로그인Meskipun sempat bersitegang dan berdebat perihal keputusan Roberto, Raymond tetap bergerak memenuhi permintaan sang papa. Di atas meja kerjanya, map berisi tumpukan dokumen akademik dan surat-surat penting milik Viola tersusun rapi.Jovita yang berdiri di sampingnya memperhatikan gerak-gerik suaminya dengan kening berkerut dalam. Wanita itu teringat percะbangan mereka semalam.“Katanya mau menahan dokumen ini dulu? Biar Vio istirahat total dan nggak terbebani soal pendidikan ke Australia,” tanya Jovita heran.Raymond mendengus pelan, memasukkan lembar demi lembar kertas itu ke dalam amplop cokelat besar.“Aku harus bertemu dengan Vio. Dan aku tidak mungkin datang ke sana dengan tangan kosong tanpa alasan yang jelas.”Mengingat kejadian semalam, bayangan wajah Felisa yang berdiri lekat di samping Julian mendadak melintas di benak Jovita. Suara wanita itu terdengar ragu.“Bukan karena... ingin bertemu dengan Tante Feli, kan?”Raymond langsung menghentikan gerakannya. Ia menoleh, lalu me
Seketika itu juga, seluruh kepala di ruangan itu menoleh serempak ke sumber suara.Di ambang pintu, Julian dan Felisa berdiri berdampingan dengan ekspresi membeku. Sepasang mata mereka terbelalak kaget mendapati kehadiran Raymond dan Jovita duduk berdampingan di sofa utama.“Kau…?” Julian sulit percaya melihat kakak tirinya.Sudah bertahun-tahun lamanya Raymond menolak menginjakkan kaki di rumah itu, membuat kemunculannya malam ini bagai hantu dari masa lalu yang datang menagih utang.Roberto langsung menyipitkan mata. Tanpa membuang waktu, pria tua itu melirik tajam ke arah Raymond, memberikan kode keras agar putranya segera membawa Jovita pergi dari sana sebelum situasi berubah menjadi kekacauan besar.Sebelum Raymond sempat merespons kode tersebut, suara langkah kaki dari arah tangga lantai dua. Elleonor muncul dengan senyum terkembang lebar, sengaja berjalan cepat menyambut kedatangan putra kesayangannya dan Felisa."Julian, sayang... Kamu datang," sambut Elleonor hangat, sengaja
Raymond dan Jovita menutup daun pintu kamar Viola dengan sangat pelan, memastikan tidak ada suara berisik yang mengusik lelap gadis di dalam sana.“Kita ngobrol di ruang depan saja,” ujar Roberto memecah senyap. “Biar nggak ganggu istirahatnya.”Raymond dan Jovita mengangguk patuh, mengekor langkah Roberto menuju ruang keluarga utama.Ruangan luas beraksen klasik itu memancarkan kehangatan lewat pencahayaan lampu gantung kristal yang temaram. Roberto duduk di sofa tunggal berlapis kulit hitam, sementara Raymond dan Jovita mengambil tempat duduk berdampingan di sofa panjang tepat di hadapannya.Bagi Roberto, pemandangan di hadapannya ini mendadak terasa begitu asing sekaligus menyejukkan. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun lamanya, ia melihat putra sulungnya dikelilingi cinta tulus yang nyata. Kehadiran Jovita dan jabang bayi yang tengah dikandung wanita itu menghidupkan kembali binar semangat di mata Raymond, membuat putranya tampak jauh lebih hidup dan utuh.Tapi, kedamaian
“Nggak mungkin…”Viola menggelengkan kepala tidak bisa menerima kenyataan. “Opa bohong, kan? Apa ini karena anak-anak Jovita?”Roberto menggelengkan kepala. “Tak ada hubungannya dengan Jovita.”“Lalu?”“Kemarin waktu kamu kecelakaan, kamu mengalami pendarahan hebat dan butuh donor darah. Karena persediaan rumah sakit dan PMI kosong, keluarga melakukan pemeriksaan. Tapi ternyata darah papa dan mamamu berbeda dengan golongan darahmu.”“Perbedaan golong darah tidak langsung menjadi bukti jika aku bukan anak kandung papa.”Viola bersikeras bukan hanya karena selama ini ia memuja Raymond sebagai sosok ayah yang sempurna, tapi ada rasa jijik yang bergemuruh di dasar hatinya saat ia harus menghubungkan darahnya dengan Julian.Dalam urusan bisnis, Julian terkenal tidak mumpuni dan sering membuat kacau proyek. Suka main perempuan dan judi. Dan tentu yang paling menyakitkan Julian menjalin hubungan terlarang dengan mamanya, baik sekarang maupun saat masih menjadi istri Raymond.“Awalnya kami be
Melihat mobil Raymond memasuki pekarangan rumah, Jovita bergegas bangkit. Perempuan hamil itu berjalan cepat setengah berlari ingin menyambut kepulangan anak tirinya dari rumah sakit.Jovita mengerutkan kening melihat Raymond turun seorang diri dari kursi pengemudi. Pintu mobil di belakang tertutup rapat tanpa ada sosok lain yang menyusul.Rasa cemas langsung merayap, Jovita menyambut suaminya di teras dengan tatapan penuh tanya.“Vio mana? Belum boleh pulang? Dia tidak apa-apa, kan?” Ada khawatir dan penasaran dalam tiap kata yang terlontar dari bibir Jovita.Raymond meraih tangan Jovita, menggenggamnya erat untuk menyalurkan ketenangan yang justru gagal ia miliki sendiri.“Vio pulang ke rumah papa.”Alis Jovita terangkat. “Kenapa? Dia masih marah sama kita?”Tanpa menjawab, Raymond membimbing Jovita memasuki rumah. Mereka duduk berdampingan di sofa panjang ruang tamu. Sekilas, pandangan Raymond jatuh pada perut istrinya yang sudah besar, wajar jika Roberto mengkhawatirkannya.“Ini i
Viola, yang belum sepenuhnya lelap, mengerjap kaget mendapati kedatangan sang kakek yang tidak biasa, di waktu selarut ini.Gadis itu buru-buru mengubah posisinya, mencoba duduk meski ringisan tertahan sempat lolos dari bibirnya.“Opa... malam-malam begini? Ada apa?” tanya Viola parau, terdengar sangat berhati-hati.Roberto tidak langsung menjawab. Pria tua itu menarik kursi duduk tepat di sisi brankar merapikan jasnya yang masih melekat sempurna.“Beberapa hari lalu, kamu sempat meminta bantuan opa untuk membantumu pergi ke luar negeri, bukan?” Roberto to the point membuka percakapan, suaranya datar namun mengikat perhatian.Manik mata Viola melebar tipis. Ia mengangguk pelan. “Iya, Opa... Vio memang ingin lanjut studi ke Australia.”“Aku sudah memikirkan permintaanmu,” lanjut Roberto tegas. “Dan aku pastikan, aku akan mendukung penuh keinginanmu itu. Semua fasilitas, dokumen, dan biaya kuliahmu akan diurus sampai tuntas.”Secercah binar kelegaan melintas di mata Viola. Tapi, sebelum
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu me
“Papa jahat!”Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini







