Compartir

Bab 2

last update Fecha de publicación: 2026-08-27 15:22:32

Rahang Arman mengeras. Dia melangkah mendekat hingga hanya berjarak beberapa langkah dari Renata. 

"Selama kami yang merawat rumah ini, kami yang berhak menentukan siapa yang tinggal di sini!" tegas Arman. 

Kalimat itu menggema di telinga Renata. Mereka bukan hanya merampas rumah peninggalan kedua orang tuanya. Mereka juga berusaha merampas haknya untuk merasa memiliki satu-satunya tempat yang menyimpan seluruh kenangan tentang keluarga yang telah tiada. 

Bagaimana mungkin seseorang bisa mengusir pemilik rumah dari rumahnya sendiri? Pertanyaan itu terus berputar di kepala Renata. Dadanya terasa sesak, seolah udara di rumah yang sudah menjadi tempatnya bertumbuh tiba-tiba tak lagi menyisakan ruang untuk bernapas.

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Renata. Dia menatap Arman dengan tatapan penuh luka. "Paman pernah bilang hanya akan menjaga rumah ini sampai aku lulus kuliah." Kalimat itu meluncur pelan.

Renata masih mengingat jelas janji yang diucapkan pamannya beberapa hari setelah pemakaman kedua orang tuanya. 

Saat itu, Arman berjanji hanya akan menjaga rumah dan mengurus semua keperluannya hingga dia dewasa. Namun, janji itu terasa seperti kebohongan. 

"Itu dulu." Jawaban Arman terdengar dingin tanpa sedikit pun penyesalan. Pria itu mengangkat tangannya, lalu menunjuk lurus ke arah pintu utama. "Sekarang keluar!" perintahnya. 

Renata menggeleng pelan. Air mata yang berusaha untuk ditahan akhirnya jatuh membasahi pipi. "Tapi, ini rumahku." Ucapan itu nyaris tak terdengar, dipenuhi keputusasaan. 

"Rumahmu?" Reno, sepupunya, tertawa mengejek dari sudut ruang tamu. Senyumnya penuh kemenangan, seolah menikmati penderitaan Renata. "Kalau memang rumahmu, coba tunjukkan sertifikatnya." 

Ucapan itu membuat Renata terdiam. Bibirnya terbuka, tetapi tak satu kata pun mampu keluar. 

Sertifikat rumah itu memang sudah lama berada di tangan Arman. Setiap kali Renata meminta untuk melihatnya, pamannya selalu menjawab dengan santai. "Masih disimpan baik-baik."

Dulu Renata mempercayai kalimat itu. Namun, untuk pertama kali, keraguan menyusup ke dalam benaknya. Mungkin sertifikat itu bukan sekadar disimpan atau ada sesuatu yang sengaja disembunyikan darinya. 

Belum sempat pikiran Renata menemukan jawaban, Yuni berjalan cepat menuju kamar Renata. Tak lama kemudian wanita itu keluar sambil menyeret koper kecil berwarna biru yang berisi seluruh barang milik Renata. 

Tanpa rasa iba, koper itu dilempar begitu saja ke teras rumah. "Pergi!" bentak Yuni. 

Brak! 

Benturan koper dengan lantai membuat penguncinya terlepas. Isinya langsung berhamburan. Beberapa buku kuliah berserakan. Pakaian keluar dari dalam koper. Sebuah bingkai foto jatuh menghantam lantai hingga kacanya pecah berkeping-keping. 

"Nggak!" seru Renata refleks. 

Gadis itu berlari keluar dan berlutut di lantai teras.

Dengan tangan yang gemetar, dia memungut bingkai foto itu. Di dalamnya terdapat potret ayah dan ibunya yang sedang tersenyum bahagia. 

Sayangnya, sudut foto itu robek akibat terkena pecahan kaca. Renata mengusap perlahan debu yang menempel di permukaan foto. Air matanya jatuh satu per satu membasahi gambar kedua orang yang paling dia rindukan. "Maaf," bisik Renata lirih. 

Entah Renata sedang meminta maaf kepada foto itu, kepada ayah dan ibunya, atau kepada dirinya sendiri yang gagal menjaga rumah peninggalan mereka. 

Di belakangnya, Arman membuka pintu selebar-lebarnya. Sorot matanya dingin tanpa belas kasihan. "Kami tidak mau melihatmu lagi!" ucap Arman. 

Renata perlahan berdiri. Meski wajahnya basah oleh air mata, tatapannya mulai berbeda. Tak ada lagi ketakutan. Yang tersisa hanyalah luka dan tekad. Dia menatap Arman tepat di matanya. "Suatu hari nanti ...." Suara gadis itu pelan, tetapi terdengar begitu tegas. "Aku akan mengambil kembali rumah ini," lanjut Renata. 

Reno langsung tertawa terbahak-bahak. Dia bahkan menepuk-nepuk pahanya karena merasa ucapan Renata begitu menggelikan. "Modal apa?" tanya Reno meremehkan. 

Renata tidak menjawab. Dia hanya membungkuk, memasukkan foto yang pecah itu ke dalam tas dengan sangat hati-hati, seolah itulah harta paling berharga yang masih dimilikinya. 

Setelah itu, Renata merapikan buku-buku kuliahnya yang berserakan, menarik koper yang rodanya sudah sedikit rusak, lalu melangkah meninggalkan rumah. Begitu ia melewati pagar, pintu rumah ditutup dengan keras. Suara kunci yang diputar dari dalam terdengar begitu menyakitkan. Seolah-olah seluruh kenangan masa kecilnya ikut terkunci di balik pintu itu. 

Rumah yang dibangun dengan kerja keras ayah Renata. Rumah yang menyimpan tawa, pelukan, dan kasih sayang kedua orang tuanya. 

Namun, hari itu dia diusir dari rumahnya sendiri. Renata menghentikan langkah sejenak. Dia mengusap air mata yang tak mampu lagi dibendung. Gadis itu tidak tahu akan bermalam di mana dan tidak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa. 

Namun, di balik semua kehilangan itu, ada satu hal yang tak akan pernah dia lepaskan. Harapan. 

Harapan untuk merebut kembali hak yang telah dirampas darinya. Renata percaya, sekuat apa pun seseorang menyembunyikan kebohongan, pada akhirnya kebenaran akan selalu menemukan jalannya.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Istri Rahasia Tuan Dirga   Bab 61 Ingatan yang Kembali

    Dirga masih menggenggam tangan Renata ketika mereka berjalan meninggalkan area kafe. Langkah pria itu tidak terburu-buru, seolah ingin memastikan istrinya benar-benar merasa tenang setelah kejadian yang baru saja mereka alami.Sementara itu, Renata sesekali melirik wajah suaminya. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, tetapi entah mengapa, ia justru merasa malu untuk memulainya. Terlebih setelah mendengar pengakuan Dirga bahwa pria itu datang karena merindukannya.Sebuah alasan sederhana yang berhasil membuat hatinya berdebar lebih cepat."Mas Dirga.""Hm?"Dirga menoleh. Tatapannya langsung tertuju kepada Renata yang berjalan di sampingnya. Ia memperlambat langkah ketika menyadari istrinya seperti sedang memikirkan sesuatu."Kamu kenapa tiba-tiba datang?"Pertanyaan itu sebenarnya sudah muncul sejak Dirga pertama kali memasuki kafe. Renata tidak menyangka suaminya akan datang tanpa pemberitahuan, apalagi ketika ia masih sibuk menyelesaikan pekerjaannya.Dirga menatapnya sejenak sebe

  • Istri Rahasia Tuan Dirga   Bab 60 Perlindungan Dirga

    Renata menahan napas. Entah kenapa, satu kata itu membuat dadanya menghangat.Suaminya.Dirga mengucapkannya tanpa keraguan, tanpa perlu menjelaskan panjang lebar. Seolah status itu adalah sesuatu yang memang ingin dia tegaskan kepada siapa pun. Padahal, hubungan mereka selama ini masih menyimpan banyak hal yang belum sepenuhnya dipahami Renata.Pernikahan mereka bermula dari keadaan yang tidak sederhana. Ada alasan, kesepakatan, dan keputusan yang awalnya terasa lebih masuk akal daripada romantis. Namun, belakangan ini, Dirga semakin sering melakukan hal-hal kecil yang membuat Renata lupa bahwa pernikahan mereka tidak dimulai dari kisah cinta seperti kebanyakan pasangan. Kedatangan Dirga hari itu adalah salah satunya.Dirga menatap pria tersebut tanpa senyum. Dia tidak perlu melirik Renata untuk mengetahui bahwa istrinya berdiri tepat di belakangnya."Saya dengar dari istri saya bahwa Anda beberapa kali mengganggunya."Pria itu tertawa kecil. Tawanya terdengar dipaksakan, seolah dia

  • Istri Rahasia Tuan Dirga   Bab 59 Dejavu

    Pagi itu, Renata kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa. Setelah beberapa hari terakhir dipenuhi kejutan—mulai dari pernikahannya yang akhirnya diketahui Celina hingga pertemuan dengan keluarga Dirga—Renata justru merasa membutuhkan sesuatu yang sederhana. Bekerja.Bekerja di kafe selalu membuat pikirannya lebih tenang. Di sana, dia bisa menjadi Renata yang biasa. Bukan istri seorang pengusaha kaya. Bukan bagian dari keluarga Mahardika. Hanya Renata. Seorang wanita yang sedang berusaha menyelesaikan kuliah dan membangun kehidupannya sendiri.Pagi itu, Renata mengenakan seragam Lumière Café lalu mengikat rambutnya dengan rapi."Renata, meja lima pesanannya sudah siap," panggil salah satu rekannya."Iya."Renata mengambil nampan dan berjalan menuju meja pelanggan.Beberapa jam berlalu dengan tenang. Sampai seorang pria datang sendirian. Usianya mungkin sekitar tiga puluh tahun. Dia duduk di salah satu meja dekat kasir, lalu beberapa kali memanggil Renata meskipun sebenarnya pelaya

  • Istri Rahasia Tuan Dirga   Bab 58 Genggaman Tangan

    Malam semakin larut. Setelah berbincang sebentar dengan Renata dan Dirga, Bi Sari akhirnya berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Dia masih sempat mengingatkan mereka agar tidak tidur terlalu malam sebelum menutup percakapan dengan senyum ramah. Renata membalas senyum itu sebelum berjalan menuju kamar bersama Dirga. Begitu memasuki kamar, suasana yang lebih tenang menyambut mereka. Lampu tidur memancarkan cahaya hangat, sementara udara sejuk dari pendingin ruangan membuat Renata merasa nyaman setelah menjalani hari yang cukup panjang. Dirga meletakkan ponselnya di atas nakas, kemudian berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian tidur. Sementara itu, Renata duduk di depan meja rias dan mulai melepas anting-anting yang dikenakannya sejak sore. Dia meletakkan perhiasan itu ke dalam kotak kecil, lalu memperhatikan pantulan wajahnya di cermin. Malam itu benar-benar berbeda dari yang dibayangkannya. Dia datang ke rumah utama dengan perasaan gugup, tetapi pulang dengan membawa begitu

  • Istri Rahasia Tuan Dirga   Bab 57 Pulang ke Rumah

    Begitu tiba di rumah, Renata dan Dirga mendapati Bi Sari sudah menunggu di ruang tengah. Wanita paruh baya itu duduk di sofa sambil menonton televisi dengan volume kecil. Namun, begitu mendengar suara pintu terbuka, dia segera menoleh. Wajahnya langsung menunjukkan rasa ingin tahu ketika melihat keduanya masuk bersama. “Sudah pulang?” “Iya, Bi,” jawab Renata. Renata melepaskan sepatunya, lalu berjalan masuk ke ruang tengah. Dirga menyusul di belakangnya sambil melonggarkan kerah kemeja yang sejak tadi terasa sedikit menyesakkan. Makan malam bersama keluarga besarnya memang berjalan cukup lancar, tetapi ada banyak hal yang masih berputar di kepala Renata. Bi Sari memperhatikan ekspresi mereka bergantian. Dia sudah cukup lama bekerja di rumah itu sehingga bisa mengenali perubahan kecil pada wajah majikannya maupun Renata. “Bagaimana makan malamnya?” tanya Bi Sari. Renata duduk di sofa sambil tersenyum kecil. “Ramai.” “Ramai bagaimana, Nyonya? Banyak orang?” “Iya. Keluar

  • Istri Rahasia Tuan Dirga   Bab 56 Tidak Sendirian

    Setelah makan malam, perjalanan pulang terasa lebih tenang. Renata duduk di samping Dirga. Lampu-lampu jalan bergerak melewati jendela mobil. Beberapa menit mereka tidak berbicara. “Mas Dirga,” ucap Renata membuka percakapan. Sejak meninggalkan rumah utama keluarga Mahardika, Renata lebih banyak diam di kursi penumpang. Pikirannya masih dipenuhi kejadian malam itu, terutama saat mengetahui bahwa Celina, sahabat yang selama ini menjadi tempatnya berbagi cerita, ternyata merupakan keponakan suaminya sendiri. Rasanya masih sulit dipercaya. Selama ini, Renata dan Celina begitu dekat, tetapi ada satu hal besar tentang Dirga di keluarganya yang sama sekali tidak pernah diketahuinya. “Hm?” Dirga menyahut tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. Renata menoleh ke arahnya. Pria itu tampak tenang seperti biasa, kedua tangannya sesekali bergerak mengikuti arah kemudi. Berbeda dengannya yang sejak tadi memikirkan berbagai kemungkinan, Dirga seolah tidak terlalu mengkhawatirkan kejadian ma

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status