Share

154.

Penulis: anfebizha
last update Tanggal publikasi: 2026-07-10 23:55:40

"Ra, ayolah! Ada menu baru di kafe seberang, lo gak pengen nyoba apa?" ajak Risti heboh sore itu, sambil mengguncang-guncang lengan kemeja Maura tepat setelah dosen kelas terakhir menutup laptopnya.

"Gue yang traktir deh, mumpung dompet gue lagi agak tebel habis dapet kiriman," timpal Leon sudah siap dengan ransel di punggungnya.

"Gak bisa, Gaes." Balas Maura, "Sori banget, sore ini gue ada urusan negara yang sangat amat darurat. Hidup dan mati!" katanya asal.

Tanpa menunggu interogasi lanjutan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (25)
goodnovel comment avatar
Dedi Mul yadi
marah aja sih Maura jangan diem aja,JD gemes aku
goodnovel comment avatar
nana jemaa
intinya jgn gampang luluh dulu ya raa, ini nggk ada pov isi hati bumi kah??.........yg sebenarnya
goodnovel comment avatar
Aas Larung
Thor, Aku merasa tensi cerita di beberapa bab terakhir mulai menurun. Konflik utama belum banyak bergerak ke fase baru sehingga muncul kesan repetitif. Akan lebih menarik jika setiap konflik menghasilkan perubahan yang jelas pada karakter atau hubungan antartokohnya.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Istri Pengganti Mas Dosen   241.

    "Astaga sayang!" Bumi refleks menangkap tubuh lunglai itu. Lengan tegapnya merengkuh erat dada dan punggung Maura, membawa gadis itu sepenuhnya dalam dekapan."Lemes banget? Ke rumah sakit ya," suara Bumi yang biasa tenang kini bergetar cemas."Udah malem," gumam Maura membalas."Apa hubungannya kerumah sakit samaudah malem?" Diusapnya pelan pipi Maura yang pucat pasi dan berkeringat dingin, berbanding terbalik dengan rona merah yang tadi sempat singgah."UGD 24 jam buka, Maura." dengus Bumi gemas.Setelahnya, setengah memapah, Bumi membawanya masuk lagi ke dalam mobil. Membawa istrinya duduk, merapikan posisi duduknya sebelum mengambil botol air mineral dari cup holder, stok wajib yang selalu siap sedia di dalam mobilnya."Minum dulu pelan-pelan," bisik Bumi membukakan tutup botol dan mengarahkannya ke bibir Maura yang masih pucat.Maura menyesap air dingin itu beberapa tegukan, membiarkan rasa panas di tenggorokannya perlahan menguap.Pening memang, rasanya seperti mabuk kendaraan,

  • Istri Pengganti Mas Dosen   240.

    Manik matanya menatap dalam-dalam ke dasar mata sang istri, mencari sisa-sisa pertahanan gadis itu."Kamu aman sama Mas, Ra. Jangan dengerin," bisik Bumi amat halus, lalu mengecup kening Maura sekilas.Begitu Bumi memutar dan duduk di balik kemudi, kabin mobil seketika mengisolasi mereka dari dunia luar.Hanya ada deru halus mesin dan hembusan pendingin udara. Bumi menggenggam erat tangan kiri Maura di atas konsol tengah, menautkan jemari mereka tanpa berniat melepasnya sepanjang perjalanan.Di sampingnya, Maura menyandarkan kepala ke kaca jendela, menatap pendar lampu jalanan yang membias kabur. Kata anak haram sukses menari-nari kejam di kepalanya, menghantam hatinya hingga porak-poranda.Papa dan Mamanya bahkan tak memberikan sepatah kata pun penjelasan atau bantahan malam itu. Mereka hanya diam, membiarkan Maura pulang membawa serpihan kebenaran pahit yang tak utuh.**Jalanan kota malam itu bisu, diselimuti keremangan lampu-lampu jalan yang membiaskan garis-garis cahaya kabur di

  • Istri Pengganti Mas Dosen   239.

    Dengan gestur yang kelewat tenang dan sarat ketegasan, pria itu menyalami Papa mertuanya dengan sopan, lalu berganti mencium punggung tangan Mama. Saat berada di hadapan Dira, Bumi hanya mengangguk singkat sekadar basa-basi, sama sekali tidak mengangkat tangan oadahal Dira sudah bersiap menyambut drngan jemarinya.Tatapannya yang tajam seketika lunak saat beradu pandang dengan manik mata istrinya.Pria itu merendahkan tubuhnya, berdiri di samping sofa sang istri. Tanpa peduli pada tiga pasang mata yang mengawasi mereka, jemari tegap Bumi terulur, mengusap lembut punggung Maura yang terasa begitu dingin.Usapannya begitu hangat dan protektif, seolah berniat mengikis habis jejak luka di tubuh ringkih itu."Maaf ya, Mas terlambat," bisik Bumi dengan suara beratnya yang menenangkan, bergetar lembut di telinga Maura. "Capek, hm? Mau pulang sekarang?"Maura menatap wajah suaminya di balik kacamata berbingkai tipis itu. Tatapan Bumi seolah menjadi perisai kokoh yang siap memeluk dan melindun

  • Istri Pengganti Mas Dosen   238.

    Dira mendadak bungkam, membuang muka, malas menanggapi sang papa. Maura yang langsung bangkit, enggan sebenarnya, tapi dia tetap bangkit."Baru pulang pa?" sambut istri Bumi itu, menyalami papanya.Papa Maura sempat menoleh sebenyar ke arah Dira yang memilih bisu dengan raut mautnya, memendam helaan napas pendek sebelum perhatiannya kembali sepenuhnya tertumpah pada putri bungsunya.Raut lelah di wajah pria paruh baya itu seketika melunak, digantikan binar kehangatan yang jarang pudar."Udah dari tadi, Ra?" tanya Papa, mengusap pelan puncak kepala Maura."Baru kok, Pa." sahut Maura dengan senyum tipis yang diusahakan selincah biasanya, meredam getar canggung di dadanya."Ya udah, Papa mandi bentar ya," ujar Papa lembut, sebelum melenggang meninggalkan dua anaknya lagi di ruang tengah.Sepeninggal sang papa, keheningan mendadak kembali merayap tebal. Suara sibuk di dapur bahkan terasa sangat jelas, seolah makin mempertegas jarak yang membentang di antara Maura dan kakaknya. Televisi be

  • Istri Pengganti Mas Dosen   237.

    Sudah sore saat itu. Maura baru turun dari grab, baru saja masuk rumah. Keheningan langsung menyambutnya, hanya diselingi derum halus pendingin ruangan yang baru otomatis menyala. Rumah sepi, tapi terasa sangat nyaman akhir-akhir ini. Aroma suaminya masih tertinggal tipis di udara, dan Maura sangat menyukainya.Tidak lama-lama, Maura langsung ke kamar atas. Dua paperbag jumbo berisi baju-baju dan barang-barang milik Dira yang kemarin malam sempat memicu perdebatan dengan Bumi sudah berdiri rapi di sudut lemari. Barang-barang yang menjadi saksi bisu atas masa lalu suaminya.Setelah sempat mandi kilat, gadis itu berdiri di depan cermin kamar mandi. Menatap lekat-lekat pantulan dirinya, meneliti lekuk alis, bentuk hidung, hingga garis bibirnya sendiri. Sebersit kepahitan yang samar mendadak merayap naik, menyayat dadanya tanpa ampun.Berpuluh-puluh tahun dia hidup dalam buaian hangat keluarga itu, dan baru akhir-akhir ini kenyataan menghantamnya begitu telak.Dia tak lagi yakin kalau mer

  • Istri Pengganti Mas Dosen   236.

    Maura terpaku menatap suaminya. Kalimat sederhana itu rasanya meluncur begitu hangat, mengikis sisa-sisa keraguan yang mungkin sempat bertengger di relung hatinya.Ada kedewasaan dan ketegasan sikap dari seorang Bumi yang selalu berhasil membuatnya luluh. Atau mungkin karena dia sangat pandai membuat kata, pasalnya Bumi adalah seorang Dosen."Nanti kalau sampai di rumah Papa, tolong sampein in ya," lanjut Bumi lembut. "Bilang kalau aku berhenti in nyari ayah dari cucunya. Bilang aja lasannya udah buntu."Maura menggigit bibir bawahnya, menahan senyum mekar yang hampir saja jebol. Entah, dia senang saja. Manik matanya berbinar menatap wajah samping suaminya yang mendadak terlihat sepuluh kali lebih tampan dari biasanya."Kenapa ngeliatinnya gitu?" tegur Bumi terkekeh, menyadari tatapan intens istrinya. "Makin terpesona?""Dikit sih," aku Maura gengsi, lalu mengusap punggung tangan Bumi dengan ibu jarinya. "Ya udah, nanti aku sampaikan ke Papa sama Mama. Makasih ya, Pak Dosen... udah bi

  • Istri Pengganti Mas Dosen   1. KULKAS DUA PINTU BERJALAN

    Matahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan

  • Istri Pengganti Mas Dosen   5. Harga Diri Yang Tergores

    Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s

  • Istri Pengganti Mas Dosen   4. Teori dari mana itu?

    “Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang

  • Istri Pengganti Mas Dosen   3. Mustahil

    Pria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. T

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status