LOGIN“Sini, Jo!”Teriakan Viola membuyarkan lamunan Jovita, yang kemudian menatap bingung ke arah sahabatnya. Hatinya bertanya-tanya merasa ada yang aneh. Selama ini Viola sangat membenci keberadaan Karina dan selalu menolak wanita itu. Tapi hari ini, tepat di hadapan mama kandungnya, Viola dan Karina justru tampak begitu akrab dan hangat.“Kaget, ya, lihat aku bersama Tante Karin?” bisik Viola seolah tahu isi hati sahabatnya. “Tante Karin itu salah satu petinggi di Adhiwangsa Group. Kalau aku ingin mewarisi Chandra Group, aku harus bisa bekerja sama dengan pengusaha lain, termasuk Tante Karin.”Jovita mengangguk samar, mencoba mencerna alur pemikiran sahabatnya.“Business is business,” sambung Viola antusias, matanya berbinar penuh ambisi. “Kalau bekerja sama dengan orang yang paling kita benci bisa mendatangkan keuntungan, kenapa tidak?”Jovita berusaha bersikap seberani mungkin. Walau kedua kakinya terasa gemetar hebat dan jantungnya berdegup tak beraturan, Jovita memaksakan senyum tipi
“Dyl, Papi dan Mama mau ke kampus. Mau cari informasi tentang saudara sambungmu.”“Mama sudah mau ngomong?”“Ya, Dyl. Mama akhirnya mau cerita,” ujar Damian, suaranya dipenuhi binar kebahagiaan yang tak lagi bisa disembunyikan.Dylan yang sedang berada di kantor Hadiningrat Group menegakkan posisi duduknya, mendengarkan dengan seksama. “Mama bilang apa, Pi?”“Ternyata selama ini dia kuliah di jurusan Arsitektur... sama sepertimu!” sahut Damian penuh semangat.Mata Dylan melebar. “Arsitektur? Siapa namanya, Pi?”Mata Dylan melebar. Arsitektur? Satu fakultas denganku? Baru beberapa hari yang lalu Dylan diwisuda. Nama-nama teman seangkatan, bahkan adik tingkat yang menonjol, tentu masih terekam sangat jelas di kepalanya.“Siapa Pa? Mungkin aku bisa langsung menghubunginya.”“Namanya Jovita Anindita Wijaya.”Telepon di genggaman Dylan hampir saja terlepas. Rasa terkejut Dylan kian membuncah hingga dadanya berdesir hebat. Ia sama sekali tidak menduga bahwa sosok yang selama ini mereka cari
“Sejak kapan kamu tahu hubungan mereka?!” tuduh Karina dengan napas memburu.Di sebuah kafe privat dengan nuansa remang dan tenang, suasana di dalam ruangan VIP itu terasa sangat panas. Karina berteriak menumpahkan amarahnya pada wanita di hadapannya.Felisa yang duduk santai di seberang meja hanya menyesap minumannya pelan sebelum menjawab, “Belum lama. Aku tak sengaja lihat mereka di poli kandungan.”“Kenapa kamu nggak ngomong sama aku?!” sahut Karina cepat, matanya membelalak tak percaya.Felisa mengibaskan tangannya ringan. “Ya... aku kira kau sudah tidak peduli lagi sama Raymond. Kamu menghilang tiba-tiba tanpa kabar.”Padahal di dalam hati, Felisa sebenarnya menyembunyikan alasan utamanya. Ia masih sangat ketakutan pada ancaman Kaisar, yang pernah mendatangi dan mengintimidasi dirinya agar menjauhi Karina. Pria yang merupakan teman lama Raymond itu sangat tahu seluk-beluk skandal masa lalu Felisa, dan Felisa tidak berani mengambil risiko.“Benar-benar jalang licik!” maki Karina
Tidak butuh waktu lama bagi pengacara keluarga Hadiningrat untuk mendapatkan salinan awal laporan kepolisian sepuluh tahun lalu. Dalam lembaran dokumen tersebut, tertera jelas nama korban Elvita Riana, dengan pelaku bernama Jonathan Wijaya.Mata Dylan menyipit sesaat. Ada rasa familiar melintas di kepalanya saat membaca nama pelaku. Tapi, menyadari ada begitu banyak nama yang serupa di negeri ini, Dylan segera mengabaikan firasatnya. Ia memilih untuk menunggu hasil pemeriksaan lengkap dari kepolisian daripada harus menebak-nebak tanpa bukti valid.Yang Dylan dengar di masa lalu, suami Elvi adalah pengusaha kaya. Pertengkaran berulang yang berakhir dengan kekerasan fisik yang hampir merenggut nyawa Elvi disebabkan oleh perselingkuhan Jonathan yang terbongkar.“Ada informasi lain yang ingin ditanyakan, Mas?”Pertanyaan sang pengacara membuyarkan lamunan Dylan.“Sementara ini dulu, nanti kalau sudah dapat informasi lengkapnya, tolong segera kabari.”Dylan berharap bisa menemukan anak kan
“Mau lihat-lihat perlengkapan bayi dulu?” tanyanya mencoba mengalihkan perhatian Jovita sepenuhnya dari kejadian tadi.Jovita menggeleng pelan. “Jangan dulu, Om. Kita kan belum tahu jenis kelamin si kembar apa.”“Bisa cari warna dan motif yang netral dulu, kan?” sahut Raymond tak mau kalah.“Nggak dulu, Om. Tujuan kita ke sini kan mau belanja bulanan, kulkas sudah mulai kosong,” tolak Jovita halus.Raymond memiringkan kepalanya, menatap Jovita dari atas sampai bawah. “Pengin beli baju baru nggak?”“Nanti saja, baju-baju yang di lemari masih banyak yang muat.”Raymond mendadak mendekatkan wajahnya, lalu berbisik goda, “Tapi baju dinas malamnya itu-itu saja...”Jovita langsung melirik tajam ke arah suaminya sambil menepuk pelan lengan pria itu. “Ih, ingat tempat, Om! Malu kalau sampai ada yang dengar.”Raymond tersenyum lebar. Dalam hati, ia merasa lega luar biasa melihat raut wajah Jovita yang sudah tenang, tidak lagi terpengaruh oleh peristiwa tak menyenangkan bersama Karina.“Ya suda
“Kalian…?”Mata Karina memanas menyaksikan pemandangan di depannya. Keintiman dan kemesraan Jovita dan Raymond menunjukkan mereka memiliki hubungan spesial yang tidak terbantahkan.Dada Karina naik turun menahan emosi yang membakar. Dengan suara bergetar penuh penekanan, Karina menuntut, “Jelaskan, Ray!”Raymond sama sekali tidak bergeming. Tatapannya dingin dan datar. Dengan tegas, pria itu berkata, “Tidak ada yang perlu aku jelaskan.”Mendengar jawaban itu, tatap mata Karina berpindah ke Jovita. Dia menarik satu ujung bibirnya, melempar senyum sinis yang terlihat sangat merendahkan.“Yang katanya mau membantu meyakinkan Viola, ternyata kau sendiri yang merebut papanya,” sindirnya tajam, seolah menyiramkan minyak ke dalam api.Jovita makin menunduk dalam. Wajahnya memanas, meremas jarinya sendiri di bawah meja. Di tengah riuhnya tempat itu, dia sangat berharap pengunjung lain tidak memperhatikan perselisihan mereka dan menganggapnya sebagai tontonan gratis.Melihat Jovita yang makin
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki







