MasukPagi hari di kediaman keluarga Chandra, suasana meja makan terasa begitu kaku dan dingin. Di tengah denting sendok dan piring, Elle menatap suaminya yang tengah menikmati hidangan, lalu sengaja membuka pembicaraan untuk meloloskan ambisi putranya.“Pa, bagaimana dengan proyek untuk Julian,” ujar Elle dengan nada menuntut. “Ini salah satu cara terbaik untuk dia membuktikan kalau dia mampu memimpin. Tapi belakangan ini, sepertinya kamu tidak pernah lagi memberinya proyek.”Mendengar ocehan itu, Roberto seketika kehilangan nafsu makannya. Pria tua itu langsung menyilangkan sendok di atas piring, meraih serbet kain, lalu menyapu bersih sisa makanan di ujung bibirnya dengan gerakan lambat dan dingin.“Aku sudah bilang berkali-kali pada Julian,” sahut Roberto dengan suara berat yang kaku. “Kalau dia memang menginginkan proyek, suruh dia bikin dan kirim proposalnya dulu ke meja saya. Tapi sampai detik ini, dia sama sekali tidak pernah menyerahkannya.”Roberto menjeda kalimatnya sejenak, mera
Sementara di balik pintu kamar apartemen yang terkunci, Jovita dan Raymond sedang hanyut memadu kasih dalam kehangatan yang manis, kondisi yang bertolak belakang justru terjadi di kediaman megah keluarga Chandra. Di sana, ada pasangan lain yang tengah beradu mulut dengan tensi tinggi."Katanya kamu mau memberi kepercayaan lebih kepada Julian! Belum sempat ngobrol dan menjalin relasi sama pengusaha-pengusaha yang diundang malam ini, kenapa dia malah pulang dari gala dinner dalam keadaan babak belur begini?!" teriak Elle penuh emosi, meluapkan amarahnya pada sang suami.Roberto terus melenggang masuk tanpa menghentikan langkahnya, enggan melayani emosi istrinya.Pria tua itu hanya menyahut dengan nada dingin dan ketus, "Didik yang benar anak kesayanganmu itu!"Elle tak tinggal diam. Ia berjalan cepat mengekor di belakang Roberto. "Memangnya apa salah Julian sampai kamu harus menyuruh pengawal memukulnya seperti ini?!"Roberto menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh dan melirik tajam
Raymond mengusap lembut punggung tangan Jovita, menyusuri lingkar cincin itu dengan tatapan hangat sekaligus penuh kenangan.“Ini cincin milik Mama. Dulu Mama pernah pesan, cincin ini hanya boleh diberikan kepada perempuan yang menikah denganku.”Raymond menghela napas pendek sebelum melanjutkan, “Dulu, aku mau memakaikan cincin ini ke Felisa, Papa merebutnya. Papa dari awal tidak pernah merestui pernikahanku dengan Felisa.”Bukannya tersentuh, mendengar nama mantan istri suaminya disebut, Jovita justru merasakan sedikit cubitan cemburu di dadanya. Ia mencebikkan bibir pelan, berucap lirih,“Ternyata dulu Om secinta itu ya sama Tante Feli..”Raymond terkekeh tipis, lalu menatap Jovita tajam namun lembut untuk meluruskan kesalahpahaman itu.“Bukan karena cinta, Jo. Tapi waktu itu Felisa sudah mengandung Viola... jadi sebagai laki-laki, aku harus bertanggung jawab menyelesaikannya.”Sebenarnya, ada tumpukan pertanyaan yang mendesak di kepala Jovita tentang bagaimana detail masa lalu dan
Acara gala dinner itu akhirnya selesai, dan nama Raymond beserta Vastu Chandra kian berkibar di kalangan pengembang properti. Tapi, suasana di dalam mobil yang melaju membelah malam menuju apartemen terasa jauh lebih senyap.Selama perjalanan pulang, Raymond sesekali melirik ke arah istrinya melalui pantulan kaca spion dan penglihatan langsung. Instingnya menangkap ada sesuatu yang berbeda pada diri Jovita.Perempuan di sampingnya itu tampak lebih pendiam, bukan karena lelah atau kantuk, tapi sedang melamun. Jemarinya yang lentik memegang tas tangan kecilnya dengan erat, seolah sedang menyembunyikan atau memikirkan hal yang berat.“Capek?” Raymond memancing obrolan, memecah kesunyinya di antara mereka.“Sedikit. Lama berdiri bikin pegal, untung tadi nggak pakai hak tinggi.”“Ya sudah, nanti aku pijitin.”Jovita langsung mencebikan bibir menatap sinis ke arah suaminya. “Pijitnya nggak sampai lima menit, upahnya yang lama.”“Itu karena kamu dipijit dikit langsung mendesah, Om jadi nggak
Dua pria bertubuh tegap secara mengejutkan muncul dari balik sudut koridor dan langsung menarik tubuh Julian dengan kasar. Julian yang tersentak tak sempat melawan saat cengkeramannya pada tangan Jovita terlepas paksa. Bugh! Sebuah pukulan keras mendarat telak di perut Julian. Pria itu langsung meringis kesakitan, menekuk tubuhnya sembari memegangi perut. Seolah belum puas, pria itu mendaratkan kepalan tangannya dua kali lagi ke perut Julian. “Ampun... Pa!” ringis Julian dengan napas memburu. Roberto berdiri di hadapannya dengan wajah merah padam menahan murka. “Bukan laki-laki namanya kalau bisanya cuma mengancam dan menyakiti perempuan!” ucapnya dengan tajam. “Beruntung Papa yang memergokimu di sini. Kalau bukan, kamu bukan cuma menghancurkan dirimu sendiri, tapi juga mencoreng reputasi keluarga Chandra dan Chandra Group!” Tanpa mengulur waktu, Roberto melirik dingin ke arah dua pengawal pribadinya. “Segera bawa dia keluar dari hotel ini. Jangan sampai keributan ini ter
Raymond melangkah percaya diri di antara kerumunan pengusaha properti ternama, menggandeng erat jemari Jovita yang tampak sudah bisa mengendalikan dirinya.Di tengah lingkaran beberapa investor dan pengembang besar, Raymond menyunggingkan senyum hangat sembari memperkenalkan sang istri. Hubungan mereka sudah sah, taka da yang perlu disembunyikan lagi.“Memang proyek perumahan untuk segmen milenial butuh efisiensi tata ruang yang maksimal,” ujar salah satu investor kawakan berambut perak dengan nada terkesan.Raymond merangkul pinggang Jovita dengan lembut, tatapan matanya memancarkan rasa bangga yang luar biasa.“Untuk urusan efisiensi tata ruang kecil, itu salah satu kelebihan istri saya. Jovita punya feeling yang sangat tajam dalam desain interior skala kompak. Dia selalu bisa memanfaatkan setiap sudut ruangan jadi sangat efektif dan fungsional. Jadi kalau perusahaan Bapak mau menyasar perumahan kelas menengah, mungkin kita bisa menjalin kerja sama.”Jovita tersipu manis, namun deng
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki
“Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka







