Share

12. Pangeran Rui

Author: Rosa Rasyidin
last update Last Updated: 2025-12-27 20:48:34
Di sebuah paviliun terpencil di sudut taman belakang kediaman Pangeran Rui, suasana hening tercipta. Tidak ada pelayan, juga penjaga, hanya suara jangkrik yang sesekali berderik.

Pangeran Yan Zhelan, atau kerap dipanggil Pangeran Rui, berdiri membelakangi pintu masuk. Tangannya yang putih dan halus sedang sibuk memberi makan ikan di kolam kecil dengan remah roti, gerakannya begitu anggun seolah ia sedang melukis.

Sayangnya ketenangan itu terusik ketika sesosok bayangan hitam meluncur turun dari atap tanpa suara, berlutut satu kaki tepat di belakang sang Pangeran.

"Pangeran Rui," ucap lelaki berbaju hitam itu, wajahnya tertutup kain hingga hanya matanya yang tajam yang terlihat. Pangeran Rui mendekat dan membiarkan lelaki tersebut mendekatinya.

Lelaki misterius itu membisikkan beberapa kalimat. Kemudian gerakan tangan Pangeran Rui terhenti di udara. Remah roti di genggamannya remuk seketika menjadi serbuk.

"Apa kau bilang?" Pangeran Rui lekas berdiri. Senyum lembut yang biasa mengh
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    36. Bunga Rindu

    "Ini benar-benar gila! Bagaimana mungkin kementerian mengirim kita ke kandang babi seperti ini?"Suara keluhan itu mengganggu konsentrasi Muyin. Di gerbang desa, rombongan bantuan dari ibukota baru saja tiba.Dua orang tabib paruh baya terlihat turun dengan wajah masam, diikuti empat orang dayang medis yang mengenakan seragam hijau lumut berbahan halus. Cara berpakaian yang tidak cocok untuk ditempat yang sedang terkena wabah.Salah satu dayang medis, yang tampaknya paling senior, mengangkat roknya tinggi-tinggi dengan ujung jari. Wajahnya terlihat jijik saat melihat tanah becek bercampur muntahan dan lumpur di hadapannya."Sepatu sutraku bisa rusak kalau menginjak tanah ini.""Lihat orang-orang itu, kulit mereka bintik-bintik dan baunya ugh, aku bisa muntah sekarang juga.""Benar, Kak. Seharusnya kita melayani selir di istana yang wangi, bukan mengurus petani rendahan yang bau busuk begini," timpal dayang lainnya sambil menutup hidung dengan sapu tangan yang wangi.Mereka berdiri mem

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    35. Merajut Dendam

    Muyin bergerak perlahan mendekati seorang wanita tua yang terbaring lemah di atas tumpukan jerami kering. Wanita itu, yang dipanggil warga desa sebagai Nenek Qin, tubuhnya kurus kering dengan kulit keriput karena pengaruh usia."Nenek, waktunya minum obat," ucap Muyin lembut sambil berlutut.Ia meniup uap panas dari sendok kayu, lalu menyodorkannya ke bibir Nenek Qin. Namun, wanita tua itu tidak membuka mulutnya. Matanya yang cekung karena demam justru terbuka lebar, dan menatap wajah Muyin tanpa berkedip. Tatapan itu begitu intens bahkan sambil menitikkan air mata."Nenek, apakah obatnya terlalu panas?" tanya Muyin karena keheranan.Tangan Nenek Qin yang gemetar hebat perlahan terangkat. Jari-jarinya yang kasar dan keriput berusaha menyentuh ujung lengan baju Muyin."Nyonya Yu, apakah ini benar dirimu? Apakah Nyonya kembali menjemput dan membawa hamba pergi?"Muyin tersentak. Sendok di tangannya nyaris terjatuh. Yu adalah nama marga ibu kandungnya, Yu Xi Rou."Siapa?" Muyin meletakka

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    34. Nyonya Muda Li

    Bau anyir muntahan dan keheningan yang mencekam adalah suasana yang tergambar di Desa Lu sekarang. Pintu-pintu rumah tertutup rapat, dan hanya terdengar suara batuk yang bersahut-sahutan dari balik dinding kayu rumah warga.Tanpa membuang waktu untuk beristirahat atau menyapa para penduduk, Tabib Xu langsung mengambil alih wilayah kosong di tengah desa, yang dekat dengan sumber air."Jangan diam saja. Wabah bergerak lebih cepat dari angin!" ucap Tabib Xu. Ia tahu Keyi ketakutan melihat mayat ditutupi tikar di pinggir jalan.Muyin sempat menutup hidung agar ia tak ikut-ikutan muntah. Lalu ia teringat bahwa seorang tabib harus menutup mulut serta hidung agar tidak tertular penyakit. Wanita dengan lesung pipi itu meraih sapu tangan putih di lengan baju dan menutup separuh wajahnya.“Terlihat sangat mengerikan. Belum pernah aku melihat kematian tragis seperti ini, selain kematian kakakku,” gumam Muyin sambil menghapus satu titik air matanya."Buka peralatannya sekarang, Nyonya Muda." Tabi

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    33. Papan Nama

    Mojin perlahan membuka matanya. Rasa sakit menjalar di kedua bahu dan punggungnya. Seketika ia teringat pada tiga anak panah yang nyaris membuatnya bereinkarnasi lebih cepat."Kak Lei Jun, Kak Han Yu?" panggilnya sambil melirik kiri dan kanan. Tenggorokannya terasa kering karena beberapa hari tidak minum.Tatapannya terhenti pada tubuh mungil yang beranjak dari kursi kayu di sudut ruangan."Kakak prajurit sudah sadar?"Suara lembut itu bagai gemericik air sungai di telinganya. Mojin mengerjap, dan memastikan pandangannya. Di hadapannya berdiri seorang gadis muda dengan pakaian sederahana juga bersih.Rambutnya dikepang satu ke samping. Tidak ada perhiasan yang melekat di tubuhnya. Mojin mengenalinya sebagai gadis yang ia suruh berlari dan menyelamatkan warga yang lain."Kau." Mojin mencoba bangun, tapi rasa sakit di bahunya membuatnya meringis. "Aww, sakitnyaaa.""Jangan memaksakan diri, Kakak Prajurit! Lukamu masih basah." Gadis itu mendekat, wajahnya penuh kekhawatiran.Tangan kecil

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    32. Perempuan Berbahaya

    Mojin berjalan dengan gemulai di antara tenda musuh yang berdiri. Di balik lengan bajunya ia menyimpan belati yang tajam dan mematikan.Jantungnya berdetak dengan cepat. Ia tidak takut, tapi karena rasa risih luar biasa akibat angin malam yang menerpa betisnya, yang terbuka di balik rok panjangnya."Hei, adik kecil."Suara penuh nafsu terdengar dari balik tumpukan jerami. Tiga prajurit Beiman yang mabuk berat muncul, menghalangi jalannya. Mata mereka merah dan memindai Mojin dari ujung rambut sampai kaki."Kulitmu putih sekali, seperti susu," ucap salah satu dari mereka. Ia maju dengan langkah semborono dan nekat menyentuh dagu Mojin dengan tangan kotornya.“Adik kecil kedinginan? Mau aku bantu hangatkan, ha ha ha."Wajah Mojin berubah jadi kaku, mendidih darahnya digoda laki-laki. Saat tangan kasar itu meraba lehernya, Mojin bergerak cepat tanpa diduga sama sekali.Mojin mencabut tusuk konde runcing dari rambutnya dan menghujamkannya tepat ke tenggorokan prajurit itu. Darah mengalir,

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    31. Syair Kerinduan

    “Mingze,” perintah Fenglan tanpa mengalihkan tatapannya yang penuh arti dari wajah Mojin. “Bawakan aku sepasang pakaian wanita lengkap. Jangan lupa bedak, gincu merah, dan sumpelan dada dari apa saja terserah, air boleh kain boleh, bantal pun boleh.”Suasana hening sesaat. Angin dari luar masuk ke dalam tenda dan membuat Mojin berkedip tiga kali. Mulutnya sedikit terbuka, dan daging kering yang tadi ia pegang meluncur jatuh ke lantai.“J-Jenderal, maksudnya apa? Untuk siapa benda-benda perempuan itu? Jenderal merindukan Nyonya Muda?”Fenglan menyeringai dan membuat Mojin semakin ketakutan.“Kau punya kulit paling halus di kesatukan kita, Mojin. Kita harus memanfaatkannya. Malam ini, kau bukan lagi prajurit di garis depan.”Wajah Mojin seketika pucat. Ia mundur selangkah, dan punggungnya menabrak tiang tenda.“Tidak, jangan, Jenderal, aku seorang lelaki!” teriaknya sambil menepuk dadanya yang rata.“Cita-citaku ingin jadi panglima perang yang gagah berani, bukan kembang desa dan tersen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status