LOGINDua polisi duduk di ruang tamu dengan Hagan di hadapannya, polisi itu memperlihatkan bukti yang sudah menyeret nama baiknya. “Ini video seorang remaja yang mengaku pernah jadi korban Bapak.” polisi itu memutur layar ponselnya ke arah Hagan.Hagan menatap layar ponsel itu dengan tatapan tajam, terlihat rahangnya kaku, cengkeraman tangannya di ponsel semakin kuat.“Ini tidak benar, Pak. bahkn Saya tidak mengenal anak itu.” pekik Hagan dengan intonasi tinggi.”Belvara duduk di kursi belajar kamar Ayas bisa mendengar itu, dan tepat suara tinggi Hagan itu terdengar oleh Ayas yang baru saja keuar dari kamar mandi setelah membersihkan diri. “Papa kenapa itu, Ma?” “Bukan apa-apa, ayo sini pakai bajunya.” Belvara mengusap kepala Ayas yang masih basah dengan handuk lain yang tersampir di bahunya sejak tadi. Suara gaduh kembali terdengar, Ayas hampir saja membuka pintu kamarnya, namun Belvara lebi cepat meraih bahu anak itu, mengajak nya duduk di depan cermin untuk berdandan.“Belum nyisir,
Belvara dengan nafas yang masih tak beraturan, ia membersihkan diri, menggosok miliknya yang sedikit membengkak, permainan Hagan kali ini terlalu tergesa, membuat miliknya sedikit lecet, ia pun meringis saat air mulai mengguyurnya.‘Perih banget, jadi inget waktu main pertama kali di tempat camping, perihnya begini, aw…’ gumam Belvara.Di dalam kamar mandi ia menguping, meski tak terdengar jelas. Sampai kapan Miranti di sana? Ia harus segera kembali ke kamarnya, sebelum Tina bangun dan memberinya pertanyaan tidur dimana berulang kali, semakin sering kerabatnya bertanya seperti itu, tentu akan menimbulkan kecurigaan.Jantung Belvara seolah tak bisa dikoordinasikan, terus berdegup kencang, kedatangan Miranti yang tiba-tiba dan keadaan ia sedang bersama Hagan melakukan hubungan layaknya suami istri. Belvara pun mencari ponselnya, penasaran ingin tahu jam berapa sekarang?Tapi hawar-hawar terdengar Hagan dan Miranti masih berbicara, dan suara Miranti terdengar sedikit tinggi. Apa karena m
Lengan Hagan mencengkeram pinggang Belvara erat, begitu juga Belvara, lengannya ia kalungkan di leher sang suami, dan pria itu seolah tak mampu melepas pagutannya barang sesaat, mereka perlahan mundur menuju kamar mandi, dengan terus saling mencium satu sama lain, bertukar saliva dan saling menyesap.Nafas keduanya tersengal ketika Hagan mengakhiri ciumannya, sesaat mereka saling menatap, kemudian Hagan kembali mengecup bibir Belvara yang tebal dan sangat menggoda untuknya itu. “Tunggu, Saya isi air bathtub-nya dulu, Kamu pilih saja, wangi apa yang kamu sukai.”Belvara mulai melangkah, mendekat pada lemari kecil di pojok kamar mandi, membukanya, dan menampilkan beberapa bath bomb berbagai warna dan wangi. Namun Belvara meraih bath bomb dengan warna putih gading sedikit kecoklatan, mendekatkannya pada indra penciumannya, dan mencoba menghirup aroma itu.“Aku suka wangi yang in.” Belvara mengulurkan tangannya pada Hagan tanpa membalik tubuhnya yang masih menghadap lemari.Hagan tak hany
Malam kian larut, bahkan kini hari sudah berganti, rumor itu membuat Belvara tak bisa menutup mata bahkan untuk sekada beistirahat malam, gusr saat Hagan tak membalas pesannya, juga ia tahu, pria itu belum juga kembali ke kediamannya.‘Gimana ini?’ tanyanya pada diri sendiri, dengan ponsel yang ia genggam kuat-kuat, mondar-mandir di dalam kamar. Dalam sunyinya malam, ia berusaha untuk tetap bisa mendengar dan merasakan apapun yang bisa indra pendengarannya terima, Hanya untuk memastikan, ia bisa mendengar suara kendaaan Hagan atau apapun yang mengangkut Hagan, pia itu kembali kerumahnya dengan selamat.Jam sudah menunjukan pukul satu dini hari, ponselnya berdering memecah kegelisahannya, kakinya yang sejak tadi tak bisa diam pun terhenti, ia pandangi sesaat layar yang menyala, sebelum ia menggeser icon panggilan dan menempelkan ponsel itu di telinganya.“Hallo, ucap lembut Belvara.“Belvara…” suara Hagan terdengar parau.“Iya, Pak.” jawab Belvara “Kamu belum tidur?”“Belum. Bapak se
Hagan menghela nafas, seraya terpejam, kata itu tak sempat ia ucapkan lantang, seolah tercekat di tenggorokan.Belvara memutar tubuhnya cepat, menatap Hagan, “apa lagi yang Bapak sembunyikan dari Aku? Apa sebenarnya Bapak juga yang minta Mas Adnan buat bawa Juna pergi?”“Tidak, Belvara! Saya tidak tahu soal itu,” intonasi Hagan terdengar sangat tegas.Obrolan panas antara Hagan dan Belvara berakhir ketika sebuah telepon mengharuskan Hagan sedikit menjauh darinya, namun samar-samar Belvara bisa mendengar itu.“Kenapa bisa terjadi rumor seperti it?!” suaranya menggelegar, hingga Ayas yang berada sedikit jauh dari Hagan pun menoleh, dengan wajah panik kebingungan, melangkahkan kaki mendekat pada Belvara.Anak itu memeluk pinggang Belvara, dengan terus menatap Hagan. “Tante, Papa kenapa? Papa marah?”Belvara pun melongo dibuatnya, ia tak berani menanyakan begitu saja, setelah ia pun sempat menyimpan kesal padanya. “Tante gak tahu, Sayang. Kita masuk aja, yuk. Bunganya taruh di vas.” ajakn
Hagan menginjak pedal remnya mendadak, seolah ia baru saja terhentak oleh pertanyaan Belvara. Ia pun menarik nafas dalam-dalam.Belvara membelalakan mata, menatap ke arah sang pengemudi. “Bapak kenapa?”Dengan wajah yang pucat pasi, ia menggeleng, tanpa menoleh ke belakang. “Gak apa-apa.”Belvara kembali menegakkan duduknya, dengan mata terus tertuju ke arah Hagan. ‘Kenapa Pak Hagan kayak panik gitu abis Aku tanyain soal topeng?’ muka masam yang terpampang di raut wajah Belvara kali ini.Kecepatan mobil semakin memelan, dan tak lama Hagan memutar kemudi, berbelok ke arah sebuah kedai makan bergaya tionghoa, dengan ukiran aksara tionghoa di tiang gapura sebelum memasuki area kedai itu, aroma bawang putih tumis cukup menyengat terhirup indra penciuman.“Sudah sampai,” Ucap Hagan datar, wajahnya masih terlihat Kaku, namun ia sempat membentangkan senyum ketika ia menatap sang anak.Belvara melepas seatbeltnya juga seatbelt yang menahan tubuh Ayas, mereka turun dari mobil perlahan, dengan
Hagan menarik nafas dan menghembuskannya kasar, menoleh sekilas pada Ibra. “saya tidak kenal Ayah Kamu, untuk apa Saya bicarakan dia?” Hagan kembali merapikan kotak P3K-nya, menyandarkan bahunya di sandaran sofa dengan kedua tangan terlentang bebas.Mata Belvara menyipit, menatap Hagan penuh selidi
Satu tahun kemudanDi dapur yang bergaya eropa, dengan meja berlapis marmer, di terangi cahaya temaram dari sudut-sudut lemari yang menempel di dinding. Malam itu, para pelayan dan koki pilihan Nyonya besar sedang sibuk mempersiapkan hidangan makan malam.Belvara baru saja datang, membawa gelas kot
“Sepertinya Saya sudah kenyang, permisi,” ucap Hagan datar tanpa ekspresi. Ia meraih segelas air putih dan meneguknya hingga tandas, sebelum ia meninggalkan meja makan itu.Dahi Miranti berkerut dalam dengan sedikit memiringkan kepala, sementara Sanja masih tertawa sambil menyuapkan sepotong daging
Hagan mendorong tubuh Belvara, hingga perempuan itu terjerembab di atas ranjang, lingerie yang dikenakannya seakan memancing Hagan untuk berbuat lebih cepat. Tubuh Belvara kini tertindih tubuh Hagan yang bak seperti titan, belvara bisa merasakan nafas pria itu yang membenamkan wajah di lehernya.“







