mengembalikan ekspresi profesional yang nyaris runtuh ketika mengetahui Arka adalah CEO baru perusahaan. Jantungnya masih berdetak cepat. Sulit dipercaya bahwa pria yang beberapa minggu lagi akan menjadi suaminya kini berdiri sebagai pemimpin perusahaan tempat dia bekerja. "Ayo, Mar. Kita kembali." Suara Ayu terdengar pelan. Nyaris berbisik. Wanita itu memutar tubuh. Berniat meninggalkan ruangan secepat mungkin. Semakin lama di sana semakin sulit ia menyembunyikan kegelisahan. Namun belum juga lima langkah suara riuh terdengar dari belakang. Refleks sang senior perfumer mengambil jeda. Dia menoleh. Di sana Arka mendekat bersama beberapa petinggi. Ayu semakin kikuk. Dia menautkan jari-jemari dengan harapan segalanya tak jadi rumit. Pikiran Ayu kusut sendiri. Nyatanya pria itu melewati tanpa sedikitpun niat menyapa. Bahunya tegap. Langkahnya mantap. Sementara wajah tampannya tetap datar seolah kehadiran Ayu tak lebih dari salah satu karyawan biasa. Sesaat tatapan mereka beradu. Mata pria itu menyapu wajah Ayu dengan pandangan dingin. Bahkan bisa dibilang sinis. Tidak ada sapaan. Tidak ada senyum basa-basi. Apalagi ujar jika mereka adalah calon suami istri. Tatapan itu terasa seperti bongkahan es di dasar laut. Beku dan membikin kesan menggigil. Ayu tak kuat. Perempuan itu menunduk cepat demi kewarasan sepihak. Di sisi lain Arka mengalihkan pandangan tenang dan terus berjalan. Wangi bergamot, cedar, dan vetiver dari parfum yang dikenakannya masih tertinggal tipis di udara. Ayu lebih menyukai jejak itu daripada tingkah sang CEO baru. Tanpa sadar sudut bibir Ayu mengeras. Dia terlalu bekerja keras untuk menghindar. Akan tetapi saat menangkap sikap Arka begitu menyebalkan harga dirinya terusik. "Jadi... begini ya cara mainnya?" gumam Ayu menyeringai sinis. Wanita itu mengembuskan napas pelan. Jika sang CEO menganggapnya sekadar alat untuk menghindari sebuah pernikahan dan tak ada istimewa dari luar, maka dia pun tak akan bertingkah berlebihan. "Senior jadi pergi sekarang?" tanya Damar seraya celingak-celinguk mencari keberadaan rekan lainnya. "Heem. Ayo kembali." Ayu mengangkat dagu tegas. Dia melangkah mantap keluar ruang menuju zona teraman. Dalam hati sang senior perfumer berjanji. Jika Arka menjaga jarak antara pimpinan dan karyawan dengan laku sedingin itu, dia akan mengikuti alur serupa.Deretan botol dengan kode-kode khusus tertata rapi di rak stainless. Beberapa mendekam dalam ruang terpisah sebagai hasil terbaik yang dapat diunduh satu atau dua bulan ke depan. Di ruang lengang yang berteman benda-benda transparan seorang pimpinan teliti mengejar wewangian. Dengan jaket lab kebanggaan, kacamata square frame abu muda, dan sarung tangan khas perlindungan, tertulis nama Ayu Anindita di dada kiri atas sebagai tanda pengenal. "Masih belum, Senior?" tanya satu-satunya lelaki yang ada di sana. Setengah berbisik antara gugup dan berharap segalanya segera berakhir. Sang senior membeku. Ia kipas-kipaskan blotter strip sesaat kemudian diam lagi untuk memindai notes yang menyebar pelan. Senior perfumer itu sedang menguji penciuman. Belum seratus persen tepat. Ia masih menangkap sesuatu yang terlewat. Ayu menggeser botol pertama. Ia beralih pada satu botol uji coba lalu kembali lagi pada botol yang menyita perhatian sejak awal. Dia merasa ada kurang, tetapi keempat anggo
Memasuki gedung utama tak pernah seberisik ini. Meski pagi jadi momen menyegarkan. Di kuping Ayu sekarang berdengung gumam sekitar. Perempuan itu tak terbiasa dengan gosip. Dia cenderung jadi orang yang menepi dan tak banyak berargumen selain dalam profesionalitas kerja. Kini kisah cintanya jadi konsumsi publik. Ada yang mengasihani karena Ayu ditinggal H-sebulan pernikahan. Ada juga yang bertanya-tanya apa kurangnya hingga wanita penuh power dan feminim energi itu tersisihkan."Ayu!”Si pemilik nama melambaikan tangan ringan. Sepucuk senyum dia suguhkan. Bagaimanapun dia paham. Sang sahabat akan meraung seperti manusia serigala di bulan purnama jika dia bersikap acuh tak acuh.“Selamat datang kembali di Scentara, Sister!" sapa Andini seraya memeluk manja. Sahabat Ayu sejak magang itu terlihat cerah dengan balutan blazer butter dan celana panjang tone daffodil."Lebay deh, An. Ditinggal tiga hari doang," sahut Ayu ringan. Style pakaian wanita itu berkebalikan dengan Andini yang terang
Pelukan dari lelaki masa lalu masih terasa hangat. Tarikan napas dua orang dalam jarak dekat memberikan sensasi intim yang tak jelas. Ayu menunduk ragu. Dia tak berani menatap telaga mata Arka yang begitu dalam. Sementara Arka tak melepas intaian. Dengan mata sipit tajam pria itu meraba tiap lekuk wajah yang ia kecup semenit yang lalu."Ay, wajahmu merah,” celetuk Arka di momen yang tak tepat.Ayu buru-buru mendorong Arka untuk jauh. Wanita itu menutup setengah wajahnya dengan kepalan tangan. Malu. Dia tidak bisa menutupi kebutuhan akan perhatian dan sentuhan di masa-masa patah hati."Kamu enggak anggap serius kata-kata cintaku ‘kan?" tanya Arka sambil memiringkan kepala. Lelaki itu mencoba menggali ekspresi Ayu yang ditutup-tutupi."Jangan asal bicara! Aku tahu semua cuma kebohongan," gerutu Ayu sambil melangkah ke dalam ruang. Dia mendekati ranjang dengan langkah dan ayunan tangan ringan. Dia membiasakan diri. Lebih tepatnya si perempuan bekerja keras untuk terlihat santai dan nyama
Ayu kira Arka hanya basa-basi saat bilang mengajaknya ke cafe dekat taman. Ternyata lelaki itu serius. Dia mengambil tempat duduk menghadap city light arah timur. Berbanding terbalik dengan pemandangan yang Ayu nikmati sebelum badai kebohongan melanda.Menunggu sekitar sepuluh menit. Pesanan Arka datang. Nasi pulen, rawon bumbu original, dan teh oolong tanpa gula. Ayu tersenyum. Makanan milik sang cinta pertama amat berbeda dengan suguhan di meja makan keluarga."Mau, Ay?" tawar Arka tanpa menoleh. Lelaki itu mengaduk kuah rawon sambil memastikan isian."Hem?""Kamu ngelihat makananku sampai kayak gitu. Mau?" tanya Arka sekali lagi. Kali ini dia mengangkat wajah. Menatap lurus perempuan bergaun biru yang dia bilang sebagai kekasih tercinta sejak mahasiswa."Oh enggak. Sorry."Ayu mengelus hidung seraya berdehem halus. Perempuan itu tak bermaksud mempermasalahkan selera Arka. Sejak dulu dia tahu, lelaki itu pecinta rawon dan empal goreng udang. Saat kuliah dia hanya bisa makan menu itu
Gemuruh hati tak akan pernah didengar oleh angin. Bukan soal lelaki maupun kekasih. Namun sejak kecil dia sudah mendapat lubang luar biasa besar dari orang yang seharusnya paling dicintai.Ayu Anindita. Ibu Bapaknya tak pernah menginginkan sebuah kelahiran. Dalam data panti dia tidak sungguh-sungguh ditulis sebagai anak buangan. Tetapi cerita akan pertemuan Suster Endang dengannya yang masih merah dan menginginkan ASI masih jadi legenda tak terbantahkan.Saat umur sepuluh tahun Ayu diadopsi oleh keluarga Anggara sebagai ritual. Anak mereka tercinta sakit-sakitan sejak bayi. Orang pintar bilang keadaan akan membaik jika ada anak berenergi positif menyertai.Siapa anak itu? Anak yang disekap di taman bunga tapi hanya berbekal duri dan tanah kotoran? Ya. Tak lain dan tak bukan Ayu.Sejak masuk ke rumah bak istana dia selalu menancapkan jati diri. Dia tidak akan mengharapkan sebuah keluarga yang utuh. Berkali-kali orang tua angkatnya pun memberi batas serupa.Dari gurat takdir yang kasar
Jika kesialan adalah tropi penghargaan dia akan memilikinya segudang penuh. Berkali melompat, menghindar, hingga mengubur bulat-bulat nasib buruk. Dia selalu jadi pemenang dalam perlombaan sebagai tumbal.Anniversary kedua. Saat tangan membawa hadiah dan kue cokelat merah muda Ayu melihat sang calon suami bercumbu mesra dengan adik satu-satunya. Di apartemen yang ia cicil. Di sofa merah marun yang dia beli tahun lalu."Jangan salahkan Kak Baskara, Kak! Semua salahku! Maafkan aku...," pinta si adik bersimpuh meminta pengampunan. Dia terisak. Akan tetapi suaranya terasa seperti sebuah tawa kemenangan.Kaku. Tubuh perempuan yang dikhianati tak mampu memberi respons terbaik. Dia hanya mampu berdiri dengan tatapan hambar. Tak ada makian. Tak ada kekerasan brutal."Sayang ayo bangun. Aku enggak mau anak kita yang ada di dalam perutmu kesakitan."Ucapan calon suami Ayu menyadarkan si wanita dari situasi miris. Perempuan itu buru-buru menoleh. Dia melempar tatapan sinis sekaligus jijik."Anak







