Share

5. Serupa Tapi Tak Sama

Author: Rosa Rasyidin
last update Last Updated: 2025-12-14 21:21:49

“Bangunlah, Nyonya Muda.” Pelayan mengetuk pelan pintu. “Keluarga besar Jenderal Li sudah tiba.”

“Keluarga Jenderal, sekarang?” Muyin tersentak dari duduknya.

“Ya, mereka ingin memberi selamat pada pengantin baru.”

“Pengantin baru, aku?” Muyin menunjuk dirinya sendiri sambil gugup.

Pintu terbuka. Li Fenglan berdiri di ambang pintu dengan pakaian resmi berwarna hitam dan merah. Wajahnya setenang angin pagi.

“Kita harus pergi,” katanya singkat seperti berbicara pada pasukannya.

“Baik, tapi beri aku waktu untuk bersiap.” Muyin menyembunyikan kegelisahannya. Li Fenglan memberikan waktu untuk istrinya berdandan. Ketika selesai, Muyin terlihat lebih segar daripada kemarin saat berpura-pura menjadi Ruyin. Li Fenglan menangkap perubahan itu di wajahnya.

“Tetaplah seperti ini, jangan berpura-pura menjadi Ruyin.” Li Fenglan meraih tangan Muyin.

“Apa ada yang lain tahu soal ini?” tanya Muyin pelan.

“Tidak ada. Di depan orang aku tidak akan memanggilmu Ruyin atau Muyin. Aku akan memanggilmu Furen.”

“Baiklah, Jenderal Li.”

“Panggil aku Fujun, bersikaplah seperti tidak terjadi apa-apa sampai aku menemukan kebenarannya.” Li Fenglan menggenggam tangan Muyin dengan erat.

Mereka berjalan berdampingan menuju aula resepsi keluarga Li. Sepanjang perjalanan, Muyin bisa merasakan jarak mereka meski keduanya sangat dekat.

Di depan aula, suara riuh menyambut kedatangan pengantin baru itu.

“Lihat, mereka datang!”

“Anakku Fenglan akhirnya menikah!”

“Bai Ruyin, kemarilah! Biarkan kami melihat wajahmu!”

Bai Muyin memucat. Li Fenglan meliriknya sekilas. “Tenang. Kau hanya perlu tersenyum.”

“Aku tidak pandai berpura-pura.”

“Kemarin kau berhasil, seharusnya hari ini tetap sama. Lakukan semampumu. Aku yang akan mengurus sisanya.”

“Kemari, duduklah berdua!” Seorang bibi Li Fenglan menarik Muyin ke kursi utama.

“Li Fenglan, kenapa kau berdiri seperti patung? Duduklah di samping istrimu!”

Fenglan duduk, kemudian menoleh pada Muyin.

“Duduk.”

Muyin duduk, terlalu dekat tanpa sadar. Ketika lututnya menyentuh telapak tangan Fenglan, ia langsung salah tingkah.

“Jika kau terus gemetar seperti itu, mereka akan curiga.”

“Aku, gemetar?”

“Iya,” jawab Fenglan di telinga Muyin. Keduanya jadi terlihat sangat mesra.

Seorang paman tertawa sangat keras. “Lihatlah mereka! Sudah menikah tapi masih saja malu-malu.”

“Benar, Fenglan, bantu istrimu berdiri, dia terlihat gugup sekali.”

Muyin langsung panik. “Ti—tidak perlu. Aku bisa berdiri sendiri!”

Ketika Muyin bangkit, roknya tersangkut di kaki meja, dan membuat tubuhnya limbung. Seketika Fenglan menangkap pinggangnya dan menarik Muyin ke dadanya untuk mencegahnya jatuh menghantam lantai.

“Aku bilang jangan berdiri terlalu cepat,” gumam Fenglan.

Muyin tersentak mendengar suara berat itu begitu dekat telinganya. “Maaf.”

Seketika terdengar suara riuh di dalam ruangan.

“Lihat, betapa romantisnya mereka.”

“Oooh, indah sekali, aku jadi ingat saat baru menikah dulu.”

“Jenderal Li yang terkenal dingin itu memeluk istrinya??”

“Ini layak dimasukkan dalam catatan sejarah!”

Li Fenglan tidak melepaskannya, bahkan sedikit mengencangkan pegangan di pinggang Muyin agar tubuhnya tidak lemas.

“Orang-orang melihat kita.” Muyin mencoba lepas dari pelukan Li Fenglan.

“Bagus. Mereka tidak boleh curiga dengan kebohonganmu.”

“Tapi ini keterlaluan.”

“Diam dan tetap tersenyum.”

Muyin mencoba tersenyum, walau ia nyaris pingsan dalam keadaan terdesak seperti sekarang.

Hal itu membuat para keluarga semakin heboh.

“Lihat wajahnya yang memerah! Sangat manis!”

“Li Fenglan, kau akhirnya punya istri yang sangat cantiiiik.”

Lalu tanpa sadar keduanya saling menatap begitu dalam dan akhirnya tersentak ketika seorang nenek tua yang sangat dihormati oleh para keluarga datang dan memberi salam.

Setelah keluarga Li selesai memberi selamat, mereka pergi satu demi satu, Muyin akhirnya bisa bernapas lega. Fenglan melepaskan tangannya dan berjalan lebih dulu.

Muyin meraba pinggangnya, masih hangat bekas genggaman lelaki yang tadi ia panggil dengan sebutan Fujun.

“Jenderal Li, terima kasih atas bantuannya.”

Fenglan berhenti sejenak. “Jika kau jatuh di tengah keluarga besarku, mereka akan berpikir aku memperlakukanmu dengan buruk.”

“Jadi, itu hanya demi reputasi?”

“Dan demi menjaga kau tidak terantuk meja. Usia kayu di meja itu sudah puluhan tahun, kalau kena kepala bisa berdarah bahkan jika itu kepalaku,” jawab Fenglan tanpa menoleh. Muyin tersenyum getir dan memejamkan mata lalu menyusul langkah Fenglan yang berjalan dengan cepat.

***

Sore telah turun ketika mereka berada di halaman samping. Fenglan berdiri di bawah pohon plum, dan menatap langit yang mulai memerah. Muyin berdiri beberapa langkah di belakangnya, tidak berani mendekat.

“Apa kau masih sedih?” Fenglan bertanya tanpa menoleh.

“Sedikit,” jawab Muyin pelan.

“Kalau begitu, ikut aku.”

“Ke mana?”

“Keluar.”

“Keluar dari kediaman Jenderal? Tetapi bukankah dua hari lagi kau akan berangkat?”

“Udara di luar lebih baik,” potong Fenglan. “Dan pasar malam baru dibuka. Bagaimanapun juga, kita perlu menunjukkan hubungan suami istri yang serius di depan orang.”

“Oh, ya sudah.” Muyin tak menanggapi berlebihan.

Fenglan akhirnya menatapnya.

“Aku pikir pergi ke pasar malam bisa membuat seseorang tersenyum.”

Muyin terdiam beberapa saat, lalu mengikuti langkahnya. Ia tidak tahu mengapa, tetapi hatinya sedikit hangat.

***

Pasar Malam Kota Yanluo

Lampion merah bergelantungan di udara. Aroma pangsit rebus, kue wijen, dan arak buah menguar di sepanjang jalan. Anak-anak berlari membawa lentera naga kecil. Musik kecapi terdengar menjadi simfoni yang menghangatkan jiwa.

Muyin memandang lampion di danau dengan takjub. “Indah sekali.”

Fenglan mengangguk kecil. “Saat kecil, Ruyin suka tempat ini.”

“Oh.” Muyin sadar semua yang dilakukan Fenglan adalah demi Ruyin.

Fenglan berjalan ke penjual permen gula, dan ia membelinya sebanyak dua tangkai.

“Ini untukmu.” Fenglan menyerahkan satu permen gula itu.

“Aku tidak suka memakannya sejak kecil, aku dan Ruyin berbeda.” Dengan tegas Muyin menolaknya. Fenglan terdiam sesaat. Ia pikir semua perempuan menyukai permen gula, dan permen itu berakhir di tangan anak kecil yang berlarian di dekatnya.

“Nona ini istri Jenderal, ya? Cantik sekali,” ucap penjual gula-gula yang sudah tua.

“Benar, terima kasih, gula-gulanya sangat enak.” Muyin berusaha menyenangkan hati orang tua itu dan membuat Fenglan tersenyum geli.

“Kami baru menikah,” potong Fenglan.

“Baik, kalau begitu sebagai lambang kesetiaan, ini permen gula berbentuk bunga plum. Pas sekali untuk pengantin baru.” Penjual itu memberikannya secara gratis. Dengan terpaksa Muyin menerimanya.

“Hargailah pemberian orang tua, makan walau sedikit.” Tanpa ragu Fenglan memakan gula-gula itu. Sedangkan Muyin langsung memegang pipinya ketika rasa manis tersebut menyiksa gigi dan gusinya.

“Aku tak pernah suka makanan manis, menyiksa mulutku.” Ia memberikan gula-gula itu pada Fenglan ketika sudah jauh dari pedagangnya.

“Kalau tidak suka, jangan dipaksakan.”

Muyin menatap punggung Fenglan dari belakang. Lelaki yang telah menjadi suaminya masih belum bisa ditebak bagaimana wataknya. Fenglan menganggap Muyin adalah Ruyin, tapi Muyin tidak bisa sepenuhnya menjadi Ruyin.

Fenglan melambatkan langkahnya agar Muyin bisa menyusulnya. Lalu keduanya seiring sejalan, Muyin berhenti ketika melihat pedagang bakpao dengan isian daging dan sayuran. Fenglan tidak banyak bicara, ia hanya mencoba menebak bahwa istrinya lebih suka hidangan gurih daripada manis.

“Makanlah, bakpao isi daging bagus untuk menambah tenaga.” Muyin membagi dua bakpaonya, padahal ia membeli dua buah bakpao utuh.

“Kau ini pelit atau bagaimana?” celetuk Fenglan sambil melihat setengah bakpao yang ada di tangannya.

“Oh, iya, maaf, aku sudah biasa dengan Ruyin seperti itu.” Muyin baru sadar apa yang telah ia lakukan. Lalu suasana menjadi canggung dan sunyi, tapi tidak bertahan lama.

Ketika mereka melewati jalanan yang lebih sepi, Fenglan berhenti tiba-tiba.

“Kenapa berhenti?” tanya Muyin.

“Jangan bergerak.” Fenglan memegang tangan Muyin.

“Kenapa aku tidak boleh berger—”

Kilatan baja melesat dari samping. Fenglan langsung menarik Muyin ke dadanya dan memutar tubuh mereka.

“Awas!”

Pedang panjang melintas dengan cepat, hanya beberapa inci dari leher Muyin. Muyin terpaku, jantungnya hampir berhenti.

“Siapa dia!” Muyin gemetar.

“Diam di belakangku.”

Seorang pria bertopeng muncul dari atap losmen. Ia melompat ke tanah dengan gerakan ringan bagai angin. Fenglan langsung mendorong Muyin ke belakangnya.

“Dia harus mati!” ujar pembunuh itu.

Fenglan menghunus pedangnya dalam satu gerakan cepat. “Kalau kau berani menyentuh istriku, aku akan memotong tanganmu.”

Muyin merinding mendengar kata istriku dari bibir Fenglan. Namun, situasinya terlalu berbahaya untuk dipikirkan.

Pembunuh itu menyerang secepat kilat. Pedang mereka bertemu dan percikan api tercipta di depan mata Muyin.

“Jenderal Li, aku harus bagaimana?” Muyin tak bisa diam saja.

“Diam saja!” bentak Fenglan sambil menahan tekanan senjata. “Cari tempat aman, berlindung!”

Tapi Muyin tidak bisa bergerak. Kakinya seperti terpaku di tanah. Pembunuh itu melihat kesempatan. Ia mengayun pedang ke arah Muyin.

“Furen, awas!” Fenglan melompat, menghalau serangan yang hampir membunuh Muyin.

Pedang pembunuh menabrak senjata Fenglan. Namun, sebuah goresan tajam mengenai lengan Fenglan, darah langsung mengalir. Fenglan tidak memedulikan lukanya. Ia mencengkeram pedangnya lebih kuat.

Bersambung ...

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
iinfadilah415
waw... awal yg seru
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    32. Perempuan Berbahaya

    Mojin berjalan dengan gemulai di antara tenda musuh yang berdiri. Di balik lengan bajunya ia menyimpan belati yang tajam dan mematikan.Jantungnya berdetak dengan cepat. Ia tidak takut, tapi karena rasa risih luar biasa akibat angin malam yang menerpa betisnya, yang terbuka di balik rok panjangnya."Hei, adik kecil."Suara penuh nafsu terdengar dari balik tumpukan jerami. Tiga prajurit Beiman yang mabuk berat muncul, menghalangi jalannya. Mata mereka merah dan memindai Mojin dari ujung rambut sampai kaki."Kulitmu putih sekali, seperti susu," ucap salah satu dari mereka. Ia maju dengan langkah semborono dan nekat menyentuh dagu Mojin dengan tangan kotornya.“Adik kecil kedinginan? Mau aku bantu hangatkan, ha ha ha."Wajah Mojin berubah jadi kaku, mendidih darahnya digoda laki-laki. Saat tangan kasar itu meraba lehernya, Mojin bergerak cepat tanpa diduga sama sekali.Mojin mencabut tusuk konde runcing dari rambutnya dan menghujamkannya tepat ke tenggorokan prajurit itu. Darah mengalir,

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    31. Syair Kerinduan

    “Mingze,” perintah Fenglan tanpa mengalihkan tatapannya yang penuh arti dari wajah Mojin. “Bawakan aku sepasang pakaian wanita lengkap. Jangan lupa bedak, gincu merah, dan sumpelan dada dari apa saja terserah, air boleh kain boleh, bantal pun boleh.”Suasana hening sesaat. Angin dari luar masuk ke dalam tenda dan membuat Mojin berkedip tiga kali. Mulutnya sedikit terbuka, dan daging kering yang tadi ia pegang meluncur jatuh ke lantai.“J-Jenderal, maksudnya apa? Untuk siapa benda-benda perempuan itu? Jenderal merindukan Nyonya Muda?”Fenglan menyeringai dan membuat Mojin semakin ketakutan.“Kau punya kulit paling halus di kesatukan kita, Mojin. Kita harus memanfaatkannya. Malam ini, kau bukan lagi prajurit di garis depan.”Wajah Mojin seketika pucat. Ia mundur selangkah, dan punggungnya menabrak tiang tenda.“Tidak, jangan, Jenderal, aku seorang lelaki!” teriaknya sambil menepuk dadanya yang rata.“Cita-citaku ingin jadi panglima perang yang gagah berani, bukan kembang desa dan tersen

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    30. Benteng Besi

    Badai pasir baru saja mereda. Suku Beiman mengira pasukan Yan akan sibuk membersihkan debu di dalam benteng hingga mereka bersantai-santai saja. Li Fenglan menatap barisan pasukannya yang sudah bersiap dari balik benteng besi. "Han Yu!" panggil Fenglan dengan suara menggelegar. "Bawa lima ratus pemanah terbaik ke punggung bukit timur. Hujani mereka dengan panah api tepat saat terompet pertama ditiup. Bakar lumbung gandum mereka agar kepanikan menyebar.""Siap, Jenderal!" Han Yu mengangguk, memberi hormat, lalu bergerak memimpin pasukannya menyusup dalam diam."Lei Jun!" Fenglan beralih pada ajudan setianya yang sudah berada di atas kuda perang. "Pimpin Batalyon Kavaleri Besi. Jangan menyerang dari depan. Memutarlah lewat celah bukit yang kita temukan di peta tadi. Hantam sisi selatan perkemahan mereka, tepat di kandang kuda. Buat mereka tidak bisa lari.""Mengerti, Jenderal. Tidak akan ada yang lolos," jawab Lei Jun sambil mengencangkan tali kekang kudanya."Dan kau, Mingze," Fengla

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    29. Suku Beiman

    Jenderal Li melintasi gerbang Benteng Besi. Suasana perbatasan begitu suram, tembok batu yang hitam, prajurit yang berjaga dengan wajah tegang, dan bau darah yang melintas di udara.Li Fenglan melompat turun dari kuda, seorang pria muda berjubah tabib militer bergegas menyambutnya. Xu Mingze, putra ketiga Tabib Xu yang mendedikasikan hidupnya sebagai kepala medis di garis depan.Wajahnya memiliki guratan keras yang tidak dimiliki ayahnya, hasil dari tahun-tahun melihat kengerian perang. Xu Mingze juga bisa beladiri sebagai kebutuhan di medan perang, hingga ia terkadang dibutuhkan menjadi tabib atau prajurit. Jabatannya juga sangat strategis."Jenderal Li.” Mingze memberi hormat. "Tenda komando sudah disiapkan. Air panas dan ranjang bersih juga sudah tersedia, Anda harus istirahat sese—""Nanti saja, Tua Muda Mingze,” ucap Fenglan sambil melepas helm perangnya. Ia tidak berhenti berjalan dan terus melangkah menuju tenda utama diikuti oleh Mingze."Bawakan aku peta terbaru Lembah Ular da

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    28. Teratai Hitam

    Angin di puncak Bukit Tengkorak tidak pernah berhembus pelan, selalu berputar seperti badai dan sesekali terdengar tangisan arwah yang penuh dendam. Di kaki bukit berdiri reruntuhan Kuil Teratai Hitam, markas sisa-sisa sekte sesat yang dikabarkan telah dimusnahkan dunia persilatan puluhan tahun lalu di bawah perintah Kaisar sendiri.Mo Yan melangkah masuk melewati gerbang kuil yang sudah ditutup oleh lumut. Meski ia sendiri adalah pembunuh yang kejam, aura di tempat itu membuatnya merinding. Sangat terasa kesunyian menjadi satu-satunya napas di sana."Tamu tak diundang, pastikan kau datang membawa penawaran yang menarik." Suara wanita terdengar dari segala arah."Aku datang membawa emas, bukan nyawa," jawab Mo Yan lantang. Matanya terus menyapu kegelapan kuil sambil tangannya siaga ke pedang.Sebuah hantaman tenaga dalam yang dahsyat tiba-tiba menekan dada Mo Yan, dan memaksanya mundur beberapa langkah. Dari balik bayangan patung dewa tanpa kepala, sesosok wanita melayang turun perlaha

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    27. Wabah

    Muyin sudah baik-baik saja. Namun, ia tak akan melupakan kejadian yang menimpa kakaknya dan wanita itu berjanji tidak akan pernah tidur dengan tenang sebelum membalaskan kematian Ruyin.Meski dendam di hatinya kian membara, ia terus belajar dengan serius walau lelah melanda. Muyin mencurahkan semua kemampuannya dengan baik, sebab jika tertinggal sedikit saja makan akan sulit mengejarnya.Tabib Xu berdiri di samping sebuah manekin kayu seukuran manusia yang permukaannya penuh dengan lubang-lubang kecil. Ia memegang jarum perak panjang dan mulai mempraktekkan ilmunya di depan Muyin."Lihat ini, Nyonya Muda. Ini adalah Mingmen atau Pintu Kehidupan, tepat di antara ruas tulang belakang lumbal kedua. Bagi seorang tabib, memanaskan titik ini dengan moxa bisa mengembalikan (Yang) ginjal yang runtuh. Tapi bagi seorang ahli bela diri, hantaman keras di sini bisa memutus aliran Qi dan membuat lawan lumpuh seumur hidup."Muyin mendekat, matanya memperhatikan setiap titik dengan baik. "Jadi, seti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status