LOGINDengan berusaha tetap tenang, Raymond melangkah menghampiri Dylan yang berjalan mantap di lorong rumah sakit.“Ada keperluan apa kamu datang ke sini? Mamamu baik-baik saja, kan?”Raymond berusaha mengakrabkan diri dengan teman istrinya, karena bagaimana pun sekarang mamanya Dylan adalah ibu mertuanya. Raymond hanya ingin menunjukkan sedikit kepedulian untuk tetap menjaga hubungan baik.Dylan mengangguk pelan. Entah mengapa sikapnya berubah setelah mengetahui kenyataan bahwa Jovita adalah anak kandung Elvita, yang artinya Jovita adalah saudara sambungnya.Apalagi, masih lekat dalam ingatan Dylan. Dari data kemahasiswaan, usia Jovita lebih muda darinya, meski hanya hitungan bulan. Itu artinya, Raymond kini berstatus sebagai suami Jovita, adalah adik iparnya. Hal tersebut membuat Dylan tidak ingin tampak gentar atau kalah wibawa di hadapan Raymond.“Aku ingin bertemu dengan Jojo,” jawab Dylan lugas tanpa basa basi.Raymond menghela napas pelan, menggelengkan kepala. “Jangan sekarang. Kon
“Anda yakin akan mengubah isi wasiat ini menjadi seperti ini, Pak Roberto?”Seorang pengacara paruh baya menatap berkas di tangannya, lalu mendongak mengalihkan panangan ke Roberto dengan raut ragu.Di ruang kerjanya yang hening, Roberto duduk berseberangan dengan pengacara kepercayaannya. Di atas meja, terhampar draf dokumen penting yang baru saja diperbarui.“Ya, aku sangat yakin,” jawab Roberto tanpa keraguan sedikit pun. “Dengan draf yang baru ini, aku bukan hanya menyerahkan seluruh peninggalan ini kepada orang yang mampu bertanggung jawab, tapi juga kepada orang yang paling berhak.”Pengacara itu menghela napas pelan. “Ada baiknya jika dia diberi tahu lebih awal, Pak. Supaya bisa mempersiapkan diri menghadapi tekanan besar dari anggota keluarga yang lain nanti.”Roberto menggelengkan kepala. “Kalau dia tahu sekarang, dia pasti akan langsung menolaknya. Dia menganggap semua pemberian dariku itu menjijikkan dan najis.”Roberto yang biasanya terlhat tegas dan berwibawa kini terliha
“Kamu bukan anak kecil lagi, Vio.”Viola harus kembali mendengar kalimat menyesakkan itu. Jika kemarin dari papanya, sekarang dari mulut Roberto.“Opa harap kamu bisa lebih bijak menghadapi masalah ini. Kamu harus terima kenyataan papa dan mamamu tidak mungkin rujuk lagi. Dan bagaimana pun papamu sudah menikahi temanmu itu.”“Opa merestui mereka?”“Restuku tidak penting.”“Apa maksud Opa?”Roberto menghembuskan napas kasar sebelum memberi penjelasan kepada cucunya. “Laki-laki itu bebas menikahi siapa saja. Dia tidak butuh restu keluarganya. Berbeda dengan perempuan… dia butuh restu orang tua, terutama ayah yang akan menjadi wali. Jika ayah tidak merestui dan tidak bersedia jadi wali, pernikahan bisa-bisa tidak sah.”“Jadi Opa membiarkan papa menikah dengan Jojo.”“Aku larang pun, papamu bisa nekat. Jadi percuma Opa melarangnya.”“Opa juga akan menjadikan anak-anak Jojo sebagai ahli waris?”Roberto terdiam menatap Viola, sungguh tak menduga cucunya itu akan membicarakan tentang warisan
Meski hatinya sedang kacau, matanya pun masih sembab Viola memaksakan diri masuk kerja. Selain ingin membuktikan jika dirinya bisa bersikap professional, gadis yang belum lama diwisuda itu merasa diam hanya akan membuat pikirannya semakin sesak oleh kecewa.Viola berbalik cepat dan berusaha menghindar saat tanpa sengaja berpapasan dengan Julian di koridor kantor Candra Group. Tapi, sebelum langkahnya makin jauh, Julian dengan sigap meraih lengan keponakannya itu.“Lepasin! Aku nggak mau ketemu Om Julian lagi!” teriak Viola histeris sembari menghempaskan tangannya kasar.Julian mengerutkan kening, menatap Viola dengan raut heran. Keponakannya itu tak seperti biasanya yang langsung lengket kepadanya.“Memangnya ada apa, Vio? Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini sama Om?”Viola mengalihkan pandangannya, enggan menatap pria yang selama ini begitu ia sayangi dan hormati, paman yang selama ini selalu ia anggap sebagai sosok pahlawan sekaligus pelindung bagi mamanya.“Aku kira selama ini Om ben
“Aku yang salah...”Suara Damian terdengar lirih dari seberang telepon, disusul hembusan napas kasar yang terdengar begitu berat.“Kapan-kapan kita bertemu lagi, Ray. Aku akan jelaskan semuanya dari awal.” Damian sadar pembicaraan sekrusial ini tidak akan selesai hanya melalui sambungan ponsel. Dan takutnya justru meninggalkan salah paham yang akan memperumit masalah.“Baik,” jawab Raymond pendek, mengepalkan tangannya pelan, menahan rasa penasaran yang membuncah.Damian menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, “Sebenarnya... kemarin Dylan ingin bertemu langsung dengan Jojo dan menjelaskan semuanya. Tapi saat dia menghubungi Jojo, dia justru mendapati Jojo sedang mengalami perundungan dari anak dan mantan istrimu.”Mendengar hal itu membuat Raymond paham bagaimana awal mula istrinya bisa berada di tempat yang sama dengan Dylan hari itu. Itu sama sekali bukan pertemuan sengaja atau rekayasa yang perlu ia curigai, melainkan Dylan yang murni berniat menolong Jovita dari kejahatan F
Raymond melangkah memasuki ruang perawatan Jovita sambil membawa sebuah bungkusan makanan. Melihat suaminya membawa sesuatu, Jovita yang sedang bersandar di ranjang langsung menyambutnya dengan binar penasaran.“Apa itu, Om?” tanya Jovita.Raymond tersenyum tipis, merapikan letak bungkusan itu di atas meja samping tempat tidur. “Yang jelas bukan seblak.”Jovita seketika cemberut dan mengerucutkan bibirnya. “Ih, ditanya baik-baik jawabannya nyolot! Iya, iya... tahu kok selama hamil nggak boleh makan seblak...”Raymond terkekeh pelan, mengusap puncak kepala istrinya dengan penuh kasih. “Ini oleh-oleh dari Bi Siti.”Jovita langsung berbinar seraya membuka bungkusan tersebut. Di dalamnya berisi aneka jajanan khas acara hajatan desa.“Sudah lama nggak makan wajik sama kue cucur!” seru Jovita riang, lalu segera mengambil satu kue manis itu dan mencicipinya dengan gembira.Raymond duduk di kursi samping ranjang, menatap Jovita yang begitu menikmati makanannya. Di dalam hatinya, Raymond berke
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu me
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini







