مشاركة

Istri Rahasia Tuan Dirga
Istri Rahasia Tuan Dirga
مؤلف: Tiyar Sri Widanti

Bab 1

last update تاريخ النشر: 2026-07-11 15:50:56

"Keluar dari rumah ini sekarang juga!"

Suara Arman menggema memenuhi ruang tamu. Renata yang baru saja pulang dari kampus membeku di ambang pintu. Di tangannya masih tergenggam map biru berisi revisi skripsi yang harus dikumpulkan minggu depan. Dia menatap pamannya dengan bingung.

"Paman, ada apa?" tanya Renata.

Arman menghempaskan sebuah dompet kulit ke atas meja ruang tamu. Benturannya begitu keras hingga beberapa lembar uang receh, kartu ATM, dan kertas-kertas kecil di dalamnya berhamburan ke segala arah. Wajah pria paruh baya itu memerah, sementara sorot matanya penuh amarah.

"Jangan pura-pura tidak tahu! Uang lima juta milik Paman hilang."

Renata yang baru saja pulang dari kampus terpaku di tempatnya. Tas ransel yang masih menggantung di bahunya terasa semakin berat. Tatapannya bergantian menatap dompet di atas meja dan wajah pamannya yang penuh tuduhan.

Perlahan, dia menggeleng. Bibirnya bergetar, tetapi suaranya tetap berusaha terdengar tenang.

"Aku tidak mengambilnya," ujar Renata.

"Bohong!" sahut Yuni, bibinya, sambil menyilangkan kedua tangan di dada. Tatapannya dipenuhi cibiran seolah sudah yakin siapa pelakunya. "Sejak pagi hanya kamu yang ada di rumah."

Ucapan itu membuat dada Renata sesak. Tuduhan itu datang begitu saja tanpa sedikit pun memberi kesempatan padanya untuk menjelaskan.

"Aku berangkat ke kampus jam delapan, Bi. Setelah itu bimbingan sampai siang. Kalau memang tidak percaya, Paman bisa tanya dosen pembimbingku," sahut Renata.

Yuni mendengus sinis. Dia melirik Arman seakan meminta suaminya segera memberi pelajaran kepada gadis itu.

Renata mengepalkan jemarinya di balik tas yang masih digenggam. Dia menarik napas panjang, menahan gejolak emosi yang mulai memenuhi dada. Sejak orang tuanya meninggal, tuduhan seperti itu bukan pertama dia terima. Namun, saat itu terasa jauh lebih menyakitkan.

Belum sempat suasana mereda, Arman menghantam meja dengan telapak tangannya hingga membuat semua orang terkejut.

"Sudah cukup!" bentak Arman. "Kami sudah terlalu sabar menghadapi kamu."

Suasana rumah mendadak sunyi. Hanya terdengar napas berat Arman yang masih dipenuhi amarah, sementara Renata berdiri mematung, menatap kedua orang yang selalu mengaku sebagai keluarganya, tetapi tak pernah benar-benar memberinya kepercayaan.

Renata menatap pria yang sejak lima tahun terakhir menjadi walinya itu dengan perasaan campur aduk.

Sejak ayah dan ibunya meninggal dalam kecelakaan, Arman dan Yuni memang tinggal di rumah itu. Mereka selalu berkata bahwa mereka hanya "menjaga rumah" sampai Renata dewasa.

Kala itu Renata masih tujuh belas tahun. Dia percaya sepenuhnya. Seluruh sertifikat rumah, dokumen tanah, bahkan tabungan peninggalan kedua orang tuanya diurus oleh pamannya dengan alasan dia masih di bawah umur. Namun, tahun demi tahun berlalu. Yang berubah bukan hanya sikap mereka.

Rumah yang dulu dipenuhi foto ayah dan ibunya semakin lama hampir tak menyisakan kenangan. Semua perabot diganti tanpa pernah meminta persetujuannya. Kamar utama yang dulu ditempati kedua orang tuanya kemudian menjadi kamar Arman dan Yuni. Sedangkan Renata dipindahkan ke kamar kecil bekas gudang.

"Aku hanya menjaga rumah ini, Renata," kata pamannya setiap kali dia bertanya.

Namun, semakin dewasa, Renata mulai menyadari sesuatu. Rumah itu bukan lagi dijaga, tetapi telah dikuasai. Bahkan, setiap sudut membuatnya merasa seperti tamu.

"Kami sudah capek membiayai hidupmu!" bentak Yuni.

Wajah wanita itu memerah. Telunjuknya mengarah tepat ke dada Renata seolah gadis itu adalah beban terbesar dalam hidupnya.

Renata justru tertawa lirih. Tawa yang terdengar getir, lebih mirip luapan rasa kecewa daripada sebuah hiburan.

"Membiayaiku?" Renata mengulang kata itu pelan.

Mata gadis itu mulai memanas, menahan air mata yang mengancam jatuh. Dadanya naik turun menahan emosi yang siap meledak kapan saja.

"Sejak semester dua aku bekerja sebagai barista. Uang kuliah dari beasiswa. Gajiku setiap bulan juga Bibi yang minta untuk biaya listrik dan belanja."

Ruangan seketika hening. Tak ada satu pun dari ucapan Renata yang bisa dibantah. Semua itu adalah kenyataan yang mereka sama-sama tahu. Namun, Yuni tidak mau kehilangan muka. Dia mendengus kasar sebelum kembali meninggikan suara.

"Itu balas budi! Kami sudah mengurusmu bertahun-tahun," ujar Yuni.

Kalimat itu menghantam dada Renata lebih keras daripada bentakan sebelumnya. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat.

Balas budi. Kata itu merupakan kata yang selalu mereka gunakan setiap kali ingin membungkamnya. Setiap kali Renata ingin mempertanyakan sesuatu atau menolak diperlakukan semena-mena.

Padahal, kenyataannya jauh berbeda. Rumah yang mereka tempati bukanlah milik Arman ataupun Yuni. Rumah itu adalah peninggalan ayah dan ibu Renata Tempat yang dulu dipenuhi tawa, tetapi berubah menjadi tempat yang membuatnya merasa asing. Bahkan, pajak rumah itu dibayar menggunakan tabungan yang ditinggalkan kedua orang tuanya untuk masa depan Renata.

Renata menatap Arman dengan sorot mata yang mulai dipenuhi keberanian. Untuk pertama kali, dia tak ingin lagi membiarkan dirinya terus diperlakukan tidak adil di rumah itu. Dadanya naik turun menahan emosi yang sudah lama dipendam rapat.

"Paman." Suara Renata bergetar, bukan karena takut, melainkan karena luka yang terlalu lama dipendam sendirian.

"Rumah ini rumah Papa dan Mama." Tatapan gadis itu beralih kepada Yuni. "Papa juga meninggalkan tabungan untuk masa depanku. Tapi, uang itu habis dipakai membiayai anak Paman dan Bibi. Aku tidak pernah mempermasalahkannya karena menganggap kita keluarga."

Renata mengembuskan napas pelan. Senyum pahit terukir di bibirnya.

"Aku bekerja sejak kuliah supaya tidak merepotkan siapa pun. Aku tidak pernah menuntut uang itu kembali."

Mata gadis itumulai berkaca-kaca. "Tapi, sekarang... aku malah dituduh mencuri di rumah yang seharusnya menjadi milikku sendiri."

Arman hanya mendengus sinis, sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.

"Jangan mulai lagi!" bentak Arman.

Renata menggeleng pelan. Senyum kecewa terukir di bibir pucatnya.

"Aku hanya mengatakan kenyataannya," kata gadis itu tegas.

Namun, bagi Arman dan Yuni, kebenaran yang diucapkan Renata justru terasa seperti ancaman yang sewaktu-waktu bisa menggugurkan semua yang telah mereka kuasai.

Arman hanya mendengus sinis. Bibirnya menyunggingkan senyum meremehkan seolah ucapan Renata hanyalah omong kosong.

"Ini memang rumah orang tuaku!"

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Istri Rahasia Tuan Dirga   Bab 61 Ingatan yang Kembali

    Dirga masih menggenggam tangan Renata ketika mereka berjalan meninggalkan area kafe. Langkah pria itu tidak terburu-buru, seolah ingin memastikan istrinya benar-benar merasa tenang setelah kejadian yang baru saja mereka alami.Sementara itu, Renata sesekali melirik wajah suaminya. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, tetapi entah mengapa, ia justru merasa malu untuk memulainya. Terlebih setelah mendengar pengakuan Dirga bahwa pria itu datang karena merindukannya.Sebuah alasan sederhana yang berhasil membuat hatinya berdebar lebih cepat."Mas Dirga.""Hm?"Dirga menoleh. Tatapannya langsung tertuju kepada Renata yang berjalan di sampingnya. Ia memperlambat langkah ketika menyadari istrinya seperti sedang memikirkan sesuatu."Kamu kenapa tiba-tiba datang?"Pertanyaan itu sebenarnya sudah muncul sejak Dirga pertama kali memasuki kafe. Renata tidak menyangka suaminya akan datang tanpa pemberitahuan, apalagi ketika ia masih sibuk menyelesaikan pekerjaannya.Dirga menatapnya sejenak sebe

  • Istri Rahasia Tuan Dirga   Bab 60 Perlindungan Dirga

    Renata menahan napas. Entah kenapa, satu kata itu membuat dadanya menghangat.Suaminya.Dirga mengucapkannya tanpa keraguan, tanpa perlu menjelaskan panjang lebar. Seolah status itu adalah sesuatu yang memang ingin dia tegaskan kepada siapa pun. Padahal, hubungan mereka selama ini masih menyimpan banyak hal yang belum sepenuhnya dipahami Renata.Pernikahan mereka bermula dari keadaan yang tidak sederhana. Ada alasan, kesepakatan, dan keputusan yang awalnya terasa lebih masuk akal daripada romantis. Namun, belakangan ini, Dirga semakin sering melakukan hal-hal kecil yang membuat Renata lupa bahwa pernikahan mereka tidak dimulai dari kisah cinta seperti kebanyakan pasangan. Kedatangan Dirga hari itu adalah salah satunya.Dirga menatap pria tersebut tanpa senyum. Dia tidak perlu melirik Renata untuk mengetahui bahwa istrinya berdiri tepat di belakangnya."Saya dengar dari istri saya bahwa Anda beberapa kali mengganggunya."Pria itu tertawa kecil. Tawanya terdengar dipaksakan, seolah dia

  • Istri Rahasia Tuan Dirga   Bab 59 Dejavu

    Pagi itu, Renata kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa. Setelah beberapa hari terakhir dipenuhi kejutan—mulai dari pernikahannya yang akhirnya diketahui Celina hingga pertemuan dengan keluarga Dirga—Renata justru merasa membutuhkan sesuatu yang sederhana. Bekerja.Bekerja di kafe selalu membuat pikirannya lebih tenang. Di sana, dia bisa menjadi Renata yang biasa. Bukan istri seorang pengusaha kaya. Bukan bagian dari keluarga Mahardika. Hanya Renata. Seorang wanita yang sedang berusaha menyelesaikan kuliah dan membangun kehidupannya sendiri.Pagi itu, Renata mengenakan seragam Lumière Café lalu mengikat rambutnya dengan rapi."Renata, meja lima pesanannya sudah siap," panggil salah satu rekannya."Iya."Renata mengambil nampan dan berjalan menuju meja pelanggan.Beberapa jam berlalu dengan tenang. Sampai seorang pria datang sendirian. Usianya mungkin sekitar tiga puluh tahun. Dia duduk di salah satu meja dekat kasir, lalu beberapa kali memanggil Renata meskipun sebenarnya pelaya

  • Istri Rahasia Tuan Dirga   Bab 58 Genggaman Tangan

    Malam semakin larut. Setelah berbincang sebentar dengan Renata dan Dirga, Bi Sari akhirnya berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Dia masih sempat mengingatkan mereka agar tidak tidur terlalu malam sebelum menutup percakapan dengan senyum ramah. Renata membalas senyum itu sebelum berjalan menuju kamar bersama Dirga. Begitu memasuki kamar, suasana yang lebih tenang menyambut mereka. Lampu tidur memancarkan cahaya hangat, sementara udara sejuk dari pendingin ruangan membuat Renata merasa nyaman setelah menjalani hari yang cukup panjang. Dirga meletakkan ponselnya di atas nakas, kemudian berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian tidur. Sementara itu, Renata duduk di depan meja rias dan mulai melepas anting-anting yang dikenakannya sejak sore. Dia meletakkan perhiasan itu ke dalam kotak kecil, lalu memperhatikan pantulan wajahnya di cermin. Malam itu benar-benar berbeda dari yang dibayangkannya. Dia datang ke rumah utama dengan perasaan gugup, tetapi pulang dengan membawa begitu

  • Istri Rahasia Tuan Dirga   Bab 57 Pulang ke Rumah

    Begitu tiba di rumah, Renata dan Dirga mendapati Bi Sari sudah menunggu di ruang tengah. Wanita paruh baya itu duduk di sofa sambil menonton televisi dengan volume kecil. Namun, begitu mendengar suara pintu terbuka, dia segera menoleh. Wajahnya langsung menunjukkan rasa ingin tahu ketika melihat keduanya masuk bersama. “Sudah pulang?” “Iya, Bi,” jawab Renata. Renata melepaskan sepatunya, lalu berjalan masuk ke ruang tengah. Dirga menyusul di belakangnya sambil melonggarkan kerah kemeja yang sejak tadi terasa sedikit menyesakkan. Makan malam bersama keluarga besarnya memang berjalan cukup lancar, tetapi ada banyak hal yang masih berputar di kepala Renata. Bi Sari memperhatikan ekspresi mereka bergantian. Dia sudah cukup lama bekerja di rumah itu sehingga bisa mengenali perubahan kecil pada wajah majikannya maupun Renata. “Bagaimana makan malamnya?” tanya Bi Sari. Renata duduk di sofa sambil tersenyum kecil. “Ramai.” “Ramai bagaimana, Nyonya? Banyak orang?” “Iya. Keluar

  • Istri Rahasia Tuan Dirga   Bab 56 Tidak Sendirian

    Setelah makan malam, perjalanan pulang terasa lebih tenang. Renata duduk di samping Dirga. Lampu-lampu jalan bergerak melewati jendela mobil. Beberapa menit mereka tidak berbicara. “Mas Dirga,” ucap Renata membuka percakapan. Sejak meninggalkan rumah utama keluarga Mahardika, Renata lebih banyak diam di kursi penumpang. Pikirannya masih dipenuhi kejadian malam itu, terutama saat mengetahui bahwa Celina, sahabat yang selama ini menjadi tempatnya berbagi cerita, ternyata merupakan keponakan suaminya sendiri. Rasanya masih sulit dipercaya. Selama ini, Renata dan Celina begitu dekat, tetapi ada satu hal besar tentang Dirga di keluarganya yang sama sekali tidak pernah diketahuinya. “Hm?” Dirga menyahut tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. Renata menoleh ke arahnya. Pria itu tampak tenang seperti biasa, kedua tangannya sesekali bergerak mengikuti arah kemudi. Berbeda dengannya yang sejak tadi memikirkan berbagai kemungkinan, Dirga seolah tidak terlalu mengkhawatirkan kejadian ma

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status