FAZER LOGINHari libur Karina kali ini sungguh menyenangkan sekali, Salma benar-benar menjadi teman yang menemaninya seharian ini. Bahkan bayi berusia 10 bulan itu pun anteng sekali dengannya, hanya merengek kecil saat merasa haus. Dan ribuan yang menunjukkan pukul 3 sore ini, Karina sudah selesai memandikan Salma. Bayi perempuan itu sudah cantik dengan dress putihnya itu, bando dan kaos kaki yang juga sama-sama berwarna pink.
"Udah cantik keponakan tante, udah wangi juga ini. Aduhh gemesnya, jadi pengen cubit deh. " Ucap Karina menatap gemas ke arah Salma yang berada di pangkuannya. "Udah cantik dan udah wangi begini tinggal bikin susu ya? Laper kan mau mimi susu? " Tanya karina ditanggapi dengan tawa oleh Salma. "Ke luar yuk? Nanti tante ajak ke taman belakang liat ikan, mau? " Karina menggendong Salma sembari berjalan ke arah taman, niatnya, Karina akan menitipkan Salma sebentar pada Bi Ijah sementara dia membuat susu untuk bayi itu. Namun, sesampainya di ruang tengah Karina justru melihat Alfan yang sedang duduk di depan meja pantry dengan laptop di depannya dan satu gelas kopi yang menjadi minuman sahari-hari pria itu. "Mas, liat Bi Ijah nggak? " Tanya Karina menghampiri Alfan. "Tidak.mungkin di taman belakang. " Jawab Alfan masih fokus pada laptopnya. Karina berdecak, malas sekali jika harus menghampiri BI Ijah ke belakang, karena selain jarak dalam rumah ke taman belakangn yang cukup jauh, dirinya dan Salma juga akan ke taman belakang, jadi dia malas sekali kalau harus dia kali berbolak-balik ke belakang. "Mas, aku mau minta tolong boleh? "Tanya berati sembari deg-degan "Minta tolong apa? " "Tolong pegangin Salma sebentar, aku mau bikin susus buat Salma dulu, kasian udah laper kayaknya. " Ucap Karina yang akhirnya memilih meminta bantuan Alfan. Saat mendengar itu, baru lah Alfan mengalihkan perhatiannya menghadap dua perempuan Berbeda usia itu. Pria itu berdiri tepat di depan Karina. Tangannya yang kekar dan besar mengambil alih tubuh mungil Salma dari gendongan dan istri, sehingga bayi perempuan itu terlihat kecil sekali dalam gendongan Alfan. Karina tertawa melihatnha, membuat Alfan mengernyitkan keningnya bingung, "kenapa tertawa? " Masih dengan tawanya Karina menjawab "enggak, ngerasa lucu aja soalnya Salmanya jadi keliatan kecil di gendongan Mas. " "Padahal badanya Salma itu normal sama bayi seumurannya, malah kayaknya Salma tuh termasuknya berisi banget deh buat ukuran bayi 10 bilN, tapi pas di gendong sama Mas berasa kecil banget Salma nya. " Lanjut Karina. "Badan saya yang besar. " Ucap Alfan. Pria itu menggendong Salma dengan sangat hati-hati, bayi itu ditaruh dadanya dan ia usap punggung kecil itu dengan pelan-pelan, sesekali, Alfan mengintip untuk melihat bagaimana raut Salma, yang pantas langsung membuat pria dia puluh sembilan tahun itu ikut tersenyum saat melihat wajah Salma yang menatapnya seraya tersenyum. Sedangkan si perempuan sibuk membuat susu untuk si bayi mungil, sehingga tidak menyadari jika Alfan sudah membawa Salma terlebih dahulu ke taman belakang. Di taman belakang sana, Alfan menggendong Salma ke arah bunga-bunga yang sudah bermekaran dan di hinggapi oleh kupu-kupu. Dan Alfan semakin di buat tersenyum kala tangan kecil itu berusaha menangkap kupu-kupu yang justru malah berujung membuat hewan bersayap warna-warni itu pergi, sehingga Sma yang semula terlihat senang dan excited jadi menoleh pada Alfan dengan tatapan murungnya. Alfan terkekeh. "Lihat ikan saja ya kamu gitu? Kalau lihat bunga nanti kupu-kupunya jadi pergi karena takut di sentuh oleh kamu. " Ucap Alfan pada Salam yang ada di gendongannya. Alfan menuju ke sisi lain taman, yang terdapat kolam ikan dan kursi duduk yang terletak tak jauh dari kolam tersebut, sehingga siapapun yang duduk di kursi itu masih bisa melihat ikan dengan jelas dari dalam kolam. Meski ini adalah rumah sederhana untuk dirinya dak Karina, tapi Alfan tetap meberikan rumah yang terbaik, nyaman, indah dan lebih layak untuk di tinggali. Meski mansion ini tidak terlalu besar, namun mansion ini tetap memiliki halaman belakang yang di ubah menjadi tanaman bungan dan du bangun kolam ikan di sekitarnya. Meskipun pernikahan melalu perjodohan tanpa di landasi cinta, ia ingin memberikan yang terbaik untuk Karina. Alfan memberi isyarat pada tukang kebun yang kebetulan ada di sana untuk meminta tolong di ambilkan pakan ikan, setelah penjaga itu membawakan Pakam ikan, Alfan mengambil segenggam pakan ikan itu dan ia ulurkan telapak tangannya yang penuh pakan ikan ke arah Salma."Makanya, kalau mau minum atau makan sesuatu tanyakan dulu, sebelumnya. Jadinya kamu sendiri yang rugi. Dan sekarang saya juga kena imbasnya, " Imbuh Alfan pelan, namun terdengar sarkas. Karina mengerutkan dahinya dan menggigit ujung bibirnya. "Mas Alfan, aku mau tanya. Siapa yang ganti baju saya ya? " Tanyanya dengan hati-hati. Lalu seketika ia menyesal karena pertanyaannya. Alfan kembali menyesap kopinya. "Oh, tidak tahu sih mungkin ibu peri kali ya? " Jawabnya asal, membuat Karina semakin kesal akan tetapi ia mencoba sabar. "Ya kamu pikir aja, di rumah ini kan cuma ada kita Karina kalau malam. Hal seperti itu kenapa harus dipertanyakan sih. " Seloroh Alfan tidak sabar, tidak habis pikir dengan pertanyaan konyol Karina. Jawaban Alfan semakin membuat Karina kalang kabut, tanpa sadar menutup dadanya, membuat Alfan menyeringai. "Kenapa? Malu daya lihat tubuh kamu? Wajar kan? Karena saya suami kamu, " Ujar Alfan seakan tahu apa yang dipikirkan Karina. "Bukan begitu Mas Alfan
Rasa cenat-cenut mulai Karina rasakan di kepala, seperti ada yang menghantam kepalanya dengan batu. "Sshhh.... " Ringisnya lalu pelan ia membuka mata dan merasakan aroma yang berbeda dari ruangan kamarnya. Aroma jasmine tercampur tembakau yang seketika membuatnya rilex. Namun, detik selanjutnya ia tersadar jika ini bukan di kamarnya. Perempuan itu langsung terduduk, terkejut karena bangun fi kamar Alfan sendirian."astaga!kok aku bisa tidur fi kamar Mas Alfan?"paniknya seketika.Karina mendadak buntu seketika, karena pagi ini ia terasa kacau. Perempuan itu sejenak merenung dan mengingat apa yang terjadi tadi malam, sembari memegang kepalanya. "Habis muntah aku nggak ingat ngapain lagi? " Gumamnya pelan, mengigit jempolnya karena takut berbuat yang tidak-tidak. Karina lalu meraba tubuhnya, yang ternyata ia memakai kaus longgar milik suaminya. "Ya ampun, untung aja aku pakai dalaman celana ketat tadi malam, tapi pasti Mas Alfan lihat.. " Ucapannya langsung lalu ia buru-buru menggelengkan
"Wah, ini istrinya Pak Alfan? " Suara feminim tiba-tiba mendistraksi Karina. Perempuan dengan gaun pendek model Sabrina menampakkan belahan dadanya yang bedar.anis dan eksotik dua kata yang pas untuk menggambarkan perempuan ini. Karina mengerutkan dahi, dan baru sadar jika perempuan ini adalah sekertaris Alfan di kantor. "Salam kenal Mbak Ica, " Sapa Karina lembut. Ica bersedih menatap rendah Karina, 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘹𝘺 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. "Aku nggak tahu kalau Pak Alfan seleranya downgrade banget. Wajah kamu pasaran. " Hina Ica dingin, lalu menyeringai puas. Karina sendiri tidak tahu masalah perempuan ini, kenal saja tidak dan tiba tiba dia datang untuk menghinanya. "Astaga Mank Ica.. Saya nggak nyangka lo Mbak Ica bersikap seperti ini. Saya kira selain cantik dan berbakat dalam bekerja, Mbak ini ramah. Tapi ternyata kurang sopan, masa ke istri bos bersikap begini?, tutur Karina halus, namun mengandung unsur sarkas. Rahang Ica mrngetat mendengar kalimat Karina, b
Pagi ini Alfan disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang telah ia tunda kemarin. Seperti menangani masalah serius yang menimpa proyek nya yang ada di bali. Alfan merasa pening dengan masalah proyek ini dia akan serahkan ini kepada asistennya untuk mengontrol langsung ke Bali. Karena Alfan tidak bisa. Ia ada pertemuan kolega nanti malam. "Rafa saya mau kamu, pergi langsung ke Bali. Saya ada pertemuan kolega malam nanti. ""Ia siap pak" Jawab Rafa"Kamu kalau ada apa-apa di sana langsung kabarin saya, bagaimana pun ke adaanya. " Iya paham pak, kalau gitu saya permisi. "Ungkap Rafa. ***Sorenya, Karina berada di kamarnya untuk di buat cantik oleh dua orang yang tiba-tiba datang ke mansionnya. Dan ternyata adalah fashion stylish dan MUA yang disewa suaminya untuk acara pertemuan kolega satu jam lagi akan berangkat. "MasyaAllah, cantik dan elegan sekali bu, " Komentar MUA setelah selesai memoleskan lipstik nude di campur warna orange di bibir mungil milik Karina. Surai legam nan panja
Alfan menyusul duduk di sebelah Karina, di pakuannya ada Salma dan satu tangannya membantu bayi itu untuk memegang dit susus agar tidak jatuh ke bawah. Merasa jika posisinya sangat nyaman, Salma menyusu sembari menyandarkan tubuhnya pada Alfan, menyender langsung pada perut keras Alfan. "Salma di jemput jam berapa? " Tanya Alfan sedikit menoleh pada karina yang duduk di sebelahnya. "Tadi sih Tante Citra ngasih tau kalau Tante Citra masih lumayan sibuk di sana. Jadi aku bikang dari pada di jemputnya nanti-nanti yang malah ujung-ujungnya kemaleman, jadi aku saranin Salma nginep di sisi saja, gapapa kan Mas? " Ucap Karina. Tadi ia sudah mengirim pesan pada Citra, menanyakan jam berapa Salma akan di jemput, danCitra memberi tahu jika kesibukannya masih belum selesai, jadi Karina tawarkan saja Salma untuk menginap di sini, hitung-gitung menemaninya tidur malam ini. "Tidak papap kalau Salmanya tidak rewel, karena rumah ini kan baru Salma datangi, jadi dia masih asing dengan suasana di s
"Ambil, lempar pakannya ke ikannya. " Ucap Alfan pada Salma. Batu perempuan itu menatap Alfan ragu, takut untuk mengambil pakan ikan yang berukuran kecil-kecil itu dari telapak tangannya. Alfan menganggukkan kepalanya. "Tidak papa. Ambil saja. " Alfan bergerak sedikit maju ke arah kolam ikan dan berjongkok untuk memudahkan Salma melempar pakan ikan. Menurut, telapak tangannya Salma yang k3cil mengambil pakan ikan dengan sembarang, sehingga sebagian ada yang tumpah ke bawah mengenai rumput. Namun setelahnya, Salma dengan semangat melempar pakan ikan yang ia genggam ke arah ikan-ikan yang sudah bergerombol di tepi kolam, yang seolah sudah tau jika akan di beri makan. Dan benar saja, ikan-ikan besar yang semula ada yang terpencar menjadi mengerubung semua di tepi kolam, menimbulkan cipratan kecil yang mengenai Wajah Salma, membuat bayi perempuan itu tersentak kaget namun juga tertawa di saat yang bersamaan. Alfan mengambil paka ikan lagi, dan Salma dengan semangat yang sama mulai ber







