ANMELDEN"Gini ya." Vanya melepaskan genggamannya pelan. "Menurutmu hubungan kita ini apa? Kalau aku terima uangmu, lalu apa bedanya aku sama… orang yang dijual beli?"
"Aku nggak pernah menganggap kamu begitu."Jemarinya sempat bergerak, ingin meraih tangan Vanya, tapi malah mengepal di sisi tubuh.Vanya tertawa getir. "Lalu apa? Kita nikah karena kamu ancam utangku ke Gara dan potong biaya RS Ibu kalau aku diam soal insiden kapal. Nggak ada nafkah, nggak ada pengakuan. Cum"Van?"Gio menyentuh punggung tangan Vanya yang terletak di atas pahanya. Mobil terus bergerak di antara deretan kendaraan sore, sementara ujung rambut Vanya sesekali terangkat oleh angin dari kaca yang terbuka sedikit."Hm?""Kamu… nggak mau cerita lebih banyak soal rencana ke depannya?"Gio membiarkan satu tangannya tetap berada di tangan Vanya, sementara tangan lainnya mengendalikan kemudi. Pandangannya tak lepas dari jalan di depan."Aku ikut kamu, percaya sama kamu. Tapi aku mau tahu ke mana kita arahin semua ini."Vanya membalik telapak tangannya dan mengusap punggung tangan Gio dengan ibu jari."Kita amankan dulu semuanya, Mas. Pastikan nggak ada yang bisa ganggu Om Darius, ganggu kita. Setelah itu… cari siapa orang yang berdiri di balik semua ini.""Kita amankan dulu semuanya, Mas. Pastikan nggak ada yang bisa ganggu Om Darius, ganggu kita. Setelah itu… cari siapa orang yang berdiri di balik semua ini."Gio mengangguk kecil. Jarinya mengetuk setir sekali sebelum kembali mengge
“Cukup. Anda sudah membuat perusahaan ini berantakan. Silakan keluar dari ruang rapat,” ucap salah satu direktur dengan nada dingin.Helena tetap berdiri di tempatnya. Jemarinya mencengkeram tali tas, sementara kursi di belakangnya sudah ditarik menjauh dari meja.“Saya tidak akan keluar dari ruangan ini. Ini perusahaan yang saya kelola selama bertahun-tahun.”“Justru karena itu. Kami meminta Anda meninggalkan ruangan.”“Saya punya wewenang di sini!”Helena meraih berkas di atas meja, tetapi direktur di sebelahnya lebih dulu mengambil dokumen tersebut dan memasukkannya kembali ke dalam map.“Panggil keamanan.”Pintu ruang rapat terbuka. Dua petugas keamanan masuk dan berhenti di sisi pintu.“Bu Helena, mohon ikut kami.”“Jangan sentuh saya!”Helena menarik lengannya ketika salah satu petugas maju. Kursi-kursi di sekeliling meja tetap kosong. Tak ada yang kembali duduk atau membuka percakapan baru.“Saya bisa keluar sendiri!”Helena mengambil tasnya. Langkahnya terhenti sesaat di amban
"Saya cek dulu datanya."Pak Arman menunduk ke layar laptop. Dahinya berkerut, lalu beberapa angka di tabel diperbesar. Tangannya berhenti di atas papan ketik sebelum kembali bergerak membuka berkas transaksi yang berbeda.Helena mengetukkan kukunya ke permukaan meja. "Mungkin ada kesalahan pencatatan. Lanjutkan saja."Gio mengangkat dokumen yang masih terbuka di tangannya. Ia mencocokkan tanggal pembayaran dengan bagian ketentuan kontrak yang tercetak di halaman berikutnya."Kesalahan pencatatan sebesar ini?"Helena tidak menjawab. Pak Arman justru kembali memperbesar tampilan di layar, memperlihatkan beberapa baris transaksi yang sebelumnya tertutup di bagian bawah tabel."Saya menemukan transaksi yang sama, Pak Gio.""Berapa?""Empat."Angka empat muncul dalam kolom yang sama. Gio menarik salah satu lembar dari tumpukan dokumen, kemudian memberi tanda pada empat transaksi tersebut dengan ujung penanya."Semua perusahaan yang menerima pembayaran ini siapa pemiliknya?"Pak Arman ba
"Kami sudah menunggu cukup lama. Dan sepertinya ada yang salah paham soal siapa yang seharusnya hadir di sini."Helena mengetukkan ujung jarinya ke meja. Bunyi kecil itu terdengar di tengah ruangan yang sunyi."Gio boleh duduk. Tapi dia bukan bagian dari dewan ini. Bukan pemegang saham. Dan bukan siapa-siapa di perusahaan ini. Silakan keluar."Tangannya terangkat. Telunjuk Helena mengarah ke kursi kosong di sebelahnya, kemudian bergeser menuju pintu."Bukan siapa-siapa? Saya istri Gio." Vanya mengangkat dagu. Jemarinya masih melingkar di lengan Gio."Istri? Pernikahan yang didasari kontrak dan akan segera berakhir. Kamu cuma menumpang nama, Nak. Jangan terlalu tinggi mengangkat diri."Helena terkekeh pendek. Pria di sebelahnya menundukkan kepala, menyembunyikan sudut bibir yang ikut terangkat."Kontrak itu memang ada. Tapi selama belum ditandatangani surat cerai, saya tetap istrinya secara sah. Dan tempat saya di samping suami saya, di mana pun dia berada."‘Mengusir istri sah di depa
"Vanya."Gio baru masuk, pintu depan masih terbuka di belakangnya. Langkahnya terdengar berat di lantai ruang tengah, napasnya belum kembali teratur.Lengan kemejanya kusut, rambutnya sedikit berantakan, dan kantong apotek yang masih tersegel tergenggam kuat di tangannya."Kok udah pulang? Ada apa?"Vanya menghampiri. Gio menaruh kantong apotek di atas meja, lalu meraih tangan Vanya."Rapat pemegang saham diundur. Sore ini.""Diundur?"Genggaman Gio menguat. Ibu jarinya bergerak pelan di punggung tangan Vanya, sementara bahunya masih naik turun."Atas permintaan Mama. Dia tau aku akan ambil alih. Dia gerak duluan."Vanya mengambil jas Gio yang masih melekat di bahunya. Ia membantu melepaskannya, lalu melipatnya di sandaran sofa. Setelah itu, tangannya turun ke ujung celana Gio, membantu menarik kaus kaki yang mulai membuatnya tidak nyaman sejak tadi.Pagi tadi Helena datang dengan suara yang penuh sindiran. Tentang perceraian. Tentang Gio. Tentang bagaimana Vanya seharusnya segera pe
Vanya menyendok nasi goreng hangat ke dalam mangkuk kecil. Ia menekannya beberapa kali dengan bagian belakang sendok sebelum membalik mangkuk itu ke dalam kotak bekal.Tangan kanannya terulur meraih telur dadar di wajan. Kedua tangan melingkar di pinggangnya dari belakang. Gio merapat, lalu mengecup pipinya sekilas.“Kok kamu yang masak? Mbak Rena mana?”Vanya menoleh sedikit. Wajah Gio terkulai manja dekat bahunya. Ia tersenyum, lalu kembali melihat bekal di hadapannya.“Tadi aku suruh beres-beres di bagian lain aja.”Ia mengambil telur dadar, memotongnya menjadi beberapa bagian, lalu memasukkannya ke dalam kotak bekal. Vanya mengambil selembar nori, lalu mengguntingnya menjadi potongan-potongan kecil berbentuk segitiga. Dua potongan ia ambil, mempertemukan ujungnya, lalu sedikit menekannya sampai menyerupai dua sisi dasi kupu-kupu.“Lagi bikin apa itu?” tanya Gio.Vanya terkekeh. Pandangannya jatuh pada sendok yang tergantung di rak atas. Dari permukaan logam yang sedikit melengku







