Share

Bab 3

Author: Nana Shina
last update publish date: 2026-07-25 15:03:48

Ayu kira Arka hanya basa-basi saat bilang mengajaknya ke cafe dekat taman. Ternyata lelaki itu serius. Dia mengambil tempat duduk menghadap city light arah timur. Berbanding terbalik dengan pemandangan yang Ayu nikmati sebelum badai kebohongan melanda.

Menunggu sekitar sepuluh menit. Pesanan Arka datang. Nasi pulen, rawon bumbu original, dan teh oolong tanpa gula. Ayu tersenyum. Makanan milik sang cinta pertama amat berbeda dengan suguhan di meja makan keluarga.

"Mau, Ay?" tawar Arka tanpa menoleh. Lelaki itu mengaduk kuah rawon sambil memastikan isian.

"Hem?"

"Kamu ngelihat makananku sampai kayak gitu. Mau?" tanya Arka sekali lagi. Kali ini dia mengangkat wajah. Menatap lurus perempuan bergaun biru yang dia bilang sebagai kekasih tercinta sejak mahasiswa.

"Oh enggak. Sorry."

Ayu mengelus hidung seraya berdehem halus. Perempuan itu tak bermaksud mempermasalahkan selera Arka. Sejak dulu dia tahu, lelaki itu pecinta rawon dan empal goreng udang. Saat kuliah dia hanya bisa makan menu itu sekali seminggu. Sisanya berhemat. Kadang tahu tempe. Selebihnya mi instan.

Kenangan masa lalu terus berputar bagai TV hitam putih. Saat Ayu berusaha menekan canggung pesanannya datang. Bebek betutu setengah porsi, teh melati, dan es klepon vanilla.

Arka menghentikan suapan. Dia mengamati Ayu yang memotret dan membolak-balikkan makanan hampir sepuluh menit. Laki-laki itu menurunkan sendok dan menopang dagu penasaran.

"Kebiasaanmu masih sama Ay.”

"Yang mana?"

"Itu. Selalu mengobrak-abrik tataan dan mengedepankan indera penciuman. Padahal tinggal dimakan saja,” komentar Arka sambil tertawa pelan. Lelaki itu menunjuk bumbu betutu yang dipisah paksa. Juga memegang sambal tomat di sisi piring utama.

"Jangan mengolok-olokku. Kamu sendiri juga masih sama."

"Apanya?"

"Tiap mau makan bingung pilih menu. Hampir sejam."

Arka tergelak. Dia mengibaskan tangan sambil meminta maaf. Sudah lama. Lelaki itu tak menyangka Ayu bisa mengingat detail kecil dari kenangan sepuluh tahun lalu.

"Jadi kapan kamu mau jelasin soal tadi?" tanya Ayu mulai menyuap nasi. Arka bungkam. Lelaki itu malah asyik mengamati satu persatu ekspresi Ayu saat ini.

"Kenapa? Ada nasi di pipiku?"

Si pria menggeleng. Dia mengaduk kuah rawon sebentar lalu kembali menyuap lahap. Lelaki itu mengambil garpu baru. Memotong daging besar dan menaruhnya di piring Ayu. Merasa perlu membalas si wanita menawarkan sesendok nasi bebek pada cinta pertama.

"Setelah makan. Ikut aku ke kamar, Ay."

Ayu tersedak. Dia batuk-batuk dan merenggut teh melati dengan kasar. Aroma pekat dan rasa yang berbaur di tenggorokan terasa perih. Menyakitkan. Sebelum mendapat kalimat tambahan Ayu melotot pada lelaki yang asal bicara.

"Kamar?"

"Iya. Tempat yang paling aman buat kita ngobrol."

Bahu Ayu melemah. Dia sudah berpikir macam-macam saat mendengar kata kamar. Si gadis menekuk bibir masam. Dia malu dengan pemikirannya sendiri. Sementara Arka tetap dingin. Tak bereaksi.

"Ay, sini tanganmu."

"Kenapa?"

Ayu bertanya sembari mengulurkan tangan. Spontanitas manis itu datang dari gadis yang terisak berhari-hari di tengah malam.

"Arah jam dua. Ada orangnya paman. Mungkin mereka diminta pantau kita,” ujar Arka sambil menggerak bola mata ke arah kanan. Lelaki itu begitu tenang. Tak ada riak resah maupun gundah.  Sesekali dia menaikkan kacamata. Setelah itu dia kembali menyuap makanan.

Tangan lainnya masih menggenggam mesra. Beserta elus lembut yang menggelitik hati Ayu. Sama seperti sikapnya sepuluh tahun lalu. Arka mampu menaklukkan siapapun tanpa perlu berkoar maupun membual.

"Kita pindah ke kamar sekarang."

Sang tawanan menurut. Dia menyeka mulut. Kemudian beranjak dari kursi senatural mungkin. Arka masih menautkan jari-jemari. Mereka keluar cafe dengan obrolan ringan.

Dugaan Arka benar. Dua orang membuntutinya sampai depan kamar. Pria itu mendengkus. Mengelus dahi yang mulai berkerut sebal. Sejak lama sang paman menantikan perjodohannya. Entah apa yang dijanjikan keluarga calon mempelai. Arka yakin sesuatu yang besar.

"Ay,” panggil Arka lembut. Lelaki itu melonggarkan kemeja. Melepas satu kancing teratas yang membikin gerah. Selain itu dia mengambil kartu tap di dalam dompet. Bersiap untuk masuk dan melarikan diri.

"Apa?" sahut perempuan bergaun biru. Dia gugup menunggu jawaban. Akan tetapi Arka malah mendorongnya perlahan ke arah pintu dan memeluk mesra.

"Cium pipiku sekarang."

"Kamu gila?” protes Ayu makin heran.

"Mereka masih membuntuti. Cium pipiku. Aku akan buka pintu dan mendorongmu ke kamar,” bisik Arka tepat di sisi telinga.

Ayu tidak siap dengan kepura-puraan ini. Apalagi dia harus melakukan kontak fisik. Dia baru saja berpisah dengan calon suami. Belum ada seminggu. Sekarang dia harus mencium laki-laki yang datang dari masa lalu. Terlalu jauh. Mereka bahkan belum menanyakan kabar, pekerjaan, keseharian, dan status.

“Ay …”

Suara berat Arka membuyarkan lamunan. Ayu mendongakkan kepala. Menatap Arka yang menanti dengan telaga mata lengang. Tangannya pun masih betah mendekap Ayu dalam zona ternyaman. Mau tak mau perempuan itu melakukannya.

Pelan-pelan bibir itu menyentuh pipi. Lembut. Manis. Beraroma cherry berry. Adegan itu membuat suasana hening nan sunyi. Setidaknya bagi dua sejoli yang terhubung dalam kebohongan gila.

Arka mempererat pelukan. Dia menahan punggung Ayu dengan satu tangan. Tangan lainnya membuka pintu dan lelaki itu mendorong wanitanya memasuki kamar.

“I love you.”

Pupil mata sang wanita membesar. Dia tidak tahu jika sandiwara ini harus disertai ungkapan cinta. Bertubi-tubi dia terkejut. Rentetan kelakuan Arka yang dinamis membuat Ayu kaget setengah mati. Di sisi lain Arka membalas kecupan. Dia mencium kening Ayu seraya mengangkat tubuh perempuan itu hingga pintu kamar tertutup rapat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 6

    Deretan botol dengan kode-kode khusus tertata rapi di rak stainless. Beberapa mendekam dalam ruang terpisah sebagai hasil terbaik yang dapat diunduh satu atau dua bulan ke depan. Di ruang lengang yang berteman benda-benda transparan seorang pimpinan teliti mengejar wewangian. Dengan jaket lab kebanggaan, kacamata square frame abu muda, dan sarung tangan khas perlindungan, tertulis nama Ayu Anindita di dada kiri atas sebagai tanda pengenal. "Masih belum, Senior?" tanya satu-satunya lelaki yang ada di sana. Setengah berbisik antara gugup dan berharap segalanya segera berakhir. Sang senior membeku. Ia kipas-kipaskan blotter strip sesaat kemudian diam lagi untuk memindai notes yang menyebar pelan. Senior perfumer itu sedang menguji penciuman. Belum seratus persen tepat. Ia masih menangkap sesuatu yang terlewat. Ayu menggeser botol pertama. Ia beralih pada satu botol uji coba lalu kembali lagi pada botol yang menyita perhatian sejak awal. Dia merasa ada kurang, tetapi keempat anggo

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 5

    Memasuki gedung utama tak pernah seberisik ini. Meski pagi jadi momen menyegarkan. Di kuping Ayu sekarang berdengung gumam sekitar. Perempuan itu tak terbiasa dengan gosip. Dia cenderung jadi orang yang menepi dan tak banyak berargumen selain dalam profesionalitas kerja. Kini kisah cintanya jadi konsumsi publik. Ada yang mengasihani karena Ayu ditinggal H-sebulan pernikahan. Ada juga yang bertanya-tanya apa kurangnya hingga wanita penuh power dan feminim energi itu tersisihkan."Ayu!”Si pemilik nama melambaikan tangan ringan. Sepucuk senyum dia suguhkan. Bagaimanapun dia paham. Sang sahabat akan meraung seperti manusia serigala di bulan purnama jika dia bersikap acuh tak acuh.“Selamat datang kembali di Scentara, Sister!" sapa Andini seraya memeluk manja. Sahabat Ayu sejak magang itu terlihat cerah dengan balutan blazer butter dan celana panjang tone daffodil."Lebay deh, An. Ditinggal tiga hari doang," sahut Ayu ringan. Style pakaian wanita itu berkebalikan dengan Andini yang terang

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 4

    Pelukan dari lelaki masa lalu masih terasa hangat. Tarikan napas dua orang dalam jarak dekat memberikan sensasi intim yang tak jelas. Ayu menunduk ragu. Dia tak berani menatap telaga mata Arka yang begitu dalam. Sementara Arka tak melepas intaian. Dengan mata sipit tajam pria itu meraba tiap lekuk wajah yang ia kecup semenit yang lalu."Ay, wajahmu merah,” celetuk Arka di momen yang tak tepat.Ayu buru-buru mendorong Arka untuk jauh. Wanita itu menutup setengah wajahnya dengan kepalan tangan. Malu. Dia tidak bisa menutupi kebutuhan akan perhatian dan sentuhan di masa-masa patah hati."Kamu enggak anggap serius kata-kata cintaku ‘kan?" tanya Arka sambil memiringkan kepala. Lelaki itu mencoba menggali ekspresi Ayu yang ditutup-tutupi."Jangan asal bicara! Aku tahu semua cuma kebohongan," gerutu Ayu sambil melangkah ke dalam ruang. Dia mendekati ranjang dengan langkah dan ayunan tangan ringan. Dia membiasakan diri. Lebih tepatnya si perempuan bekerja keras untuk terlihat santai dan nyama

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 3

    Ayu kira Arka hanya basa-basi saat bilang mengajaknya ke cafe dekat taman. Ternyata lelaki itu serius. Dia mengambil tempat duduk menghadap city light arah timur. Berbanding terbalik dengan pemandangan yang Ayu nikmati sebelum badai kebohongan melanda.Menunggu sekitar sepuluh menit. Pesanan Arka datang. Nasi pulen, rawon bumbu original, dan teh oolong tanpa gula. Ayu tersenyum. Makanan milik sang cinta pertama amat berbeda dengan suguhan di meja makan keluarga."Mau, Ay?" tawar Arka tanpa menoleh. Lelaki itu mengaduk kuah rawon sambil memastikan isian."Hem?""Kamu ngelihat makananku sampai kayak gitu. Mau?" tanya Arka sekali lagi. Kali ini dia mengangkat wajah. Menatap lurus perempuan bergaun biru yang dia bilang sebagai kekasih tercinta sejak mahasiswa."Oh enggak. Sorry."Ayu mengelus hidung seraya berdehem halus. Perempuan itu tak bermaksud mempermasalahkan selera Arka. Sejak dulu dia tahu, lelaki itu pecinta rawon dan empal goreng udang. Saat kuliah dia hanya bisa makan menu itu

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 2

    Gemuruh hati tak akan pernah didengar oleh angin. Bukan soal lelaki maupun kekasih. Namun sejak kecil dia sudah mendapat lubang luar biasa besar dari orang yang seharusnya paling dicintai.Ayu Anindita. Ibu Bapaknya tak pernah menginginkan sebuah kelahiran. Dalam data panti dia tidak sungguh-sungguh ditulis sebagai anak buangan. Tetapi cerita akan pertemuan Suster Endang dengannya yang masih merah dan menginginkan ASI masih jadi legenda tak terbantahkan.Saat umur sepuluh tahun Ayu diadopsi oleh keluarga Anggara sebagai ritual. Anak mereka tercinta sakit-sakitan sejak bayi. Orang pintar bilang keadaan akan membaik jika ada anak berenergi positif menyertai.Siapa anak itu? Anak yang disekap di taman bunga tapi hanya berbekal duri dan tanah kotoran? Ya. Tak lain dan tak bukan Ayu.Sejak masuk ke rumah bak istana dia selalu menancapkan jati diri. Dia tidak akan mengharapkan sebuah keluarga yang utuh. Berkali-kali orang tua angkatnya pun memberi batas serupa.Dari gurat takdir yang kasar

  • Istri Kontrak Sang CEO   Bab 1

    Jika kesialan adalah tropi penghargaan dia akan memilikinya segudang penuh. Berkali melompat, menghindar, hingga mengubur bulat-bulat nasib buruk. Dia selalu jadi pemenang dalam perlombaan sebagai tumbal.Anniversary kedua. Saat tangan membawa hadiah dan kue cokelat merah muda Ayu melihat sang calon suami bercumbu mesra dengan adik satu-satunya. Di apartemen yang ia cicil. Di sofa merah marun yang dia beli tahun lalu."Jangan salahkan Kak Baskara, Kak! Semua salahku! Maafkan aku...," pinta si adik bersimpuh meminta pengampunan. Dia terisak. Akan tetapi suaranya terasa seperti sebuah tawa kemenangan.Kaku. Tubuh perempuan yang dikhianati tak mampu memberi respons terbaik. Dia hanya mampu berdiri dengan tatapan hambar. Tak ada makian. Tak ada kekerasan brutal."Sayang ayo bangun. Aku enggak mau anak kita yang ada di dalam perutmu kesakitan."Ucapan calon suami Ayu menyadarkan si wanita dari situasi miris. Perempuan itu buru-buru menoleh. Dia melempar tatapan sinis sekaligus jijik."Anak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status