Share

87. Mandi bareng

Penulis: Djulitas
last update Tanggal publikasi: 2026-06-30 14:04:28

Perlahan Belvara berbalik badan sambil menahan nafas, apa yang harus ia katakan jika Sanjaya menanyakan perihal apartemen ini lagi?

Ia menghela nafas lega, tepat saat matanya menemukan Hagan berada di hadapannya kini. “Pak Hagan! Bikin kaget,” gerutunya. Ia dengan sigap menarik Hagan masuk ke dalam apartemen.

Tidak ada protes dari Hagan, kendati kedua alisnya menukik kebingungan dengan sikap Belvara saat ini.

Pintu itu segera Belvara tutup setelah mereka berdua masuk.

“Kenapa? Kamu seperti meny
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   120. Persembunyiannya terungkap

    Malam itu Belvara habiskan untuk menuntun Ibra kembali dalam jiwa yang seharusnya, menginginkan perempuan, dan melepas penyimpangannya. Meski yang mereka lakukan salah, namun setidaknya ia sudah membuat seorang laki-laki kembali pada kodratnya.Ibra memeluk tubuh Belvara dari belakang, setelah melakukan pelepasan untuk pertama kalinya dibantu oleh perempuan.“Jangan pernah kembali sama Pak Hagan terus ah begini sama Saya, Belvara. Saya akan beikan semuanya untukmu, hidup dan matiku hanya untukmu,” ucap Ibra tulus dan jujur. Dengan wajah menelusup di ceruk leher Belvara.***Langit masih gelap, namun kehidupan di desa itu sudah berlangsung sejak ayam berkokok pertama kali sebagai tanda untuk segera memulai aktivitasnya. Ibra sudah menyalakan mobil untuk segera bersiap berangkat bekerja, jarak tempuh yang lumayan jauh membuatnya harus berangkat lebih awal dari biasanya.“Hati-hati, Mas,” ucap Belvara matanya terus menatap Ibra yang sudah duduk di kursi kemudi.Belum pun sempat ia mengin

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   119. Percobaan

    Belvara menggeser tubuhnya perlahan, seolah memberikan Ibra ruang untuk duduk di sana. “Maaf, ya, Mas. kalau gak mau gak apa-apa, kok, gak usah,” ucapannya, namun sorot mata yang diberikannya seakan meminta keharusan.Tangan Ibra terulur mengelus perut buncit Belvara, lalu membentangkan senyum padanya. “Adek, kita bobo, Ayah elus-elus Kamu nanti.”“Mas Ibra!” belvara tak percaya pada apa yang baru saja Ibra katakan.“Kenapa Belvara? Dia akan Saya anggap sebagai anak sendiri, jadi bukan masalah jika Saya menyebut Ayah untuknya.”Entah efek hormon hamil atau memang ia cengeng, tanpa sadar ia meneteskan air mata karena haru. Kenapa orang lain yang begitu peduli pada kehamilanya?Ibra merebahkan tubuhnya lebih dulu. “Ayo Belvara kita tidur, sini biar Aku elus-elus perutnya.”Setelah merapikan bantalnya untuk ia tiduri, ia pun merebahkan tubuh dengan membelakangi Ibra, agar lebih mudah pria itu mengelus-elus perut buncitnya.Kehangat menjalar dari perasaannya, hingga keseluruh tubuh, bukan

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   118. ngidam

    Belvara duduk di bangku teras, menyandarkan bahunya sambil mengelus perut yang kini sudah jelas membuncit. Dari kejauhan terlihat cahaya lampu berjalan semakin dekat, sorot cahaya dari lampu mobil yang Ibra kemudikan jatuh terang di wajahnya. Ia tersenyum hangat kala mobil itu terparkir rapi di halaman rumahnya.“Mas Ibra,” sapanya lembut, ia berdiri perlahan sambil memegangi perut bawahnya.Ibra melangkah lebih cepat ke arah Belvara, membantu perempuan itu berjalan, dengan merangkul lembut bahunya. “Kamu kenapa masih di luar? Ini sudah malam.”“Aku nunggu kamu, Mas,” jawab Belvara spontan.“Kan Bisa di daam, angin malam disini dingin banget, Belvara, jauh berbeda dengan di kota.”Belvara menoleh pada pria yang berjalan beriringan dengannya, merangkul bahunya, hingga tak menyisakan jarak sedikitpun diantara mereka. Rangkulan Ibra tak ia lepas, hingga mereka berdua masuk ke dalam kamar Belvara, perempuan itu sedikit mengernyit heran. “Loh, kok ke kamarku? Aku mau buatin dulu Mas Ibra

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   117. terbelenggu rindu

    Enam bulan berlalu, selama itu juga Hagan terus mencari Belvara, namun selalu dengan hasil yang sama. Nihil. Tak sedikitpun informasi di dapatnya.Hagan duduk di kursi kerjanya, dengan wajah yang ditutup dengan telapak tangannya, seolah sedang menutupi frustasinya.Pintu ruang kerjanya terbuka lebar, Ibra masuk dan menundukan kepala sebagai tanda hormat.Mata Hagan menyorotinya cukup tajam meski raut wajahnya datar tak menampilkan ekspresi apapun. “Saya tanya sekali lagi, benar Kamu tidak tahu Belvara dimana?” Dengan pandangan menunduk dan tangan bertaut di depan tubuhnya, Ibra menjawab, “Benar, Pak. Belvara hanya menyebut ia akan berkunjung ke makam orang tuanya, dan mencari tempat tinggal tidak jauh dari sana.”Berulang kali Hagan bertanya, jawab Ibra tetap sama. Sefrustasi apapun atasannya ia tak peduli, Ibra tetap bungkam dengan kebenaran yang dirinya sendiri dalang di balik frustasi Hagan.“Sudah setengah tahun dia pergi, benar-benar tanpa jejak! Bahkan Saya sudah kerahkan orang

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   116. periksa kandungan

    Belvara menepuk lengan atas Ibra pelan. “Jangan begitu,” ujarnya pelan.“Bagaimana kalau besok kita ke dokter, periksa kandungan, Mba.” ajak Ibra, mengalihkan topik pembicaraannya, yang terasa menjadi kikuk.“Mas Ibra, jangan panggil lagi Aku Mba,” tegur Belvara, dengan intonasi pelan.Membuat Ibra terus mengulum senyum dan menatap Belvara lekat, seolah tak ada yang lebih indah dari wajah sumringah Belvara saat ini.“Ah, itu kebiasaan.” Ibra menoleh pada Belvara sekilas. “Jadi mau besok kita ke dokter?” Ia meyakinkan Belvara.Belvara diam seolah sedang menimbang sesuatu. Ia sendiri pun tidak yakin dengan usia kandungannya saat ini, sejak awal kehamilannya tidak pernah ia periksakan. Terlampau cmas saat itu, antara menggugurkannya atau mempertahankan.Ia tidak ingin menanggung karmanya, membuatnya lebih memilih mempertahankan kandungannya dan pergi dari Hagan, tak peduli jika Ayah si jabang bayi tak bisa jauh darinya apa lagi melepasnya, namun Hagan sendiri yang membuat Belvara yakin

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   115. Rumah baru

    Belvara menatap nanar Ibra, penuh pertanyaan tersirat. Kenapa harus sampai sejuh itu? “Tenang, Mba. ini hanya formalitas, walaupun disini tertulis Saya sebagai suami, Saya tidak akan meminta hak seorang suami sama, Mba, Ko.” ibra mengulas senyum, nampak terlihat cekungan di pipinya.Kendati begitu, tidak ada pilihan lain baginya, perasaannya memberikan sinyal bahwa apa yang Ibra lakukan adalah murni ketulusan, tidak ada niat apapun dari pria itu, selain berniat memisahkannya dengan Hagan.“Besok Saya antar, Mba pindah ke rumah di pinggiran kota sana.”Belvara menganggukkan kepala. “baik , Mas Ibra.”Belvara hanya berharap, semoga dikehidupannya saat ini, tidak kembali ia temui kemalangan.***Perjalanan menuju rumah yang Ibra tunjukan melewati perbukitan dan hamparan sawah hijau, Belvara terbelalak menatapnya. Sudah sangat lama ia tak melihat pemandangan asri seperti itu.“Mas, ini kayak desa?”Ibra yang sedang menyetir menyunggingkan bibir. “Iya, apa keberatan jika tinggal di desa?

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 3 Tawaran pekerjaan

    Kedua alis Belvara bertaut, saat melihat pria yang menarik bahunya baru saja. 'Siapa pria ini?' pria itu tidak kalah tampan dari Hagan, namun yang ini terlihat lebih muda. "Siapa, ya?" tanya Belvara. "Saya asisten Pak Hagan." Pria itu memperkenalkan diri. dan mengulurkan paper bag pada Belvara. "Si

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 2 Hutang budi

    Ketika sang donatur secara langsung memberikan santunan itu, mata mereka beradu sepersekian detik di sana, nafas Belvara seolah tercekat, seakan lupa bagaimana caranya bernafas ketika berhadapan langsung dengan Hagan, ia terlalu fokus memandang pahatan visual yang Hagan miliki. Bola mata kecoklatan

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 1 Pandangan Pertama

    Belvara memijat pelipisnya pelan, menatap pada buku catatan hutang yang harus segera ia lunasi secepatnya. 'Gimana cara lunasinnya ini?' Ia menghela nafas, berharap hembusan nafasnya sedikit melegakan dadanya yang terasa sesak karena himpitan keadaan. Jika perempuan lain seusia Belvara sedang meni

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 17

    Belvara yang semula mengelus pelan rambut Ayas sontak terdiam. Jemarinya berhenti tepat di atas kepala anak itu. Sorot matanya sedikit goyah, seperti ada sesuatu yang menekan dadanya.“Ayas…” suara Belvara terdengar lirih.Anak kecil itu menggeser tubuhnya mendekat, memeluk Belvara dengan kedua tan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status