เข้าสู่ระบบSegala pergerakan rahasia di balik dinding Kediaman Jenderal Li, ditutupi oleh malam yang kian gelap.Li Fenglan berdiri menghadap jendela di dalam ruang bacanya. Sebatang lilin menerangi ruangan meski terlihat remang-remang.Tiba-tiba, embusan angin dingin menyelinap masuk, disusul dengan berkelebatnya sesosok bayangan yang turun dari atap tanpa menimbulkan suara sekecil apa pun. Sosok itu langsung berlutut di belakang sang Jenderal."Jenderal, Pasukan Sayap Timur memenuhi panggilanmu," ucap sosok itu. Suaranya terdengar jernih seperti air sungai.Fenglan berbalik. Ia menatap prajurit wanita yang mengenakan pakaian sederhana serba hitam itu. "Berdirilah, Lu Meng."Prajurit wanita bernama Lu Meng itu bangkit. Ia adalah pasukan rahasia yang sengaja disimpan Fenglan untuk waktu-waktu tertentu.Berbeda dengan A Ying yang merupakan petarung jarak dekat dengan tenaga besar dan pergerakan cepat, Lu Meng adalah prajurit pembunuh dari kesatuan Sayap Timur yang paling mahir dalam seni menyelin
Kelahiran naga kecil di Kediaman Putra Makhkota mengubah Istana Dalam menjadi penuh kegembiaraan. Perayaan dan ucapan selamat dari para pejabat menghampiri Pangeran Pertama satu demi satu, termasuk dari Kaisar secara langsung.Putri Mianmian yang masih terbaring lemah di ruang bersalin akhirnya bisa tersenyum lega. Bibirnya tak henti-hentinya menyunggingkan senyuman saat melihat bayi laki-lakinya tertidur pulas di dalam pelukan Permaisuri Utama.Tugas Muyin telah selesai dengan sempurna. Sebelum beranjak pulang untuk berisirahat ia menuliskan sebuah resep dan menyerahkannya pada bidan kepala."Berikan rebusan akar dang gui, kurma merah, dan ginseng berusia lima tahun kepada Putri Mahkota setiap pagi dan malam," pesan Muyin dengan lembut. "Ramuan herbal ini akan menghangatkan rahimnya, mengembalikan darah yang hilang, serta membantu memulihkan tenaganya seperti sedia kala. Pastikan tidak ada satu bahan pun yang terlewat.""Hamba mengerti, Nyonya Muda Li. Terima kasih atas bantuanmu yan
Di hari yang sama, saat pengukuran baju pengantin di Paviliun Keanggunan belum selesai, kepanikan mendadak merebak di sisi lain Istana Dalam.Jerit kesakitan yang melengking tiba-tiba terdengar dari paviliun utama Kediaman Putra Makhkota. Putri Mianmian berlutut sambil memegangi perutnya yang semakin membesar.Usia kandungannya memang sudah menginjak sembilan bulan dan tinggal menunggu hari, tetapi rasa sakit itu datang seperti terjangan badai. Waktunya telah tiba.Dalam sekejap mata, paviliun itu dipenuhi hiruk-pikuk. Seluruh tabib senior dan bidan istana terbaik dikumpulkan.Air panas, handuk bersih, dan baskom-baskom kuning disiapkan. Ibu Suri dan Permaisuri Utama yang baru saja selesai mengurus urusan Li Keyi pun bergegas datang.Namun, Putri Mianmian justru menolak bantuan meski keringat dingin membasahi wajahnya. Ia menepis tangan para bidan yang mencoba memapahnya ke atas ranjang."Jangan sentuh aku!" jerit Putri Mianmian dengan napas tersengal-sengal. Matanya penuh kewaspadaan
Jenderal Li Fenglan berdiri tegap dengan kepala tertunduk hormat, ia baru saja selesai melaporkan urusan militer perbatasan pada Kaisar.Suara langkah kaki terdengar mendekat dari luar pintu. Seorang kasim melangkah masuk dengan hati-hati, membawa sebuah gulungan sutra kuning berstempel resmi di atas nampan emas."Yang Mulia," ucap kasim tersebut sambil berlutut. "Utusan dari Biro Bintang Langit baru saja mengantarkan surat resmi berisi perhitungan tanggal pernikahan antara Yang Mulia Pangeran Rui dan Nona Li Keyi."Kaisar yang sedang menulis kemudian meletakkan kuasnya. "Bagus. Bacakan hasilnya sekarang. Berapa minggu lagi hari baik itu tiba?"Kasim itu membuka gulungan surat dan membaca is di dalamnya. Sesaat, napasnya sedikit tertahan sebelum ia melanjutkannya."Menjawab Yang Mulia, menurut perhitungan Ketua Biro Ge Tianming, hari paling baik yang direstui oleh rasi bintang dan dapat menghindari benturan elemen negatif jatuh pada pertengahan musim gugur. Tepat lima bulan dari sekar
A Ying dan Lei Jun kembali setelah seharian lebih berkunjung ke Biro Bintang Langit. Lei Jun melompat dan ia hendak mengulurkan tangannya sebagai sandaran untuk A Ying. Namun, sepertinya ia lupa bahwa A Ying adalah prajurit tangguh yang sedang menyamar sebagai bangsawan menggunakan baju sutra. Dan tangannya hanya menggenggam angin.Mereka berdua bergegas menuju paviliun tempat Muyin sedang duduk santai menikmati teh hangat di sore hari."Tugas selesai, Nyonya Muda!" kata A Ying seraya menghela napas lega. "Daun teh milik Ketua Biro Bintang Langit sudah aku tukar semuanya dengan herbal racikan Nyonya. Tidak ada satu pun kasim atau pelayan yang curiga."Muyin tersenyum puas dan meletakkan cangkir tehnya. "Kerja bagus, A Ying. Sekarang kita hanya tinggal menunggu herbal itu bekerja dan mengacaukan pikiran Ketua Biro."A Ying mengangguk. Ia merogoh lengan jubah sutranya dan mengeluarkan sebuah gulungan kertas kecil yang diikat pita merah, lalu menyodorkannya ke meja di hadapan Muyin."Dan
Muyin sedang memilah-milah ragam herbal kering beserta fungsinya, selagi Fenglan pergi ke istana. Ia dibantu oleh A Ying yang senantiasa berdiri di sampingnya.Guna herbal kering itu cukup berbahaya, yaitu untuk memengaruhi pikiran seseorang agar tidak bisa berpikir jernih, tetapi akan sulit ketahuan karena ditutupi oleh herbal kering lainnya.Rencananya herbal itu akan ia berikan pada Biro Bintang Langit yang menaungi penentuan tanggal pernikahan setiap pangeran dan putri termasuk kecocokan selir yang akan diambil oleh Kaisar, atau para pangeran.Tujuannya jelas untuk memperlambat pernikahan Li Keyi dan Pangeran Rui. Bahkan jika mungkin akan dicari ketidakcocokannya agar mereka tidak jadi menikah.Tentu saja Fenglan sudah menyetujui hal itu. Meski langkah mereka sangat berbahaya, tetap saja harus dilakukan daripada memiliki saudara seperti Pangeran Rui.“A Ying, ikut aku ke dalam,” kata Muyin ketika selesai mengikat 10 kantong kecil herbal kering miliknya. Keduanya masuk ke tempat pe
"Muyin, bawa kotak jarummu kemari!" perintah Tabib Xu.Muyin, yang baru saja selesai meminum toniknya, segera bergegas menghampiri. Dua tabib istana turut hadir dan di hadapan merka terbaring seorang perempuan muda dengan wajah bintik-bintik merah dan tubuh lemah lesu serta mirip seperti bunga lay
Mojin berjalan dengan gemulai di antara tenda musuh yang berdiri. Di balik lengan bajunya ia menyimpan belati yang tajam dan mematikan.Jantungnya berdetak dengan cepat. Ia tidak takut, tapi karena rasa risih luar biasa akibat angin malam yang menerpa betisnya, yang terbuka di balik rok panjangnya.
“Mingze,” perintah Fenglan tanpa mengalihkan tatapannya yang penuh arti dari wajah Mojin. “Bawakan aku sepasang pakaian wanita lengkap. Jangan lupa bedak, gincu merah, dan sumpelan dada dari apa saja terserah, air boleh kain boleh, bantal pun boleh.”Suasana hening sesaat. Angin dari luar masuk ke
Badai pasir baru saja mereda. Suku Beiman mengira pasukan Yan akan sibuk membersihkan debu di dalam benteng hingga mereka bersantai-santai saja. Li Fenglan menatap barisan pasukannya yang sudah bersiap dari balik benteng besi. "Han Yu!" panggil Fenglan dengan suara menggelegar. "Bawa lima ratus p







