FAZER LOGINSecara hukum genetika mendasar, Raymond dan Felisa yang sama-sama memiliki golongan darah O sama sekali tidak akan pernah mungkin melahirkan seorang anak bergolongan darah B.Atmosfer di lorong rumah sakit itu mendadak membeku. Roberto menghembuskan napas berat yang sarat akan kekecewaan mendalam, lalu berucap sinis dengan nada dingin yang menusuk tulang.“Raymond...” panggil Roberto pelan namun begitu tajam, matanya menghujam lurus ke arah Felisa yang gemetar hebat. “Sepertinya setelah ini... kamu jauh lebih membutuhkan tes DNA daripada sekadar tes golongan darah.”Raymond menggelengkan kepalanya pelan dengan raut wajah terpukul dan tak percaya. Selama ini dia sangat menyayangi Viola dan selalu berusaha meyakininya sebagai anak kandung.Di depannya, tubuh Felisa bergetar semakin hebat, bukan hanya karena keputusasaan membayangkan nyawa putri tunggalnya yang berada di ambang maut, tetapi juga oleh ketakutan luar biasa karena kebohongan terbesarnya kini terkupas di hadapan semua orang,
Hampir setiap hari Roberto mengawasi gerak-gerik Viola, meski dari kejauhan. Terlambat lima atau sepuluh menit masih bisa ia toleransi, tapi jika sudah lebih dari itu, Roberto tidak akan ragu memberi peringatan keras. Dan kali ini, Viola sudah terlambat begitu lama dari jam kantor yang seharusnya.Dengan langkah tegap dan wajah ketus, Roberto berjalan menghampiri rekan satu kubikel Viola.“Viola belum datang?” tanya Roberto dingin.Staf itu mendongak, sedikit gugup. “Belum, Pak...”Roberto mendecak keras, bergumam penuh emosi mencaci kinerja cucunya sendiri yang ia anggap sangat amatir dan kurang bertanggung jawab.Staf-staf lain yang tak sengaja mendengar gumaman itu hanya bisa menelan ludah dan saling bertukar pandang dalam diam, berpikir betapa dinginnya pria tua itu, cucunya sendiri saja diperlakukan setegas dan sekejam ini, apalagi jika mereka yang membuat kesalahan.Melihat raut kemarahan Roberto, salah satu staf memberanikan diri bersuara.“Maaf Pak... Tadi beberapa kali mamany
Bagian depan mobil Viola dihantam telak. Benturan hebat itu membuat tubuh Viola terpental ke depan, air bag mengembang keras menahan dadanya.Kaca depan pecah berkeping-keping. Serpihannya yang tajam melayang di udara, menyambar pelipis, pipi, dan keningnya. Mobilnya terpelanting, berputar hebat beberapa meter di atas aspal sebelum akhirnya terhenti dalam posisi menyamping—ringsek, tak berbentuk di bahu jalan.Keheningan yang mencekam seketika melingkupi kabin mobil yang dipenuhi asap tipis.Viola terkulai di atas kemudi. Tubuhnya tak mampu bergerak. Darah segar berwarna merah pekat merembes dari sela-sela rambutnya, mengalir deras melewati pelipis, membasahi pipinya yang lebam, lalu membaur dengan sisa air mata yang belum sempat mengering sejak ia menjalankan mobil ini tadi.Kesadaran Viola perlahan tergerus. Rasa sakit hebat di sekujur tubuhnya pelan-pelan mendingin, tergantikan oleh rasa kantuk yang teramat sangat.Di tengah pandangannya yang makin mengelap dan napasnya yang makin
Suara Viola seketika mengalihkan perhatian Felisa dan Julian yang tinggal sebentar lagi mencapai klimaks.Jantung Felisa serasa berhenti berdetak saat matanya menangkap sosok Viola berdiri terpaku di ambang ruang makan. Wajah gadis itu pucat pasi, menatap lurus pada adegan paling menjijikkan dan merendahkan yang pernah ia lihat sepanjang hidupnya.“Vio...!” Felisa panik luar biasa.Felisa berontak, berusaha melepaskan diri dari kungkungan Julian demi bisa berlari memeluk dan menjelaskan segalanya pada sang putri.Tapi, Julian yang sudah dikuasai nafsu gila sama sekali tak peduli. Pria itu justru mencengkeram pinggang Felisa semakin kuat, menahannya tetap di posisi semula karena tak mau kesenangannya terputus begitu saja di ambang puncak.Melihat pemandangan menjijikan di depan matanya, mama yang selama ini Viola harap bisa menjadi tempat bersandar, justru tengah berbuat hina dengan pria yang selama ini dia hormati layaknya papa kandung sendiri.Air mata Viola menetes deras membasahi p
“Julian! Kamu gila, ya? Keluar dari sini!” Felisa berusaha mendorong dada pria itu keluar dengan wajah pucat pasi. “Vio mau datang ke sini sebentar lagi! Dia bisa tahu semuanya kalau kamu ada di sini!”Tapi, bukannya mundur, Julian justru terkekeh renyah. Dengan santai ia mengunci pintu dari dalam, lalu melangkah maju menghimpit Felisa yang panik.“Alasan saja,” cibir Julian dingin sembari menangkup wajah Felisa yang ketakutan. “Vio tidak akan datang secepat itu, Fel. Kita masih punya banyak waktu... kita bisa main cepat sebelum anak manjamu itu sampai.”Felisa terpaku, gemetar hebat di antara rasa takut jika tiba-tiba putrinya datang dan betapa tidak berdayanya dirinya di hadapan Julian. Napasnya memburu, dada naik-turun cepat di bawah genggaman tangan pria itu yang masih menangkup pipinya.“Julian… tolong…” Suara Felisa terdengar parau, nyaris tercekik. “Kartu akses Vio masih aktif. Dia bisa masuk kapan saja. Bagaimana kalau dia melihat kita…”Julian tidak menjawab, hanya tersenyum
Sebenarnya, rencana Viola untuk melanjutkan studi ke luar negeri sudah sempat terdengar sejak lama. Ketika kenyataan itu di depan mata dan Viola benar-benar akan merealisasikannya, rasa kehilangan langsung menghantam dada Jovita. Apalagi, hubungan mereka sebagai keluarga belum sepenuhnya mencair dan membaik secara utuh.Jovita duduk di samping Raymond, mengusap pelan punggung suaminya untuk menenangkan. “Menurut Om... apa dia masih marah padaku?”Jovita teringat masa lalu. Dulu saat mengetahui Jovita akan magang di Vastu Chandra, Viola meminta bantuan agar sahabatnya itu mengawasi papanya saat dekat dengan Karina. Tapi ternyata, justru Jovita sendiri yang menikah dengan Raymond.Raymond mengusap wajahnya yang tampak lelah, lalu menatap Jovita lurus.“Vio bilang, dia ambil keputusan ini bukan karena marah padamu, dan dia menegaskan ini juga bukan karena Dylan. Vio cuma bilang... dia ingin belajar mandiri.”“Om percaya?”Raymond menghela napas panjang dan dalam, mencoba meredakan gejola
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki
“Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka







