LOGINDi ruang kerjanya, Raymond mengerutkan dahi membaca pesan masuk di layar ponselnya. Bi Lastri, asisten rumah tangganya itu, tumben mengirim pesan kepadanya, biasanya dia langsung menelepon.@MAK LASTRI[TUAN GA USAH PULANG]Raymond terkekeh sinis dalam hati. Dia yang punya rumah, dia yang membayar gaji ART itu setiap bulan, tapi bisa-bisanya perempuan paruh baya tersebut lancang melarangnya pulang ke rumah sendiri.Belum sempat rasa kesalnya membuncah, pesan berikutnya sudah masuk.@MAK LASTRI[ADA NY FELI]Mata Raymond menyempit. Tanpa berpikir panjang, jemarinya langsung mengetik balasan singkat.@Raymond Chandra[Baik, terima kasih]@MAK LASTRI[BIBI MASAK SOTO][SAYA TITIP NON JOJO BUAT TUAN MAKAN MALAM]Raymond menghembuskan napas lega. Terkesan dengan asisten rumah tangganya yang sangat pengertian.Dengan terhindarnya bentrok tak berguna bersama sang mantan istri, kini Raymond bisa berfokus penuh melahap sisa beban pekerjaan yang menumpuk selama Jimmy mengambil cuti.Semangat Ra
Jovita mendatangi Jimmy yang sedang mengayun tubuh mungil Jasmine. “Boleh gendong, Pak?” Tangannya terulur dengan mata berbinar penuh antusias.“Awas lho, Jo... kalau sampai diompoli bisa langsung 'nular' hamil,” goda Jessica dari atas ranjang, menyunggingkan senyum jahil. “Tapi kalau dilihat-lihat, kamu memang sudah pantes banget gendong bayi.”Jovita hanya bisa mengukir senyum canggung tanpa tahu harus merespons seperti apa.Jimmy yang menangkap kekakuan itu langsung menyahut cepat menetralkan suasana. “Tenang aja, Jo. Baby Jas pakai pampers kok, aman.”Viola yang berdiri di samping tempat tidur tertawa pelan, lalu berceletuk, “Gimana mau ketularan, Tan... cowok aja belum punya.”Jimmy melirik Viola sejenak, lalu membalas santai. “Harus nikah dulu, Vio... baru boleh mikirin punya anak.”Deg.Sindiran halus yang tak disengaja itu sukses membuat Viola seketika gelagapan. Lidahnya mendadak kelu. Kalimat Jimmy seolah menghantam tepat di ulu hati, memicu ingatan pahitnya akan skandal kel
Raymond mendapati Jimmy tengah duduk tertunduk lesu di bangku tunggu depan ruang operasi. Pria yang biasanya tenang dan penuh perhitungan itu kini tampak hancur, kedua tangannya meremas rambut dengan bahu yang bergetar hebat.Jessica, istri tercintanya, mendadak mengalami pendarahan hebat yang memaksa tim medis melakukan tindakan operasi caesar darurat. Sesuatu yang sangat di luar perhitungan, karena pemeriksaan-pemeriksaan sebelumnya semua baik-baik sajaRaymond langsung menghampiri, menepuk keras pundak sahabatnya. “Jim! Fokus, Jim! Jessica dan anak kalian kuat, mereka pasti bisa melewati ini!”Entah nasihat dan kata-kata motivasi itu masuk ke dalam kepala Jimmy atau tidak, pria itu sama sekali tidak bergeming. Pikirannya sudah sepenuhnya terkunci di balik pintu ruang operasi, tempat sang istri tengah berjuang hidup dan mati melahirkan buah hati mereka.Setelah menunggu dalam rentetan menit yang mencekam, pintu ruang operasi akhirnya terbuka. Dokter melangkah keluar, menghembuskan n
Di sebuah ruangan privat, Karina mendengarkan dengan raut wajah keruh saat detektif swasta kepercayaan keluarga Adhiwangsa menyampaikan laporan awalnya.“Hasil penyisiran awal untuk transaksi keuangan dan aliran dana mencurigakan atas nama Pak Raymond hampir tidak ditemukan sama sekali, Bu.” Lembaran dokumen diletakkan di atas meja. “Semua arus kas Vastu Chandra maupun rekening pribadinya sangat bersih dan berada di jalur yang wajar.”Felisa yang duduk di samping Karina memutar cangkir tehnya, lalu menyahut dengan senyum pahit.“Raymond punya Jimmy. Pria itu selalu bisa diandalkan kalau soal mengamankan aset. Cara kerjanya sangat rapi.”Ingatan Felisa terlempar pada masa-masa proses perceraiannya dulu. Seharusnya ia bisa menuntut harta gono-gini dalam jumlah yang jauh lebih fantastis. Tapi, karena kelihaian Jimmy dalam memilah dan menyembunyikan portofolio kekayaan Raymond, Felisa pada akhirnya hanya mendapatkan sebuah rumah dan mobil yang bila dihitung-hitung bahkan tidak mencapai li
“Ini portofolio arsitektur terbaik tahun ini yang sudah kita kerjakan,” ujar Damian sambil menyerahkan sebuah flashdisk kepada Dylan. “Beberapa di antaranya ada sentuhan dari Vastu Chandra.”Dylan menerima flashdisk itu, memutarnya di sela jari seraya bergumam dengan nada sinis yang tak bisa disembunyikan.“Bosnya awet muda banget ya, Pi. Jampi-jampinya kayaknya kuat banget.”“Jampi-jampi apa?” tanya Damian sambil terkekeh.Sebagai seorang ayah yang kenyang pengalaman hidup, Damian langsung menangkap getaran cemburu yang tersembunyi di balik suara putranya.Damian menyahut santai, “Memang masih muda. Waktu Papi sudah terima banyak proyek besar di mana-mana, dia baru terbang ke Australia buat kuliah.”Dylan menaikkan sebelah alisnya, tampak kebingungan dengan garis waktu yang baru saja dibeberkan papinya. Namun sebelum Dylan sempat bertanya lebih jauh, Damian menepuk bahu putranya pelan.“Sudahlah,” potong Damian cepat. “Kalau kamu mau punya keahlian desain yang setara atau bahkan mela
Di atas sofa empuk di sudut ruangan, Jovita berbaring bersandar pasrah di dada bidang Raymond. Napasnya masih tersengal tipis, tubuhnya terasa lemas dan lelah usai gejolak percintaan panas yang baru saja mereka lewatkan di tengah keheningan kantor.Raymond melingkarkan lengan kokohnya, merengkuh tubuh Jovita rapat-rapat dalam kehangatan. Jemarinya mengusap lembut pundak istrinya yang penampilannya sudah terlihat rapi kembali.“Maaf... mungkin sampai kamu benar-benar lulus kuliah nanti, aku belum bisa mengumumkan pernikahan kita di depan publik,” bisik Raymond pelan, suaranya sarat akan rasa bersalah.Jovita mendongak, menatap garis rahang suaminya. Wajah tenang dan penuh wibawa itu membuatnya sering merasa rendah diri.“Nggak apa-apa, Om. Setelah lulus nanti, aku akan berusaha keras dapat pekerjaan yang bagus... biar aku benar-benar pantas berdiri di samping Om Ray.”Raymond tersenyum tipis, matanya berbinar haru mendengar ucapan polos itu. Ia mempererat pelukannya.“Ini bukan soal ka
Pagi belum sepenuhnya pecah kala Jovita berusaha menggeser lengan kekar yang melingkari pinggangnya. Tubuhnya terasa begitu lemas dan remuk setelah semalaman penuh menjadi pelampiasan gairah liar Raymond yang tak terbendung.Begitu Jovita bergerak sedikit saja untuk turun dari ranjang, lengan tegap
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu me
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari







