تسجيل الدخولMeletakkan bolpoin mahalnya perlahan agar tak menimbulkan suara, Bumi melepas kacamata tipisnya dan bangkit dari kursi. Langkah kakinya begitu teratur tanpa bunyi saat mendekati sosok gadis yang kini tertidur lelap itu.Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Bumi merengkuh bahu dan pinggang Maura, membaringkan tubuh ramping itu secara perlahan di sepanjang sofa. Dia menata posisi kepala Maura agar tidak pegal, lalu mengambil blazer hitam miliknya yang tergantung, menjadikannya selimut darurat untuk membungkus tubuh sang istri dari dinginnya udara AC.Bumi berlutut di samping sofa. Dipandanginya wajah Maura yang tampak begitu tenang tanpa ocehan-ocehan ketusnya. Jemari Bumi terulur, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi dahi halus Maura, sebelum akhirnya dia menunduk dan mendaratkan satu kecupan lembut yang hangat di kening istrinya.Cukup lama. Penuh rasa."Besok kita akhiri drama ini, sayang. Aku cuma milikmu."Setelah memastikan Maura tidur makin pulas dan nyaman, Bumi ke
Pintu lift berdinding cermin itu akhirnya berdenting pelan, terbuka memamerkan lantai paling atas yang super eksklusif. Langkah kaki mereka disambut oleh ruangan sunyi, memandu mereka menuju sebuah pintu ganda berukir elegan.Saat Bumi mendorong pintu itu, napas Maura tertahan seketika.Ruang kerja Bumi luar biasa luas. Dinding kaca besar setinggi langit-langit menyajikan pemandangan lanskap kota dari ketinggian. Interiornya didominasi warna monokromik yang maskulin, meja kayu raksasa yang tertata rapi, sofa kulit premium, juga rak buku tinggi menjulang yang membuat ruangan itu tampak seperti sebuah perpustakaan pribadi.Maura celingukan ketika masuk.'Gila... ini ruangan kerja apa lapangan futsal?' batin Maura takjub. Matanya berbinar, menjelajahi setiap sudut mewah itu. Tapi, menyadari gengsinya, Maura memilih bungkam. Dia merapatkan bibirnya rapat-rapat, dan mencoba berpura-pura biasa saja, meski batiknya menjerit heboh.Bumi yang menyadari respons diam istrinya hanya tersenyum kec
Mendengar itu, maura menarik sedotannya kasar, sampai membuat suara nyaring yang kentara sekali dipaksakan demi meluapkan emosinya.Dia manyun. Membuang muka. Dengan suasana yang begitu, mereka tampak seperti pasangan yang sungguhan, bukan dosen dan mahasiswa lagi. Tangan kirinya kini merambat turun, dengan leluasa mengambil jemari lentik istrinya di atas konsol tengah, lalu mengecup punggung tangan itu sekilas sembari tetap fokus mengemudi."Udah belum, marahnya?" Goda Bumi.Maura langsung menarik tangannya, "iicchh...!" Dia membuang muka lagi."Niatku baik lho, Sayang," lanjut Bumi, sama sekali tak terpengaruh oleh gerakan menyentak dari istrinya. Dosen kaku yang biasanya pelit kata itu mendadak berubah jadi pembicara paling aktif di dalam mobil. "Istriku sendirian di bawah pohon, panas-panasan. Ya refleks aja turun, bukain pintu. Mana tega aku kan?"Maura yang tadinya sibuk membuang muka ke arah jendela langsung menoleh patah-patah. Matanya melotot sinis."Refleks?!" pekik Maura ge
Motornya melaju ke arah terminal. Tapi sebelum sampai ke terminal, dia berbelok sedikit ke area parkiran umum di sampingnya.Tempat itu tidak bisa dibilang sepi, tapi yang ramai bukan orangnya, tapi lautan sepeda motor yang terparkir rapat bagai keju parut di martabak manis. Debu tipis mengepul samar tertimpa terik matahari, bercampur suara deru mesin bus terminal dan denting mangkok abang bakso di samping parkiran.Setelah mengurusi administrasi kilat dengan tukang parkir berrompi oranye, Maura buru-buru menyingkir. Dia memilih berdiri di bawah naungan pohon rindang yang agak ke samping, tepat di perbatasan parkiran dan terminal. Tempatnya lumayan teduh, tapi tidak cukup teduh untuk menyelamatkan mentalnya dari guncangan panik.Masalah utamanya sederhana, lokasi ini terlalu dekat dengan kampus.Lautan mahasiswa ber-almamater berlalu-lalang di sekitarnya. Sialnya, ada beberapa wajah yang Maura kenal betul! diantara mereka.Maura mendadak makin cemas. Keringat dingin merembet halus di
Melihat reaksi istrinya yang salah tingkah, Bumi malah terkekeh. Suara kekehannya yang dalam bergetar tepat di celah udara yang sempit di antara wajah mereka. "Udah nggak tahan, gimana dong, Sayang?" kata Bumi manja. "Di rumah kan bisa, ini di kamp-" "Di rumah beda lagi, Sayang," potong Bumi cepat, tak membiarkan Maura menyelesaikan protesnya. Dia makin menunduk, berniat meraup kembali bibir Maura yang ranum. "Disini sensasinya lain," "Katanya mau ke kantor!" pekik Maura tertahan, setengah menjerit tepat di depan wajah suaminya. Dan kata itulah yang menghentikan gerakan Bumi. Pria itu beku langsung, persis seperti komputer mahal yang mendadak hang gara-gara disiram air es. Kedipan matanya melambat. Seolah kata 'kantor' baru saja menyetrum jiwanya kembali dari alam ghaib menuju kenyataan duniawi. Bumi menghela napas panjang. Dis memejamkan mata sejenak sambil menyandarkan dahinya di perpotongan leher Maura, pasrah. "Ah... kantor ya?" gumam Bumi merana, seolah urusan kantor ada
Tak henti dia memperhatikan istrinya sambil menyungging senyum. Jemari panjangnya mengusap lembut helaian rambut Maura yang berantakan, menikmati momen langka melihat wajah galak mahasiswi kesayangannya itu tampak begitu polos dan damai saat tertidur."Maaf ya, Sayang," desis Bumi lirih, suaranya sarat akan rasa bersalah yang mendalam. "Gara-gara aku kamu jadi banyak pikiran."Dengan gerakan teramat hati-hati, Bumi meraih jemari Maura yang terkulai di atas dada. Pria itu menunduk, mendaratkan kecupan hangat beruntun di punggung tangan dan tiap ruas jari istrinya.Tatapan mata Bumi perlahan naik, mengabsen setiap jengkal bagian wajah istrinya. Dari mata yang biasanya menatapnya sewot kalau diberi tugas tambahan, hidung mungil yang suka kempas-kempis saat menahan kesal, hingga bibir Maura. Bibir yang cenderung agak pucat, tapi entah kenapa selalu terlihat sangat seksi di matanya. Bibir yang semalam membuatnya lupa diri dan bertindak kelewat buas di atas ranjang.Sorot matanya kian mered
"Ada kelas lagi nggak? Kalau enggak, aku tunggu di mobil. Parkiran belakang."Baru saja Gadis itu membuka HP setelah Prof. Syamsul keluar ruangan pesan dari Bumi langsung terpampang di layar. Maura menggesernya. Pesan itu masuk lima menit lalu.“Ngimpi apa gimana tuh orang,” batinnya langsung sewot
Maura menyusuri lorong kampus dengan langkah seribu, nyaris terpeleset di tikungan tangga ke ruangan Bumi. Di tangannya, tumpukan kertas rangkuman menari mengikuti irama langkahnya. Sialnya, begitu sampai di depan ruangan Dosen itu, pemandangan di depannya membuat Maura ingin menangis di tempat. Ad
Dibanding lingkungan rumah orang tuanya, rumah ini jauh lebih sunyi. Di sini, suara jangkrik pun seolah ragu untuk berbunyi, takut mengganggu ketenangan para penghuni yang bersembunyi di balik tembok-tembok tinggi dan pagar otomatis. Gadis itu duduk di kursi makan dengan kaki yang ditekuk ke atas,
Pria itu terus melangkah menuju pintu utama meski telinganya panas mendengar celetukan Maura. Dia berhenti tepat di depan panel smart lock, menunggu Maura yang tertatih menyeret koper dan menggendong bonekanya."Sini," panggil Bumi pendek.Maura mendekat, matanya mengikuti arah jari Bumi yang m







