LOGINPertanyaan menohok dari Roberto sama sekali tidak mengejutkan bagi Elleonor. Sejak detik pertama ia melangkah ke rumah sakit dan memutuskan untuk mendonorkan darahnya, Elleonor sudah sangat tahu risikonya. Ia sadar betul rahasia lama yang terkubur puluhan tahun akan terkuak.Tapi bagi Elleonor, keselamatan dan nyawa Viola jauh lebih utama daripada segala topeng kebohongan yang ia pakai selama ini.Dengan wajah pucat yang memancarkan ketegaran pasrah, Elleonor membalikkan tubuhnya perlahan, menatap lurus mata suaminya tanpa sedikit pun rasa gentar. Tapi sebisa mungkin dia akan tetap menyembunyikan kebenaran, karena tujuannya belum tercapai.“Vio itu anaknya Feli,” jawab Elleonor lirih tapi tegas. “Kau tahu sendiri, Feli adalah anak dari adikku yang dititipkan pada kita. Aku sudah berjanji akan menjaga Feli, tapi aku gagal. Feli hamil….”Roberto terkekeh sinis penuh kepahitan, langkah kakinya semakin mendekat hingga menyisakan jarak yang sangat tipis di antara mereka. Matanya menyalang
Saat-saat yang mendebarkan berlalu hingga akhirnya pintu ganda ruang operasi terbuka. Dokter keluar dengan melepas masker medisnya, menampilkan raut wajah yang jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.“Keluarga Saudari Viola?” panggil dokter tersebut.Raymond dan yang lainnya langsung mendekat dengan napas tertahan.“Puji Tuhan, pendarahan di dalam dada sudah berhasil kami hentikan dan transfusi darah berjalan sangat lancar,” ujar sang dokter membawa angin segar. “Saat ini kondisi kritisnya sudah terlewati dan tanda-tanda vitalnya mulai stabil. Memang luka akibat benturan di kepala dan patah tulang rusuknya membutuhkan proses pemulihan, tapi masa gentingnya sudah lewat. Tolong tetap berikan dukungan doa dan suasana yang tenang agar pasien bisa segera memulihkan kesadarannya.”Mendengar penuturan itu, Raymond menghembuskan napas lega. Beban berat yang meremukkan dadanya seolah terangkat seketika. Ia berpaling menatap Jovita yang berdiri bersandar lemah di sampingnya. Wajah istrinya tamp
Semua pasang mata seketika tertuju ke ujung koridor. Di sana berdiri Elleonor, mama kandung Julian sekaligus istri siri Roberto. Napasnya masih tersengal-sengal karena berlari menyusuri lorong panjang.Julian tersentak kaget. Ia bergegas menghampiri mamanya, hendak membisikkan rencananya. "Mama, jangan ikut campur! Dengarkan aku dulu…"Tapi rasa sayang dan takut kehilangan membuat Elleonor sama sekali tidak menghiraukan anaknya. Tanpa ragu sedikit pun, Elleonor menerobos Julian dan langsung menghampiri sang dokter."Dokter, golongan darah saya sama dengan Vio! Ambil darah saya sebanyak yang dibutuhkan!" tegas Elleonor dengan bibir bergetar.Melihat fisik Elleonor yang sudah tidak muda lagi dan tampak kelelahan, sang dokter sempat ragu sejenak. "Ibu... usia dan kondisi Ibu perlu kita periksa dulu, donor darah di usia ini berisiko…""Tidak ada waktu lagi, Dok! Nyawa cucu saya lebih penting! Cepat periksa saya sekarang!" potong Elleonor tegas tak menerima bantahan, bahkan dari ahlinya se
Suara isak tangis dan ratapan Felisa yang sampai bersimpuh di lantai sama sekali tak mampu menyentuh hati Julian. Pria itu justru membuang muka, mencari celah untuk bisa segera pergi dari kekacauan ini.Julian berbalik menatap dingin, dan berkata dengan santai. “Aku ada urusan lain. Permisi.”Seolah tanpa beban, Julian melangkah hendak meninggalkan rumah sakit.“Berhenti!” teriak Roberto menggelegar, emosinya memuncak hingga urat-urat di lehernya menegang.Julian tersenyum menyeringai, saat akhirnya papanya memanggilnya. Ini akan menjadi awal negosiasi, dan Julian akan memanfaatkan situasi ini sebaik-baiknya.Roberto melangkah cepat dan mencegat jalan Julian, menatap putra keduanya dengan kilatan amarah membara.“Otakmu di mana, Julian! Di dalam sana ada nyawa yang sedang terancam, dan kamu mau pergi begitu saja setelah tahu cuma darahmu yang bisa menyelamatkannya?!”Julian terkekeh sinis, sama sekali tidak gentar menatap mata sang papa.“Lalu kenapa kalau aku bisa, Pa?”Julian menant
Secara hukum genetika mendasar, Raymond dan Felisa yang sama-sama memiliki golongan darah O sama sekali tidak akan pernah mungkin melahirkan seorang anak bergolongan darah B.Atmosfer di lorong rumah sakit itu mendadak membeku. Roberto menghembuskan napas berat yang sarat akan kekecewaan mendalam, lalu berucap sinis dengan nada dingin yang menusuk tulang.“Raymond...” panggil Roberto pelan namun begitu tajam, matanya menghujam lurus ke arah Felisa yang gemetar hebat. “Sepertinya setelah ini... kamu jauh lebih membutuhkan tes DNA daripada sekadar tes golongan darah.”Raymond menggelengkan kepalanya pelan dengan raut wajah terpukul dan tak percaya. Selama ini dia sangat menyayangi Viola dan selalu berusaha meyakininya sebagai anak kandung.Di depannya, tubuh Felisa bergetar semakin hebat, bukan hanya karena keputusasaan membayangkan nyawa putri tunggalnya yang berada di ambang maut, tetapi juga oleh ketakutan luar biasa karena kebohongan terbesarnya kini terkupas di hadapan semua orang,
Hampir setiap hari Roberto mengawasi gerak-gerik Viola, meski dari kejauhan. Terlambat lima atau sepuluh menit masih bisa ia toleransi, tapi jika sudah lebih dari itu, Roberto tidak akan ragu memberi peringatan keras. Dan kali ini, Viola sudah terlambat begitu lama dari jam kantor yang seharusnya.Dengan langkah tegap dan wajah ketus, Roberto berjalan menghampiri rekan satu kubikel Viola.“Viola belum datang?” tanya Roberto dingin.Staf itu mendongak, sedikit gugup. “Belum, Pak...”Roberto mendecak keras, bergumam penuh emosi mencaci kinerja cucunya sendiri yang ia anggap sangat amatir dan kurang bertanggung jawab.Staf-staf lain yang tak sengaja mendengar gumaman itu hanya bisa menelan ludah dan saling bertukar pandang dalam diam, berpikir betapa dinginnya pria tua itu, cucunya sendiri saja diperlakukan setegas dan sekejam ini, apalagi jika mereka yang membuat kesalahan.Melihat raut kemarahan Roberto, salah satu staf memberanikan diri bersuara.“Maaf Pak... Tadi beberapa kali mamany
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki







