Home / Zaman Kuno / Istri Pengganti Untuk Jenderal Li / 4. Pengantin Tanpa Malam Pertama

Share

4. Pengantin Tanpa Malam Pertama

Author: Rosa Rasyidin
last update Huling Na-update: 2025-12-14 21:13:45

Kamar pengantin dipenuhi cahaya merah dari lentera-lentera yang digantung. Wangi dupa memenuhi udara. Tirai sutra merah melambangkan keberuntungan, sesuatu yang sama sekali tidak dirasakan Bai Muyin malam itu.

Ia duduk di tepi tempat tidur dengan tangan gemetar, menunggu Fenglan yang tiba-tiba saja ada urusan mendadak hingga harus mengganti baju pengantinnya. Pintu bergeser, Li Fenglan masuk.

Muyin segera menundukkan kepala. “Suamiku, ah maaf, maksudku Jenderal Li.”

Fenglan tidak menjawab. Ia meletakkan pedangnya di rak, melepas sarung tangan besi, lalu berjalan perlahan menuju meja teh.

Suasana hening, sunyi dan kaku. Jarak di antara mereka seolah lebih lebar dari langit dan bumi.

Muyin menelan ludah. ‘Kenapa dia tidak mendekat? Apakah dia membenciku? Atau, dia tahu bahwa aku bukan kakakku?’

Fenglan menuang teh untuk dirinya sendiri dan langsung meminumnya. Muyin merasa dipermalukan. Pada malam pertama, bahkan pria paling dingin sekalipun biasanya bersikap sedikit hangat.

“Jika Jenderal tidak ingin dekat denganku, setidaknya beri tahu alasannya.” Muyin tak sanggup berdiam diri begitu lama. Ia juga lelah dan ingin istirahat.

Fenglan berhenti mengangkat cangkir teh. Ia tidak menoleh, tetapi juga tidak menunjukkan reaksi apapun.

“Aku tidak terburu-buru.”

“Maksudmu?”

“Tidak semua wanita ingin disentuh pada malam pertama.” Ucapannya sangat tenang, tetapi seperti ada dinding es di antara keduanya.

“Aku mengerti.” Muyin meletakkan kipasnya di meja dan mengendurkan sedikit lehernya yang terasa tegang.

“Aku tidak ingin menyakitimu.”

“Aku mengerti.” Muyin mengulang jawaban yang sama. Sejujurnya ia juga belum siap sama sekali.

Fenglan berjalan mendekat hingga jarak mereka tinggal dua langkah. Muyin menahan napas. Lelaki itu menatapnya terlalu lama.

“Aku tahu!” Fenglan menatap bola mata Muyin dengan tajam. “Kau bukan Ruyin.”

Muyin tersentak. Tusuk konde yang ia pegang jatuh dari tangannya.

“Apa maksudmu, Jenderal Li, aku tidak mengerti?” Muyin mencoba bersikap tenang.

“Ketika seseorang telah menghabiskan masa kecil bersamamu, sulit untuk melupakan cara mereka tersenyum, berjalan, atau memegang tangan.

‘Jadi mereka pernah saling kenal sejak kecil? Kenapa Kakak tidak pernah bilang.’

Fenglan mengembuskan napas perlahan. “Aku bertemu Ruyin hanya tiga kali setelah lamaran resmi. Namun sebelum itu, aku pernah bertemu dia lebih banyak daripada yang kau tahu. Dia punya bekas luka parut di bahunya.”

Muyin mencoba tetap tenang sambil memegang bahunya. “Benarkah?”

Fenglan menatap mata Muyin tanpa berkedip. Lalu tanpa aba-aba ia menarik gaun pengantin merah Muyin di bagian bahu sampai robek.

Muyin diam dan memejamkan mata. Ia tidak bisa berkata apa-apa.

Fenglan melanjutkan, “Tidak ada bekas luka parut, yang Ruyin dapatkan saat berlari bersamaku. Tetapi, saat kau gugup tadi, kau menarik sedikit ujung lengan bajumu. Kau melakukan itu sejak kau duduk di tandu. Aku memperhatikan itu semua dan Ruyin tidak pernah melakukannya. Dia lebih suka menggigit kukunya sampai rusak.”

Muyin menahan napas sampai dadanya sakit. ‘Kakak, apa lagi yang kau sembunyikan dariku?’

Fenglan memalingkan wajah setelah menutup bahu Muyin dengan gaun pengantin yang robek.

“Tetapi, perbedaan itu bukan alasan bagiku untuk mempermalukanmu. Kau istriku sekarang dan seterusnya.”

Muyin merasa malu. Belum sehari penyamarannya sudah terbongkar.

“Kalau begitu, mengapa tidak mengatakan apa pun pada ayahku? Mengapa tidak membatalkan pernikahan?” tanya Muyin pelan sekali.

Fenglan kembali duduk, dengan punggung tegap seperti batu karang. “Ada alasan yang belum perlu kau ketahui.”

“Kalau kau tahu aku bukan Ruyin, bukankah seharusnya aku tidak duduk di sini sebagai istrimu.”

Fenglan memandangnya cukup lama. “Kita sudah membuat sebuah ikrar, bukan?”

Muyin terdiam. Fenglan berdiri.

“Aku akan tidur di ruang sebelah.”

“Aku saja, ini kamarmu.”

“Jangan keras kepala. Tidur di sini, sampai aku memutuskan harus bagaimana denganmu.”

Muyin menunduk. “Baik, Jenderal Li.”

“Panggil aku Fenglan.”

“Baik, Tuan Muda Li.”

Fenglan berjalan menuju pintu penghubung antara kamar pengantin dan kamar pribadinya. Ia berhenti sejenak.

“Jika kau ketakutan, aku tidak akan masuk tanpa izinmu.”

“Aku mengerti.”

Pintu menutup perlahan. Terbentang jarak sangat lebar di antara keduanya. Keheningan menyelimuti ruangan.

***

Muyin duduk di tepi tempat tidur, sambil memeluk lututnya. Lentera-lentera merah di sekelilingnya berayun pelan. Seharusnya malam itu menjadi malam paling sakral dalam hidup dua pengantin baru.

Namun, ia meragu dalam balutan gaun pengantinnya yang robek.

“Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Jiejie?” bisiknya lirih.

Muyin membaringkan tubuhnya ke kasur, mencoba memejamkan mata. Tetapi setiap kali tertidur sebentar, wajah kakaknya muncul lagi dan lagi. Muyin terbangun dengan napas terengah.

“Aku tidak bisa tidur.” Ia memeluk dirinya sendiri.

‘Kakak, apa yang membuatmu begitu takut? Apa yang kau sembunyikan dari semua orang, termasuk aku?’

Air matanya luruh tanpa suara dengan tangan yang menggenggam gaun pengantin begitu kuat.

Di kamar sebelah, Li Fenglan duduk di meja, memegang cangkir teh yang isinya tidak ia sentuh. Tatapannya kosong, tetapi rahangnya kian mengeras.

Ia mengingat sore itu, saat mendengar kabar bahwa calon istrinya tiba-tiba sakit. Ia mengingat bagaimana Klan Bai menyembunyikan sesuatu. Ia mengingat ekspresi Muyin yang dipaksa menjadi Ruyin.

“Apa sebenarnya yang terjadi?” Fenglan mengepalkan tangan. Ia bangkit, lalu berjalan gelisah ke sana kemari.

“Ruyin, apa yang terjadi padamu?” gumamnya.

Seorang lelaki yang dikenal paling berani di medan perang, malam itu terlihat seperti seseorang yang kehilangan arah. Ia mendekati pintu penghubung kamar pengantin. Tangannya terangkat, seolah ingin mengetuk, tetapi ia menahannya.

“Tidak, aku tidak boleh keras padanya.”

Fenglan kembali duduk, kemudian berdiri lagi. Gelisah, bingung, marah, semua bercampur menjadi satu. Ia bahkan melepas ikat rambutnya, sesuatu yang jarang dilakukan kecuali ia benar-benar kalut.

“Masuk!” Fenglan memanggil orang kepercayaannya. Pintu bergeser perlahan. Mo Jian masuk dan berlutut.

“Jenderal Li.”

“Pergi ke kediaman Klan Bai. Sekarang.” Fenglan tidak memandangnya, tetapi ia menatap lantai.

Mo Jian mengangkat wajahnya. “Sekarang? Di malam pengantin ini?”

“Ya.”

“Tapi upacara pernikahan baru selesai. Apa tidak sebaiknya besok—”

“Sekarang. Ada sesuatu yang tidak beres. Terlalu banyak yang ditutup-tutupi.”

Mo Jian menunduk. “Berikan perintahnya, Jenderal Li.”

“Cari tahu siapa yang sebenarnya meninggal di Klan Bai sebelum hari pernikahan berlangsung.”

“Apa Jenderal Li mencurigai?”

“Aku tidak mencurigai siapa pun. Aku hanya ingin kebenaran. Jika mereka menutupi sesuatu, aku harus tahu alasannya.”

Mo Jian mengangguk. “Baik, Jenderal. Aku akan berangkat saat ini juga.”

Fenglan terdiam, tetapi isyarat tangannya meminta Mo Jian menunggu.

“Muyin dan Ruyin, dua wajah hampir sama, tetapi orangnya berbeda. Cari tahu tanpa ketahuan.”

Mo Jian menunduk hormat dan pergi.

Fenglan duduk kembali. Ia menatap lentera-lentera merah yang bergoyang, lalu memejamkan mata.

“Takdir macam apa ini,” gumamnya.

Ia tidak tahu apa niat keluarga Bai. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Ruyin. Ia juga tidak tahu mengapa Muyin terlihat begitu ketakutan.

“Kau bukan Ruyin, tetapi aku tidak bisa membencimu. Hanya saja aku belum tahu apakah bisa mencintaimu? Dan apakah cinta benar-benar dibutuhkan untuk melanjutkan kehidupan.”

Fenglan menatap dinding yang memisahkan kamar mereka.

“Apa pun yang kau sembunyikan, aku akan mengetahuinya.”

Bersambung ....

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    26. Menukar Kebahagiaan

    Beberapa Hari SebelumnyaMuyin dan Ruyin duduk di taman. Ruyin menyulam sapu tangannya sendiri untuk pernikahannya bersama Jenderal Li, sedangkan Muyin memperbaiki kipas yang manik-maniknya copot.“Setelah menikah nanti, kau boleh datang ke kediaman kami, meimei,” ucap Ruyin pada adiknya.“Aku tidak berpikir untuk menikah, Jiejie. Aku hanya ingin lepas dari tempat ini,” jawab Muyin dengan rasa malas.“Jangan begitu, kau harus menikah, punya anak dan memiliki keluarga sendiri. Sebagai kakak, aku rela menukar seluruh kehidupanku agar kau bahagia. Aku tak pernah bisa berbuat banyak untuk kebahagiaanmu.”“Jiejie, jangan bicara seperti itu, tak lama lagi kau akan menikah, kau harus bahagia, soal hidupku biar aku sendiri yang akan memutuskan bagimana.” Secara tak sengaja jemari Muyin tertusuk jarum.“Hati-hati, tanganmu sampai berdarah.” Ruyin membersihkan darah adiknya. “Memangnya setelah aku menikah kau akan ke mana?”“Aku akan jadi biksuni supaya hidupku tak harus terus-terusan diatur or

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    25. Trauma

    “Kakak Ipar, buka pintunya!” Keyi menggedor-gedor pintu dengan kuat. Tabib Xu kemudian mendekatinya.“Biarkan saja, dia perlu ruang dan waktu untuk meluapkan perasaannya,” ucap lelaki tua itu.“Apa yang terjadi sebenarnya, Guru?”“Nyonya Muda membuka kenangan lama yang seharusnya ia lupakan dan tentu saja rasanya sakit. Mungkin saja ada kenangan dengan ibunya yang sangat menyakitkan. Sudahlah kita pergi saja kerjakan yang lain.” Tabib Xu menarik tangan Keyi.“Tapi tangisan Kakak Ipar sampai sesenggukan begitu, Guru, aku tidak bisa tenang.”“Ya, namanya orang menangis memang menyedihkan. Nanti juga Nyonya Muda akan kembali tenang. Ayo cepat aku akan mengajarimu cara memanah burung dengan tepat di lehernya.“Tapi ...” Tangan Keyi terus ditarik menjauh dari ruangan di mana Muyin masih menangis tersedu-sedu.“Ini tidak mungkin, tidak mungkin terjadi.” Wanita dengan lesung pipi itu terus menangis. Setelah ia diam sejenak dan menghapus air matanya, ia menangis lagi.“Seharusnya aku melupaka

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    24. Luka Hati

    Muyin bergegas ke halaman samping. Tanpa perlu bertanya lagi, tangan Muyin dengan cekatan memilah tanaman yang dimaksud.Ia tahu persis kebiasaan gurunya, jika Tabib Xu meminta herbal saat sedang menumbuk sesuatu yang berbau tajam, biasanya ia membutuhkan tanaman penyeimbang. Namun, sekarang instruksi Tabib Xu lebih mendalam."Ambilkan tiga bunga Yang Jin Hua (Kecubung) yang kelopaknya baru mekar setengah, lalu gali akar Shi Chang Pu yang tumbuh di dekat aliran air," perintah lelaki tua itu lagi.Muyin tertegun sejenak. Yang Jin Hua dikenal sebagai tanaman pembius yang kuat, bahkan beracun jika salah takaran. Sementara Shi Chang Pu biasanya digunakan untuk menenangkan pikiran dan membuka panca indra. Kombinasi yang aneh dan mematikan.Setelah membersihkan akar dan membawa bunga berbentuk terompet putih itu ke meja medis, Muyin melihat Tabib Xu sedang menyiapkan sebuah tungku kecil dengan api biru yang menyala dengan tenang."Duduklah," perintah Tabib Xu serius. "Hari ini kita tidak be

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    23. Jiwa yang Baru

    Kabut tipis masih menyelimuti kaki Gunung Barat, dan memperpendek jarang pandang di halaman Paviliun Pengobatan. Ayam jantan bahkan belum berkokok, tapi mata Bai Muyin sudah terbuka lebar.Udara pagi di pegunungan menusuk hingga ke sumsum tulang belakang. Namun, Muyin tidak lagi menggigil seperti hari pertama ia tiba.Tubuhnya mulai beradaptasi dengan kerasnya alam, sama seperti tekadnya yang semakin menguat. Ia membasuh wajahnya dengan air sumur yang dingin dan membiarkan rasa beku itu mencubit kesadaran dan menghalau sisa kantuk dari wajahnya.Tanpa membangunkan Keyi yang masih mendengkur dalam balutan selimut lusuh, Muyin melangkah keluar menuju kebun herbal.Muyin berjongkok di antara petak-petak tanaman, memejamkan mata, dan menarik napas dalam-dalam. Tabib Xu melarangnya dengan keras mengenali tanaman menggunakan penglihatan di pagi hari."Mata bisa ditipu oleh bentuk dan warna, tapi hidungmu tidak akan pernah berbohong tentang aroma sebuah tanaman." Begitu kata gurunya.Hidung

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    22. Wisma Bunga Ungu

    Luo Ying mengunyah roti kering yang ia bawa sebagai perbekalan. Ia sedang mengintai Wisma Bayangan yang berada di dalam Paviliun tanaman beracun milik Pangeran Rui.Pola kunci yang ada di pintu sangat rumit hingga hanya orang-orang kepercayaan Yan Zhelan saja yang bisa membukanya, dan gadis bermata monolid itu menunggunya dengan sabar.Mo Yan datang dan membuka kunci dengan pola rahasia itu. Pintu batu kuno dengan ukiran bunga peony putih itu terangkat perlahan. Luo Ying menaikkan alisnya. Ia heran mengapa sekelas pangeran pendosa bisa memiliki ruang rahasia demikian tebalnya.Mo Yan—ajudan dengan sebelah mata terluka itu lekas masuk dan pintu turun perlahan. Tak mau membuang kesempatan Luo Ying berguling perlahan hingga sedikit lagi tubuhnya hampir saja ditindih oleh pintu batu itu. Dengan cepat ia sembunyi dan ketika Mo Yan menoleh ia tak melihat apa-apa.Ruang arsip bawah tanah di Wisma Bunga Ungu sangat sunyi, hanya diterangi oleh satu lentera minyak yang dibawa oleh Mo Yan.Pria

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    21. Kedekatan yang Terlalu Dekat

    “Berhenti, kita istirahat malam ini dan lanjutkan besok pagi,” ucap Li Fenglan sambil membuat simbol khusus dari tangannya. Mojin kemudian membalikkan arah kuda dan memberikan isyarat tambahan pada 50.000 pasukan Gagak Hitam di bawah kepemimpinan Li Fenglan.Pasukan itu membuat barisan yang rapi, bubar secara teratur dan mulai membuat tenda, membentuk api unggun kecil dan mencari sumber air. Kuda-kuda ditambatkan dan senjata dijaga bergantian. Semuanya bergerak dengan teratur sesuai arahan Lei Jun dan Han Yu.Li Fenglan sendiri memasuki tenda cukup besar yang baru saja selesai dibuat oleh Mojin. Ia membuka zirah besi dan mengaitkan pada tiang penyangga zirah, lalu terisa baju dalam hitam yang dibuka kemudian tersisa lapisan putih untuk digunakan tidur.“Jenderal, air untuk mandinya sudah siap, segarkan tubuhmu dulu sebelum tidur,” ucap Mojin dari luar tenda.“Ya, baiklah, aku segera datang.” Fenglan melemaskan kepalanya yang menggunakan helm besi seharian. Ia menguap cukup lebar tapi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status