FAZER LOGIN"Ini calon istri seorang Damian?"
Tanpa ada yang menjawab, tapi tampaknya diamnya orang yang ada di sini menandakan bahwa apa yang ia tanyakan benar adanya. "Bagai berlian dengan kerikil," lanjutnya dengan gerakan tangan yang benar-benar merendahkan sosok Kalila yang sedang berdiri gemetar di tengah ruangan seorang diri. "Sayang sekali, Damian yang agung malah disandingkan dengan Upik Abu sepertimu," katanya. Kalila tak mampu menjawab, karena ucapannya benar adanya. Ia bukan siapa-siapa, ia tak punya kuasa apa pun. Sialnya, yang berkuasalah yang menang. "Tapi tidak apa-apa, Upik Abu sepertimu itu bisa saja disulap jadi Cinderella dalam satu hari. Apa lagi dengan koneksi Lazuardi," katanya menyombongkan diri. "Saya Meliana Lazuardi, ibu dari Damian." Ibunya? Kalila baru melihatnya pagi ini, bahkan Damian tak menceritakan apa pun mengenai wanita di hadapannya. Beberapa orang yang ada di sini hanya memperhatikannya, sepertinya mereka mengasihani dirinya yang diinjak-injak oleh ibu mertuanya. "Ya sudah lanjutkan, jadikan dia pantas bersanding dengan putraku." Setelah mendengar perintah itu, orang-orang kembali mendekat dan mulai mendandani Kalila layaknya seorang putri karena memang itu yang dipinta Damian sebelum mereka memulai. "Oh ya? Siapa namamu?" Kalila kembali ditanya oleh wanita paruh baya yang berpenampilan luar biasa itu. Dengan helaan napas pelan, Kalila menjawab dengan hati-hati. Agar tidak salah ucap, karena tidak melakukan apa pun saja ia sudah salah dimatanya. "Kalila ya? Ya sudah, setidaknya namamu tidak begitu memalukan untuk dibicarakan orang-orang," katanya, lagi-lagi melukai hati Kalila. Berlian dan kerikil, Upik Abu, nama yang tidak terlalu buruk, lalu apa lagi? Kalila menatap wajahnya di cermin, dia memang tidak pantas bersanding dengan Damian, jika ia punya pilihan pun ia tidak akan mau menjadi pendamping hidup Damian. Lagi pula, siapa yang mau menikah dengan manusia yang memiliki monster dalam dirinya? "Jangan dengarkan Nyonya Lazuardi, Nona. Kau cantik, kau punya harga atas dirimu," bisik wanita yang bertugas menghias wajahnya. "Struktur wajahmu sangat jelas, kau sangat cantik. Jangan hanya karena ucapan seseorang dirimu menjadi kecil. Aku yakin, Tuan Damian akan semakin terpikat saat melihatmu nanti." Pernikahan telah dilangsungkan, Kalila merasakan sesak dalam dadanya. Karena ia menikah atas dasar paksaan dan itu tidak pernah ada dalam daftar keinginannya. "Apa yang telah dipersatukan oleh Tuhan, tidak boleh diceraikan oleh manusia. Karena kalian telah saling mengikatkan diri dalam perjanjian kudus ini, dengan bahagia saya menyatakan kalian sebagai suami istri yang sah. Silakan bertukar cincin sebagai lambang cinta yang tak berkesudahan." Ucapan pendeta beberapa jam yang lalu masih terngiang di telinga Kalila, tidak jadi istri dari seorang pria tua yang dipilihkan ibu tapi tetap menjadi istri dari suami yang tidak diinginkan. Dunia sangat jahat, hanya untuknya. Hari ini dirinya sudah berjanji di hadapan Tuhan, mengikat janji dengan pria yang tidak ia inginkan sama sekali. Kalila benar-benar menertawakan nasib yang benar-benar sangat menyiksanya. "Istirahatlah, kau terlihat sangat lelah." Setelah sampai ke rumah, Damian menyuruhnya untuk beristirahat. Kalila memang sudah sangat merasa lelah, hari ini benar-benar menguras energinya. "Bibi Indri, antarkan dia ke kamar." Seorang wanita paruh baya tergopoh-gopoh mendekat ke arahnya, wajah wanita itu sangat keibuan dan dia mengingatkan Kalila pada nenek dari pihak ayahnya. "Mari, Non. Saya antarkan," katanya. Kalila mengangguk, mengikuti langkah wanita paruh baya itu. Saat di lantai dua, Kalila hendak melangkah ke kamar yang tadinya memang tempatnya di sana. Bibi Indri mencegahnya. "Kamarnya sudah dipindahkan, Non. Mari ikut saya," katanya membuat Kalila mengerutkan keningnya, kenapa harus pindah? Harusnya ia tetap berada di sana, lagi pula kamar itu sangat nyaman. Kalila berjalan mengikuti langkah Bibi Indri dengan tangan yang menenteng gaun, karena memang gaun yang ia kenakan sedikit menjuntai ke bawah. Bibi Indri yang sadar Kalila kesusahan langsung membantunya. "Bibi dengar Nyonya ngajak Non Kalila ngobrol ya?" tanya Bibi Indri, Kalila yang mendengar hal itu hanya mengangguk kecil. "Iya, Bi. Perkenalan," ujar Kalila santai. "Dimaklumi ya, Non. Nyonya memang seperti itu," katanya. Kalila mengangguk lagi, karena memang sikap Nyonya Lazuardi memang harus seperti itu kan? Bagaimanapun juga dia orang kaya, pantas saja bersikap demikian. "Iya, Bi. Nggak masalah, lagi pula memang apa yang dikatakan beliau memang benar adanya. Aku memang tidak pantas bersanding dengan Damian." "Heh, Non Kalila tidak boleh berbicara seperti itu. Lagi pula Nyonya tidak jauh beda dengan Non Kalila, seharusnya dia tidak boleh berbicara seperti itu," kata Bibi Indri dengan beraninya. Kalila langsung menoleh ke kanan dan kiri, takut ada yang mendengarnya. "Ssst, Bibi nggak takut? Nanti Tuan Damian marah Bibi ngomongin ibunya." "Dia bukan ibu kandungnya, Non." Kalila terkejut, sekarang ada banyak sekali yang ingin Kalila bahas, mulai dari informasi yang disampaikan Bibi Indri, sampai ia ingin mengajukan pertanyaan kenapa dirinya harus pindah? "Ini kamar Tuan Damian, Non." Kalila yang mendengar hal itu langsung membelalakan matanya, pertanyaan yang belum sempat ia ajukan bahkan sudah langsung terjawab. "Apa, Bi? Saya sekamar dengannya?" "Loh, iya harus dong. Kalian sekarang sudah sah menjadi suami istri," katanya. Suami istri? Jujur, terdengar sangat aneh di telinganya. Tapi memang fakta bahwa ia sudah sah di mata agama dan negara membuatnya menghela napas. "Bi— bisakah aku tidur di tempat yang kemarin saja?" kata Kalila setengah memohon, sepertinya gadis itu memang benar-benar belum nyaman dengan kehadiran pria itu. Pernikahan yang diadakan dengan secara tertutup, hanya dengan kerabat dekat keluarga Lazuardi. Kalila cukup bersyukur untuk ini, karena ia tidak perlu berpura-pura bahagia di depan semua orang terlalu lama. Bibi Indri berpamitan, wanita paruh baya itu sudah memberitahu bahwa perlengkapannya sudah ada di sini. Manik mata gadis itu melihat sekitar, tidak ada lemari di sini. Kalila sedikit menyeret gaunnya, menuju ruangan yang membuatnya tertarik. Tampaknya kamar ini memiliki ruang ganti yang terpisah, tatapan mata Kalila tertuju pada sebuah pintu dan membukanya. Seperti biasa, rasa penasarannya sangat tinggi. Setelah ruangan itu terbuka, ruangan itu berisi lemari kaca yang begitu indah. Sangat cocok untuk mengoleksi sesuatu, ada juga lemari khusus yang biasa wanita-wanita kalangan atas menyimpan tas-tas koleksi mereka. Masih kosong. Kalila membuka laci yang ternyata berisi jam tangan mewah dan dasi milik Damian. Pria ini benar-benar sangat istimewa, pantas saja ibu pria itu mencibirnya sedemikian rupa. Kembali ke sekitar, ia masih mengagumi semua yang ada di sini. Tubuh Kalila menegang, saat sebuah tangan melingkar di pinggangnya. "Kau bisa mengoleksi tas kesukaanmu di sana nanti," bisik pria itu membuat seluruh tubuh Kalila meremang. Darah di seluruh tubuh Kalila berdesir, menciptakan sebuah rasa yang menurut Kalila sangat aneh, tapi membuatnya nyaman.Hari yang ditunggu-tunggu bagi sebagian orang tetapi paling Kalila hindari telah tiba, di mana dirinya sudah didandani dan memakai pakaian mewah, serta berkelas tak membuatnya langsung mendongakkan kepala. Dengan kepribadian milik Kalila, sebenarnya dia sangat jauh dari kriteria Lazuardi. Sayangnya, hanya wanita itu yang bisa membuat seorang Damian Lazuardi tertarik padanya. "Tidak perlu malu, mereka sedang memandang wajah cantik yang belum pernah mereka lihat," kata Damian mencoba menenangkan Kalila yang sudah gemetar lantaran menjadi pusat perhatian kala mereka tiba dan berjalan di sepanjang karpet merah. Kalila mencengkeram lipatan gaunnya lebih erat, merasai bahan kain sutra mahal itu terasa sangat asing di kulitnya. Komentar santai dari pria di sampingnya tak sedikit pun mengikis rasa cemas yang kini menghimpit dada. "Mereka tidak cuma memandang, Damian. Mereka sedang menghakimi," bisik Kalila lirih, berusaha menjaga agar gerakan bibirnya tak terlalu mencolok di bawah s
"Damian, aku tidak mengkhianatimu." Damian yang mendengar hal itu hanya diam tak merespon, tidak percaya dengan perkataan wanita yang ada di depannya. Wanita yang sudah menjadi ibu sambungnya belasan tahun. Tadinya ia sangat menghormatinya, walaupun Damian tahu bahwa wanita itu menikahi ayahnya karena harta keluarganya berlimpah. "Damian, sekali saja—" "Sekali saja aku memaafkanmu, kau akan mengulanginya, begitu?" Damian berkata sinis, sama sekali tidak tertipu dengan wajah memelasnya. "Lazuardi tidak akan memaafkan kesalahan." “Damian, kau tidak mengerti!” “Bagian mana yang tidak aku mengerti, Melia? Selama ini aku sudah menganggapmu sebagai keluarga, tapi ini balasanmu?” Damian menggertak wanita di hadapannya. “Itu bukan aku tapi Bella!” Lihat, dia mengakui sendiri. Itulah yang Damian tunggu-tunggu. “Itu dia! Kau lebih memilih untuk membantu saudaramu dibandingkan keselamatan keluarga Lazuardi yang mana kau menggunakan uangnya untuk keperluan hidupmu!” Damian marah.
“Mana Kalila?” Bibi Indri hanya tersenyum tipis merespons pertanyaan itu. Tuan Damian sudah mewanti-wanti agar Kalila tak ditemui oleh Nyonya Meliana. Karena itulah, begitu sang nyonya rumah tiba, Bibi Indri bergegas meminta Kalila mengunci diri di kamar. “Maaf, Nyonya. Tuan Damian memerintahkan agar Nona Kalila tetap di kamar dan tidak menerima tamu siapa pun,” tutur Bibi Indri penuh hati-hati. Wajah Meliana seketika mengeras. Matanya memicing tajam, menatap Bibi Indri dengan kilat kemarahan yang tak lagi disembunyikan. “Kamu sadar sedang bicara dengan siapa, Indri?” Suara Meliana terdengar dingin dan penuh penekanan. “Sejak kapan seorang pelayan berani menghalangi saya di rumah ini?” Bibi Indri makin menundukkan kepala. Jemarinya bertaut erat di depan tubuh, bergetar menahan ketegangan. “Maafkan saya, Nyonya. Tapi saya hanya menjalankan perintah Tuan Damian. Tuan menegaskan tidak ada pertemuan—termasuk dengan Nyonya.” Dengkus sinis terdengar dari bibir Meliana. Tanp
Setelah makan malam berlangsung, Kalila duduk di sofa kamarnya memainkan game di ponsel yang memang disediakan oleh Damian. Pria itu sendiri belum juga kembali ke kamar, sepertinya banyak pekerjaan karena pria itu sempat menerima beberapa pesan yang membuat wajahnya berubah. Kalila mendengus saat karakter di permainan yang ia mainkan mati begitu saja, sudah beberapa kali ia mencoba di tingkat ini. Sayangnya, ia belum juga berhasil menaklukkannya. Ceklek. “Kau belum tidur?” Kalila menoleh, mendapati Damian sudah berada di dalam kamar mereka. “Aku belum mengantuk,” katanya. Damian mengangguk mengerti, kemudian berjalan menuju toilet tanpa kata. Di sisi lain, Kalila masih penasaran dengan level game yang ia mainkan. Tak lama kemudian, Damian muncul kembali dengan pakaian yang sudah berganti menjadi piyama tidurnya. "Minggu depan ada acara, kau harus ikut." Kalila yang mendengar hal itu langsung menegakkan tubuhnya, menaruh ponsel di atas meja dan mendekat ke arah Damian. "A
Kalila tersentak, terkejut mendengar suara bariton milik Damian. Wanita itu langsung menoleh, dan tak tahu harus berbicara apa. Karena memang Damian menegurnya secara langsung, untungnya dia tidak membahas apa pun setelah ini."Ayo duduk, ini sebentar lagi matang."Damian menuntun Kalila duduk di kursi, menunggu koki memasak daging untuk mereka. Pria itu menyandarkan punggungnya, memperhatikan gerak-gerik Kalila yang tampak antusias menunggu daging selesai dipanggang. Sisa aroma udara dingin kantor dan kepalanya yang sempat tegang akibat laporan keuangan mendadak menguap begitu saja, digantikan oleh aroma daging panggang dan wangi harum dari wanita di sampingnya."Kau terlihat senang sekali malam ini," gumam Damian, matanya memperhatikan bagaimana mata Kalila tak lepas dari potongan Wagyu A5 yang sedang dibolak-balik oleh Koki Thomas di atas panggangan."Tentu saja senang! Dagingnya terlihat enak sekali, dan di rumah sebesar ini... rasanya aneh kalau tidak memanfaatkan taman seluas
Mata Damian menyipit menatap lembaran kertas yang terhampar di atas meja kerjanya. Ruang kerja lantai teratas gedung Lazuardi Group miliknya terasa begitu dingin, ditunjang oleh pemandangan malam kota yang berkilat di balik dinding kaca tebal. Namun, fokus pria itu sama sekali tidak tertuju pada keindahan gemerlap kota.Di hadapannya, laporan keuangan terakhir menunjukkan kejanggalan yang terstruktur rapi. Ada selisih angka yang disamarkan dengan sangat halus—langkah taktis dari orang dalam yang mencoba bermain-main di area kekuasaannya."Siapa yang memegang otorisasi transaksi ini?" suara Damian terdengar rendah, memecah hening dengan ketenangan yang justru mematikan.Di depan meja, manajer keuangan utama dan dua staf senior berdiri dengan tubuh kaku. Keringat dingin jelas meluncur di pelipis sang manajer. Aura menindas yang dipancarkan Damian bukan jenis aura gertakan—pria itu memegang kendali penuh atas hidup dan karier mereka dalam satu jentikan jari."K-kami sedang menelusuri







