LOGINAlunan kecapi Lu Meng terdengar lembut, mengalir ke setiap sudut ruangan yang diterangi hanya oleh cahaya lilin. Jemarinya tampak luwes sementara matanya terus menunduk, terlihat polos tapi penuh tipu daya.Saat nada sendu sedang dimainkan, pintu terbuka pelan sekali. Lu Meng mendengarnya, tapi ia tak bereaksi sedikit pun. Terlihat seseorang bertubuh langsing dengan pakaian lelaki masuk.Meski wajahnya terlihat biasa saja seperti prajurit lelaki pada umumnya, langkah kakinya yang ringan tanpa tekanan sedikit pun langsung dikenali oleh Lu Meng. Ia memang bukan prajurit biasa, melainkan satu dari seribu wajah Shu Li.Pangeran Canglan, yang sedari tadi bersandar memegang cangkir araknya, membuka kelopak matanya dengan perlahan. Ia memberikan kode rahasia melalui tatapan mata dan sedikit gerakan dagunya. Mengerti isyarat tersebut, Shu Li mendekat ke samping meja tempat Pangeran berada.Lu Meng sama sekali tidak menghentikan permainannya. Ia justru membiarkan alunan kecapinya mengalun lebi
Segala pergerakan rahasia di balik dinding Kediaman Jenderal Li, ditutupi oleh malam yang kian gelap.Li Fenglan berdiri menghadap jendela di dalam ruang bacanya. Sebatang lilin menerangi ruangan meski terlihat remang-remang.Tiba-tiba, embusan angin dingin menyelinap masuk, disusul dengan berkelebatnya sesosok bayangan yang turun dari atap tanpa menimbulkan suara sekecil apa pun. Sosok itu langsung berlutut di belakang sang Jenderal."Jenderal, Pasukan Sayap Timur memenuhi panggilanmu," ucap sosok itu. Suaranya terdengar jernih seperti air sungai.Fenglan berbalik. Ia menatap prajurit wanita yang mengenakan pakaian sederhana serba hitam itu. "Berdirilah, Lu Meng."Prajurit wanita bernama Lu Meng itu bangkit. Ia adalah pasukan rahasia yang sengaja disimpan Fenglan untuk waktu-waktu tertentu.Berbeda dengan A Ying yang merupakan petarung jarak dekat dengan tenaga besar dan pergerakan cepat, Lu Meng adalah prajurit pembunuh dari kesatuan Sayap Timur yang paling mahir dalam seni menyelin
Kelahiran naga kecil di Kediaman Putra Makhkota mengubah Istana Dalam menjadi penuh kegembiaraan. Perayaan dan ucapan selamat dari para pejabat menghampiri Pangeran Pertama satu demi satu, termasuk dari Kaisar secara langsung.Putri Mianmian yang masih terbaring lemah di ruang bersalin akhirnya bisa tersenyum lega. Bibirnya tak henti-hentinya menyunggingkan senyuman saat melihat bayi laki-lakinya tertidur pulas di dalam pelukan Permaisuri Utama.Tugas Muyin telah selesai dengan sempurna. Sebelum beranjak pulang untuk berisirahat ia menuliskan sebuah resep dan menyerahkannya pada bidan kepala."Berikan rebusan akar dang gui, kurma merah, dan ginseng berusia lima tahun kepada Putri Mahkota setiap pagi dan malam," pesan Muyin dengan lembut. "Ramuan herbal ini akan menghangatkan rahimnya, mengembalikan darah yang hilang, serta membantu memulihkan tenaganya seperti sedia kala. Pastikan tidak ada satu bahan pun yang terlewat.""Hamba mengerti, Nyonya Muda Li. Terima kasih atas bantuanmu yan
Di hari yang sama, saat pengukuran baju pengantin di Paviliun Keanggunan belum selesai, kepanikan mendadak merebak di sisi lain Istana Dalam.Jerit kesakitan yang melengking tiba-tiba terdengar dari paviliun utama Kediaman Putra Makhkota. Putri Mianmian berlutut sambil memegangi perutnya yang semakin membesar.Usia kandungannya memang sudah menginjak sembilan bulan dan tinggal menunggu hari, tetapi rasa sakit itu datang seperti terjangan badai. Waktunya telah tiba.Dalam sekejap mata, paviliun itu dipenuhi hiruk-pikuk. Seluruh tabib senior dan bidan istana terbaik dikumpulkan.Air panas, handuk bersih, dan baskom-baskom kuning disiapkan. Ibu Suri dan Permaisuri Utama yang baru saja selesai mengurus urusan Li Keyi pun bergegas datang.Namun, Putri Mianmian justru menolak bantuan meski keringat dingin membasahi wajahnya. Ia menepis tangan para bidan yang mencoba memapahnya ke atas ranjang."Jangan sentuh aku!" jerit Putri Mianmian dengan napas tersengal-sengal. Matanya penuh kewaspadaan
Jenderal Li Fenglan berdiri tegap dengan kepala tertunduk hormat, ia baru saja selesai melaporkan urusan militer perbatasan pada Kaisar.Suara langkah kaki terdengar mendekat dari luar pintu. Seorang kasim melangkah masuk dengan hati-hati, membawa sebuah gulungan sutra kuning berstempel resmi di atas nampan emas."Yang Mulia," ucap kasim tersebut sambil berlutut. "Utusan dari Biro Bintang Langit baru saja mengantarkan surat resmi berisi perhitungan tanggal pernikahan antara Yang Mulia Pangeran Rui dan Nona Li Keyi."Kaisar yang sedang menulis kemudian meletakkan kuasnya. "Bagus. Bacakan hasilnya sekarang. Berapa minggu lagi hari baik itu tiba?"Kasim itu membuka gulungan surat dan membaca is di dalamnya. Sesaat, napasnya sedikit tertahan sebelum ia melanjutkannya."Menjawab Yang Mulia, menurut perhitungan Ketua Biro Ge Tianming, hari paling baik yang direstui oleh rasi bintang dan dapat menghindari benturan elemen negatif jatuh pada pertengahan musim gugur. Tepat lima bulan dari sekar
A Ying dan Lei Jun kembali setelah seharian lebih berkunjung ke Biro Bintang Langit. Lei Jun melompat dan ia hendak mengulurkan tangannya sebagai sandaran untuk A Ying. Namun, sepertinya ia lupa bahwa A Ying adalah prajurit tangguh yang sedang menyamar sebagai bangsawan menggunakan baju sutra. Dan tangannya hanya menggenggam angin.Mereka berdua bergegas menuju paviliun tempat Muyin sedang duduk santai menikmati teh hangat di sore hari."Tugas selesai, Nyonya Muda!" kata A Ying seraya menghela napas lega. "Daun teh milik Ketua Biro Bintang Langit sudah aku tukar semuanya dengan herbal racikan Nyonya. Tidak ada satu pun kasim atau pelayan yang curiga."Muyin tersenyum puas dan meletakkan cangkir tehnya. "Kerja bagus, A Ying. Sekarang kita hanya tinggal menunggu herbal itu bekerja dan mengacaukan pikiran Ketua Biro."A Ying mengangguk. Ia merogoh lengan jubah sutranya dan mengeluarkan sebuah gulungan kertas kecil yang diikat pita merah, lalu menyodorkannya ke meja di hadapan Muyin."Dan
Shu Li, memelankan laju kudanya. Di bawah topengnya yang sempurna kini ia menjelma menjadi Muyin—Nyonya Muda Li yang anggun dan cantik. Di gerbang perbatasan militer, debu beterbangan saat Shu Li menarik tali kekang kudanya secara mendadak."Berhenti. Tunjukkan identitasmu!" seru penjaga gerbang sa
Tenda utama Li Fenglan hanya diterangi cahaya lilin besar. Ia berdiri membelakangi pintu masuk dan mulai melepas pelindung bahunya yang berat. Tersisa pedang yang masih belum mau ia letakkan."Masuklah," ucap Fenglan tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa yang berdiri di depan meski tanpa terdengar lan
"Mati kau, Jalang!" teriak Shu Li. Pedang yang ia rampas dari pinggang Fenglan kini nyaris menikam leher Luo Ying.Gadis itu menangkis tebasan dengan pelindung lengan bajanya. Dengan luwes Luo Ying memelintir pergelangan tangan Shu Li hingga wanita itu memekik dan pedangnya terlepas.“Tunjukkan waj
Shu Li menusukkan jarum di titik vital dan mempercepat kematian prajurit itu, hingga tubuhnya kejang-kejang.Prajurit itu memuntahkan cairan hitam pekat bercampur darah dan sisa makanan yang telah membusuk, tepat mengenai dada dan lengan baju Shu Li. Bau busuk langsung menusuk hidung.Rasa jijik da







