LOGIN
"Keluar dari rumah ini sekarang juga!"
Suara Arman menggema memenuhi ruang tamu. Renata yang baru saja pulang dari kampus membeku di ambang pintu. Di tangannya masih tergenggam map biru berisi revisi skripsi yang harus dikumpulkan minggu depan. Dia menatap pamannya dengan bingung. "Paman, ada apa?" tanya Renata. Arman menghempaskan sebuah dompet kulit ke atas meja ruang tamu. Benturannya begitu keras hingga beberapa lembar uang receh, kartu ATM, dan kertas-kertas kecil di dalamnya berhamburan ke segala arah. Wajah pria paruh baya itu memerah, sementara sorot matanya penuh amarah. "Jangan pura-pura tidak tahu! Uang lima juta milik Paman hilang." Renata yang baru saja pulang dari kampus terpaku di tempatnya. Tas ransel yang masih menggantung di bahunya terasa semakin berat. Tatapannya bergantian menatap dompet di atas meja dan wajah pamannya yang penuh tuduhan. Perlahan, dia menggeleng. Bibirnya bergetar, tetapi suaranya tetap berusaha terdengar tenang. "Aku tidak mengambilnya," ujar Renata. "Bohong!" sahut Yuni, bibinya, sambil menyilangkan kedua tangan di dada. Tatapannya dipenuhi cibiran seolah sudah yakin siapa pelakunya. "Sejak pagi hanya kamu yang ada di rumah." Ucapan itu membuat dada Renata sesak. Tuduhan itu datang begitu saja tanpa sedikit pun memberi kesempatan padanya untuk menjelaskan. "Aku berangkat ke kampus jam delapan, Bi. Setelah itu bimbingan sampai siang. Kalau memang tidak percaya, Paman bisa tanya dosen pembimbingku," sahut Renata.Yuni mendengus sinis. Dia melirik Arman seakan meminta suaminya segera memberi pelajaran kepada gadis itu.
Renata mengepalkan jemarinya di balik tas yang masih digenggam. Dia menarik napas panjang, menahan gejolak emosi yang mulai memenuhi dada. Sejak orang tuanya meninggal, tuduhan seperti itu bukan pertama dia terima. Namun, saat itu terasa jauh lebih menyakitkan. Belum sempat suasana mereda, Arman menghantam meja dengan telapak tangannya hingga membuat semua orang terkejut. "Sudah cukup!" bentak Arman. "Kami sudah terlalu sabar menghadapi kamu." Suasana rumah mendadak sunyi. Hanya terdengar napas berat Arman yang masih dipenuhi amarah, sementara Renata berdiri mematung, menatap kedua orang yang selalu mengaku sebagai keluarganya, tetapi tak pernah benar-benar memberinya kepercayaan. Renata menatap pria yang sejak lima tahun terakhir menjadi walinya itu dengan perasaan campur aduk. Sejak ayah dan ibunya meninggal dalam kecelakaan, Arman dan Yuni memang tinggal di rumah itu. Mereka selalu berkata bahwa mereka hanya "menjaga rumah" sampai Renata dewasa. Kala itu Renata masih tujuh belas tahun. Dia percaya sepenuhnya. Seluruh sertifikat rumah, dokumen tanah, bahkan tabungan peninggalan kedua orang tuanya diurus oleh pamannya dengan alasan dia masih di bawah umur. Namun, tahun demi tahun berlalu. Yang berubah bukan hanya sikap mereka. Rumah yang dulu dipenuhi foto ayah dan ibunya semakin lama hampir tak menyisakan kenangan. Semua perabot diganti tanpa pernah meminta persetujuannya. Kamar utama yang dulu ditempati kedua orang tuanya kemudian menjadi kamar Arman dan Yuni. Sedangkan Renata dipindahkan ke kamar kecil bekas gudang. "Aku hanya menjaga rumah ini, Renata," kata pamannya setiap kali dia bertanya. Namun, semakin dewasa, Renata mulai menyadari sesuatu. Rumah itu bukan lagi dijaga, tetapi telah dikuasai. Bahkan, setiap sudut membuatnya merasa seperti tamu. "Kami sudah capek membiayai hidupmu!" bentak Yuni. Wajah wanita itu memerah. Telunjuknya mengarah tepat ke dada Renata seolah gadis itu adalah beban terbesar dalam hidupnya. Renata justru tertawa lirih. Tawa yang terdengar getir, lebih mirip luapan rasa kecewa daripada sebuah hiburan. "Membiayaiku?" Renata mengulang kata itu pelan. Mata gadis itu mulai memanas, menahan air mata yang mengancam jatuh. Dadanya naik turun menahan emosi yang siap meledak kapan saja. "Sejak semester dua aku bekerja sebagai barista. Uang kuliah dari beasiswa. Gajiku setiap bulan juga Bibi yang minta untuk biaya listrik dan belanja." Ruangan seketika hening. Tak ada satu pun dari ucapan Renata yang bisa dibantah. Semua itu adalah kenyataan yang mereka sama-sama tahu. Namun, Yuni tidak mau kehilangan muka. Dia mendengus kasar sebelum kembali meninggikan suara. "Itu balas budi! Kami sudah mengurusmu bertahun-tahun," ujar Yuni. Kalimat itu menghantam dada Renata lebih keras daripada bentakan sebelumnya. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat. Balas budi. Kata itu merupakan kata yang selalu mereka gunakan setiap kali ingin membungkamnya. Setiap kali Renata ingin mempertanyakan sesuatu atau menolak diperlakukan semena-mena. Padahal, kenyataannya jauh berbeda. Rumah yang mereka tempati bukanlah milik Arman ataupun Yuni. Rumah itu adalah peninggalan ayah dan ibu Renata Tempat yang dulu dipenuhi tawa, tetapi berubah menjadi tempat yang membuatnya merasa asing. Bahkan, pajak rumah itu dibayar menggunakan tabungan yang ditinggalkan kedua orang tuanya untuk masa depan Renata. Renata menatap Arman dengan sorot mata yang mulai dipenuhi keberanian. Untuk pertama kali, dia tak ingin lagi membiarkan dirinya terus diperlakukan tidak adil di rumah itu. Dadanya naik turun menahan emosi yang sudah lama dipendam rapat. "Paman." Suara Renata bergetar, bukan karena takut, melainkan karena luka yang terlalu lama dipendam sendirian. "Rumah ini rumah Papa dan Mama." Tatapan gadis itu beralih kepada Yuni. "Papa juga meninggalkan tabungan untuk masa depanku. Tapi, uang itu habis dipakai membiayai anak Paman dan Bibi. Aku tidak pernah mempermasalahkannya karena menganggap kita keluarga." Renata mengembuskan napas pelan. Senyum pahit terukir di bibirnya. "Aku bekerja sejak kuliah supaya tidak merepotkan siapa pun. Aku tidak pernah menuntut uang itu kembali." Mata gadis itumulai berkaca-kaca. "Tapi, sekarang... aku malah dituduh mencuri di rumah yang seharusnya menjadi milikku sendiri." Arman hanya mendengus sinis, sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. "Jangan mulai lagi!" bentak Arman. Renata menggeleng pelan. Senyum kecewa terukir di bibir pucatnya. "Aku hanya mengatakan kenyataannya," kata gadis itu tegas. Namun, bagi Arman dan Yuni, kebenaran yang diucapkan Renata justru terasa seperti ancaman yang sewaktu-waktu bisa menggugurkan semua yang telah mereka kuasai. Arman hanya mendengus sinis. Bibirnya menyunggingkan senyum meremehkan seolah ucapan Renata hanyalah omong kosong. "Ini memang rumah orang tuaku!"Renata spontan menggeleng. "Tidak usah. Merepotkan." "Malam sudah larut," kata Dirga. Suara Dirga terdengar tenang. Dia mengedarkan pandangannya ke sepanjang jalan di depan Lumière Café yang semakin sepi. Gerimis belum juga berhenti, sementara kendaraan yang melintas hanya sesekali terlihat. Renata menggenggam ponselnya lebih erat. "Aku bisa menunggu." Gadis itu berusaha terdengar yakin, meski aplikasi ojek online di layar ponselnya masih belum menunjukkan tanda-tanda ada pengemudi yang menerima pesanannya. Dirga kembali mengalihkan pandangan ke arah jalan yang lengang, lalu berkata, "Daerah sini tidak aman." Kalimat itu diucapkannya tanpa bermaksud memaksa. Dia hanya menyampaikan apa yang baru saja mereka alami beberapa menit lalu. Renata ikut menoleh ke arah jalan yang mulai gelap. Suasana yang tadinya biasa saja terasa berbeda. Bayangan wajah pria mabuk yang tadi mencengkeram tangannya kembali terlintas di benaknya. Bagaimana jika pria itu kembali? Pikiran itu membuat bulu kud
Renata menoleh ke arah pria bertubuh tinggi yang baru saja turun dari mobil hitam itu. Sorot matanya tajam, wajahnya tetap datar tanpa menunjukkan kepanikan sedikit pun. Dia berdiri tegak dengan kedua tangan di samping tubuh, tetapi auranya memancarkan wibawa yang sulit diabaikan.Pria mabuk yang masih mencengkeram pergelangan tangan Renata mendengus kesal. Dia menoleh dengan tatapan penuh tantangan. "Siapa kamu? Jangan ikut campur urusanku!" Pria itu melangkah maju setengah langkah, berusaha menunjukkan keberaniannya meski tubuhnya sedikit oleng karena pengaruh alkohol. Sementara itu, Renata masih berusaha melepaskan diri. Pergelangan tangannya mulai terasa sakit akibat cengkeraman yang terlalu kuat. Napasnya memburu, sementara air mata terus membasahi pipinya. Pria berjas hitam itu tidak bergeming sedikit pun. Tatapannya justru beralih pada tangan yang masih mencengkeram Renata, lalu kembali menatap wajah pria mabuk tersebut. Ekspresi pria itu tetap tenang. Namun, ketenangan itula
Malam semakin larut. Jarum jam perlahan mendekati pukul sepuluh ketika ketiga pria yang membuat Renata gelisah itu akhirnya berdiri dari kursi mereka. Setelah membayar tagihan, mereka melangkah keluar sambil sesekali masih melirik ke arah dalam kafe. Baru setelah pintu kaca tertutup rapat di belakang mereka, Renata mengembuskan napas lega. Ketegangan yang beberapa waktu lalu dia tahan perlahan menghilang, meski rasa waspada masih tersisa. Tak lama kemudian, jarum jam menunjukkan pukul setengah sebelas. Lampu di sebagian area pelanggan mulai dipadamkan sebagai tanda Lumière Café telah resmi tutup. Seperti biasa, seluruh karyawan saling berbagi tugas. Renata mengangkat gelas-gelas kotor ke dapur, merapikan kursi dan meja, lalu mengepel lantai hingga mengilap. Setelah memastikan semua pekerjaannya selesai, dia masuk ke ruang ganti untuk melepas seragam kerja dan mengenakan kembali pakaian yang dipakainya saat datang. Saat keluar dari ruang ganti sambil menyampirkan tas di bahu, Sisk
Renata menatap pantulan wajahnya di kaca halte.Matanya sembap akibat terlalu banyak menangis. Dia menepuk-nepuk pipinya pelan, berusaha menyamarkan bekas air mata. "Jangan kelihatan kalau habis nangis," gumam gadis itu lirih. Renata tidak ingin rekan-rekan kerjanya bertanya. Menjelaskan bahwa dirinya baru saja diusir dari rumah sendiri hanya akan membuat dadanya kembali sesak. Setelah menarik napas panjang, gadis itu memesan ojek online. Tak lama kemudian, sebuah motor berhenti di depan halte. Renata duduk di jok belakang sambil memeluk koper kecilnya erat-erat. Sepanjang perjalanan, gadis itu hanya menatap jalanan yang mulai ramai. Deretan pertokoan, lampu lalu lintas, dan orang-orang yang berlalu-lalang seolah tak mampu mengalihkan pikirannya dari kejadian beberapa menit lalu. Bayangan wajah mendiang kedua orang tuanya silih berganti memenuhi benaknya. Dulu mereka berpesan agar Renata menjaga rumah itu, tetapi justru dirinya yang diusir tanpa memiliki kuasa untuk mempertahankan.
Rahang Arman mengeras. Dia melangkah mendekat hingga hanya berjarak beberapa langkah dari Renata. "Selama kami yang merawat rumah ini, kami yang berhak menentukan siapa yang tinggal di sini!" tegas Arman. Kalimat itu menggema di telinga Renata. Mereka bukan hanya merampas rumah peninggalan kedua orang tuanya. Mereka juga berusaha merampas haknya untuk merasa memiliki satu-satunya tempat yang menyimpan seluruh kenangan tentang keluarga yang telah tiada. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengusir pemilik rumah dari rumahnya sendiri? Pertanyaan itu terus berputar di kepala Renata. Dadanya terasa sesak, seolah udara di rumah yang sudah menjadi tempatnya bertumbuh tiba-tiba tak lagi menyisakan ruang untuk bernapas.Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Renata. Dia menatap Arman dengan tatapan penuh luka. "Paman pernah bilang hanya akan menjaga rumah ini sampai aku lulus kuliah." Kalimat itu meluncur pelan.Renata masih mengingat jelas janji yang diucapkan pamannya beberapa hari setelah pem
"Keluar dari rumah ini sekarang juga!" Suara Arman menggema memenuhi ruang tamu. Renata yang baru saja pulang dari kampus membeku di ambang pintu. Di tangannya masih tergenggam map biru berisi revisi skripsi yang harus dikumpulkan minggu depan. Dia menatap pamannya dengan bingung. "Paman, ada apa?" tanya Renata. Arman menghempaskan sebuah dompet kulit ke atas meja ruang tamu. Benturannya begitu keras hingga beberapa lembar uang receh, kartu ATM, dan kertas-kertas kecil di dalamnya berhamburan ke segala arah. Wajah pria paruh baya itu memerah, sementara sorot matanya penuh amarah. "Jangan pura-pura tidak tahu! Uang lima juta milik Paman hilang." Renata yang baru saja pulang dari kampus terpaku di tempatnya. Tas ransel yang masih menggantung di bahunya terasa semakin berat. Tatapannya bergantian menatap dompet di atas meja dan wajah pamannya yang penuh tuduhan. Perlahan, dia menggeleng. Bibirnya bergetar, tetapi suaranya tetap berusaha terdengar tenang. "Aku tidak mengambi







