LOGIN'Aku Berharap kau akan bahagia untuk waktu yang cukup lama, sampai kedatanganku kembali pada kehidupanmu.' kata-kata terakhir yang diucapkan oleh BASYIRA selalu memenuhi isi kepala Bagas Kuncoro. sampai pada hari yang spesial ini, dimana Bagas akan mengikat Janji Suci Pernikahan dengan Imelda, gadis impiannya. Namun, suasana pernikahan Bagas menjadi tidak nyaman saat seorang Wanita cantik datang bersama dengan pebisnis muda bernama Alderad. Ya, wanita itu adalah Basyira, mantan Istri Bagas. wanita berhijab itu berubah menjadi sangat cantik dan begitu menarik perhatian para tamu undangan. wanita yang dulu telah Bagas hancurkan, kini menunaikan janjinya untuk kembali pada kehidupan Bagas. Bagaimana kisah perjalanan Cinta Basyira, akankah Ia kembali pada mantan suaminya ataukah menjalin hubungan baru bersama dengan Alderad? Temukan kisah cinta penuh intrik dan ambisi seorang wanita yang telah disia-siakan oleh mantan suaminya. Seorang wanita pendiam yang berubah menjadi monster menyeramkan. Baca kisah selengkapnya hanya di Novel ini.
View More***Olivia's POV***
At nineteen years old, I should be living my best life. I should be enjoying my school break, going to parties with my boyfriend, Drake, and planning my future. Instead, I am a prisoner. My father died a few months ago, and he left me with a final, cruel surprise. His will. "To my daughter, Olivia, I leave everything to her. But only if Chandler Sterling remains her guardian until she's twenty-five or married. She must live in his house, she must follow his rules. If she ever refuses this arrangement, she loses everything." My own father had sold me to the devil. And that devil’s name was Chandler Sterling. He was my father’s best friend, the man I had a secret crush on when I was a kid. But he had abandoned us five years ago, moving to London without a word. Now, he was back to be my guardian. Which is exactly how I ended up here. Bent over his knees. SPANK. The leather couch creaked as Chandler adjusted his weight, the sound lost against the sharp crack of his palm meeting my skin. I gasped, my back arching as the sting radiated across my a*ss. Tears blurred my vision, dripping onto the fabric of his expensive suit pants. "Is he worth it, Olivia?" his voice was a low, dangerous rumble. His hand was buried in my hair, tilting my head back just enough to force me to look at him. I saw the cold fire in his eyes. He wasn't the 'uncle' I remembered. He was a monster. "Is that boy worth this much defiance?" he demanded. "He’s my boyfriend, Chandler!" I gasped, my eyes watering from the lingering sting. I wanted to scream it. I wanted to fight. But with my body bent over his knees and my heart hammering against my ribs, I felt helpless. "You can’t just tell me who I can see. You’re not my father—" SPANK. Another one landed, harder than the last. "F*ck!" I cried out, my fingers curling into his pants. My skirt was hiked up around my waist and my panties were down around my ankles. I was exposed, humiliated, and completely at his mercy. "Your father trusted me to ensure you didn't make reckless decisions," he hissed, leaning down until his lips brushed my ear. "Sneaking out to see someone who doesn't respect the boundaries of this house is exactly what I was asked to prevent. As long as you are staying here, the rules are not suggestions." The heat in my body was confusing. I hated him, but the way he held me... the way his voice vibrated against my skin... it made my pulse race for all the wrong reasons. "I'm sorry, Daddy," I whispered. The word trembled on my lips, thick with a submission I hated myself for feeling. I just wanted the pain to stop. "Please, Daddy... It hurts... " Chandler’s breath hitched at the name. I saw a flicker of something dark and hungry cross his face. The grip on my hair tightened as he forced me again to look into his dark, unyielding eyes. "If you want to call me that, you better start acting like you mean it," he murmured, his voice dropping low and seductive. "I hate you," I sobbed, though the traitorous heat pooling between my legs told a different story. I was almost certain I was soaking his pants. "Good," he whispered. "Hate me all you want, as long as you f*cking listen to me. Now, tell me again... are you going to see him tonight? I opened my mouth to lie, to defy him one last time, but the words died in my throat. I was broken. He had dismantled my pride in minutes. "I asked you a question, Olivia," he warned. He gave my hair a sharp tug, making me whimper. "Are you going to see him?" "No," I choked out. "No, Daddy. I’ll stay. I’ll stay here with you. Just please... please..." "Good girl," he growled. The praise vibrated against my skin as he buried his face in the crook of my neck, kissing my skin intimately. It wasn't a comfort; it was a claim. I closed my eyes, shivering. He had won. I told myself I still hated him, but as he held me, I knew I wasn't going anywhere. I was stuck here, and part of me, the part I hated most, didn't even want to leave. His hand, the same one that had just been spanking my a*ss until it bruised, slid downward. It moved with a slow caress until his fingers found my drenched panties around my ankles. He didn't put them back on me. He pulled them off completely. "You won't be needing this," he whispered. The door to my life had just locked, and Chandler Sterling held the only key.Aku dapat melihat dengan jelas, saat kedua alis Alderad saling bertautan. Pria itu, nampak meletakkan piring apelnya pada meja. setelah itu, kembali berjalan menuju ke arahku. Tak ingin Alderad membaca pikiranku, bahwa saat ini aku merasa tidak nyaman dengan kehadirannya. Aku memutuskan untuk tetap ditempat, tidak peduli dengan tatapan matanya yang tajam. kembali Alderad meraih daguku, agar pandangan kami kembali bertemu. "Dari awal, kau memang menyedihkan." Jawabnya, singkat tanpa memperdulikan perasaanku. "Jangan merasa menjadi korban. kaulah yang datang dan menyetujui untuk menikah dengan-" "Cukup!" aku menepis tangan Alderad, tidak ambil pusing dengan ekspresi wajah terkejut sekaligus tak suka dengan caraku menyingkirkan tangannya dari wajahku. "Kau sudah mulai berani," Alderad kian mengikis jaraknya dengan tubuhku. Tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk terjadi, aku memutuskan untuk membalikkan badan dan bersiap untuk pergi. Namun, baru selangkah, tanganku sudah ditar
"Apa Nadia masih tidur?" aku menatap wajah Tiara yang sedang terlihat menatap box bayi tempat tidur Nadia.Tiara tersenyum menanggapi pertanyaanku. Gadis itu nampak menatap diriku dengan tatapan yang tak mampu aku artikan."Kenapa menatapku, seperti itu?" tanyaku sambil mendudukkan tubuhku di pinggiran kasur. Jujur saja, aku sedikit lelah dengan semua hal yang aku lakukan, padahal Alderad hanya menyuruhku untuk memilih baju. "Nadia baru saja tidur setelah meminum satu botol ASI yang anda siapkan." Jawab Tiara.Aku mengangguk dan tersenyum penuh rasa syukur atas apa yang dilakukan gadis ini. Sebenarnya, sudah dari dulu aku penasaran. Siapa sosok Tiara sebenarnya. Gadis ini, tidak seperti para pekerja di rumah ini yang memakai baju khusus pelayan. Ia bebas memakai baju yang ia sukai, dan memiliki kamar tersendiri, berbeda dengan para pekerja yang memiliki kamar di paviliun belakang rumah Alderad.Tiara telah menempati posisi kamarnya di dalam rumah utama ini, jauh sebelum Basyira memasu
"Turunlah, apa kau tuli?" kembali Alderad menyadarkan ku untuk segera turun dari mobil. Tak ingin menambah daftar panjang Omelan pria itu, aku bergegas untuk turun dari mobil. Sebuah butik baju yang lumayan besar. Entah apa tujuannya mengajakku datang ke tempat ini, tapi aku rasa Alderad memiliki sebuah rencana.Tanpa mengatakan apa-apa, Alderad melangkahkan kakinya menuju ke dalam butik. Aku pun melakukan hal yang sama tanpa menunggu ucapan Alderad."Pilihlah pakaian yang kau suka. Tapi, kau harus tahu batasannya. Mulai sekarang, kau adalah wanita yang memiliki derajat sama denganku. Jadi, kau harus tahu apa yang sebaiknya kau pilih." Pria itu terlihat tak memperdulikan diriku yang sebenarnya masih sedikit kebingungan atas permintaan yang diucapkannya. Baru saja ingin bertanya, kedua mataku kembali menangkap siluet tubuh wanita yang tadi keluar dari kamar Alderad. Keduanya nampak begitu akrab, duduk berdampingan di Sofa yang telah tersedia di tempat ini. Tak ingin terlihat bodoh, aku
"Tidak bisa, kita harus secepatnya menikah." Ucap Imelda saat berada di rumah Bagas. Wanita itu terus mendesak agar Bagas menikahinya setelah mengetahui pria itu menceraikan dan mengusir Basyira dari rumah.Bagas mengabaikan perkataan Imelda, Ia masih berusaha untuk meyakinkan beberapa investor agar kembali menyuntikkan dana pada perusahaannya."Mas, apa kau tidak mendengarkan ucapanku?" Imelda merasa kesal dengan sikap acuh Bagas. Pria itu tampak begitu serius menatap layar laptopnya."Aku akan menikahimu, setelah aku mendapatkan investor agar kembali-""Jangan khawatir," potong Imelda dengan tatapan liciknya."Aku bisa membantumu untuk bisa mendapatkan Investor baru, asalkan kau menikahi diriku."Bagas menatap wajah sang kekasihnya, memperhatikan gerak-gerik Imelda yang begitu percaya diri dengan ucapannya.***Menjadi partner kerja seorang Alderad bukanlah hal yang mudah. Aku harus memastikan bahwa diriku layak mendapatkan gelar setara dengan dirinya, seorang CEO Hotel berbintang y






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews