Share

Bab 7

Author: Selene21
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-08 13:06:28

“Tidak. Aku memutuskan untuk tidak menyimpannya.”

“Tidak menyimpannya? Maksudmu, menggugurkannya?!” Hendro tercekat. “Sebenci itukah kamu pada Raditya, Nak?”

Emily kembali menggeleng. “Anak ini bukan wujud dari cinta kasih orang tuanya, Pa. Dia hadir bersama puncak kebencian yang mas Radit lakukan.” Mata Emily yang basah menatap marah pada Hendro. “Aku diperkosa malam itu,” imbuh Emily lirih.

“Hah?? Diperkosa?” Hendro semakin tidak paham.

“Malam itu mas Radit pulang dalam kondisi mabuk. Dia memaksaku melayaninya ketika aku keberatan karena lelah dan mengantuk. Dia pukul aku, mendorongku ke ranjang dan mengikat kedua lengan dan kakiku. Aku benar-benar hancur malam itu.”

Kepala Emily tertunduk, tak kuasa lagi menahan malu dan amarah yang lama disimpannya. Ingatannya kembali pada malam tragis itu.

Sekitar dua bulan lalu, di akhir pekan. Emily menerima sekelompok pasien kecelakaan yang membutuhkan tindakan operasi. Nyaris empat belas jam, Emily dan timnya berkutat di dalam kamar operasi mengerjakan empat pasien kecelakaan yang diantar ke IGD rumah sakitnya.

Dua bus darmawisata yang membawa hampir seratus siswa dan guru pendamping terperosok ke jurang. Emily ingat sekali, hari itu hujan deras dan berangin.

[Dok, tolong ke IGD segera.]

Tanpa banyak bertanya, Emily setengah berlari menuju IGD. Ketika Emily sampai, kondisi IGD sudah penuh dengan tangis dan teriakan, persis seperti potongan film yang membuat Emily ingin menjadi dokter.

“Dok, tolong take over ranjang tiga!”

Emily bergegas menghampiri ranjang yang dimaksud. Segera diperiksanya dan diberikannya instruksi. Tangan, mata dan otaknya bekerja sama menolong pasien.

“EMMY!” Sebuah teriakan dari ruangan yang luas memanggil pemilik nama yang tidak terlihat sosoknya.

“YA!” sahut Emily muncul dari balik tirai.

“OK 4, fraktur kominutif femur—istilah untuk menggambarkan patah tulang paha menjadi banyak bagian/hancur. Bantuin!”

“Oke!” Tanpa banyak tanya, kembali Emily berlarian menuju lift terdekat dan menekan lantai ruang operasi.

Satu operasi, bertambah menjadi dua, berlanjut menjadi tiga dan akhirnya selesai setelah pasien ke-empat didorong keluar dari ruang operasi.

“Emmy, thank you so much.” Sandra menepuk bahu Emily penuh syukur. “Aku gak tahu lagi kalau gak ada kamu.” Sandra mendekatkan ibu jari dan telunjuknya membentuk tanda hati dan mengecup jarinya dengan mesra. “Love you.

Emily yang sama-sama kelelahan terkekeh melihat tingkat rekannya yang terkenal ekspresif dan ceria. “Sama-sama, Kak.”

Mereka saling bergandengan menopang tubuh karena kedua kaki sudah tidak sanggup berjalan. “Kenapa kamu gak ambil ortho aja, sich?!” tanya Sandra penasaran. “Kamu oke banget tadi.”

“Kalau aku ambil ortho, siapa yang bakal partner-an sama Lucia dan Andrew?” tanya Emili balik.

“Hehehe … iya juga sih. Apalagi mentornya Prof. Burhan, alamak …! Beneran butuh sembilan nyawa, gak tuh?” Sandra tergelak membayangkan si kembar tidak identik Lucia dan Andrew yang suka berdebat berada di bawah didikan keras Burhan.

“Eh, mumpung kelar semua. Aku traktir cemilan malam, yuk!”

“Emh, bentar. Aku kasih kabar orang rumah dulu.” Emily bergegas menuju ke loker dan mengambil ponselnya.

15 panggilan tidak terjawab. Notifikasi dilayar ponsel membuat Emily merasa bersalah. Ia lupa mengirim pesan ke suaminya kalau harus pulang telat.

“Kak, kayaknya gak dulu, deh.” Emily menoleh ke loker di sampingnya dengan wajah memelas. “Radit udah nyariin.” Cengiran khas Emily membuat Sandra luluh.

“Iya, deh. Yang pengantin baru. Udah sana, cepetan pulang.”

Di perjalanan pulang pun, Emily tidak mengirim pesan atau menghubungi Raditya karena ingin segera sampai rumah dan meminta maaf secara langsung. Ia setengah berlari menaiki tangga rumah. Lelahnya berkurang drastis karena rasa bersalahnya.

“Mas …!” teriak Emily begitu pintu rumah terbuka. “Mas Radit …!” panggil Emily lagi.

Asih tergopoh-gopoh keluar dari ruang belakang. “Non, mas Radit ada di kamar. Barusan bibik ke atas antarkan air madu.”

Seberkas senyum samar Emily lenyap. Air madu pertanda Raditya pulang dalam kondisi mabuk. Nyalinya seketika menciut. Malam, mabuk dan tamparan, biasanya menjadi satu episode cerita yang utuh.

“Ya, Bik Asih. Makasih.” Emily memaksakan diri tersenyum untuk menutupi kekhawatirannya. “Saya naik dulu.”

Tanpa mengetuk pintu, Emily membuka pintu kamar yang gelap. Tidak ada lampu menyala, hanya dengkuran halus dari mulut Raditya yang menuntun Emily sampai ke ranjang. Perlahan, diletakkannya tas kerja di lantai.

“Mas,” panggil Emily lirih. “Mas Radit, aku pulang.”

“Engh ….” Raditya melenguh sembari membalikkan badan. “Dari mana saja kamu? Aku hubungi berulang kali, tapi tidak menjawab.”

Emily duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur mengelus lengan Raditya membujuk, tindakan yang belakangan ia sesali. “Maaf, aku ada cyto-op. Ada bus masuk jurang tadi.”

Greb.

“Aaah …!” pekik Emily kaget ketika tangan Raditya menarik kasar rambutnya.

“Kamu pikir aku bodoh, hah?!” Napas beraroma minuman keras menusuk penciuman Emily. “Kamu itu dokter bedah, bukan ortopedi. Bisa apa kamu?!”

“Mas, sakit!” jerit Emily seraya berusaha melepaskan diri. “Kamu tanya anak-anak kalau tidak percaya.” Emosinya mulai naik. Lelahnya sirna sudah. Matanya panas karena marah. “Lepas, Mas!”

Raditya melepaskan rambut Emily, beralih ke rahang bawah Emily yang mungil dan terlihat rapuh. “Seharian malayani pasien sampai lupa suami sendiri.” Jemari kiri Raditya bergerak lincah di atas kancing kemeja istrinya.

“Mas! Apa yang kamu lakukan?!” panik Emily sambil terus meronta. Jemarinya beradu dengan jemari kokoh Raditya, berebut kancing kemeja.

“Sebagai penutup hari yang melelahkan, kamu layani aku sekarang.”

Krek!

Suara kain koyak membuat Emily berjingkat. Air matanya mengalir deras membasahi pundaknya yang polos tanpa penutup. Mata Raditya berubah redup kala tali kamisol putih ikut turun ke lengan Emily bersama kemeja yang koyak.

“Stop, Mas!” pekik Emily marah dan malu. “Hentikan!”

“Tidak ada yang bisa menghentikan aku dan aku tidak berniat berhenti, tidak sekarang.” Raditya mendorong istrinya jatuh ke ranjang bersamanya. “Kamu harus belajar tunduk pada keinginan suamimu.”

Kasar dan rakus, Raditya menyerang bibir Emily yang mulai bergetar. “Hmm, kamu manis seperti biasanya, Em. Luar biasa,” bisik Raditya berat.

“Mas, tolong. Jangan sekarang. Aku—ah …!” Emily terkejut karena jemari Raditya menyusup ke balik celana scuba hitamnya. “Mas!” Emily berteriak dan kembali berontak di bawah tekanan tubuh Raditya. “Hentikan, Mas!”

Alih-alih membuat Raditya berhenti, teriakan protes Emily dan usahanya melepaskan diri makin menyulut gairah Raditya. Tangannya semakin turun dan jemarinya lincah menyusup ke dalam kehangatan istrinya.

“Hehehe … tubuhmu berkhianat, Sayang.” Raditya menarik kepalanya. Matanya mengedar wajah Emily yang merah dan basah oleh air mata. “Di sini lebih jujur dari yang keluar dari mulutmu.”

“Ah …!” Emily tersentak kejutan listrik katika jari Raditya menemukan kelemahannya di bawah sana.

“Nikmati saja, Emmy.” Bibir Raditya bergerak di atas bibir istrinya mengimbangi jemarinya yang mulai meningkatkan ritme permainannya. “Hmm …,” desah Raditya di antara peluh yang mulai membasahi dahi dan punggungnya.

Kres.

“Argh!” teriak Raditya ketika Emily menggigit bibirnya dengan keras. “Jal*ng!”

Plak.

Sebuah tamparan membekas di pipi kiri Emily. “Rupanya kamu ingin yang lebih dari ini. Baik!” Amarah Raditya memuncak melihat sepasang mata Emily yang menantang ke arahnya. Dengan satu hentakan, Raditya berhasil membebaskan bagian bawah istrinya dari kain pelindung, mempertontonkan kulit putih mulus Emily dan sepasang kaki jenjangnya.

“Mas, aku peringatkan padamu. Berhenti sekarang!” desis Emily dengan mata terpejam.

Alih-alih menjawab keberatan istrinya, Raditya malah memposisikan lututnya di antara kaki Emily, memaksanya membuka akses baginya untuk lebih dekat. Tidak ingin repot, Raditya hanya menurunkan zipper celananya dan memasuki Emily dengan paksa.

“Buka!” bentak Raditya seraya mencekik leher Emily yang sudah tidak berdaya di bawahnya. “Nah, begitu. Jangan pura-pura menolakku, Emmy.” Raditya terus mendesak masuk lebih dalam.

Dalam beberapa kali hentakan kuat, Emily merasakan tubuh Raditya menegang dalam tubuhnya dan sedetik kemudian, pria itu terkulai lemas di atasnya. Kepala Raditya bergerak mendekati telinga Emily.

“Aku sudah membayangkan ini sejak tadi. Seharusnya, kamu bekerja sama dan menikmatinya. Alih-alih memberontak, tapi menunjukkan gairah besar,” cibir Raditya seraya menarik tubuhnya menjauh.

Seolah masih tidak puas dengan apa yang barusan terjadi, Raditya berlutut di atas Emily, menatapnya sebentar, menepuk pipi wanita itu sebelum turun dari ranjang sambil bersiul dan menghilang di balik pintu kamar mandi, meninggalkan Emily yang hancur terserak.

***

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 9

    Arga dan Emily terperanjat menyadari pintu ruangan terbuka tanpa peringatan. Mereka buru-buru menjauhkan diri dan mendongak ke arah pintu.“Maaf mengganggu.” Ivander berdiri menjulang di ambang pintu dengan wajah kaku tanpa ekspresi. Diamatinya wajah sejawat yang barusan tertangkap basah olehnya. Datar dan tanpa rasa penyesalan, itu yang Ivander simpulkan.“Ini resep obat penenang. Minum saat merasa cemas dan sulit tidur.”Tanpa repot menunggu ada yang menyambut resep di tangannya, Ivander meletakkan lembaran resep itu di meja kecil dekat pintu. “Silakan dilanjut,” ujar Ivander sebelum berbalik pergi dengan pintu yang sengaja dibiarkannya terbuka.“Sial!” umpat Arga, kesal atas sikap tenang Ivander dan kesalahpahamannya.“Maaf,” lirih Emily seraya menjauh.“Emmy! Apa yang membuatmu menjadi berubah begini?!” Bertambah kesallah Arga melihat sikap Emily. “Kita tidak berbuat salah. Permintaan maafmu membuatku merasa sedang melakukan dosa besar.” Arga mengusap wajahnya frustasi.Emily mema

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 8

    “Em, Emmy!” Hendro memegang bahu menantunya yang bergetar. “Ada apa? Kenapa menangis begini?” tanya Hendro panik.Emily tidak menjawab. Ia hanya menangis tersedu sambil menggelengkan kepalanya.“Emmy, oke. Anggap, kamu membenci Radit, tidak bisa memaafkannya dan ingin bercerai darinya. Coba, lihat papa.”Emily mengangkat wajahnya dan bertukar pandang dengan Hendro.“Kita ini dokter, Nak. Penyelamat nyawa, bukan sebaliknya. Tolong, kamu pikirkan lagi baik-baik. Terlepas dari semua masalah dan ucapan papa. Hmm?” Wajah Hendro melembut, tidak tega melihat kondisi Emily. “Jangan memutuskan apa-apa. Kamu butuh konseling yang sehat agar tidak menyesali setiap keputusan yang kamu buat.”Hendro mengguncang lembut bahu Emily sebelum berdiri dan merapikan bajunya. “Papa akan atur supaya kamu bisa ngobrol dengan Ivan. Eits, tidak ada penolakan,” imbuh Hendro cepat manakala dilihatnya Emily hendak menolak sarannya.“Papa harus selesaikan pekerjaan papa dan memastikan tidak ada kabar tidak perlu yan

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 7

    “Tidak. Aku memutuskan untuk tidak menyimpannya.”“Tidak menyimpannya? Maksudmu, menggugurkannya?!” Hendro tercekat. “Sebenci itukah kamu pada Raditya, Nak?”Emily kembali menggeleng. “Anak ini bukan wujud dari cinta kasih orang tuanya, Pa. Dia hadir bersama puncak kebencian yang mas Radit lakukan.” Mata Emily yang basah menatap marah pada Hendro. “Aku diperkosa malam itu,” imbuh Emily lirih.“Hah?? Diperkosa?” Hendro semakin tidak paham.“Malam itu mas Radit pulang dalam kondisi mabuk. Dia memaksaku melayaninya ketika aku keberatan karena lelah dan mengantuk. Dia pukul aku, mendorongku ke ranjang dan mengikat kedua lengan dan kakiku. Aku benar-benar hancur malam itu.”Kepala Emily tertunduk, tak kuasa lagi menahan malu dan amarah yang lama disimpannya. Ingatannya kembali pada malam tragis itu.Sekitar dua bulan lalu, di akhir pekan. Emily menerima sekelompok pasien kecelakaan yang membutuhkan tindakan operasi. Nyaris empat belas jam, Emily dan timnya berkutat di dalam kamar operasi m

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 6

    Ivander menyungging senyum yang sulit diartikan. Ada rasa geli yang menggelitik perutnya ketika wanita bernama Emily—yang pagi tadi membayarnya dengan segepok uang—naik ke podium.“Menarik,” gumam Ivander sambil terus berjalan tenang. “Dia semakin cantik saat gugup,” imbuhnya.“Wow …! Best match …!” celetuk sebuah suara dari barisan tengah.Ivander berdiri tepat di sebelah Emily, bahu mereka nyaris bersinggungan. “Hello, Partner,” lirih Ivander membuat Emily menggeser tubuhnya.“Harap tenang.” Wajah Hendro berbinar penuh kebahagiaan. “Saya perkenalkan dulu, dokter Ivan adalah psikiater konsultan jebolan Harvard University. Beliau mengabdi selama tiga tahun sebelum memutuskan menerima tawaran saya dan kembali ke tanah air.”“Wow … fisik oke, otak oke. Mantap!” celetuk Arga penuh semangat.“Betul!” sahut Hendro bersemangat. “Selanjutnya, dokter Ivan akan memimpin departemen rawat jalan dan bertanggung jawab atas kualitas pelayanan dan kesehatan mental karyawan.”“Wuih …! Ada aja gebrakan

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 5

    “Aku sudah memilih pembuluh darah baru yang sehat dan cukup besar.” Ivander duduk tegak bersandar pada kursi dengan kaki saling bertumpu.“Ahh …!” Emily tersentak kaget. “Siapa kamu?!” pekik Emily beringsut cepat dan menarik tinggi selimutnya.Ivander berdiri dari kursinya dan mendekati ranjang. Tangannya terulur ke arah Emily. “Ivander Scott.”Ragu-ragu Emily menyambut tangan Ivander. “Bukankah dia pria yang semalam berdiri bersamaku di meja resepsionis?” Emily membatin dan malu sendiri mengingat keliaran akalnya semalam. Pipinya terasa panas. Buru-buru ditariknya kembali tangannya.“Aku sarankan, kamu segera makan dan memeriksakan diri ke rumah sakit.” Ivander kembali ke kursinya dan mulai memakan habis sarapannya. “Karena semua sudah terkendali, aku duluan.” Ivander mengusap mulutnya dengan tisu dan beranjak.“Tunggu,” tahan Emily sambil berguling ke kiri meraih tasnya. Ia menarik beberapa lembar uang dari dompetnya dan mengulurkannya pada pria yang semakin tampan pagi ini. “Ambil

  • Istri Warisan Mencari Cinta   Bab 4

    Emily menyalakan lampu kamar tamu yang kini jadi tempat tidurnya, sejak pertengkaran terakhirnya dengan Raditya. Ia rebahkan tubuhnya perlahan di atas ranjang besar dan empuk yang sebelumnya tidak pernah dia jamah. Pikirannya kembali pada waktu seorang petugas laboratorium membawa hasil pemeriksaan darahnya.Angka-angka yang tertera sedikit mengejutkannya. Kondisi tubuhnya tidak sebagus yang terlihat. Malnutrisi dan anemia sedang menyerangnya perlahan dengan dampak yang luar biasa. Keterangan paling bawah berhasil mencekat napasnya.“Apa benar aku hamil?” gumamnya risau. Emily memejamkan matanya perlahan. “Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Bulir hangat membasahi kedua pelipis Emily, jatuh ke atas sprei putih berbahan satin.Ia mengeluarkan ponsel dari saku dress denimnya dan membuka kalender. Emily mulai mengingat dan menghitung. “Enam minggu. Siklusku terlambat enam minggu,” gumamnya was-was. “Apa yang harus aku lakukan?”Pintu kamar terbuka lebar, menampilkan sosok Raditya berdi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status