เข้าสู่ระบบDi sisi lain, Karti dan Chandra dilanda kecemasan lantaran tidak ada kabar mengenai putri mereka. Karti cemas, bukan karena putrinya menghilang tapi karena Darma menuntut ganti rugi uang yang sudah ia berikan padanya. Uang yang sudah habis ia pakai, untuk memenuhi kebutuhannya.
"Makanya, Ma. Kalau belum pasti uangnya nggak perlu foya-foya dulu," ujar Chandra yang juga sama cemasnya, jangankan untuk membayar denda pada Darma, untuk membayar sejumlah DP yang diberikan Darma saja mereka bingung. "Kenapa Ayah jadi nyalahin Mama sih? Ya wajar kalau mama foya-foya, selama ini memang Ayah pernah ngasih Mama uang banyak?" Tidak terima ditegur, Karti justru mengungkapkan unek-uneknya selama ini. Adam yang hanya menjadi penonton di antara mereka berdua hanya diam. Dua hari setelah kakaknya meninggalkan rumah, keadaan di tempat ini menjadi kacau. Karena memang sebelumnya segala pekerjaan rumah ditanggung oleh kakaknya. Chandra yang mendengar unek-unek istrinya hanya diam saja karena untuk perekenomian mereka memang kekurangan, ditambah hasil kerja Chandra yang tidak menentu membuat mereka bergantung pada gaji Kalila yang sekarang entah di mana itu. "Eh Bu Karti!" sapa tetangga yang sedang lewat di depan rumah mereka. "Saya lihat Kalila di internet, dia menikah sama pengusaha kaya ya, Bu? Kok ibu tidak hadir?" "Memangnya iya, Bu?" kata Bu Karti yang terheran-heran, sekaligus seperti mendapatkan secercah harapan. Mereka tidak perlu dikejar-kejar oleh penagih utang milik Darma. "Iya, Bu. Saya lihat di internet, anak saya aja bilang katanya Kalila beruntung bisa menikah dengan pengusaha kaya itu," kata Bu Leni. Rupanya dia juga mendapatkan informasi dari anaknya. "Ya sudah ya, Bu. Saya pamit dulu." Karti hanya mengangguk, kemudian bergegas merebut ponsel yang sedang dipegang Adam. "Cepat carikan berita yang dimaksud Bu Leni!" suruhnya, mendorong bahu Adam menggunakan telunjuknya dengan kasar memintanya untuk segera melakukan apa yang diperintahkan. "Di mana, Bu?" "Ya cari aja! Kata Bu Leni ada di internet," ujar Karti penuh emosi. "Kamu disekolahin biar pinter, Adam. Masa gitu aja nggak tahu!" Adam mengetik nama kakaknya dengan lengkap, berharap hal itu cepat ketemu hingga ibunya tak terus mendesaknya. Adam tertegun melihat hasilnya, rupanya memang benar apa yang dikatakan tetangganya. Kalila menikah dengan seorang pengusaha, mapan dan kaya raya. Lebih muda dari calon suami yang dipilihkan ibunya. Karti langsung merebut ponsel yang ada di tangan Adam, dan membaca detail setiap kata yang tertulis dalam artikel. "Dimana tempat tinggal orang itu? Kita harus jemput dia, paling tidak kita harus lapor polisi kalau Kalila diculik dan orang itulah yang menculik Kalila!" Sementara itu di kediaman Lazuardi... "Biar aku bantu." Damian mengulum senyum, tubuh gadis itu menegang karena ia sentuh. Dirinya berniat untuk membantu untuk melepaskan gaun yang dikenakan Kalila. Sepertinya Kalila sedikit tidak nyaman, juga dirinya yang merasa ada yang aneh pada dirinya. "Aku panggilkan Bibi Indri untuk membantumu." Damian langsung keluar dari ruang ganti, tampak helaan napas lega terdengar dari Kalila. Sepertinya gadis itu masih takut padanya. Langkah besar pria itu segera membawa dirinya menemui Bibi Indri. "Bantu Kalila ganti baju, Bi." Damian meminta, Bibi Indri langsung mengangguk tapi seketika terhenti membuat Damian mengerutkan keningnya. "Ada apa, Bi?" "Apa tidak apa-apa saya masuk, Tuan?" "Tidak apa-apa, Bi. Masuk saja," kata Damian yang langsung diangguki oleh wanita paruh baya itu. Saat Damian hendak berjalan kembali ke kamarnya, seseorang mencekal tangannya. "Selamat ya, Damian. Maaf aku tidak bisa hadir ke pemberkatan pernikahanmu." Suara wanita yang tidak asing terdengar di telinganya, Damian hanya bisa menghela napas. Cukup keberatan dengan kedatangan wanita itu. Bella. Itulah namanya. Wanita yang sering diajak kemari oleh Meliana, dia adalah anak dari adik ibu sambungnya. Damian benar-benar tidak mau berurusan dengannya, karena baginya dia tidak lebih dari wanita liar yang tidak tahu aturan. "Jangan terlalu dingin padanya." Pundaknya disentuh oleh ibunya, ah tidak— ibu sambungnya. "Lagi pula sekarang kau sudah menikah, Damian. Seluruh dunia tahu itu, kau tidak perlu bersikap ketus pada Bella." Damian tak membantah, tak juga memprotes ucapan Meliana. Karena memang ia tidak punya banyak energi untuk meladeni semua ini. "Damian, Bella sudah menerima pernikahanmu seharusnya kau tidak bersikap seperti ini," kata Meliana yang melihat Damian hanya diam saja. "Dia sudah jauh-jauh dari luar kota ke sini hanya untuk menemuimu." "Aku tidak menyuruhnya untuk datang." Damian menyahut dengan nada ketusnya. Ia tidak suka pembicaraan ini, ia tidak suka pada Bella dan ia tidak suka jika ibunya terus memaksanya untuk bersikap baik pada wanita itu. "Bella tetap akan disini walaupun kau tidak menyuruhnya datang, Damian. Ini perintah dariku," kata Meliana. "Jika dia tahu diri, dia langsung kembali setelah ini. Ini rumahku," ujar Damian, tanpa melibatkan Bella dalam pembicaraannya. Ia hanya berbicara dengan Meliana. "Baiklah, Damian. Setidaknya biarkan dia makan malam di sini," ujar Meliana, yang membuat Damian mengalah. "Ya. Setelah itu angkat kaki dari rumahku." Saat malam tiba, mereka berkumpul di meja makan untuk memulai makan malam bersama. Sesuai dengan keinginan Meliana, Damian mengizinkan untuk Bella makan malam dan memasak makanan untuk mereka. "Ini sup buatan Bella. Kau harus mencobanya." Meliana menyajikan mangkuk yang sudah disiapkan untuk Damian, satu persatu sudah disiapkan termasuk Kalila yang saat ini hanya diam saja di tempatnya. Dia seperti boneka porselen yang hanya diam saja, memperhatikan interaksi antara ibu, anak dan satu wanita yang baru Kalila ketahui bernama Bella. Tampaknya, Damian tak berniat untuk memperkenalkan wanita itu pada istrinya. Meliana pun tampak mengabaikan keberadaan Kalila, wanita paruh baya itu hanya sibuk dengan Bella dan Damian. Sedangkan Kalila, Bibi Indri lah yang menyajikan makan untuknya. Meliana memberikan satu mangkuk sup yang katanya buatan Bella. "Barangkali kamu mau nyicip masakan keponakan saya." Kalila mengangguk sekali, tak lupa mengucapkan kata terima kasih karena sudah diingat. Kemudian, Meliana dan Bella tampak sibuk di dapur. Tangan Damian beralih, menukar mangkuk sup miliknya dengan milik Kalila. Hal ini membuat Kalila mengerutkan keningnya, kenapa? Sayangnya, Damian langsung memakan semua itu tanpa menatapnya. Kalila memandang ke arah Bibi Indri, tapi sepertinya dia pun tak tahu. "Makanlah," perintah Damian. Kalila mengangguk dan menyuapkan sendok ke dalam mulutnya, menyicipi semangkuk sup. Ini enak, tidak ada yang aneh. Setelah Meliana dan Bella kembali ke meja makan, mereka tampak senang Damian mau menghabiskan sup itu. Tatapan Bella benar-benar mencurigakan, tetapi Kalila tak bisa memahaminya. Setelah semuanya selesai makan, Kalila merasa seperti ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Dirinya merasa panas di sekujur tubuhnya, entah apa yang baru saja ia konsumsi. Damian tampak memperhatikannya, Kalila mencoba fokus karena pandangannya mengabur begitu saja. Tubuh Kalila ambruk, membuat Damian langsung bangkit berdiri dan membawanya ke lantai atas. Kalila masih setengah sadar, gadis itu bahkan menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Damian. Ini seperti bukan Kalila, seketika Damian sadar bahwa Bella menaruh sesuatu di sup yang dia sajikan. Jebakan ini untuknya, tapi ia malah menukarnya dengan milik Kalila! Damian merebahkan tubuh gadis itu ke atas kasur, bersiap menghubungi dokter. Rintihan dari gadis itu membuat Damian tidak tega. "Panas." "Kenapa tubuhku... panas sekali?" gumam Kalila dengan kesadaran yang kian terkikis. Rasa terbakar yang membakar dari dalam memaksanya kehilangan akal sehat; jemarinya yang gemetar mulai menanggalkan kancing bajunya satu per satu secara tidak sabar. Damian yang menyaksikan hal itu terpaku. Rasa bersalah menghantam dadanya seperti hantaman keras—ia berjanji tak akan menyentuh Kalila tanpa persetujuan gadis itu, namun pemandangan di depannya benar-benar menguji batas ketahanannya. "Damian! Apa yang terjadi padaku?!" jerit Kalila frustrasi. Dengan sisa tenaganya, ia menarik kasar kerah bajunya hingga tersingkap, memamerkan keindahan yang seharusnya tak dilihat Damian dalam situasi seperti ini. Damian menelan ludahnya berat, tenggorokannya mendadak serasa kering kerontang. Pikirannya berperang hebat antara nurani dan hasrat. "Kalila, tahan dirimu! Kau... kau terkena pengaruh obat perangsang!" seru Damian dengan nafas memburu. Bukannya tenang, kata-kata itu justru memicu insting liar dalam diri Kalila. Mata gadis itu yang biasanya jernih kini diliputi kabut gairah yang pekat. Tanpa peringatan, Kalila menerjang maju, mencengkeram kemeja Damian dan menarik pria itu hingga jarak di antara wajah mereka terkikis habis. "Kalau begitu... sembuhkan aku, Damian," bisik Kalila tepat di depan bibirnya, manik matanya yang diliput kabut gairah, dan nafasnya yang hangat dan terengah terkena kulit Damian. Semua itu membuat tembok pertahanan Damian hancur.Hari yang ditunggu-tunggu bagi sebagian orang tetapi paling Kalila hindari telah tiba, di mana dirinya sudah didandani dan memakai pakaian mewah, serta berkelas tak membuatnya langsung mendongakkan kepala. Dengan kepribadian milik Kalila, sebenarnya dia sangat jauh dari kriteria Lazuardi. Sayangnya, hanya wanita itu yang bisa membuat seorang Damian Lazuardi tertarik padanya. "Tidak perlu malu, mereka sedang memandang wajah cantik yang belum pernah mereka lihat," kata Damian mencoba menenangkan Kalila yang sudah gemetar lantaran menjadi pusat perhatian kala mereka tiba dan berjalan di sepanjang karpet merah. Kalila mencengkeram lipatan gaunnya lebih erat, merasai bahan kain sutra mahal itu terasa sangat asing di kulitnya. Komentar santai dari pria di sampingnya tak sedikit pun mengikis rasa cemas yang kini menghimpit dada. "Mereka tidak cuma memandang, Damian. Mereka sedang menghakimi," bisik Kalila lirih, berusaha menjaga agar gerakan bibirnya tak terlalu mencolok di bawah s
"Damian, aku tidak mengkhianatimu." Damian yang mendengar hal itu hanya diam tak merespon, tidak percaya dengan perkataan wanita yang ada di depannya. Wanita yang sudah menjadi ibu sambungnya belasan tahun. Tadinya ia sangat menghormatinya, walaupun Damian tahu bahwa wanita itu menikahi ayahnya karena harta keluarganya berlimpah. "Damian, sekali saja—" "Sekali saja aku memaafkanmu, kau akan mengulanginya, begitu?" Damian berkata sinis, sama sekali tidak tertipu dengan wajah memelasnya. "Lazuardi tidak akan memaafkan kesalahan." “Damian, kau tidak mengerti!” “Bagian mana yang tidak aku mengerti, Melia? Selama ini aku sudah menganggapmu sebagai keluarga, tapi ini balasanmu?” Damian menggertak wanita di hadapannya. “Itu bukan aku tapi Bella!” Lihat, dia mengakui sendiri. Itulah yang Damian tunggu-tunggu. “Itu dia! Kau lebih memilih untuk membantu saudaramu dibandingkan keselamatan keluarga Lazuardi yang mana kau menggunakan uangnya untuk keperluan hidupmu!” Damian marah.
“Mana Kalila?” Bibi Indri hanya tersenyum tipis merespons pertanyaan itu. Tuan Damian sudah mewanti-wanti agar Kalila tak ditemui oleh Nyonya Meliana. Karena itulah, begitu sang nyonya rumah tiba, Bibi Indri bergegas meminta Kalila mengunci diri di kamar. “Maaf, Nyonya. Tuan Damian memerintahkan agar Nona Kalila tetap di kamar dan tidak menerima tamu siapa pun,” tutur Bibi Indri penuh hati-hati. Wajah Meliana seketika mengeras. Matanya memicing tajam, menatap Bibi Indri dengan kilat kemarahan yang tak lagi disembunyikan. “Kamu sadar sedang bicara dengan siapa, Indri?” Suara Meliana terdengar dingin dan penuh penekanan. “Sejak kapan seorang pelayan berani menghalangi saya di rumah ini?” Bibi Indri makin menundukkan kepala. Jemarinya bertaut erat di depan tubuh, bergetar menahan ketegangan. “Maafkan saya, Nyonya. Tapi saya hanya menjalankan perintah Tuan Damian. Tuan menegaskan tidak ada pertemuan—termasuk dengan Nyonya.” Dengkus sinis terdengar dari bibir Meliana. Tanp
Setelah makan malam berlangsung, Kalila duduk di sofa kamarnya memainkan game di ponsel yang memang disediakan oleh Damian. Pria itu sendiri belum juga kembali ke kamar, sepertinya banyak pekerjaan karena pria itu sempat menerima beberapa pesan yang membuat wajahnya berubah. Kalila mendengus saat karakter di permainan yang ia mainkan mati begitu saja, sudah beberapa kali ia mencoba di tingkat ini. Sayangnya, ia belum juga berhasil menaklukkannya. Ceklek. “Kau belum tidur?” Kalila menoleh, mendapati Damian sudah berada di dalam kamar mereka. “Aku belum mengantuk,” katanya. Damian mengangguk mengerti, kemudian berjalan menuju toilet tanpa kata. Di sisi lain, Kalila masih penasaran dengan level game yang ia mainkan. Tak lama kemudian, Damian muncul kembali dengan pakaian yang sudah berganti menjadi piyama tidurnya. "Minggu depan ada acara, kau harus ikut." Kalila yang mendengar hal itu langsung menegakkan tubuhnya, menaruh ponsel di atas meja dan mendekat ke arah Damian. "A
Kalila tersentak, terkejut mendengar suara bariton milik Damian. Wanita itu langsung menoleh, dan tak tahu harus berbicara apa. Karena memang Damian menegurnya secara langsung, untungnya dia tidak membahas apa pun setelah ini."Ayo duduk, ini sebentar lagi matang."Damian menuntun Kalila duduk di kursi, menunggu koki memasak daging untuk mereka. Pria itu menyandarkan punggungnya, memperhatikan gerak-gerik Kalila yang tampak antusias menunggu daging selesai dipanggang. Sisa aroma udara dingin kantor dan kepalanya yang sempat tegang akibat laporan keuangan mendadak menguap begitu saja, digantikan oleh aroma daging panggang dan wangi harum dari wanita di sampingnya."Kau terlihat senang sekali malam ini," gumam Damian, matanya memperhatikan bagaimana mata Kalila tak lepas dari potongan Wagyu A5 yang sedang dibolak-balik oleh Koki Thomas di atas panggangan."Tentu saja senang! Dagingnya terlihat enak sekali, dan di rumah sebesar ini... rasanya aneh kalau tidak memanfaatkan taman seluas
Mata Damian menyipit menatap lembaran kertas yang terhampar di atas meja kerjanya. Ruang kerja lantai teratas gedung Lazuardi Group miliknya terasa begitu dingin, ditunjang oleh pemandangan malam kota yang berkilat di balik dinding kaca tebal. Namun, fokus pria itu sama sekali tidak tertuju pada keindahan gemerlap kota.Di hadapannya, laporan keuangan terakhir menunjukkan kejanggalan yang terstruktur rapi. Ada selisih angka yang disamarkan dengan sangat halus—langkah taktis dari orang dalam yang mencoba bermain-main di area kekuasaannya."Siapa yang memegang otorisasi transaksi ini?" suara Damian terdengar rendah, memecah hening dengan ketenangan yang justru mematikan.Di depan meja, manajer keuangan utama dan dua staf senior berdiri dengan tubuh kaku. Keringat dingin jelas meluncur di pelipis sang manajer. Aura menindas yang dipancarkan Damian bukan jenis aura gertakan—pria itu memegang kendali penuh atas hidup dan karier mereka dalam satu jentikan jari."K-kami sedang menelusuri







