Share

88. Mas Hagan?

Author: Djulitas
last update publish date: 2026-07-01 09:05:44

Belvara berdiri menghadap dinding kaca yang menampilkan city light Ibu kota, pantulan cahayanya bak sama seperti taburan bintang dilangit malam ini. Belvara sedikit terperanjat, ketika tangan kekar melingkar di pinggangnya begitu saja. Sebuah pelukan yang syarat akan melepas lelah sang tuan yang kerap terhimpit masalah.

“Pak.”

Hagan tak bergeming, ketika pemilik tubuh yang di dekapnya memanggil, ia menghirup aroma tubuh Belvara di ceruk lehernya. Hingga perempuan itu kembali memanggil sedikit k
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   121. Akhir kisah tragis

    Belvara mendorong sekuat tenaga pria bertubuh kekar itu. Namun jabang bayi didalam perutnya seolah ikut berontak, membuat kedua tangannya mencengkram perut bulatnya, dan ia meringis nyeri. “A… aww….” Hagan mengamati raut wajah Belvara. “Kenapa, Sayang? Apa anak kita sudah waktunya lahir?” tanyanya. Sedikitpun tidak terlihat kepanikan di raut wajahnya, ia menyeringai. “Tenang.” Hagan mengelus pipi Belvara yang basah karena air mata. “Kalau Kamu tenang, anak kita tidak akan bereaksi yang bisa menyakiti Ibunya.” Belvara memukul bahu Hagan sekuat tenaganya, meski tak menimbulkan reaksi apapun pada pria itu. “Ini bukan anakmu, Mas. Ini anak Aku dan Mas Ibra.” Hagan terkekeh, dan mencengkeram leher Belvara dengan sebelah tangannya, emosinya memuncak kala mendengar pengakuan dusta Belvara. “jangan bohong! Sebelum Kamu meninggalkan Saya, kamu mengeluh sakit dan mual-mual, Saya sudah curiga kalau itu pertanda Kamu hamil.” “Mas, kamu ingat apa yang pernah kamu ucapkan? Kamu ngelarang A

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   120. Persembunyiannya terungkap

    Malam itu Belvara habiskan untuk menuntun Ibra kembali dalam jiwa yang seharusnya, menginginkan perempuan, dan melepas penyimpangannya. Meski yang mereka lakukan salah, namun setidaknya ia sudah membuat seorang laki-laki kembali pada kodratnya.Ibra memeluk tubuh Belvara dari belakang, setelah melakukan pelepasan untuk pertama kalinya dibantu oleh perempuan.“Jangan pernah kembali sama Pak Hagan terus ah begini sama Saya, Belvara. Saya akan beikan semuanya untukmu, hidup dan matiku hanya untukmu,” ucap Ibra tulus dan jujur. Dengan wajah menelusup di ceruk leher Belvara.***Langit masih gelap, namun kehidupan di desa itu sudah berlangsung sejak ayam berkokok pertama kali sebagai tanda untuk segera memulai aktivitasnya. Ibra sudah menyalakan mobil untuk segera bersiap berangkat bekerja, jarak tempuh yang lumayan jauh membuatnya harus berangkat lebih awal dari biasanya.“Hati-hati, Mas,” ucap Belvara matanya terus menatap Ibra yang sudah duduk di kursi kemudi.Belum pun sempat ia mengin

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   119. Percobaan

    Belvara menggeser tubuhnya perlahan, seolah memberikan Ibra ruang untuk duduk di sana. “Maaf, ya, Mas. kalau gak mau gak apa-apa, kok, gak usah,” ucapannya, namun sorot mata yang diberikannya seakan meminta keharusan.Tangan Ibra terulur mengelus perut buncit Belvara, lalu membentangkan senyum padanya. “Adek, kita bobo, Ayah elus-elus Kamu nanti.”“Mas Ibra!” belvara tak percaya pada apa yang baru saja Ibra katakan.“Kenapa Belvara? Dia akan Saya anggap sebagai anak sendiri, jadi bukan masalah jika Saya menyebut Ayah untuknya.”Entah efek hormon hamil atau memang ia cengeng, tanpa sadar ia meneteskan air mata karena haru. Kenapa orang lain yang begitu peduli pada kehamilanya?Ibra merebahkan tubuhnya lebih dulu. “Ayo Belvara kita tidur, sini biar Aku elus-elus perutnya.”Setelah merapikan bantalnya untuk ia tiduri, ia pun merebahkan tubuh dengan membelakangi Ibra, agar lebih mudah pria itu mengelus-elus perut buncitnya.Kehangat menjalar dari perasaannya, hingga keseluruh tubuh, bukan

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   118. ngidam

    Belvara duduk di bangku teras, menyandarkan bahunya sambil mengelus perut yang kini sudah jelas membuncit. Dari kejauhan terlihat cahaya lampu berjalan semakin dekat, sorot cahaya dari lampu mobil yang Ibra kemudikan jatuh terang di wajahnya. Ia tersenyum hangat kala mobil itu terparkir rapi di halaman rumahnya.“Mas Ibra,” sapanya lembut, ia berdiri perlahan sambil memegangi perut bawahnya.Ibra melangkah lebih cepat ke arah Belvara, membantu perempuan itu berjalan, dengan merangkul lembut bahunya. “Kamu kenapa masih di luar? Ini sudah malam.”“Aku nunggu kamu, Mas,” jawab Belvara spontan.“Kan Bisa di daam, angin malam disini dingin banget, Belvara, jauh berbeda dengan di kota.”Belvara menoleh pada pria yang berjalan beriringan dengannya, merangkul bahunya, hingga tak menyisakan jarak sedikitpun diantara mereka. Rangkulan Ibra tak ia lepas, hingga mereka berdua masuk ke dalam kamar Belvara, perempuan itu sedikit mengernyit heran. “Loh, kok ke kamarku? Aku mau buatin dulu Mas Ibra

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   117. terbelenggu rindu

    Enam bulan berlalu, selama itu juga Hagan terus mencari Belvara, namun selalu dengan hasil yang sama. Nihil. Tak sedikitpun informasi di dapatnya.Hagan duduk di kursi kerjanya, dengan wajah yang ditutup dengan telapak tangannya, seolah sedang menutupi frustasinya.Pintu ruang kerjanya terbuka lebar, Ibra masuk dan menundukan kepala sebagai tanda hormat.Mata Hagan menyorotinya cukup tajam meski raut wajahnya datar tak menampilkan ekspresi apapun. “Saya tanya sekali lagi, benar Kamu tidak tahu Belvara dimana?” Dengan pandangan menunduk dan tangan bertaut di depan tubuhnya, Ibra menjawab, “Benar, Pak. Belvara hanya menyebut ia akan berkunjung ke makam orang tuanya, dan mencari tempat tinggal tidak jauh dari sana.”Berulang kali Hagan bertanya, jawab Ibra tetap sama. Sefrustasi apapun atasannya ia tak peduli, Ibra tetap bungkam dengan kebenaran yang dirinya sendiri dalang di balik frustasi Hagan.“Sudah setengah tahun dia pergi, benar-benar tanpa jejak! Bahkan Saya sudah kerahkan orang

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   116. periksa kandungan

    Belvara menepuk lengan atas Ibra pelan. “Jangan begitu,” ujarnya pelan.“Bagaimana kalau besok kita ke dokter, periksa kandungan, Mba.” ajak Ibra, mengalihkan topik pembicaraannya, yang terasa menjadi kikuk.“Mas Ibra, jangan panggil lagi Aku Mba,” tegur Belvara, dengan intonasi pelan.Membuat Ibra terus mengulum senyum dan menatap Belvara lekat, seolah tak ada yang lebih indah dari wajah sumringah Belvara saat ini.“Ah, itu kebiasaan.” Ibra menoleh pada Belvara sekilas. “Jadi mau besok kita ke dokter?” Ia meyakinkan Belvara.Belvara diam seolah sedang menimbang sesuatu. Ia sendiri pun tidak yakin dengan usia kandungannya saat ini, sejak awal kehamilannya tidak pernah ia periksakan. Terlampau cmas saat itu, antara menggugurkannya atau mempertahankan.Ia tidak ingin menanggung karmanya, membuatnya lebih memilih mempertahankan kandungannya dan pergi dari Hagan, tak peduli jika Ayah si jabang bayi tak bisa jauh darinya apa lagi melepasnya, namun Hagan sendiri yang membuat Belvara yakin

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 6. keinginan anak dan gengsi Hagan

    “Papa jahat, Papa gak sayang Ayas!” Pekik gadis kecil itu. Hagan nampak frustrasi dengan tingkah putrinya yang kerap tantrum. “Papa tentu sayang sama Kamu, tapi bukan orang seperti itu yang baik buat Kamu jadikan teman.” Hagan memberikan pengertian dengan intonasi cukup tinggi untuk berbicara denga

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 5 Pengauh rasa Ibu

    Anak perempuan itu seolah merasa kesepian, dalam hingar bingar kehidupan mewahnya, segala apapun dapat terpenuhi, namun semua itu seakan percuma, jika ia hanya di beri teman sebuah benda mati yang tidak akan mengerti bagaimana perasaannya. Ayas sulit menemukan pengasuh yang cocok, terkadang pengasu

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 4 Pelayan untuk sang Tuan?

    Hagan hanya menggeleng kepala pelan sebagai tanda jawaban pertanyaan Belvara, ia berpikir sejenak, sudah cukup pelayan di rumah. dan selama ini ia yakini mampu mengurus dirinya sendiri. Belvara menarik nafas, sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kalau untuk di rumah... Bapak bisa menyiapkan keperluan s

  • Istri Rahasia Tuan Hagan   Bab 3 Tawaran pekerjaan

    Kedua alis Belvara bertaut, saat melihat pria yang menarik bahunya baru saja. 'Siapa pria ini?' pria itu tidak kalah tampan dari Hagan, namun yang ini terlihat lebih muda. "Siapa, ya?" tanya Belvara. "Saya asisten Pak Hagan." Pria itu memperkenalkan diri. dan mengulurkan paper bag pada Belvara. "Si

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status