LOGINDylan mengangguk pelan tanpa membantah sedikit pun."Semua itu melewati proses yang sangat panjang, Jo. Di depan publik, Papi dan Mama memang sengaja menampilkan citra pasangan yang harmonis. Tapi begitu sampai di rumah, hubungan mereka dingin luar biasa. Tugas Mama di rumah murni hanya mengurus aku... Mama bahkan sama sekali tidak punya kewajiban untuk melayani Papi sebagai seorang istri."Dahi Jovita berkerut tajam, tanpa sadar pertanyaan spontan meluncur begitu saja dari bibirnya, "Kalau begitu... kok bisa hamil?!"Dylan menghela napas panjang, rasanya ingin teriak tepat di telinga Jovita. Saat ini Jovita juga sedang hamil, tentu lebih tahu bagaimana proses kehidupan baru itu tercipta. Mengapa harus tanya pada Dylan yang statusnya jomblo kesepian?"Mereka baru benar-benar saling jatuh cinta dan membuka hati mungkin baru satu tahun terakhir ini.” Tatap mata Dylan menyiratkan penyesalan mendalam. “Mereka bahkan baru menjalani bulan madu setelah bertahun-tahun menikah... Dan kalau kam
“Bunda!” jerit Jovita beberapa tahun lalu, suaranya melengking memanggil sang ibu saat sirine ambulans mulai meraung dan kendaraannya melaju makin menjauh.Di dalam rumah yang berantakan, Joni sedang digelandang kasar oleh beberapa petugas polisi. Jovita kecil menangis histeris seorang diri dalam pelukan erat asisten rumah tangganya, menyaksikan ceceran darah merah pekat yang masih membasahi lantai rumah mereka.“Kondisi Mama waktu itu sangat buruk, Jo...”Suara Dylan perlahan membuyarkan lamunan mengerikan yang berputar di kepala Jovita. Dilihatnya Dylan menatapnya dengan raut penuh penyesalan.“Beberapa tulang rusuknya patah, dan tulang hidungnya juga.”Dada Jovita makin sesak. Ingatan itu datang kembali wajah ibunya yang penuh lebam kebiruan dan pendarahan parah di hidung saat diangkut ke dalam ambulans adalah bayangan terakhir yang ia simpan tentang Elvi.Dylan melanjutkan dengan suara bergetar, “Begitu Mama sadar, Mami langsung ambil tindakan, cari pengacara untuk dampingi Mama m
“Ih lucu banget.”Di ruang perawatannya, hanya ponsel yang menemani kesendirian Jovita. Ia bersandar santai sembari menggulir layar ponsel, asyik melihat-lihat perlengkapan bayi yang menggemaskan di sebuah toko online.Tanpa ragu, ia mulai memasukkan beberapa barang ke dalam keranjang belanjaannya hanya karena alasan lucu dan menggemaskan. Simpan dulu, nanti dipilih-pilih lagi setelah mengetahui jnis kelamin bayinya. Mulai dari jumpsuit bayi bermotif dinosaurus pastel, topi rajut telinga kelinci warna cream, hingga satu set kaus kaki mungil berenda dengan corak beruang cokelat.Suara engsel pintu yang terbuka memecah fokusnya. Mengira perawat yang datang untuk mengambil sisipan piring, Jovita bergegas merapikan sisa perlengkapan makan siangnya di atas meja dorong.Betapa terkejutnya Jovita saat mendongak dan melihat siapa yang melangkah masuk. Bukan perawat, melainkan Dylan, yang didampingi langsung oleh Raymond dan Dokter Amira.Raut wajah Jovita seketika berubah tegang. Ia langsung
Dengan berusaha tetap tenang, Raymond melangkah menghampiri Dylan yang berjalan mantap di lorong rumah sakit.“Ada keperluan apa kamu datang ke sini? Mamamu baik-baik saja, kan?”Raymond berusaha mengakrabkan diri dengan teman istrinya, karena bagaimana pun sekarang mamanya Dylan adalah ibu mertuanya. Raymond hanya ingin menunjukkan sedikit kepedulian untuk tetap menjaga hubungan baik.Dylan mengangguk pelan. Entah mengapa sikapnya berubah setelah mengetahui kenyataan bahwa Jovita adalah anak kandung Elvita, yang artinya Jovita adalah saudara sambungnya.Apalagi, masih lekat dalam ingatan Dylan. Dari data kemahasiswaan, usia Jovita lebih muda darinya, meski hanya hitungan bulan. Itu artinya, Raymond kini berstatus sebagai suami Jovita, adalah adik iparnya. Hal tersebut membuat Dylan tidak ingin tampak gentar atau kalah wibawa di hadapan Raymond.“Aku ingin bertemu dengan Jojo,” jawab Dylan lugas tanpa basa basi.Raymond menghela napas pelan, menggelengkan kepala. “Jangan sekarang. Kon
“Anda yakin akan mengubah isi wasiat ini menjadi seperti ini, Pak Roberto?”Seorang pengacara paruh baya menatap berkas di tangannya, lalu mendongak mengalihkan panangan ke Roberto dengan raut ragu.Di ruang kerjanya yang hening, Roberto duduk berseberangan dengan pengacara kepercayaannya. Di atas meja, terhampar draf dokumen penting yang baru saja diperbarui.“Ya, aku sangat yakin,” jawab Roberto tanpa keraguan sedikit pun. “Dengan draf yang baru ini, aku bukan hanya menyerahkan seluruh peninggalan ini kepada orang yang mampu bertanggung jawab, tapi juga kepada orang yang paling berhak.”Pengacara itu menghela napas pelan. “Ada baiknya jika dia diberi tahu lebih awal, Pak. Supaya bisa mempersiapkan diri menghadapi tekanan besar dari anggota keluarga yang lain nanti.”Roberto menggelengkan kepala. “Kalau dia tahu sekarang, dia pasti akan langsung menolaknya. Dia menganggap semua pemberian dariku itu menjijikkan dan najis.”Roberto yang biasanya terlhat tegas dan berwibawa kini terliha
“Kamu bukan anak kecil lagi, Vio.”Viola harus kembali mendengar kalimat menyesakkan itu. Jika kemarin dari papanya, sekarang dari mulut Roberto.“Opa harap kamu bisa lebih bijak menghadapi masalah ini. Kamu harus terima kenyataan papa dan mamamu tidak mungkin rujuk lagi. Dan bagaimana pun papamu sudah menikahi temanmu itu.”“Opa merestui mereka?”“Restuku tidak penting.”“Apa maksud Opa?”Roberto menghembuskan napas kasar sebelum memberi penjelasan kepada cucunya. “Laki-laki itu bebas menikahi siapa saja. Dia tidak butuh restu keluarganya. Berbeda dengan perempuan… dia butuh restu orang tua, terutama ayah yang akan menjadi wali. Jika ayah tidak merestui dan tidak bersedia jadi wali, pernikahan bisa-bisa tidak sah.”“Jadi Opa membiarkan papa menikah dengan Jojo.”“Aku larang pun, papamu bisa nekat. Jadi percuma Opa melarangnya.”“Opa juga akan menjadikan anak-anak Jojo sebagai ahli waris?”Roberto terdiam menatap Viola, sungguh tak menduga cucunya itu akan membicarakan tentang warisan
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita







