LOGIN“Tidak. Aku memutuskan untuk tidak menyimpannya.”
“Tidak menyimpannya? Maksudmu, menggugurkannya?!” Hendro tercekat. “Sebenci itukah kamu pada Raditya, Nak?”
Emily kembali menggeleng. “Anak ini bukan wujud dari cinta kasih orang tuanya, Pa. Dia hadir bersama puncak kebencian yang mas Radit lakukan.” Mata Emily yang basah menatap marah pada Hendro. “Aku diperkosa malam itu,” imbuh Emily lirih.
“Hah?? Diperkosa?” Hendro semakin tidak paham.
“Malam itu mas Radit pulang dalam kondisi mabuk. Dia memaksaku melayaninya ketika aku keberatan karena lelah dan mengantuk. Dia pukul aku, mendorongku ke ranjang dan mengikat kedua lengan dan kakiku. Aku benar-benar hancur malam itu.”
Kepala Emily tertunduk, tak kuasa lagi menahan malu dan amarah yang lama disimpannya. Ingatannya kembali pada malam tragis itu.
Sekitar dua bulan lalu, di akhir pekan. Emily menerima sekelompok pasien kecelakaan yang membutuhkan tindakan operasi. Nyaris empat belas jam, Emily dan timnya berkutat di dalam kamar operasi mengerjakan empat pasien kecelakaan yang diantar ke IGD rumah sakitnya.
Dua bus darmawisata yang membawa hampir seratus siswa dan guru pendamping terperosok ke jurang. Emily ingat sekali, hari itu hujan deras dan berangin.
[Dok, tolong ke IGD segera.]
Tanpa banyak bertanya, Emily setengah berlari menuju IGD. Ketika Emily sampai, kondisi IGD sudah penuh dengan tangis dan teriakan, persis seperti potongan film yang membuat Emily ingin menjadi dokter.
“Dok, tolong take over ranjang tiga!”
Emily bergegas menghampiri ranjang yang dimaksud. Segera diperiksanya dan diberikannya instruksi. Tangan, mata dan otaknya bekerja sama menolong pasien.
“EMMY!” Sebuah teriakan dari ruangan yang luas memanggil pemilik nama yang tidak terlihat sosoknya.
“YA!” sahut Emily muncul dari balik tirai.
“OK 4, fraktur kominutif femur—istilah untuk menggambarkan patah tulang paha menjadi banyak bagian/hancur. Bantuin!”
“Oke!” Tanpa banyak tanya, kembali Emily berlarian menuju lift terdekat dan menekan lantai ruang operasi.
Satu operasi, bertambah menjadi dua, berlanjut menjadi tiga dan akhirnya selesai setelah pasien ke-empat didorong keluar dari ruang operasi.
“Emmy, thank you so much.” Sandra menepuk bahu Emily penuh syukur. “Aku gak tahu lagi kalau gak ada kamu.” Sandra mendekatkan ibu jari dan telunjuknya membentuk tanda hati dan mengecup jarinya dengan mesra. “Love you.”
Emily yang sama-sama kelelahan terkekeh melihat tingkat rekannya yang terkenal ekspresif dan ceria. “Sama-sama, Kak.”
Mereka saling bergandengan menopang tubuh karena kedua kaki sudah tidak sanggup berjalan. “Kenapa kamu gak ambil ortho aja, sich?!” tanya Sandra penasaran. “Kamu oke banget tadi.”
“Kalau aku ambil ortho, siapa yang bakal partner-an sama Lucia dan Andrew?” tanya Emili balik.
“Hehehe … iya juga sih. Apalagi mentornya Prof. Burhan, alamak …! Beneran butuh sembilan nyawa, gak tuh?” Sandra tergelak membayangkan si kembar tidak identik Lucia dan Andrew yang suka berdebat berada di bawah didikan keras Burhan.
“Eh, mumpung kelar semua. Aku traktir cemilan malam, yuk!”
“Emh, bentar. Aku kasih kabar orang rumah dulu.” Emily bergegas menuju ke loker dan mengambil ponselnya.
15 panggilan tidak terjawab. Notifikasi dilayar ponsel membuat Emily merasa bersalah. Ia lupa mengirim pesan ke suaminya kalau harus pulang telat.
“Kak, kayaknya gak dulu, deh.” Emily menoleh ke loker di sampingnya dengan wajah memelas. “Radit udah nyariin.” Cengiran khas Emily membuat Sandra luluh.
“Iya, deh. Yang pengantin baru. Udah sana, cepetan pulang.”
Di perjalanan pulang pun, Emily tidak mengirim pesan atau menghubungi Raditya karena ingin segera sampai rumah dan meminta maaf secara langsung. Ia setengah berlari menaiki tangga rumah. Lelahnya berkurang drastis karena rasa bersalahnya.
“Mas …!” teriak Emily begitu pintu rumah terbuka. “Mas Radit …!” panggil Emily lagi.
Asih tergopoh-gopoh keluar dari ruang belakang. “Non, mas Radit ada di kamar. Barusan bibik ke atas antarkan air madu.”
Seberkas senyum samar Emily lenyap. Air madu pertanda Raditya pulang dalam kondisi mabuk. Nyalinya seketika menciut. Malam, mabuk dan tamparan, biasanya menjadi satu episode cerita yang utuh.
“Ya, Bik Asih. Makasih.” Emily memaksakan diri tersenyum untuk menutupi kekhawatirannya. “Saya naik dulu.”
Tanpa mengetuk pintu, Emily membuka pintu kamar yang gelap. Tidak ada lampu menyala, hanya dengkuran halus dari mulut Raditya yang menuntun Emily sampai ke ranjang. Perlahan, diletakkannya tas kerja di lantai.
“Mas,” panggil Emily lirih. “Mas Radit, aku pulang.”
“Engh ….” Raditya melenguh sembari membalikkan badan. “Dari mana saja kamu? Aku hubungi berulang kali, tapi tidak menjawab.”
Emily duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur mengelus lengan Raditya membujuk, tindakan yang belakangan ia sesali. “Maaf, aku ada cyto-op. Ada bus masuk jurang tadi.”
Greb.
“Aaah …!” pekik Emily kaget ketika tangan Raditya menarik kasar rambutnya.
“Kamu pikir aku bodoh, hah?!” Napas beraroma minuman keras menusuk penciuman Emily. “Kamu itu dokter bedah, bukan ortopedi. Bisa apa kamu?!”
“Mas, sakit!” jerit Emily seraya berusaha melepaskan diri. “Kamu tanya anak-anak kalau tidak percaya.” Emosinya mulai naik. Lelahnya sirna sudah. Matanya panas karena marah. “Lepas, Mas!”
Raditya melepaskan rambut Emily, beralih ke rahang bawah Emily yang mungil dan terlihat rapuh. “Seharian malayani pasien sampai lupa suami sendiri.” Jemari kiri Raditya bergerak lincah di atas kancing kemeja istrinya.
“Mas! Apa yang kamu lakukan?!” panik Emily sambil terus meronta. Jemarinya beradu dengan jemari kokoh Raditya, berebut kancing kemeja.
“Sebagai penutup hari yang melelahkan, kamu layani aku sekarang.”
Krek!
Suara kain koyak membuat Emily berjingkat. Air matanya mengalir deras membasahi pundaknya yang polos tanpa penutup. Mata Raditya berubah redup kala tali kamisol putih ikut turun ke lengan Emily bersama kemeja yang koyak.
“Stop, Mas!” pekik Emily marah dan malu. “Hentikan!”
“Tidak ada yang bisa menghentikan aku dan aku tidak berniat berhenti, tidak sekarang.” Raditya mendorong istrinya jatuh ke ranjang bersamanya. “Kamu harus belajar tunduk pada keinginan suamimu.”
Kasar dan rakus, Raditya menyerang bibir Emily yang mulai bergetar. “Hmm, kamu manis seperti biasanya, Em. Luar biasa,” bisik Raditya berat.
“Mas, tolong. Jangan sekarang. Aku—ah …!” Emily terkejut karena jemari Raditya menyusup ke balik celana scuba hitamnya. “Mas!” Emily berteriak dan kembali berontak di bawah tekanan tubuh Raditya. “Hentikan, Mas!”
Alih-alih membuat Raditya berhenti, teriakan protes Emily dan usahanya melepaskan diri makin menyulut gairah Raditya. Tangannya semakin turun dan jemarinya lincah menyusup ke dalam kehangatan istrinya.
“Hehehe … tubuhmu berkhianat, Sayang.” Raditya menarik kepalanya. Matanya mengedar wajah Emily yang merah dan basah oleh air mata. “Di sini lebih jujur dari yang keluar dari mulutmu.”
“Ah …!” Emily tersentak kejutan listrik katika jari Raditya menemukan kelemahannya di bawah sana.
“Nikmati saja, Emmy.” Bibir Raditya bergerak di atas bibir istrinya mengimbangi jemarinya yang mulai meningkatkan ritme permainannya. “Hmm …,” desah Raditya di antara peluh yang mulai membasahi dahi dan punggungnya.
Kres.
“Argh!” teriak Raditya ketika Emily menggigit bibirnya dengan keras. “Jal*ng!”
Plak.
Sebuah tamparan membekas di pipi kiri Emily. “Rupanya kamu ingin yang lebih dari ini. Baik!” Amarah Raditya memuncak melihat sepasang mata Emily yang menantang ke arahnya. Dengan satu hentakan, Raditya berhasil membebaskan bagian bawah istrinya dari kain pelindung, mempertontonkan kulit putih mulus Emily dan sepasang kaki jenjangnya.
“Mas, aku peringatkan padamu. Berhenti sekarang!” desis Emily dengan mata terpejam.
Alih-alih menjawab keberatan istrinya, Raditya malah memposisikan lututnya di antara kaki Emily, memaksanya membuka akses baginya untuk lebih dekat. Tidak ingin repot, Raditya hanya menurunkan zipper celananya dan memasuki Emily dengan paksa.
“Buka!” bentak Raditya seraya mencekik leher Emily yang sudah tidak berdaya di bawahnya. “Nah, begitu. Jangan pura-pura menolakku, Emmy.” Raditya terus mendesak masuk lebih dalam.
Dalam beberapa kali hentakan kuat, Emily merasakan tubuh Raditya menegang dalam tubuhnya dan sedetik kemudian, pria itu terkulai lemas di atasnya. Kepala Raditya bergerak mendekati telinga Emily.
“Aku sudah membayangkan ini sejak tadi. Seharusnya, kamu bekerja sama dan menikmatinya. Alih-alih memberontak, tapi menunjukkan gairah besar,” cibir Raditya seraya menarik tubuhnya menjauh.
Seolah masih tidak puas dengan apa yang barusan terjadi, Raditya berlutut di atas Emily, menatapnya sebentar, menepuk pipi wanita itu sebelum turun dari ranjang sambil bersiul dan menghilang di balik pintu kamar mandi, meninggalkan Emily yang hancur terserak.
***
Begitu pintu ruang kerjanya tertutup, Emily kembali meringkuk memeluk lutut seperti biasanya ketika sedang ingin bersembunyi. Ratih mengusap lembut punggung tirus Emily berulang kali.“Apa yang sebenarnya terjadi, Em?” tanya Ratih lembut.Punggung di bawah sentuhan tangan Ratih bergetar seketika.“Oke, jangan cerita kalau itu berat.” Ratih meraih bahu Emily dan memeluknya.Beberapa waktu lamanya, Emily hanya menangis dalam dekapan Ratih. Namun tiba-tiba, Emily mendorong Ratih dan berlari ke arah wastafel. Ia muntah. Tidak ada muatan yang keluar, hanya air dan suara berisik dari dalam kerongkongan.Ratih segera menyadari, Emily tidak sakit. Wanita muda itu mengalami guncangan psikis yang besar. Ratih mendekati Emily, memberinya segelas air dan sekotak tisu. Namun, Emily tidak kunjung beranjak dari tempatnya.“Tarik napas dalam, Em. Lawan,” bisik Ratih memberi semangat.Emily hanya menggeleng sebagai bentuk jawaban. Ia masih terus muntah hingga wajahnya merah dan buku jari yang menumpu
Kedua tangan Emily terlipat di depan dada, terhimpit di antara tubuhnya dan Ivander, menekannya. Entah karena tekanan itu atau ketakutan yang melandanya, Emily merasa dadanya mulai sesak, napasnya cepat dan pendek. Ia masih berusaha melepaskan diri dan mengumpulkan udara lebih banyak.Namun, lengan pria yang memeluknya tidak kendur sedikit pun. Napas pria itu semakin dekat ke wajahnya manakala ia mengucapkan sederet kalimat yang tidak bisa Emily dengar dengan jelas.Emily berusaha mendorong sekali lagi. “Tidak, jangan. Hhh …,” desahnya sebelum ia kehilangan kesadaran.“Emmy! Emmy!” panggil Ivander dengan nada tegas. “Si*l …! Apa yang sebenarnya Arga lakukan padamu?!”Ivander mengangkat tubuh Emily dan membaringkannya ke sofa. Ia berbalik ke lemari kecil, mencari handuk atau kain bersih yang bisa dipakainya mengelap keringat. Ia kembali ke sofa membawa saputangan biru muda yang ditemukannya di antara tumpukan pakaian di dalam lemari.Cekatan, Ivander membuka dua kancing teratas kemeja
Kening Asih berkerut heran mendengar nada dingin Emily menjawab telepon. Rasa penasaran membuatnya bertanya. “Siapa, Non?”Emily memutar tubuhnya. “Orang gila yang kurang kerjaan,” sahutnya sembari tersenyum. “Bik, saya mau siap-siap dulu, ya.”***Tempat pertama yang Emily datangi setelah memarkir mobilnya adalah ruangan ICU tenpat Arthur dirawat. Soraya sedang menyeka wajah dan leher Arthur dengan handuk kecil lembab ketika Emily mendekat.“Sayang, sudah datang?” Soraya menyodorkan pipinya memudahkan Emily menciumnya.“Ya, baru saja. Hari ini, ada banyak hal yang harus aku kerjaan. Kalau iu butuh sesuatu, telfon saja. Mungkin seharian ini aku tidak bisa datang lagi.”Soraya hanya mengangguk menanggapi penjelasan panjang putrinya. Ia mengeringkan tangannya dengan tisu, lalu menarik Emily duduk di kursi.“Kemarin, papa mertuamu datang lagi. Dia menceritakan semuanya. Ke
“Hai,” balas Emily lembut. “Siapa, ya?”“Dia datang denganku.”Emily mendongak lebih tinggi menyesuaikan matanya dengan tinggi badan tamunya. “K-kamu?” kata Emily kaget. Rasa tenang, lega dan bebas yang baru dirasakannya, lenyap.Beberapa saat lamanya, mereka berdua hanya diam dan saling pandang sampai suara gadis kecil itu membuyarkan semuanya.“Kenapa kalian hanya diam?” celetuk Aura polos.“Aura! Sini, Sayang!”Mendengar suara lain yang dikenalinya, Emily berpaling mengikuti tubuh gadis kecil itu. Ia menoleh dan tersenyum menyapa Rebecca—wanita yang sering Emily lihat bersama Ivander beberapa waktu belakangan—dan melambai.“Bagaimana keadaanmu?” tanya Ivander masih berdiri diam di tempatnya.Kali ini, Emily tidak repot mendongak. “Baik.”“Aku dengar—.”“Ivan, bisa kita pergi sekarang?” Suara lembut Rebecca memotong kalimat Ivander. “Aura akan terlambat menghadiri kelas baletnya.”Segera saja Ivander berbalik dan berkata, “Ya, bisa.”Pria itu pergi begitu saja tanpa menyelesaikan ka
Emily maju selangkah dengan tangan terulur hendak memeriksa ayahnya, tapi dengan cepat, Arthur menepis tangan Emily kasar.Plak!“Katakan! Apa yang kamu lakukan pada bayimu?!” Arthur berkeras menuntut jawaban Emily. “Argh …!”Pluk!“Mas …!” teriak Soraya histeris melihat tubuh Arthur lemas dengan mata terpejam. “Emmy, kenapa ini?!” tangisnya pecah.Emily berlutut di depan kaki Arthur, menekan pembuluh darah nadi di bawah rahang ayahnya memastikan masih ada detak jantung berdenyut di sana.“Kita baringkan ayah di lantai dulu!” titah Emily cepat. “Hubungi ambulans, Bu!”Begitu tubuh lemas Arthur terbaring telentang sesuai harapannya, Emily segera mmembuka kancing kemeja Arthur dan mulai menekan dada kirinya. Mulutnya terus menghitung seiring tangannya menekan dada. Ia dongakkan kepala Arthur dan meniupkan napasnya lewat mulut ayahnya. Ia ulang beberapa kali tindakannya hingga sirine ambulans berdengung di halaman rumahnya.Emily masih berlutut dan mengatur napasnya, peluhnya membanjiri
“Surprise …!” teriak Aura bersemangat seraya mendorong pintu sekuat tenagaSepasang tangan yang saling berjabatan, terlepas karena kaget dan panik. Aura menatap dua orang dewasa di hadapannya dengan tatapan bingung. Kemudian, ia berlari menubruk kaki kanan Ivander dan memeluknya erat.“Siapa dia?” tanya Aura seraya menunjuk ke arah wanita cantik yang sedang menatap padanya.“Aura …!” Seorang wanita cantik berambut ikal sepunggung menyusul masuk.“Van …?” sapa Rebecca penuh tanya.Dalam kebingungannya, Emily mengutuki kebodohannya. Andai saja semalam dia bersikeras menginap di hotel, suasana memalukan ini tidak perlu dialaminya.“Hai.” Ivander melambaikan tangan, mengibas lebih tepatnya. “Masuk.”“Apa kami mengganggu?” tanya Rebecca tidak enak hati. “Sayang, sini.”Emily tersenyum. “Engh, tidak. Saya hanya berpamitan hendak pergi. Silakan.”Emily mengangguk sopan ketika berjalan melewati Rebecca. Hatinya memastikan bahwa ini wanita yang dilihatnya semalam sedang berbincang dengan Ivand
Ivander menyungging senyum yang sulit diartikan. Ada rasa geli yang menggelitik perutnya ketika wanita bernama Emily—yang pagi tadi membayarnya dengan segepok uang—naik ke podium.“Menarik,” gumam Ivander sambil terus berjalan tenang. “Dia semakin cantik saat gugup,” imbuhnya.“Wow …! Best match …!”
“Aku sudah memilih pembuluh darah baru yang sehat dan cukup besar.” Ivander duduk tegak bersandar pada kursi dengan kaki saling bertumpu.“Ahh …!” Emily tersentak kaget. “Siapa kamu?!” pekik Emily beringsut cepat dan menarik tinggi selimutnya.Ivander berdiri dari kursinya dan mendekati ranjang. Ta
Emily menyalakan lampu kamar tamu yang kini jadi tempat tidurnya, sejak pertengkaran terakhirnya dengan Raditya. Ia rebahkan tubuhnya perlahan di atas ranjang besar dan empuk yang sebelumnya tidak pernah dia jamah. Pikirannya kembali pada waktu seorang petugas laboratorium membawa hasil pemeriksaan
Entah mengapa, Emily tidak terkejut mendengar penjelasan Soraya. Adanya perempuan lain dalam kehidupan rumah tangganya dengan Raditya sempat terbersit dalam pikirannya, hanya berada diurutan terbawah.“Emmy, kalau memang kamu merasa perceraian adalah jalan terbaik buat kalian, ibu akan coba bicarak







