Share

3. Pertemuan Pertama

Author: Rosa Rasyidin
last update Last Updated: 2025-12-14 21:06:21

Hembusan angin pagi menyibakkan tirai merah di gerbang barat ketika Bai Muyin melangkah keluar dengan langkah hati-hati. Di hadapannya, pasukan Jenderal Li berdiri tegak seperti barisan baja.

Shuqing berbisik penuh ketakutan, “Nona, mereka semua prajurit tingkat tinggi, menakutkan sekali.”

Muyin menelan ludah. “Bukan mereka yang kutakuti.”

“Lalu siapa?” tanya Shuqing polos.

Muyin menatap pria di tengah barisan. Tubuhnya tinggi, berlapis baju perang hitam, aura dinginnya membuat napas Muyin terhenti sejenak.

“Dia,” ucap Muyin sambil satu alisnya naik.

Li Fenglan turun dari kudanya. Pasukan membuka jalan. Suasana menjadi hening, sampai Muyin bisa mendengar degup jantungnya sendiri.

Fenglan berjalan mendekat. Lelaki dengan sorot mata setajam pedang itu menyapa Muyin tanpa tersenyum sama sekali.

“Salam hormat, Jenderal Li.” Muyin menunduk dan tidak mau memegang tangan Fenglan.

“Angkat wajahmu.”

Muyin menahan napas lalu mengangkat wajah perlahan. Tatapan Fenglan begitu menusuknya dari ujung rambut hingga kaki. Bukan seperti seorang lelaki memandang calon istrinya, tetapi seperti seorang jenderal sedang memeriksa pasukan.

“Ada apa, Jenderal Li?” Muyin menutup wajahnya dengan kipas. Ia takut penyamarannya ketahuan.

Fenglan mengerutkan kening sedikit, tapi cukup membuat Muyin tegang.

“Tidak ada,” katanya dengan nada suara santai.

‘Apa dia curiga? Apa dia tahu aku bukan Ruyin?’ gumam Muyin dalam hati.

Bai Xuanzhi maju sambil tertawa. “Jenderal Li, maaf jika putri kami terlihat agak pucat hari ini. Ia masih berduka karena kehilangan kerabat jauh.”

Fenglan menatap Xuanzhi. “Tidak perlu menutupi sesuatu. Aku bisa melihat ketika seseorang menahan beban di hatinya.”

Muyin semakin membeku. Fenglan kembali menatapnya. Untuk sesaat, sorot mata itu tidak lagi mengerikan melainkan penuh kasih sayang. Seperti ada sesuatu yang Fenglan simpan atau tahan.

‘Kenapa dia tampak berduka? Karena Ruyin? Tapi bukankah kakakku mengatakan di suratnya bahwa Fenglan yang membunuh kekasihnya?’ Muyin bertanya dalam hati.

“Kau terlihat berbeda dari terakhir kali aku melihatmu.” Fenglan menatap Muyin dengan tatapan yang mendalam.

Napas Muyin tercekat. Shuqing di belakangnya sampai menutup mulut.

“Jenderal Li, tentu saja putri kami terlihat berbeda. Ia memakai riasan pengantin. Wanita memang berubah jika berdandan!” Xuanzhi langsung memotong pembicaraan.

“Benar, mungkin dulu aku terlalu gugup saat bertemu denganmu pertama kali.” Muyin menambahkan.

Fenglan menatapnya lagi. Begitu lama. Hatinya terasa seperti sedang menelusuri perkataan gadis di depannya.

“Sepertinya begitu.” Li Fenglan mengangguk. Ia memberi isyarat pada seorang prajurit untuk membawa tandu merah.

“Upacara akan dimulai setelah kita tiba di kediaman Li, naiklah.”

“Ruyin, cepat naik.” Xuanzhi mendesak putrinya.

Muyin maju perlahan, tetapi tiba-tiba Fenglan mengulurkan tangan. Muyin menatapnya penuh kebingungan.

“Untuk membantumu naik, aku takut kau jatuh,” kata Fenglan datar.

“Terima kasih.” Ketika tangan mereka bersentuhan, Muyin merasakan kulit Jenderal Li begitu dingin seperti besi dengan genggaman yang sangat kuat.

Saat Muyin duduk di tandu, Fenglan berbicara sangat pelan.

“Jangan takut.”

“Aku tidak takut.” Muyin menelan ludah.

Fenglan memandangnya sebentar. “Matamu berkata sebaliknya.”

Muyin membuang wajah. Ia takut, bukan pada pernikahan, tapi pada kebenaran yang bisa saja terkuak.

‘Jika dia benar-benar mencintai Ruyin, apakah dia akan membunuhku jika tahu aku bukan Ruyin?’

Ketika rombongan siap bergerak, Fenglan kembali ke kudanya. Namun sebelum ia menarik kendali, ia menatap Muyin sekali lagi. Tatapan seperti seseorang yang kehilangan sesuatu berharga.

Muyin tidak tahan dan bertanya lewat celah tandu. “Jenderal Li, apakah kau baik-baik saja?”

Fenglan menoleh. Xuanzhi terkejut dan mencoba memberi isyarat agar Muyin diam.

“Aku baik-baik saja,” jawab Fenglan. Sebelum Muyin sempat bertanya lagi, Fenglan mengangkat tangan dan memberi perintah.

“Berangkat!”

Pasukan segera bergerak. Gong berbunyi. Bendera berkibar. Muyin mencengkeram tirai.

Di luar sana, terdengar suara rakyat memberi salam hormat. Di dalam tandu, hanya satu suara yang terdengar di kepala Muyin.

‘Jika Jenderal Li benar-benar mencintai kakakku, wajar kalau ia tampak lebih sedih daripada ayahku sendiri.’

***

Suara gong dipukul tiga kali menggema di seluruh pelataran kediaman Jenderal Li. Di tengah alun-alun, altar leluhur keluarga Li berdiri megah. Di atasnya terdapat papan nama para pendahulu yang telah gugur dalam perang, kini menjadi saksi kedatangan pengantin baru.

Prajurit-prajurit bersenjata penuh berdiri di kedua sisi, membentuk jalur kehormatan. Tidak satu pun bergerak.

Muyin menunduk dalam-dalam ketika langkahnya menghampiri altar, kain pengantin merah panjang terlihat menyapu lantai. Dari sisi kanan, Fenglan berjalan dengan langkah tegap.

“Pengantin pria, Jenderal Agung Li Fenglan, memasuki altar leluhur!” ucap pemandu pernikahan.

Muyin menggigit bibir. Hatinya berdebar. ‘Inilah saatnya. Aku menjadi Bai Ruyin, pengantin pengganti.’

“Tenanglah,” ucap Fenglan.

“Aku tahu,” jawab Muyin. Namun, suaranya hampir hilang tertelan angin.

Tetua keluarga Li maju ke tengah. “Persembahan pertama, menghormati Langit dan Bumi.”

Muyin mengangkat dupa dengan tangan gemetar. Fenglan menoleh sedikit.

“Pegang lebih kuat,” gumamnya.

“Aku gugup.” Muyin gemetaran.

“Ada aku di sini.”

Muyin menunduk, entah kenapa kata itu menenangkan. Mereka menunduk bersama.

“Persembahan kedua, menghormati para leluhur keluarga Li.”

Muyin memejam mata. ‘Maafkan aku berada di sini untuk menggantikan kakakku. Jika roh-roh leluhur melihat, apakah mereka akan marah?’

Fenglan menunduk wajahnya khidmat, berbeda jauh dari sikap dinginnya sehari-hari. Aura penghormatannya pada leluhur terasa sangat tulus.

Muyin melihat dari sudut mata dan ia berpikir bahwa Fenglan tidak seperti rumor yang didengar, begitu dingin tanpa perasaan.

“Persembahan ketiga, pengantin saling memberi hormat.”

Muyin dan Fenglan saling berhadapan.

Muyin menunduk perlahan. “Suamiku, aku memberi hormat.”

Fenglan menatapnya dalam, kemudian membalas. “Istriku, aku menerimanya.”

“Jenderal Li Fenglan, apakah kau bersedia menjaga istrimu, Bai Ruyin, dalam keadaan damai maupun perang?”

“Aku bersedia.” Fenglan menjawab tanpa keraguan. Muyin mendengarnya dengan salah tingkah.

“Dan Bai Ruyin, apakah kau bersedia mendampingi suamimu, Li Fenglan, dalam suka maupun duka?”

Muyin menggigit bibir, karena ia sedang berbohong pada para leluhur. Namun, ia tetap menjawab. “Aku bersedia.”

Tetua keluarga mengangkat tangan.

“Mulai hari ini, di bawah langit Yanluo dan di hadapan roh-roh leluhur, kalian resmi menjadi suami istri.”

Muyin menunduk. Fenglan berdiri tegap. Prajurit-prajurit menghentakkan tombak ke tanah sambil berteriak.

“Hidup Jenderal Li Fenglan! Hidup Nyonya Muda Li!”

Suara itu memenuhi ruangan dan membuat Muyin terpaku. Fenglan mendekat, menunduk sedikit dan berbisik di telinga Muyin.

“Mulai saat ini, kau berada di bawah perlindunganku.”

Muyin tercekat, bukan karena kata-kata romantis itu melainkan kebimbangan di hatinya.

Ketika mereka berjalan keluar altar, rok panjang Muyin tersangkut lantai batu. Tubuhnya oleng, hampir jatuh di depan seluruh prajurit. Namun, tangan Fenglan menyambar pinggangnya dengan cekatan.

“Berhati-hatilah.” Fenglan tersenyum.

“Maaf.” Wajah Muyin seketika memanas.

“Jenderal kita begitu lembut pada istrinya!” bisik salah satu prajurit.

“Dia hanya lembut pada satu orang!” Semua prajurit tertawa dan Fenglan tidak ingin menanggapinya dengan serius. Namun, ia menyadari yang tidak orang lain ketahui. Bahwa wanita di sebelahnya seperti bukan Ruyin yang ia kenal sejak kecil.

Bersambung ...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    26. Menukar Kebahagiaan

    Beberapa Hari SebelumnyaMuyin dan Ruyin duduk di taman. Ruyin menyulam sapu tangannya sendiri untuk pernikahannya bersama Jenderal Li, sedangkan Muyin memperbaiki kipas yang manik-maniknya copot.“Setelah menikah nanti, kau boleh datang ke kediaman kami, meimei,” ucap Ruyin pada adiknya.“Aku tidak berpikir untuk menikah, Jiejie. Aku hanya ingin lepas dari tempat ini,” jawab Muyin dengan rasa malas.“Jangan begitu, kau harus menikah, punya anak dan memiliki keluarga sendiri. Sebagai kakak, aku rela menukar seluruh kehidupanku agar kau bahagia. Aku tak pernah bisa berbuat banyak untuk kebahagiaanmu.”“Jiejie, jangan bicara seperti itu, tak lama lagi kau akan menikah, kau harus bahagia, soal hidupku biar aku sendiri yang akan memutuskan bagimana.” Secara tak sengaja jemari Muyin tertusuk jarum.“Hati-hati, tanganmu sampai berdarah.” Ruyin membersihkan darah adiknya. “Memangnya setelah aku menikah kau akan ke mana?”“Aku akan jadi biksuni supaya hidupku tak harus terus-terusan diatur or

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    25. Trauma

    “Kakak Ipar, buka pintunya!” Keyi menggedor-gedor pintu dengan kuat. Tabib Xu kemudian mendekatinya.“Biarkan saja, dia perlu ruang dan waktu untuk meluapkan perasaannya,” ucap lelaki tua itu.“Apa yang terjadi sebenarnya, Guru?”“Nyonya Muda membuka kenangan lama yang seharusnya ia lupakan dan tentu saja rasanya sakit. Mungkin saja ada kenangan dengan ibunya yang sangat menyakitkan. Sudahlah kita pergi saja kerjakan yang lain.” Tabib Xu menarik tangan Keyi.“Tapi tangisan Kakak Ipar sampai sesenggukan begitu, Guru, aku tidak bisa tenang.”“Ya, namanya orang menangis memang menyedihkan. Nanti juga Nyonya Muda akan kembali tenang. Ayo cepat aku akan mengajarimu cara memanah burung dengan tepat di lehernya.“Tapi ...” Tangan Keyi terus ditarik menjauh dari ruangan di mana Muyin masih menangis tersedu-sedu.“Ini tidak mungkin, tidak mungkin terjadi.” Wanita dengan lesung pipi itu terus menangis. Setelah ia diam sejenak dan menghapus air matanya, ia menangis lagi.“Seharusnya aku melupaka

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    24. Luka Hati

    Muyin bergegas ke halaman samping. Tanpa perlu bertanya lagi, tangan Muyin dengan cekatan memilah tanaman yang dimaksud.Ia tahu persis kebiasaan gurunya, jika Tabib Xu meminta herbal saat sedang menumbuk sesuatu yang berbau tajam, biasanya ia membutuhkan tanaman penyeimbang. Namun, sekarang instruksi Tabib Xu lebih mendalam."Ambilkan tiga bunga Yang Jin Hua (Kecubung) yang kelopaknya baru mekar setengah, lalu gali akar Shi Chang Pu yang tumbuh di dekat aliran air," perintah lelaki tua itu lagi.Muyin tertegun sejenak. Yang Jin Hua dikenal sebagai tanaman pembius yang kuat, bahkan beracun jika salah takaran. Sementara Shi Chang Pu biasanya digunakan untuk menenangkan pikiran dan membuka panca indra. Kombinasi yang aneh dan mematikan.Setelah membersihkan akar dan membawa bunga berbentuk terompet putih itu ke meja medis, Muyin melihat Tabib Xu sedang menyiapkan sebuah tungku kecil dengan api biru yang menyala dengan tenang."Duduklah," perintah Tabib Xu serius. "Hari ini kita tidak be

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    23. Jiwa yang Baru

    Kabut tipis masih menyelimuti kaki Gunung Barat, dan memperpendek jarang pandang di halaman Paviliun Pengobatan. Ayam jantan bahkan belum berkokok, tapi mata Bai Muyin sudah terbuka lebar.Udara pagi di pegunungan menusuk hingga ke sumsum tulang belakang. Namun, Muyin tidak lagi menggigil seperti hari pertama ia tiba.Tubuhnya mulai beradaptasi dengan kerasnya alam, sama seperti tekadnya yang semakin menguat. Ia membasuh wajahnya dengan air sumur yang dingin dan membiarkan rasa beku itu mencubit kesadaran dan menghalau sisa kantuk dari wajahnya.Tanpa membangunkan Keyi yang masih mendengkur dalam balutan selimut lusuh, Muyin melangkah keluar menuju kebun herbal.Muyin berjongkok di antara petak-petak tanaman, memejamkan mata, dan menarik napas dalam-dalam. Tabib Xu melarangnya dengan keras mengenali tanaman menggunakan penglihatan di pagi hari."Mata bisa ditipu oleh bentuk dan warna, tapi hidungmu tidak akan pernah berbohong tentang aroma sebuah tanaman." Begitu kata gurunya.Hidung

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    22. Wisma Bunga Ungu

    Luo Ying mengunyah roti kering yang ia bawa sebagai perbekalan. Ia sedang mengintai Wisma Bayangan yang berada di dalam Paviliun tanaman beracun milik Pangeran Rui.Pola kunci yang ada di pintu sangat rumit hingga hanya orang-orang kepercayaan Yan Zhelan saja yang bisa membukanya, dan gadis bermata monolid itu menunggunya dengan sabar.Mo Yan datang dan membuka kunci dengan pola rahasia itu. Pintu batu kuno dengan ukiran bunga peony putih itu terangkat perlahan. Luo Ying menaikkan alisnya. Ia heran mengapa sekelas pangeran pendosa bisa memiliki ruang rahasia demikian tebalnya.Mo Yan—ajudan dengan sebelah mata terluka itu lekas masuk dan pintu turun perlahan. Tak mau membuang kesempatan Luo Ying berguling perlahan hingga sedikit lagi tubuhnya hampir saja ditindih oleh pintu batu itu. Dengan cepat ia sembunyi dan ketika Mo Yan menoleh ia tak melihat apa-apa.Ruang arsip bawah tanah di Wisma Bunga Ungu sangat sunyi, hanya diterangi oleh satu lentera minyak yang dibawa oleh Mo Yan.Pria

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    21. Kedekatan yang Terlalu Dekat

    “Berhenti, kita istirahat malam ini dan lanjutkan besok pagi,” ucap Li Fenglan sambil membuat simbol khusus dari tangannya. Mojin kemudian membalikkan arah kuda dan memberikan isyarat tambahan pada 50.000 pasukan Gagak Hitam di bawah kepemimpinan Li Fenglan.Pasukan itu membuat barisan yang rapi, bubar secara teratur dan mulai membuat tenda, membentuk api unggun kecil dan mencari sumber air. Kuda-kuda ditambatkan dan senjata dijaga bergantian. Semuanya bergerak dengan teratur sesuai arahan Lei Jun dan Han Yu.Li Fenglan sendiri memasuki tenda cukup besar yang baru saja selesai dibuat oleh Mojin. Ia membuka zirah besi dan mengaitkan pada tiang penyangga zirah, lalu terisa baju dalam hitam yang dibuka kemudian tersisa lapisan putih untuk digunakan tidur.“Jenderal, air untuk mandinya sudah siap, segarkan tubuhmu dulu sebelum tidur,” ucap Mojin dari luar tenda.“Ya, baiklah, aku segera datang.” Fenglan melemaskan kepalanya yang menggunakan helm besi seharian. Ia menguap cukup lebar tapi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status