Se connecter"Mas Bumi!!" Maura melotot gemas, berkacak pinggang di tepi ranjang. Suara ketus hamil tuanya makin terdengar menggemaskan di tengah kemewahan kamar. "Mau cuci kaki sendiri apa mau aku siram air?!"Bumi melirik, lalu menghela napas halus."Iya, Nyonya Bumi. Iya," gumam Bumi datar. Dengan ketenangan super tenang, ia akhirnya merayap bangkit dari kasur empuk itu, melangkah lemas menuju kamar mandi. "Perfeksionis mendadak begini pasti ketularan hormon si bayi," gerutunya pelan namun masih cukup terdengar di telinga Maura."Aku denger ya, Mas!" teriak Maura dari atas kasur.Tak sampai tiga menit, suara kran air berhenti. Bumi keluar dari kamar mandi dengan celana kainnya yang agak tergulung di bawah lutut, memperlihatkan kaki panjangnya yang masih sedikit basah.Pria itu menyapu pandangannya lurus ke kasur, di mana Maura sudah menyiapkan piyama untuknya.Maura menunjuk lipatan itu, "Aku keluar kamar mandi udah ganti baju. Nggak usah lelet!" betaknya.Pria itu beku. Pandangannya tertuju pa
Sampai kemudian pintu lift terbuka di lantai delapan. Bellboy itu bergegas memimpin jalan menelusuri koridor. Sampai di depan kamar bernomor 801, ia menggesekkan kartu kunci dan membukakan pintu itu lebar-lebar."Silakan, Bapak, Ibu. Kalau membutuhkan bantuan layanan kamar, tinggal menekan angka nol dari telepon," ujarnya itu ramah.Bumi merogoh saku kemejanya, mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan, dan menyodorkannya tanpa mengedip. Bellboy itu menerima dengan mata berbinar, membungkuk penuh hormat, lalu mundur teratur menutup pintu kamar dari luar."MAS BUMI GILA YA?!" ledakan Maura langsung.Tangannya melempar sandal jepitnya asal-asalan, melangkah heboh mendekati Bumi sambil menunjuk-nunjuk kasur di tengah ruangan."Lima juta! Cuma buat nempel panggul. Yang bener aja." cerocos Maura tanpa napas, mukanya memerah gemas lebih ke kesal.Bumi santai saja, padahal istrinya masih mengomel ria di balik punggungnya. Pria itu berjalan ke meja nakas, menaruh kacamata hitam yang terseli
Sampai kemudian pintu lift terbuka di lantai delapan. Bellboy itu bergegas memimpin jalan menelusuri koridor. Sampai di depan kamar bernomor 801, ia menggesekkan kartu kunci dan membukakan pintu itu lebar-lebar."Silakan, Bapak, Ibu. Kalau membutuhkan bantuan layanan kamar, tinggal menekan angka nol dari telepon," ujarnya itu ramah.Bumi merogoh saku kemejanya, mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan, dan menyodorkannya tanpa mengedip. Bellboy itu menerima dengan mata berbinar, membungkuk penuh hormat, lalu mundur teratur menutup pintu kamar dari luar."MAS BUMI GILA YA?!" ledakan Maura langsung.Tangannya melempar sandal jepitnya asal-asalan, melangkah heboh mendekati Bumi sambil menunjuk-nunjuk kasur di tengah ruangan."Lima juta! Cuma buat nempel panggul. Yang bener aja." cerocos Maura tanpa napas, mukanya memerah gemas lebih ke kesal.Bumi santai saja, padahal istrinya masih mengomel ria di balik punggungnya. Pria itu berjalan ke meja nakas, menaruh kacamata hitam yang terseli
Mereka chek in tepat di jam dua dini hari lewat lima menit. Harusnya mereka hanya butuh dua sampai tiga jam perjalanan dari rumah ibu ke kota ini. Tapi karena ada tragedi yang tak terprediksi, ban mobil mendadak pecah di perjalanan akhirnya semua harus molor.Untuk Pak Supri masih bisa mengatasinya, dia medadak jadi montir dadakan dengan diterangi senter HP oleh Bumi. Karena mobil harus berhenti diantara hutan Jati.Belum lagi setelah sampai kota, Maura medadak tidak mau meginap di hotel pilihan suaminya."Udah bintang tiga! Yang penting ada kasurnya, ada AC-nya, bersih, selesai! Orang cuma buat tidur foang!" bisik Maura gemas, menarik-narik ujung lengan kemeja Bumi dengan wajah yang sudah lelah luar biasa. Tapi masih sempat-sempatnya ngeyel.Bumi cuma melirik, datar, sebelum membuang muka lagi."Nggak ada," balas pria itu. "Kamu tahu sendiri standar tubuhku ini nggak boleh di buat main-main. Orang makan soto aja sampe tipes dua hari.""Ya Tuhan, Mas Bumi! Kita ini cuma mau numpang ti
"Aku nggak apa-apa, aku cuma pengen nangis aja," isak Maura.Bumi menghela napas halus, mengusap tengkuk istrinya dengan kelembutan yang kontras dengan garis rahangnya yang selalu tampak tegas."Iya, ya udah. Mandi dulu, habis itu pulang," kata Bumi tenang. Tanpa menunggu persetujuan, pria itu memutar gagang pintu dan membawa istrinya masuk ke kamar mandi.Di dalam ruangan sempit, 1 x 2 meter itu, Maura benar-benar cuma berdiri diam bak patung. Tubuh hamil dan guncangan emosi membuatnya tak berniat melakukan apapun. Bahkan hanya untu sekedar menggerakkan tangan, mengambil air untuk mandi.Tidak ada yang lain. Dengan sangat telaten dan cekatan, Bumi mengambil alih semuanya. Mantan dosen itu tanpa ragu membasuh tubuh istrinya dengan gayung, mengusapkan sabun ke seluruh perkulitan istrinya, membilasnya hingga bersih, lalu mengeringkan tubuh Maura dengan handuk. Bahkan sampai urusan memakaikan baju, Bumi yang melakukannya sendiri. Melayani istrinya tanpa ada sebersit pun raut keberatan di
Ragil mengangguk cepat tanpa banyak tanya. "Siap, Mas. Biar Ragil yang beresin." Pemuda itu langsung gesit menuju kamar, membiarkan handuk basah yang tadi melilit lehernya tersampir begitu saja di bahu.Maura masih berdiri membatu di ambang pintu. Usapan lembut jemari suaminya di pinggang tak sepenuhnya mampu mengusir rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya.Baru beberapa jam lalu ia merasakan hangatnya tawa bersama keluarga yang baru ditemukannya, tapi kini ketakutan masa lalu kembali membayangi dengan begitu cepat dan dingin.Sang ibu pun masih diam di tempat. Besitatap dengan anak Gadisnya, yang begitu cantik.Seolah memberi ruang Bumi lalu meninggalkan mereka begitu saja, berniat mandi lebih dulu.Ruang tengah rumah itu mendadak menghening. Hawa dingin malam merayap masuk, menyapu kulit dan mempertebal rasa sesak yang menghimpit dada.Kini yag tersisa cuma Maura dan sang ibu. Berdiri berhadapan. Jarak beberapa langkah di antara mereka terasa begitu jauh.Maura membatu. Pandan
Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s
“Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang
Pria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. T
Suara Maura menggema di lorong, membuat dua mahasiswa yang lewat refleks menoleh, lalu pura-pura tidak peduli sambil tetap mencuri pandang."Kenapa lo teriak kayak liat saldo minus?""Gue- gue harus balik. bokap gue pingsan," sahut Maura gagap.Tangannya gemetar saat menyambar tas kanvasnya dari ta







