LOGINAyu kira Arka hanya basa-basi saat bilang mengajaknya ke cafe dekat taman. Ternyata lelaki itu serius. Dia mengambil tempat duduk menghadap city light arah timur. Berbanding terbalik dengan pemandangan yang Ayu nikmati sebelum badai kebohongan melanda.
Menunggu sekitar sepuluh menit. Pesanan Arka datang. Nasi pulen, rawon bumbu original, dan teh oolong tanpa gula. Ayu tersenyum. Makanan milik sang cinta pertama amat berbeda dengan suguhan di meja makan keluarga. "Mau, Ay?" tawar Arka tanpa menoleh. Lelaki itu mengaduk kuah rawon sambil memastikan isian. "Hem?" "Kamu ngelihat makananku sampai kayak gitu. Mau?" tanya Arka sekali lagi. Kali ini dia mengangkat wajah. Menatap lurus perempuan bergaun biru yang dia bilang sebagai kekasih tercinta sejak mahasiswa. "Oh enggak. Sorry." Ayu mengelus hidung seraya berdehem halus. Perempuan itu tak bermaksud mempermasalahkan selera Arka. Sejak dulu dia tahu, lelaki itu pecinta rawon dan empal goreng udang. Saat kuliah dia hanya bisa makan menu itu sekali seminggu. Sisanya berhemat. Kadang tahu tempe. Selebihnya mi instan. Kenangan masa lalu terus berputar bagai TV hitam putih. Saat Ayu berusaha menekan canggung pesanannya datang. Bebek betutu setengah porsi, teh melati, dan es klepon vanilla. Arka menghentikan suapan. Dia mengamati Ayu yang memotret dan membolak-balikkan makanan hampir sepuluh menit. Laki-laki itu menurunkan sendok dan menopang dagu penasaran. "Kebiasaanmu masih sama Ay.” "Yang mana?" "Itu. Selalu mengobrak-abrik tataan dan mengedepankan indera penciuman. Padahal tinggal dimakan saja,” komentar Arka sambil tertawa pelan. Lelaki itu menunjuk bumbu betutu yang dipisah paksa. Juga memegang sambal tomat di sisi piring utama. "Jangan mengolok-olokku. Kamu sendiri juga masih sama." "Apanya?" "Tiap mau makan bingung pilih menu. Hampir sejam." Arka tergelak. Dia mengibaskan tangan sambil meminta maaf. Sudah lama. Lelaki itu tak menyangka Ayu bisa mengingat detail kecil dari kenangan sepuluh tahun lalu. "Jadi kapan kamu mau jelasin soal tadi?" tanya Ayu mulai menyuap nasi. Arka bungkam. Lelaki itu malah asyik mengamati satu persatu ekspresi Ayu saat ini. "Kenapa? Ada nasi di pipiku?" Si pria menggeleng. Dia mengaduk kuah rawon sebentar lalu kembali menyuap lahap. Lelaki itu mengambil garpu baru. Memotong daging besar dan menaruhnya di piring Ayu. Merasa perlu membalas si wanita menawarkan sesendok nasi bebek pada cinta pertama. "Setelah makan. Ikut aku ke kamar, Ay." Ayu tersedak. Dia batuk-batuk dan merenggut teh melati dengan kasar. Aroma pekat dan rasa yang berbaur di tenggorokan terasa perih. Menyakitkan. Sebelum mendapat kalimat tambahan Ayu melotot pada lelaki yang asal bicara. "Kamar?" "Iya. Tempat yang paling aman buat kita ngobrol." Bahu Ayu melemah. Dia sudah berpikir macam-macam saat mendengar kata kamar. Si gadis menekuk bibir masam. Dia malu dengan pemikirannya sendiri. Sementara Arka tetap dingin. Tak bereaksi. "Ay, sini tanganmu." "Kenapa?" Ayu bertanya sembari mengulurkan tangan. Spontanitas manis itu datang dari gadis yang terisak berhari-hari di tengah malam. "Arah jam dua. Ada orangnya paman. Mungkin mereka diminta pantau kita,” ujar Arka sambil menggerak bola mata ke arah kanan. Lelaki itu begitu tenang. Tak ada riak resah maupun gundah. Sesekali dia menaikkan kacamata. Setelah itu dia kembali menyuap makanan. Tangan lainnya masih menggenggam mesra. Beserta elus lembut yang menggelitik hati Ayu. Sama seperti sikapnya sepuluh tahun lalu. Arka mampu menaklukkan siapapun tanpa perlu berkoar maupun membual. "Kita pindah ke kamar sekarang." Sang tawanan menurut. Dia menyeka mulut. Kemudian beranjak dari kursi senatural mungkin. Arka masih menautkan jari-jemari. Mereka keluar cafe dengan obrolan ringan. Dugaan Arka benar. Dua orang membuntutinya sampai depan kamar. Pria itu mendengkus. Mengelus dahi yang mulai berkerut sebal. Sejak lama sang paman menantikan perjodohannya. Entah apa yang dijanjikan keluarga calon mempelai. Arka yakin sesuatu yang besar. "Ay,” panggil Arka lembut. Lelaki itu melonggarkan kemeja. Melepas satu kancing teratas yang membikin gerah. Selain itu dia mengambil kartu tap di dalam dompet. Bersiap untuk masuk dan melarikan diri. "Apa?" sahut perempuan bergaun biru. Dia gugup menunggu jawaban. Akan tetapi Arka malah mendorongnya perlahan ke arah pintu dan memeluk mesra. "Cium pipiku sekarang." "Kamu gila?” protes Ayu makin heran. "Mereka masih membuntuti. Cium pipiku. Aku akan buka pintu dan mendorongmu ke kamar,” bisik Arka tepat di sisi telinga. Ayu tidak siap dengan kepura-puraan ini. Apalagi dia harus melakukan kontak fisik. Dia baru saja berpisah dengan calon suami. Belum ada seminggu. Sekarang dia harus mencium laki-laki yang datang dari masa lalu. Terlalu jauh. Mereka bahkan belum menanyakan kabar, pekerjaan, keseharian, dan status. “Ay …” Suara berat Arka membuyarkan lamunan. Ayu mendongakkan kepala. Menatap Arka yang menanti dengan telaga mata lengang. Tangannya pun masih betah mendekap Ayu dalam zona ternyaman. Mau tak mau perempuan itu melakukannya. Pelan-pelan bibir itu menyentuh pipi. Lembut. Manis. Beraroma cherry berry. Adegan itu membuat suasana hening nan sunyi. Setidaknya bagi dua sejoli yang terhubung dalam kebohongan gila. Arka mempererat pelukan. Dia menahan punggung Ayu dengan satu tangan. Tangan lainnya membuka pintu dan lelaki itu mendorong wanitanya memasuki kamar. “I love you.” Pupil mata sang wanita membesar. Dia tidak tahu jika sandiwara ini harus disertai ungkapan cinta. Bertubi-tubi dia terkejut. Rentetan kelakuan Arka yang dinamis membuat Ayu kaget setengah mati. Di sisi lain Arka membalas kecupan. Dia mencium kening Ayu seraya mengangkat tubuh perempuan itu hingga pintu kamar tertutup rapat.Bisik-bisik lirih menyertai orang yang telah duduk di ruang rapat. Suasananya mengingatkan pada rapat pertama Arka sejak menjabat sebagai CEO Scentara. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Berbagai kabar simpang siur yang beredar sejak pagi menambah ketegangan di antara para peserta. Hampir seluruh kursi telah terisi. Hanya tersisa dua tempat duduk masing-masing di bagian ujung tengah meja dan sisi samping nomor dua. Beberapa anggota rapat mulai menduga-duga. Ada seseorang yang telah dilengserkan tanpa banyak pemberitahuan. "HeIen," panggil Hendrik kepada kepala bagian pemasaran. Perempuan itu hanya membalas dengan pandangan tenang. Sesekali ia membuka map di hadapannya kemudian mendongakkan wajah untuk menanggapi Hendrik di seberang. "Kursi wakil kepala itu—" Ucapan Hendrik terhenti ketika pintu ruang rapat mendadak terbuka lebar. Sekretaris Arka masuk lebih dahulu disusul sang CEO, dua staf khusus, dan seorang pemuda yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Arka
Dering telepon di meja samping ranjang memecah keheningan kamar. Arka yang masih memeluk Ayu erat terpaksa melonggarkan rengkuhannya untuk meraih ponsel dan menerima panggilan. "Halo." Lelaki itu menerima sapaan dan menyimak penjelasan singkat dari seseorang di seberang sambungan. Di sisi lain Ayu menggeliat kecil. Ia membuka mata dengan kesadaran yang belum pulih sepenuhnya. "Jam berapa sekarang?" tanyanya lirih. "Jam delapan, Sayang," jawab Arka tanpa melepaskan ponsel dari telinganya. Seseorang di ujung sambungan tiba-tiba menyela. "Maaf mengganggu waktu istirahat Anda bersama Senior Perfumer Ayu." "Tidak masalah. Silakan lanjutkan." Penelepon itu kembali menjelaskan informasi mengenai rapat mendadak yang akan diadakan besok, termasuk kehadiran seseorang dari pihak CEO. Sementara itu Ayu yang semula masih menikmati empuknya kasur dan elusan lembut Arka mendadak membeku. Telinga perempuan itu menangkap jelas bagaimana seseorang di seberang menyebut dirinya. Senior Perfumer A
"Aku enggak memaksamu untuk menyerahkan diri sepenuhnya." Suara Arka terdengar rendah. "Tapi setelah kontrak kita selesai, aku enggak akan pernah merasakan Purnama Pertama, Ay. Sampai kapanpun." Ayu berbalik. Ia meninggalkan Arka yang masih berdiri di tempatnya. Sementara dirinya kembali duduk di tepi ranjang. "Tapi kita bukan suami istri sungguhan, Ar. Aku..." Kalimatnya terhenti. Ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati. Ayu semata-mata menolak bukan karena tak memiliki perasaan terhadap lelaki itu. Akan tetapi ada pertimbangan lain yang membuatnya sulit memberikan persetujuan. Hati kecilnya terusik oleh naluri. Sedangkan ia harus menghargai perempuan yang dicintai oleh suami. Bagaimana jika perempuan itu mengetahui bahwa Arka telah berbagi keintiman dengannya? Jika keadaan dibalik, Ayu tak yakin sanggup menerima kenyataan bahwa lelaki yang dicintainya memeluk perempuan lain. Di sisi lain Arka ikut berpindah. Ia berjongkok di hadapan Ayu lalu meraih kedua tangan perempua
Arka membuka pintu kamar yang telah dipersiapkan di lantai dua. Di dalamnya Ayu duduk tenang membelakangi pintu. Dengan rambut tergerai ia diam di tepi ranjang menghadap jendela.Kamar itu ditata layaknya ruang pengantin baru. Beberapa bunga segar menghiasi vas sementara lilin aromaterapi menyala di meja sudut ruangan. Cahaya lampu yang temaram berpadu dengan dominasi warna putih dan cokelat hangat. Membuat tempat itu terasa lebih rapat nan menenangkan.Dalam remang Ayu tampak begitu bersinar. Tak ada aroma yang terlalu menonjol di sana. Hanya wangi lembut chamomile dan musk dari pelita yang perlahan redup lalu terang.Perhatian Arka makin tertuju pada aroma lain yang jauh lebih menggoda. Manis, lembut, dan mengundang. Tak lain dan tak bukan adalah aroma yang berasal dari istri kontraknya.Perpaduan semerbak mawar, melati, dan rempah hangat menciptakan wangi spesial. Aroma itu menggelitik gairah Arka, seolah mengusik kendali yang sejak tadi berusaha ia pertahankan."Ar?"Ayu mendengar
Sekembalinya ke ruang mandi putri Uma mengulang wejangan mengenai Purnama Pertama. Mulai dari pemberian tanda pertama, kedua, bagian inti hingga penyelesaian. Di sela-sela penjelasan tersebut ia juga menyelipkan sejumlah arahan penting mengenai kehidupan suami istri. Sementara itu prosesi ratus bagian bawah dan rambut tetap berlangsung sesuai aturan. Aroma yang menyelimuti Ayu datang silih berganti. Saat ratus rambut semerbak cendana, melati, mawar, dan pandan menguar cukup kuat. Sepuluh menit kemudian wangi yang datang berganti menjadi perpaduan daun sirih, manjakani, kayu rapet, dan kencur. "Uma," panggil Ayu di tengah prosesi ratus bagian bawah. Perempuan itu sudah berganti kemban. Ia duduk di sebuah kursi dengan kain batik panjang yang menutupi tubuh bagian depan. Mulai dari dada, perut, hingga paha. "Ya, Nyonya Muda?" "Tadi Mas Arka ada di kolam pemandian." "Den Arka masuk ke pemandian?" Uma spontan menoleh. Ayu mengangguk pelan. "Apa kami memang harus bersama di
Ayu segera menundukkan kepala. Kedua tangannya bertaut di bawah permukaan air, berusaha menyembunyikan kegugupan yang mulai menjalar. Saat ia masih terdiam sebuah tangan perlahan menyentuh bahu. Ayu terkejut hingga tubuhnya sedikit tersentak. "Aku memang harus di sini, Ay. Bersamamu." Satu tangan Arka melingkar di perutnya, sementara bibir lelaki itu mulai menyentuh kulit di antara lekuk leher. "Enggak ada orang lain selain kita. Kamu enggak harus menyentuhku," ucap Ayu lirih. Ia tak berani menoleh, apalagi menatap wajah suami kontrak. Perasaannya sedang tak baik-baik saja. Di satu sisi Ayu mulai menyadari bahwa Arka kembali menjadi sosok yang selama ini ia harapkan. Namun di sisi lain mereka masih terikat kesepakatan yang sama. Ditambah bukan tak mungkin hati Arka kini telah diisi oleh perempuan lain. "Cukup, Ar. Jangan lakukan ini." Napas Ayu mulai terasa lebih berat. Ia memejamkan mata lalu perlahan melepaskan tangan Arka dari tubuhnya. "Kenapa?" "Jangan lakukan sesuat







