LOGINBagi sebagian orang, uang bukanlah sumber kebahagiaan. Namun untuk Sarah, hidup mewah adalah keharusan. Sejak ditinggal mamanya meninggal, papanya selalu memanjakan Sarah dengan uang berlimpah. Bahkan demi kehidupan gemerlang tersebut, Sarah rela dijodohkan dengan seorang direktur muda pewaris per
View MoreAthena's POV
I'm Athena Hunter, an Omega from the Crimson Pack, and today marks the darkest day of my existence. From the moment I entered this world, misery has been my constant companion.The identity of my biological father remains a mystery to me as he died before my birth. Shortly after i was born, my mother remarried a man indifferent to my existence. Today, he intends to pay a debt by sacrificing me to a cruel Alpha King."Please, Father, save me from this cruel fate," I pleaded through tearful sobs. His gaze met mine, filled with utter disdain."Pray to the moon goddess that the Alpha King takes a liking to you, or else we'll all be waiting for our demise at his hands," he said with anger etched on his face.My heart plummeted into my stomach, knowing his words were blunt and true. Glancing at my mother, our eyes met briefly, but she averted her gaze.Hurriedly, I approached her in my kneeling posture, gripping onto one of her legs. "Mother, please, talk to Father. I don't want to be given to the alpha king," I cried, desperately hoping she'd hear my plea and intervene just this once."Listen to your father! He's only looking out for us all," she replied coldly, shaking my hand off her leg, causing me to tumble backward to the ground.Her indifference towards me had been consistent since she married my stepfather. He was her sole concern.I felt like nothing more than a burden from her past. How could she treat me like this? Standing there passively, she will allow my stepfather trade me off to the cruelest king alive, treating me as if I were a mere slave?"Let us go!" my stepfather commanded, heading toward the door. "We don't want to provoke the Alpha King." He expected me to follow, but I remained rooted in place.My feet refused to budge, as if glued to the ground. "Moon goddess, please, let him reconsider," I frightfully prayed within me.His furious glare bore into me as he advanced. Every muscle tensed, anticipating the storm of his anger.As he approached, I instinctively shielded my face and body with my hands, cowering on the floor, bracing for a beating that never arrived. Slowly looking up, I found him towering over me, eyes filled with rage."Get up!" he growled. I hastily rose to my feet, nearly staggering. He clutched my hand and forcefully pulled me along.His grip on my hand was painfully tight."Father, please! I'm in pain!" I screamed, attempting to free my hand from his tight grip but all that did was worsen my agony.What should I do now? I had to think quickly, act swiftly."Calm down, Athena. Go with him. The Alpha King can't be that bad," my wolf whispered.She didnt understand the gravity of the situation. She failed to comprehend the horrors I'd heard about that king—his brutality reached unthinkable levels. Rumors spoke of him yanking a baby from its mother's womb with his claws. His cruelty knew no bounds.I trembled at the thought as my father dragged me toward the door and out of our house. Once outside, he shoved me into the back of the vehicle and headed towards the driver's seat. It was my chance. Every instinct screamed, "Run!"Rushing to the opposite end of the back seat, I opened the door and ran. My stepfather spotted me, cursing furiously as he chased, "You coward! Just wait until I catch you!" I sprinted as fast as my legs could carry me, heading straight for the bushes.Suddenly, his hand seized me, sending shivers down my spine. I was absolutely terriffied of what he would do to me. He gripped my throat, lifting me off the ground, choking the life out of me.I fought, striking his hand and pleading for him to let me go. He threw me to the ground, the agony of the impact searing through my body. I tried to rise but weakness overcame me."Next time, you'll reconsider before defying me, that is if there is a next time " he hoisted me up, draping my limp form over his shoulder. My hands hung wearily behind him, and I groaned from pain."Thud!" echoed the sound of me being tossed onto the unforgiving seat of his car, accompanied by searing pain that radiated through my entire body. My wolf whimpered, sensing my distress.After what felt like an eternity, we arrived at the palace. He parked outside, exited the car, and approached the back seat, his gaze filled with menace as he stared at me."Come down!" he ordered sharply. The earlier pains had vanished, thanks to my swift healing ability which surpassed that of most wolves. Cautiously, I got down from the vehicle, fearing the consequences of any delay.At the gate, two imposing figures blocked our path. Both muscular, one short and the other tall, they clearly formed part of the security detail for the ruthless Alpha king."What brings you here?" the shorter one asked with a harsh tone."I'm Robert Hunter, here to meet the Alpha king," my father replied, showing no sign of intimidation.The men exchanged knowing glances before opening the door, proof that they were aware of my father's arrival tonight.We were led into a grand hall. Though magnificent, I couldn't muster any interest. If anything, I wished for this night to end so I could go back home."Moon goddess, I beg for one thing: let the Alpha king reject me as a slave for the debt," I silently prayed."This place is stunning; I wouldn't mind living here forever," my wolf, Elsa, sounded enthusiastic. I didnt blame her—if only she understood the condition of things, her excitement wouldn't persist."Wait here; the king will join you soon," the man who escorted us announced. My father nodded in acknowledgment, and the man turned around and left.Minutes later, robust, measured footsteps approached from behind. Fear gripped me; I hesitated to turn. It had to be the Alpha king.Only my father could see him as had his face to him."I see you've come to settle your debt as agreed, Robert. Now, where is my money?" The Alpha king's icy voice sent shivers down my spine.Sungguh aneh rasanya bagi Sarah saat mendapat perhatian dari seorang pria yang bukan siapa-siapanya. Ia jadi melupakan statusnya yang merupakan istri dari pria lain. Ia tak ingin mengatakan hal yang kurang ajar, tapi jika boleh membandingkan antara Renno dan Arsen. Maka Renno jauh lebih baik dibanding Arsen dalam hal memberikan perhatian.Menurutnya, Renno juga lebih ramah. Selain itu mudah bergaul dengan orang lain dan pastinya Renno sangat tidak pelit. Hanya ini yang dapat ia simpulkan sejauh perkenalan mereka hari ini."Lain kali kayanya aku gak bakalan dimasukin ke agenda nih. Habisnya kalian asyik berdua terus" kata Kayla sedikit cemberut. Baru dua kali bertemu, Sarah dan Renno sudah terlihat begitu akrab sampai-sampai Kayla tak dihiraukan. "Memang lebih bagus gak usah ikut" balas Renno kemudian."Apaan sih Kay" protes Sarah tak suka. "Makanya jangan terlalu sibuk berdua, nanti kebablasan. Lihat sekarang jam berapa? Ayo pulang"Kayla beranjak berd
Terkadang, bayang-bayang kematian itu masih merasuki pikirannya tanpa ampun. Membuat hidupnya dirundung rasa suram yang tak pernah dapat ia bendung. Dengan kejamnya, ia terus terperangkap dan hidup di dunia yang dipaksakan padanya untuk dipilih.Ya. Setidaknya Arsen sudah mampu bertahan selama lebih sepuluh tahun ini. Hal ini terhitung sudah cukup walaupun ia tak begitu banyak membuat kemajuan dengan keluarganya. Barangkali orang lain selalu mengharapkan hal lebih saat tak sengaja menjadi keturunan orang kaya, tapi tidak dengannya. Ia tak pernah antusias.Semua hal telah jauh berubah saat orang itu pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya. "Kenapa bisa di sini?" tanya Prima dengan intonasi rendah."Entahlah.. Saya juga belum menemukan jawaban yang tepat. Mengapa harus di sini? Di danau ini" jawab Arsen sekenanya. Prima yang sudah kebingungan dibuatnya semakin bingung."Hari sudah semakin petang, ayo pulang" ajak Arsen yang kemudian disetujui oleh Prima. W
Awal perkenalan mereka. Arsen merasa sedikit tak menyukai tingkah kekanakan Sarah. Pikirannya kalang kabut sebab dipenuhi akan bagaimana nanti hidupnya terasa repot.Tragedi berlian biru memang tidak membuat dirinya miskin, tapi setidaknya cukup membuat dia merasa sedikit ngeri atas perilaku perempuan itu. Terbukti sekarang, sudah ada beberapa kejadian heboh di kediamannya semenjak menikah dengan gadis itu.Tapi entah mengapa, ia pikir semua itu cukup membuat hidupnya lebih berkesan. Setidaknya tidak terlalu datar seperti dulu lagi, karena hanya diisi dengan kegiatan kantor. Ada Sarah, semuanya lebih jauh terasa menantang."Kenapa anda selalu ceroboh seperti ini?" tanya Arsen tatkala selesai mengelap darah yang mengalir di jari istrinya, kemudian dilanjutkan dengan membalutkan perban."Makanya jangan menyuruhku memasak""Tidak usah membuat alasan"Sarah terdiam. Kalau sudah begini ia tak punya nyali lagi untuk melawan. Suaminya selalu punya jawaban yang dapat
"Sarah?"Hening sejenak. Arsen melangkah masuk ke dalam kamarnya dan mengambil ponsel yang ada di tempat tidur. Ia menyalakan fitur senter dan berjalan keluar lagi. "Arsen?" panggil Sarah tatkala melihat ada cahaya yang mulai mendekatinya. Iapun segera berlari ke arah Arsen dan memegang lengan pria itu. Kepalanya ia benamkan di belakang. "Arsen ayo kita pergi dari sini" ucap Sarah dengan sangat pelan. Hampir terdengar seperti orang yang sedang berbisik. "Kenapa?" tanya Arsen ikut memelankan suaranya. "Ayo kita pergi terlebih dahulu" pinta Sarah memelas. "Kemana memangnya?""Banyak tanya sekali!" kata Sarah kesal lalu mulai menyeret tubuh pria itu menuju kamar. Setelah sampai, Sarah menutup pintu secepat mungkin. "Apa yang anda lakukan?" tanya Arsen begitu Sarah selesai dengan tingkah anehnya. Sarah meletakkan jari telunjuk di depan mulutnya, "Shttt! Pelankan suaramu" ucap Sarah berbisik lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Ia m
Arsen dan Pak Wiryo makan dengan tenang di kantin rumah sakit itu. Mereka memutuskan untuk makan disana karena menurut Arsen duduk di koridor dirasa kurang nyaman."Habis ini Tuan Arsen akan saya antar pulang ke rumah dulu baru saya balik lagi kesini. Biar saya saja yang menunggu pasien se
Sarah duduk termenung di sopa ruang tengah sendirian, hingga kemudian terdengar suara langkah kaki di telinganya. Ia menoleh ke belakang, tepatnya ke arah sumber suara. Ternyata ayahnya sedang berjalan menuju ke arahnya dengan tatapan bingung."Kok belum berangkat juga?" tanya sang ayah sa
'Hari ini kita akan fitting gaun pengantinmu jam 3 sore'Begitulah pesan singkat yang Sarah terima 5 menit yang lalu. Ia sudah membaca pesan itu namun belum juga membalasnya. Masih menimang-nimang karena memikirkan balasan apa yang mesti ia tulis."Katanya sibuk banget sama ur
Sore itu, Haris tak kunjung bangun. Padahal sudah hampir 2 jam ia terbaring tak sadarkan diri di kamarnya. Seorang dokter beserta asisten yang khusus merawat keluarga Arsen telah dipanggil untuk menangani Haris. "Seharusnya kamu mendengarkan saya"Arsen mendudukkan dirinya di samping S
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.