LOGINRenata spontan menggeleng. "Tidak usah. Merepotkan."
"Malam sudah larut," kata Dirga. Suara Dirga terdengar tenang.
Dia mengedarkan pandangannya ke sepanjang jalan di depan Lumière Café yang semakin sepi. Gerimis belum juga berhenti, sementara kendaraan yang melintas hanya sesekali terlihat.
Renata menggenggam ponselnya lebih erat. "Aku bisa menunggu." Gadis itu berusaha terdengar yakin, meski aplikasi ojek online di layar ponselnya masih belum menunjukkan tanda-tanda ada pengemudi yang menerima pesanannya.
Dirga kembali mengalihkan pandangan ke arah jalan yang lengang, lalu berkata, "Daerah sini tidak aman." Kalimat itu diucapkannya tanpa bermaksud memaksa. Dia hanya menyampaikan apa yang baru saja mereka alami beberapa menit lalu.
Renata ikut menoleh ke arah jalan yang mulai gelap. Suasana yang tadinya biasa saja terasa berbeda. Bayangan wajah pria mabuk yang tadi mencengkeram tangannya kembali terlintas di benaknya. Bagaimana jika pria itu kembali? Pikiran itu membuat bulu kuduk Renata meremang. Tanpa sadar, dia mengusap pelan pergelangan tangannya yang masih terasa nyeri.
Melihat keraguan di wajah Renata, Dirga kembali berbicara. Nada suaranya tetap datar, tetapi terdengar tulus. "Anggap saja sebagai ucapan syukur karena semuanya sudah baik-baik saja."
"Iya, Ren, kamu ikut saja sama Bapak ini," sambung Siska yang begitu khawatir.
Renata terdiam beberapa saat. Dia menimbang-nimbang ajakan itu. Di satu sisi, gadis itu tidak terbiasa menerima bantuan dari orang asing. Namun di sisi lain, menunggu sendirian di tempat yang sepi setelah kejadian barusan juga bukan pilihan yang bijaksana.
Akhirnya, Renata mengembuskan napas pelan, lalu mengangguk.
"Baik. Terima kasih," katanya.
Dirga membalas dengan anggukan singkat. Tanpa banyak bicara, dia melangkah lebih dulu menuju mobilnya, kemudian membukakan pintu penumpang depan untuk Renata. "Silakan."
Renata mengangguk kecil sebagai tanda terima kasih. Dengan hati-hati dia masuk ke dalam mobil, meletakkan tas di pangkuan, sementara koper kecilnya dimasukkan ke bagasi oleh Dirga.
Sesaat kemudian, pintu mobil tertutup perlahan, menghalau udara malam yang dingin dan suara gerimis dari luar. Mobil sedan hitam itu melaju meninggalkan pelataran Lumière Café.
Selama beberapa menit, tidak ada percakapan. Hanya suara rintik hujan yang mengenai kaca mobil.
Dirga sesekali melirik melalui spion tengah. Gadis di sampingnya tampak lelah dengan mata sembap. Seperti baru saja menangis cukup lama.
"Arah rumahmu ke mana?"
Pertanyaan sederhana itu membuat Renata menegang. Tangannya yang memegang tas perlahan mengencang.
Dirga menyadari perubahan ekspresinya. "Maaf kalau pertanyaanku membuatmu tidak nyaman," lanjut Dirga.
"Bukan begitu...."
"Lalu?" Renata menunduk. "Aku ... tidak tahu harus pulang ke mana."
Kaki Dirga refleks menginjak rem saat lampu merah menyala. Dia menoleh dengan wajah terkejut. "Maksudmu?" Dirga mengalihkan pandangannya sejenak dari jalan, lalu kembali fokus mengemudi.
Nada suaranya terdengar tenang, memberi ruang bagi Renata untuk bercerita tanpa merasa dihakimi. Renata terdiam beberapa detik. Jemarinya saling bertaut di atas tas yang berada di pangkuannya. Dia menarik napas panjang, berusaha menguatkan diri sebelum membuka luka yang masih terasa begitu segar. "Sore tadi aku diusir." Kalimat itu meluncur pelan, nyaris seperti bisikan.
Dirga pun sedikit mengernyit. "Diusir?" Ada nada heran dalam suara Dirga. Sulit baginya membayangkan seseorang diusir hingga harus membawa koper kecil di malam hari.
"Iya," jawab Renata singkat. Renata menundukkan kepala. Pandangannya tertuju pada kedua tangannya sendiri.
"Orang tuamu?" Pertanyaan itu diucapkan Dirga dengan hati-hati.
Renata menggeleng pelan. Senyum getir tersungging di bibirnya, tetapi matanya mulai berkaca-kaca. "Mereka sudah meninggal."
Jawaban singkat itu membuat suasana di dalam mobil mendadak sunyi. Hanya suara gerimis yang sesekali memukul kaca mobil dan dengungan mesin yang menemani perjalanan.
Dirga terdiam beberapa saat. Dia mulai memahami mengapa gadis di sampingnya terlihat begitu rapuh malam itu. "Lalu?" Suara Dirga terdengar lebih lembut daripada sebelumnya.
"Pamanku." Baru menyebut satu kata itu saja, suara Renata sudah mulai bergetar. Dia menelan ludah, berusaha menahan air mata yang kembali menggenang. "Mereka mengusirku dari rumah," lanjutnya.
Kalimat itu akhirnya terucap, disertai embusan napas yang terasa berat. Renata memalingkan wajah ke arah jendela, berusaha menyembunyikan air mata yang perlahan jatuh. Baginya, mengakui kenyataan itu jauh lebih menyakitkan daripada saat benar-benar meninggalkan rumah yang dianggap sebagai satu-satunya tempat pulang.
Dirga tidak langsung bertanya lagi. Kedua tangannya tetap mantap menggenggam kemudi, sementara pandangannya lurus ke depan. Dia sengaja membiarkan keheningan mengisi ruang di dalam mobil, memberi Renata kesempatan untuk berbicara jika memang menginginkannya.
Beberapa menit berlalu. Hanya suara gerimis yang memukul kaca mobil dan dengungan mesin yang terdengar.
"Aku tidak punya siapa-siapa lagi," ujar Renata. Kalimat itu terdengar begitu lirih, seolah menguras seluruh tenaga yang tersisa dalam dirinya.
Dirga tidak menyela. Dia memilih mendengarkan.
Hingga beberapa detik kemudian, Renata kembali membuka suara. "Aku sebenarnya tidak tahu malam ini harus tidur di mana."
Ucapan itu membuat Dirga mengembuskan napas panjang. Rahangnya mengeras sesaat. Dia bukan tipe pria yang mudah mencampuri urusan orang lain. Lelaki itu selalu menjaga jarak dari masalah yang bukan menjadi tanggung jawabnya. Namun, membiarkan seorang gadis sendirian di jalan setelah hampir menjadi korban pelecehan juga bukan pilihan yang bisa dia abaikan. "Kamu punya saudara lain?" Dirga bertanya dengan tenang, berharap masih ada seseorang yang bisa menjadi tempat Renata berlindung.
"Tidak." Jawaban itu datang tanpa ragu.
"Teman?"
"Ada. Tapi, aku tidak ingin merepotkan mereka." Renata menatap keluar jendela. Cahaya lampu jalan yang memantul di kaca membuat bayangannya tampak samar. Dia memang memiliki beberapa teman, tetapi datang larut malam sambil membawa koper dan masalah sebesar itu terasa terlalu berat untuk dilakukan.
Dirga kembali memusatkan perhatian pada jalan di depannya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, sementara pikirannya sibuk mempertimbangkan sesuatu.
Beberapa saat kemudian, ia akhirnya berkata pelan. "Aku punya sebuah rumah tamu."
Renata langsung menoleh. Wajahnya memperlihatkan kebingungan sekaligus rasa heran.
"Rumah itu jarang ditempati." Dirga berhenti sejenak, memilih kata-katanya dengan hati-hati agar tidak terdengar salah. "Kalau kamu mau, tinggallah di sana sementara. Sampai keadaanmu membaik."
Mata Renata membulat. Tawaran itu benar-benar di luar dugaannya. "Tidak! Aku tidak mungkin menerima bantuan sebesar itu." Nada suaranya dipenuhi rasa sungkan.
Mereka bahkan baru saling mengenal malam itu, tidak mungkin Renata bisa menerimanya begitu saja.
Dirga menggeleng pelan. "Bukan bantuan."
"Lalu?" Renata menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Anggap saja aku tidak tega membiarkan seseorang yang baru saja kutolong kembali tidur di jalan," jawab Dirga.
Kalimat itu diucapkan sederhana, tanpa kesan ingin dipuji atau dianggap sebagai pahlawan.
Mata Renata kembali berkaca-kaca. Sejak sore dia hanya menerima penolakan dan perlakuan menyakitkan. Namun, di saat dia merasa benar-benar sendirian, justru seorang pria asing mengulurkan tangan tanpa meminta imbalan apa pun. Air mata kembali menggenang di pelupuk mata Renata.
Hari itu, setelah kehilangan rumah yang seharusnya menjadi miliknya, seorang pria asing justru menawarkan tempat untuk berteduh.
Dia belum tahu siapa pria itu, begitu pula Dirga.
Renata spontan menggeleng. "Tidak usah. Merepotkan." "Malam sudah larut," kata Dirga. Suara Dirga terdengar tenang. Dia mengedarkan pandangannya ke sepanjang jalan di depan Lumière Café yang semakin sepi. Gerimis belum juga berhenti, sementara kendaraan yang melintas hanya sesekali terlihat. Renata menggenggam ponselnya lebih erat. "Aku bisa menunggu." Gadis itu berusaha terdengar yakin, meski aplikasi ojek online di layar ponselnya masih belum menunjukkan tanda-tanda ada pengemudi yang menerima pesanannya. Dirga kembali mengalihkan pandangan ke arah jalan yang lengang, lalu berkata, "Daerah sini tidak aman." Kalimat itu diucapkannya tanpa bermaksud memaksa. Dia hanya menyampaikan apa yang baru saja mereka alami beberapa menit lalu. Renata ikut menoleh ke arah jalan yang mulai gelap. Suasana yang tadinya biasa saja terasa berbeda. Bayangan wajah pria mabuk yang tadi mencengkeram tangannya kembali terlintas di benaknya. Bagaimana jika pria itu kembali? Pikiran itu membuat bulu kud
Renata menoleh ke arah pria bertubuh tinggi yang baru saja turun dari mobil hitam itu. Sorot matanya tajam, wajahnya tetap datar tanpa menunjukkan kepanikan sedikit pun. Dia berdiri tegak dengan kedua tangan di samping tubuh, tetapi auranya memancarkan wibawa yang sulit diabaikan.Pria mabuk yang masih mencengkeram pergelangan tangan Renata mendengus kesal. Dia menoleh dengan tatapan penuh tantangan. "Siapa kamu? Jangan ikut campur urusanku!" Pria itu melangkah maju setengah langkah, berusaha menunjukkan keberaniannya meski tubuhnya sedikit oleng karena pengaruh alkohol. Sementara itu, Renata masih berusaha melepaskan diri. Pergelangan tangannya mulai terasa sakit akibat cengkeraman yang terlalu kuat. Napasnya memburu, sementara air mata terus membasahi pipinya. Pria berjas hitam itu tidak bergeming sedikit pun. Tatapannya justru beralih pada tangan yang masih mencengkeram Renata, lalu kembali menatap wajah pria mabuk tersebut. Ekspresi pria itu tetap tenang. Namun, ketenangan itula
Malam semakin larut. Jarum jam perlahan mendekati pukul sepuluh ketika ketiga pria yang membuat Renata gelisah itu akhirnya berdiri dari kursi mereka. Setelah membayar tagihan, mereka melangkah keluar sambil sesekali masih melirik ke arah dalam kafe. Baru setelah pintu kaca tertutup rapat di belakang mereka, Renata mengembuskan napas lega. Ketegangan yang beberapa waktu lalu dia tahan perlahan menghilang, meski rasa waspada masih tersisa. Tak lama kemudian, jarum jam menunjukkan pukul setengah sebelas. Lampu di sebagian area pelanggan mulai dipadamkan sebagai tanda Lumière Café telah resmi tutup. Seperti biasa, seluruh karyawan saling berbagi tugas. Renata mengangkat gelas-gelas kotor ke dapur, merapikan kursi dan meja, lalu mengepel lantai hingga mengilap. Setelah memastikan semua pekerjaannya selesai, dia masuk ke ruang ganti untuk melepas seragam kerja dan mengenakan kembali pakaian yang dipakainya saat datang. Saat keluar dari ruang ganti sambil menyampirkan tas di bahu, Sisk
Renata menatap pantulan wajahnya di kaca halte.Matanya sembap akibat terlalu banyak menangis. Dia menepuk-nepuk pipinya pelan, berusaha menyamarkan bekas air mata. "Jangan kelihatan kalau habis nangis," gumam gadis itu lirih. Renata tidak ingin rekan-rekan kerjanya bertanya. Menjelaskan bahwa dirinya baru saja diusir dari rumah sendiri hanya akan membuat dadanya kembali sesak. Setelah menarik napas panjang, gadis itu memesan ojek online. Tak lama kemudian, sebuah motor berhenti di depan halte. Renata duduk di jok belakang sambil memeluk koper kecilnya erat-erat. Sepanjang perjalanan, gadis itu hanya menatap jalanan yang mulai ramai. Deretan pertokoan, lampu lalu lintas, dan orang-orang yang berlalu-lalang seolah tak mampu mengalihkan pikirannya dari kejadian beberapa menit lalu. Bayangan wajah mendiang kedua orang tuanya silih berganti memenuhi benaknya. Dulu mereka berpesan agar Renata menjaga rumah itu, tetapi justru dirinya yang diusir tanpa memiliki kuasa untuk mempertahankan.
Rahang Arman mengeras. Dia melangkah mendekat hingga hanya berjarak beberapa langkah dari Renata. "Selama kami yang merawat rumah ini, kami yang berhak menentukan siapa yang tinggal di sini!" tegas Arman. Kalimat itu menggema di telinga Renata. Mereka bukan hanya merampas rumah peninggalan kedua orang tuanya. Mereka juga berusaha merampas haknya untuk merasa memiliki satu-satunya tempat yang menyimpan seluruh kenangan tentang keluarga yang telah tiada. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengusir pemilik rumah dari rumahnya sendiri? Pertanyaan itu terus berputar di kepala Renata. Dadanya terasa sesak, seolah udara di rumah yang sudah menjadi tempatnya bertumbuh tiba-tiba tak lagi menyisakan ruang untuk bernapas.Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Renata. Dia menatap Arman dengan tatapan penuh luka. "Paman pernah bilang hanya akan menjaga rumah ini sampai aku lulus kuliah." Kalimat itu meluncur pelan.Renata masih mengingat jelas janji yang diucapkan pamannya beberapa hari setelah pem
"Keluar dari rumah ini sekarang juga!" Suara Arman menggema memenuhi ruang tamu. Renata yang baru saja pulang dari kampus membeku di ambang pintu. Di tangannya masih tergenggam map biru berisi revisi skripsi yang harus dikumpulkan minggu depan. Dia menatap pamannya dengan bingung. "Paman, ada apa?" tanya Renata. Arman menghempaskan sebuah dompet kulit ke atas meja ruang tamu. Benturannya begitu keras hingga beberapa lembar uang receh, kartu ATM, dan kertas-kertas kecil di dalamnya berhamburan ke segala arah. Wajah pria paruh baya itu memerah, sementara sorot matanya penuh amarah. "Jangan pura-pura tidak tahu! Uang lima juta milik Paman hilang." Renata yang baru saja pulang dari kampus terpaku di tempatnya. Tas ransel yang masih menggantung di bahunya terasa semakin berat. Tatapannya bergantian menatap dompet di atas meja dan wajah pamannya yang penuh tuduhan. Perlahan, dia menggeleng. Bibirnya bergetar, tetapi suaranya tetap berusaha terdengar tenang. "Aku tidak mengambi







