Share

07. Kesabaran

Author: HaniHadi_LTF
last update publish date: 2026-07-23 20:39:54

Bu Ratih mengangguk.

"Bu, saya bisa tidur di kamar tamu tadi."

"Tidak." Bu Ratih menggeleng. "Kalian sudah menikah."

Linggar melirik Ilalang. Wajah lelaki itu terlihat sulit dibaca.

"Nenek.... kami masih perlu...."

"Jangan membantah. Ingat, perjanjian kamu sama Nenek."

Linggar sontak menatap wanita Sepuh yang kini menutup mulutnya itu. Lalu pandangannya beralih ke Ilalang.

Ternyata dia mau menerima pernikahan ini karena itu, bathin Linggar. Ia penasaran, perjanjian apa yang mereka lakukan sampai bisa membuat Ilalang menyetujuinya.

"Bukankah kata Nenek, sudah ada Lintang yang bisa... "

"Jangan bicara lagi." Bu Ratih menatap Linggar tak enak hati.

Ilalang akhirnya berdiri. Dengan kasar ia menarik tangan Linggar.

"Ayo."

Linggar yang kaget ikut berdiri, reflek mengibaskan tangan Ilalang. Ia lalu mendekati Lintang dan menggenggam tangannya. Entah apa isi perjanjian itu yang membuat Ilalang menyebut nama Lintang.

"Lintang akan tidur bersama aku selamanya." Bu Ratih segera mendekat. Lalu mencium bocah kecil itu dengan penuh sayang.

"Tapi, Bu... "

"Panggil aku Nenek sekarang. Kamu istri Ilalang, cucuku."

Linggar mengangguk, lalu kembali menatap Lintang dengan mata mengaca.

"Lintang suka sama Nenek, Bund. Di kamar Nenek banyak makanan."

Linggar mencium putrinya kemudian mengikuti Ilalang. Mereka berjalan bagai orang asing. Langkah panjang Ilalang tak bisa membuat Linggar menyamakannya.

Linggar hanya melihat lelaki itu berjalan terus melewati lorong. Rupanya kamar untuk mereka bukanlah kamar yang biasa dipakai Ilalang yang penuh dengan tumpukan buku, termasuk yang berhubungan dengan pekerjaannya.

Kamar itu melewati bangunan utama dan terletak di belakang. Hampir mirip sebuah bangunan kecil dengan pemandangan indah.

Namun keindahan itu tak menyurutkan rasa aneh di dada Linggar. Setiap langkah terasa semakin berat. Linggar tidak tahu apa yang akan terjadi setelah pintu kamar itu tertutup.

Ia hanya tahu satu hal. Mulai hari ini, ia harus hidup serumah dengan lelaki yang bahkan belum mampu menerima siapa dirinya.

Ilalang membuka pintu.

"Masuk."

Linggar menarik napas. Kemudian melangkah perlahan melewati ambang pintu. Namun baru satu langkah, tubuhnya mendadak berhenti. Matanya membesar. Napasnya tercekat.

Ilalang yang reflek berbalik sudah berdiri tepat di depannya. Dengan tatapan dinginnya ia bicara.

"Mulai hari ini hidupmu hanya di sini, melayani semua keperluan aku."

Linggar melangkah sedikit menjauh.

"Bukankah aku telah bilang kepadamu aku akan melayanimu, asal jangan...."

Ilalang mengangkat tangan. "Cukup. Sekarang, buatkan aku kopi."

"Kopi?"

"Aku tidak suka mengulang ucapanku."

Linggar masih diam sambil menatap punggung Ilalang yang baru saja membelakanginya.

"Aku belum minum kopi sejak pagi." Nada suara Ilalang datar. "Cepat. Buatkan."

Linggar mengembuskan napas pelan.

"Sekarang?"

Ilalang mengangkat alis.

"Menurutmu?"

Linggar mengepalkan tangan sebentar, lalu melepaskannya.

"Baik."

Ia berbalik menuju dapur. Baru beberapa langkah, suara Ilalang kembali terdengar.

"Jangan terlalu manis."

Linggar berhenti. "Berapa sendok gula?"

"Satu."

"Baik." Ia kembali berjalan. Namun belum sampai keluar, Ilalang menambahkan,

"Gulanya jangan terlalu sedikit."

Linggar memejamkan mata sesaat.

"Kalau begitu, satu setengah?"

"Terserah."

Beberapa menit kemudian, Linggar membawa secangkir kopi. Ia meletakkan cangkir itu di atas meja kecil.

Ilalang mengambilnya. Lalu menyeruput sedikit. Baru satu teguk, keningnya langsung berkerut.

"Kurang gula."

"Katanya tadi... "

"Kalau kamu sudah biasa membuat kopi, seharusnya kamu tahu."

"Rangga tidak minum kopi."

Tatapan dingin Ilalang membuat Linggar bergidik.

"Jangan bawa dia di hadapanku. Bikin lagi!"

Linggar menatap lelaki itu beberapa detik. Kemudian ia pergi membawa cangkir tanpa bicara. Tangannya terasa gatal ingin menjambak rambut lurus Ilalang yang menggapai tengkuk. Namun ia menahannya.

Ia mengambil cangkir tersebut.

"Sekarang berapa gulanya?"

Ilalang menatapnya seolah pertanyaan itu mengganggu.

"Dua."

Linggar menggigit bagian dalam pipinya.

"Baik."

Ia kembali keluar.

Kali kedua, gula sudah ia tambahkan. Linggar menyerahkan cangkir itu tanpa banyak bicara.

Ilalang menyeruput.

"Sekarang terlalu manis."

Mata Linggar langsung membulat.

"Mas tadi minta dua sendok."

"Kenapa kamu menurut begitu saja?"

Linggar terdiam. Ada rasa panas mulai naik sampai tengkuknya.

"Lalu aku harus bagaimana?"

"Seharusnya kamu bisa memperkirakan."

Linggar menatap cangkir tersebut.

"Baik. Saya buat lagi."

Ia meraih cangkir itu.

Kali ketiga.

Linggar berdiri lama di dapur. Tangannya memegang sendok kecil sambil menatap gula.

Satu sendok?

Setengah?

Satu seperempat?

Satu setengah?

Ia menghela napas.

Akhirnya ia membuat kopi baru dengan takaran yang menurutnya paling masuk akal.

Saat kembali, Ilalang bahkan tidak menatap wajahnya.

Cangkir itu ia ambil. Satu teguk, keningnya kembali berkerut.

"Masih salah."

Linggar memejamkan mata.

"Kurang atau terlalu manis?"

"Kurang."

Linggar membuka mata.

"Kurang gula lagi?"

"Iya."

Linggar menatapnya tidak percaya.

"Tadi dua sendok terlalu manis."

"Sekarang kurang."

"Lalu saya harus menambahkan berapa?"

Ilalang mengangkat bahu.

"Buat saja sampai rasanya pas."

Sesuatu dalam dada Linggar seperti putus. Ia mengambil cangkir tersebut tanpa menjawab. Tidak juga menatap lelaki itu.

Linggar kembali menuju dapur. Langkahnya semakin cepat. Begitu sampai di sana, ia meletakkan cangkir cukup keras.

"Pas katanya." Bibirnya menggumam.

Ia membuka tempat gula. Tangannya berhenti. Matanya jatuh kepada wadah kecil lain.

Garam.

Linggar terdiam. Ada senyum tipis muncul atas di bibirnya. Bukan senyum bahagia. Lebih mirip senyum seseorang yang sudah kehilangan kesabaran.

"Katanya sampai rasanya pas."

Linggar mengambil sesendok garam. Kemudian menuangkannya ke dalam kopi dan mengaduknya perlahan.

Aroma kopi masih sama. Warna cairannya juga tidak berubah.

Ia membawa cangkir tersebut kembali.

"Ini."

Ilalang mengambilnya.

Linggar berdiri beberapa langkah menjauh.

Lelaki itu menyeruput. Sesaat wajahnya tidak berubah. Kemudian matanya terangkat.

"Linggar....."

Dengan menyembunyikan senyum Linggar menjawab. "Ya?"

"Apa yang kamu masukkan?"

Linggar berusaha mempertahankan wajah polos.

"Gula."

Ilalang mengambil cangkir. Tatapannya semakin tajam.

"Gula?"

Linggar mengangguk.

Ilalang menurunkan cangkir.

Jantung Linggar berdetak lebih cepat. Namun melihat wajah lelaki itu, rasa takutnya justru bercampur puas.

"Mungkin gulanya asin."

Rahang Ilalang mengeras.

"Kamu pikir aku bodoh?"

Linggar tidak menjawab.

"Kamu sengaja?"

Perempuan itu menunduk sebentar.

"Mas sendiri yang bilang saya harus membuatnya sampai rasanya pas."

"Jadi kamu memasukkan garam?"

Linggar mengangguk kecil.

Ilalang berdiri. Gerakannya begitu tiba-tiba sampai Linggar spontan mundur.

"Kenapa?"

"Karena Mas sudah menyuruh saya membuat kopi tiga kali."

Tatapan Ilalang semakin gelap.

Linggar mulai sadar bahwa ia mungkin sudah keterlaluan. Namun nasi telah menjadi bubur.

Ilalang meletakkan cangkir di atas meja. Bunyi kecil itu justru membuat Linggar semakin tegang.

"Kamu baru beberapa jam menjadi istriku. Dan kamu sudah membuat aku hilang kesabaran."

Perkataan itu membuat Linggar terdiam.

Ilalang berjalan mendekat.

Linggar mundur sampai punggungnya menyentuh dinding.

"Apa yang Mas mau?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   98. Tak sepadan

    Bu Ratih hanya tersenyum samar.“Bagaimana tidak sepadan? Bukankah Cindy bukan orang biasa? Dia bahkan sekarang tinggal di Tokyo."Bu Ratih seketika menatap Linggar."Kamu tahu itu? Apa kamu bertemu dengannya di sana? Atau anak bodoh itu mengunjunginya?" Tanpa memberi kesempatan pada Linggar, Bu Ratih memberondong pertanyaan."Bukan begitu, Nek. Saya hanya tahu dari Rania. Dia yang mengatakan itu.""Oh... "Wajah Bu Ratih tampak berubah sesaat. Jemarinya yang semula sibuk merapikan ujung taplak meja berhenti bergerak.“Kamu tahu dari Rania?”Linggar mengangguk pelan.Bu Ratih menarik napas.“Begitu.” Ada nada aneh yang sulit disembunyikan dari nada suaranya.Linggar menatap wanita tua itu, mencoba melihat apa yang ia pikirkan.“Ayah Cindy seorang diplomat,” ujar Bu Ratih akhirnya. “Bukan pengusaha seperti keluarga kita. Bukan juga seperti suami Laras sekarang.”Linggar diam.“Sekarang ayahnya bertugas di Tokyo. Jadi Cindy ikut tinggal bersama keluarganya.”Linggar hanya bisa menatap

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   97. Cerita

    Lalu tanpa menoleh lagi segera pergi. Tangan Linggar gemetar ketika menekan tombol lift.Pintu terbuka. Linggar masuk seorang diri.Begitu pintu lift menutup, wajahnya yang sejak tadi berusaha tegar langsung berubah. Bibirnya bergetar dengan napas yang terasa sesak. Air mata pertama jatuh. Linggar buru-buru mengusapnya.“Jangan menangis,” bisiknya kepada diri sendiri. Namun semakin ia berusaha menahan, semakin deras air mata itu mengalir. Ia menunduk, menggigit bibir supaya tidak mengeluarkan suara."Kenapa aku menangis? Bukankah tadi aku sendiri yang mengatakan bahwa pernikahan kami hanya saling menguntungkan? Lantas kenapa sekarang hatiku justru berharap lelaki itu menyusul?"Pintu lift terbuka.Linggar segera mengangkat wajah. Ia sempat menoleh ke belakang.Kosong. Tidak ada langkah kaki. Apalagi suara Ilalang memanggil namanya dan menghentikan langkahnya.Linggar menelan ludah. Ia berjalan menuju kendaraan yang sudah menunggunya.Sepanjang perjalanan menuju bandara, Linggar lebih b

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   96. Bukan milikmu

    Jantung Linggar seperti tersentak saat lelaki itu melangkah dengan cepat ke arahnya dengan wajah seram siap meledak."Mas... "Linggar berhenti beberapa langkah dari pintu lift, menatap wajah lelaki itu yang terlihat tegang, jauh berbeda dengan sosok santai yang meninggalkannya beberapa jam lalu.Linggar sempat melirik pintu lift, lalu kembali menatapnya."Kamu sudah pulang?"Ilalang tidak menjawab. Tatapannya justru jatuh pada Linggar, kemudian bergeser menuju pintu utama apartemen.Linggar mengikuti arah pandangnya. Aaraf. Kendaraan lelaki itu masih terlihat dari balik kaca."Kamu pulang sama siapa?" suara Ilalang terdengar rendah.Linggar mengernyit."Aaraf.""Kenapa? Kamu janjian dengannya?"Linggar mulai merasa tidak nyaman."Aku tadi pergi mencari teman lama. Ternyata rumahnya sudah bukan milik mereka. Aaraf pemilik baru rumah itu.""Alasan. Cepetan naik. Kita bicara nanti."Lelaki itu berbalik lebih dulu.Linggar mengikutinya dengan langkah cepat.Begitu pintu apartemen tertutup

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   95. Ketemu lagi

    "Bukankah Cindy juga berada di Tokyo. Apakah Ilalang menemuinya lagi seperti kapan hari? Ia berdiri, berjalan menuju jendela, lalu kembali duduk. Rasa tak enak mulai muncul. Sudahlah, Linggar. Jangan berharap lebih hanya karena kamu sudah diajak jalan-jalan. Semua itu hanya karena klien yang tak jadi. Jangan mikir macam-macam. Apalagi mencampuri uruasannya." Linggar berusaha meredam hatinya. Akhirnya Linggar mengambil keputusan. Ia membuka aplikasi transportasi dan memesan kendaraan. Tak lama kemudian, sebuah taksi datang menjemput. Linggar menyebutkan alamat sebuah rumah yang ada dalam ingatannya. Sebuah keluarga yang sudah lama dikenalnya tinggal tidak terlalu jauh dari kawasan tempat mereka tinggal. Setelah perjalanan cukup lama, taksi berhenti di depan sebuah rumah. Linggar turun. Ia berdiri sebentar sambil memastikan alamat. Pintu pagar terbuka. Linggar melangkah masuk. Belum sempat mengetuk, pintu rumah terbuka. Seorang lelaki keluar. Linggar kaget. A

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   94. Ketakutan

    Pagi berikutnya, tetap sama. "Mas, kita mau ke mana laginhari ini kok kamu pakai pakaian gitu?" Ilalang yang baru saja memasukkan ponselnya ke saku menoleh. "Jalan-jalan." "Lagi?" "Iya." Linggar mengerutkan kening. "Bukannya kemarin kita sudah jalan-jalan?" "Memangnya kenapa kalau hari ini jalan lagi?" Linggar menatap Ilalang. "Aku kok ngerasa Mas kayak orang nggak punya pekerjaan." "Memang tidak." "Lalu kliennya?" "Batal." Jawaban singkat itu membuat Linggar hanya bisa menghela napas. Ia masih belum sepenuhnya percaya bahwa perjalanan mereka ke Tokyo benar-benar berakhir tanpa satu pun pertemuan bisnis. Namun Ilalang terlihat santai saja sejak pagi. Sungguh beda dengan kebiasaannya yang selalu spaneng jika ada urusan kegagalan dalam kerjaannya. "Kalau gitu kita pulang, Mas. Ngapain kita leyeh-leyeh di sini." "Aku.masih ada urusan. Besuk atau lusa, baru kita pulang." Lelaki itu bahkan sudah berdiri di dekat pintu sambil menunggunya. "Cepat. Nant

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   93. Perasaan

    Ilalang hanya terkekeh menanggapi pertanyaan Linggar, bahkan saat Linggar memukulnya dengan bantal. Ia lalu meneruskan tidurnya. Demikian juga besoknya setelah bangun sholat Subuh. Linggar yang telah selesai menelpon Lintang, juga selesai makan dari makanan yang dipesan Ilalang, menggelengkan kepalanya saat melihat lelaki itu masih tidur. "Mas, bangun. Memang jadwal kita ketemu klien jam berapa?" "Nanti saja." Linggar masih menggoyangkan bahu Ilalang. "Kenapa nanti?" "Ngantuk. Dingin banget." Linggar menatapnya tidak percaya. "Mas, ini sudah siang, masih bisa-bisanya tidur jam segini. " "Bisa." Ilalang menarik selimut menutup kepalanya. Linggar hanya menatapnya. Diam. "Memangnya kenapa, la aku ke sini buat nyantai kok," guman Ilalang. "Nyantai gimana?" Ilalang yang masih ngantuk, kaget. "Lho, bukannya kamu sudah keluar?" "Keluar ke mana, Mas? Bosku aja masih di sini." Ilalang tersenyum, lalu menarik tangan Linggar. Wanita itu terjerembab ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status