Share

JASA PIJAT BRONDONG NAKAL
JASA PIJAT BRONDONG NAKAL
Author: Kalang Langit

PART 01

Author: Kalang Langit
last update Last Updated: 2026-02-04 13:20:50

     Namanya Bara Aditya. Usianya dua puluh satu tahun. Ia seorang mahasiswa di salah satu universitas negeri terkenal di Jakarta. Ia adalah seorang mahasiswa perantauan yang datang dari pulau seberang. Secara umum, Bara tergolong pemuda yang memiliki ketampanan di atas rata-rata dengan postur yang tinggi kekar. Hanya saja, ia bukan seorang mahasiswa yang berasal dari keluarga berada. Untuk menambah uang saku dan keperluan kuliahnya, ia juga menawarkan jasanya sebagai seorang massage therapist. Tukang pijat. Tentang keahliannya itu ia ceritakan juga pada Tante Liana, ibu kosnya, suatu saat ketika ia membayar uang bulanan kosnya. “Jika suatu saat Tante atau Om butuh tukang pijit, bisa panggil saya saja. Jangan khawatir, Tante, untuk Tante dan Om aku akan pasang tarif keluarga yang sangat ramah tamah dan berbudi bahasa,” seloroh Bara, mempromosikan profesi sambilannya. Tante Liana pun dibuat tertawa oleh rangkaian kalimat Bara yang terakhir yang mirip potongan lirik sebuah lagu dangdut itu, lalu bertanya, “Beneran kamu bisa mijit, Bar? Kamu belajar dari mana mijetnya?” Saat itu suami Tante Liana, Om Hendra Wijaya, sedang tidak ada di rumah. Suami Tante Liana seorang dosen di beberapa perguruan tinggi swasta, dan juga seorang bisnismen. Tapi Bara tidak tahu Om Hendra itu bisnis apa. “Kebetulan kakek saya dari ibu saya seorang ahli pijat dan urut di kampung, Tan. Jadi keahlian saya ini diturunkan dari beliau.” “Oh begitu? Jadi kamu sudah banyak menerima panggilan untuk memijat, dong?” “Ya lumayan, Tan, tapi belum sering. Kan saya belum lama untuk membuka jasa pijet panggilan ini. Setelah kondisi keuangan keluarga saya tidak seperti dulu lagi setelah usaha orang tua saya bangkrut, jadi terpaksa saya mulai membuka saja jasa massase panggilan.” “Oh begitu? Maaf, memangnya usaha orang tuanya Dik Bara apa di kampung?” “Toko kimia, Tan. Setelah toko-toko kimia lain yang jauh lebih besar dan lengkap berdiri di sana sini, toko ayah saya yang kecil ya jadi kelindas dengan sendirinya.” “Hm ya, ya. Baik, Dik Bara, jika nanti atau besok suami Tante butuh untuk dipijit, Tante pasti akan menggunakan tenaga kamu.” “Baik, Tan. Terima kasih, sebelumnya.” “Iya, Dik Bara, sama-sama.” Tempat kos Bara adalah jejeran beberapa kos yang menyerupai kamar-kamar tempelan karena dinding belakang kos-kos itu langsung menggunakan tembok pagar bumi rumah induk yang berdiri doi tengahnya. Rumah utamanya ditempati oleh sang pemilik kos, yaitu pasangan suami-istri yang bernama Om Hendra Wijaya dan Tante Liana. Sedangkan yang kos di tempat itu hanya buat mahasiswa dan mahasiswi. Kos-kosan yang berada di samping barat khusus untuk cewek, mahasiswi. Sementara yang di sebelah timur khusus cowok. Di sebelah timur itulah kosnya Bara. Pekarangan rumah utama dan bagian depan kedua baris kos itu dikonblok dan dihiasi oleh berbagai tanaman, sehingga terlihat sangat rapi, asri, anggun, dan sejuk. Ada juga beberapa pohon jambu bol dan jambu Taiwan di pekarangan yang cukup luas itu. Suatu hari, saat pulang dari kampus, Bara bertemu dengan Tante Liana yang sedang menyapu ringan beranda depan rumahnya. Bara memang suka mematikan mesin sepeda motornya saat di luar pintu agar rumah dan mendorongnya masuk. Sesaat ia berhenti dan tertegun melihat wanita yang sudah berusia empat puluhan tahun itu. Wanita itu masih memiliki pesona yang sangat kuat. Beliau masih terlihat sangat cantik dengan kulitnya yang putih bersih dan masih kencang. Ketika tiba-tiba wanita itu menoleh dan melihat ke arahnya, Bara hendak menarik wajahnya, namun terlambat. Ia pun terpaksa tersenyum dan mengangguk pelan sambil menyapa, “Tante …?” “Baru pulang dari kampus, Dik Bara? Atau dari tempat pelanggan untuk mijet?” “Dua-duanya, Tan. Dari kampus trus meluncur ke rumah pelanggan.” “Oh gitu?” ucap Tante Liana seolah-olah kepada sapu di tangannya. Wanita itu sepertinya sengaja membiarkan Bara untuk menikmati keindahan tubuhnya. Karena saat itu ia memang mengenakan baju kaos hitam dan celana hitam ketat pendek ketat sehingga sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih dan mulut. Beliau memiliki sepasang kaki yang besar dan padat namun sangat indah. Biasanya, jika keluar rumah, beliau suka mengenakan hijab sar’i dan gamis atau abaya. “Iya, Tan. Apakah Tante sudah cerita sama Om kalau saya bisa mijet?” Tante Liana memandang ke arah anak kosnya yang paling ganteng sendiri itu, tersenyum, dan menjawab, “Belum sempat, Bar. Besok kalau beliau pulang, akan Tante kasih tahu.” “Syiplah, Tan. Ya sudah, kalau begitu saya masuk dulu.” “Iya, Dik Bara, monggo …” Bara hendak mendorong sepeda motornya, namun tiba-tiba wanita itu memintanya untuk menunggu dulu sembari melangkah masuk ke dalam rumahnya. Oh My God! Jantung Bara berdegup kencang dengan mata yang agak terbuka lebar. Saat itu ia disuguhkan oleh sebuah pemandangan yang sangat indah. B*kong wanita itu benar-benar indah. Bulat dan cukup besar dan menantang. Makin indah lagi ketika wanita itu sedang melangkah. Namun ia segera membuang wajahnya ke arah lain ketika melihat bayangan wanita itu kembali melangkah keluar. “Ini, Dik Bara ….” Tante Liana menyodorkan sebuah plastik hitam yang berisi sesuatu. Bara memasang standar sepeda motornya lalu melangkah ke dekat wanita itu. “Apa ini, Tan?” tanyanya sembari mengambil tas plastik itu dari tangan wanita itu. “Itu bakso. Tadi Tante pesan beberapa porsi. Itu bakso super di toko bakso di tengah kota sana. Tadi Tante simpan di pemanas.” “Wah, terima kasih banyak nih, Tan. Ya sudah kalau begitu saya ke kamar dulu.” Saat itu, dua kamar kos yang ada di kedua sampingnya sedang tidak ada penghuninya. Penghuninya sedang melakukan KKN, dan satu lagi sedang pulkam. Namanya Ari dan Hendri. Bara beda kampus dengan keduanya. Namun mereka akrab. Sementara dua kos yang sebelah barat dihuni oleh cewek-cewek. Mereka kuliah di fakultas kedokteran gigi. Jadi, di kos sebelah timur itu hanya ada dia sendiri saat itu. Tiba di kamar kos Bara mengambil mangkok, sendok, dan garpu lalu menuangkan bakso yang diwadahi plastik putih itu. Satu plastik berisi pentolan bakso yang sudah setengah diiris dengan beberapa irisan. Sementara pada plastik yang satu berisi mie, bihun, dan tahu goreng. Selanjutnya bakso semangkuk itu diletakkannya di atas meja belajar. Ia ingin makan bakso sembari membuka YouTube di layar ponselnya. Ketika ia duduk di kursi menghadap meja belajarnya, ia bisa melihat keluar melalui kaca jendela di sampingnya. Kaca itu hanya bisa melihat ke luar, tapi orang luar tidak bisa melihat ke dalam jika lampu kamar tidak dihidupkan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 07

    Malam itu Bara memenuhi panggilan Tante Liana. Sebelum menuju acara inti, Om Hendra mengajaknya ngobrol sambil bercanda. Walau ia jarang bertemu dan mengobrol dengan laki-laki yang berusia lima puluhan tahun itu, namun Bara sudah merasa akrab dengan beliau. Usia Om Hendra memang terpaut cukup jauh dengan usia istrinya, Tante Liana. Wanita itu duduk di dekat suaminya, menemaninya. Tikar plastik sudah digelar di samping sofa, disiapkan untuk tempat memijat. Lalu, sembari memulai pemijatan, Om Hendra mulailah bercerita ngalor-ngidul, namun terbuka, dan santai. Saat itu Tante Liana duduk di sofa sembari nonton TV yang volumennya dikecilkan. Walau matanya tertuju pada layar datar yang besar di depannya, namun sepertinya telinganya mendengarkan obrolan suaminya dengan Bara. Tiba-tiba, tanpa tedeng aling-aling, Om Hendra mulai bercerita agak serius, bahwa setelah melawati usia empat puluh lima tahun, intensitas hubungan ranjangnya dengan istrinya, Tante Liana, sudah j

  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 06

    Pada saat ia melangkah dari rimbunan pohon jambu itu, Bara melihat daun jendela yang menghadap barat itu terbuka. Setahunya, itu merupakan kamar dari anak perempuan dari Tante Liana, yaitu Mbak Sinta. Saat pandangannya bentrok dengan pandangan Tante Liana, Bara langsung mengangguk dan tersenyum serta menyapa, “Tan …? Oh ya, saya petik beberapa biji buah jambu, Tan.” “Ya gak apa-apa, Dik Dik Bara. Ambil saja daripada rontok begitu saja.” “Terima kasih, Tan.” Bara kemudian melangkah ke utara melalui bagian belakang rumah. Jalan di sini cukup sempit, namun telah dikonblok juga. Dari belakang itu akan melewati kamar tidurnya Tante Liana dan Om Hendra. Saat melewati kamar dengan jendela kata yang terbuka itu, ia mencoba melihat ke dalam kamar itu. Tapi kamar itu itu kosong. Tante Liana belum kembali dari kamar barat. Sementara Om Hendra sudah keluar sejak pukul sepuluh pagi tadi. Akan tetapi, ketika ia menarik pandangannya dari isi kamar itu, Bara

  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 05

    Lalu tiba-tiba kedua tangan Bara memegang pangkal pahanya, beliau menurut saja. Hingga akhirnya benar-benar berlutut membelakangi sang brondong nakal. Hal itu menyebabkan Tante Sherly membenamkan wajahnya pada bantal, dan membiarkan Bara mempermainkan swahnya dengan jari-jarinya. “Ooouuhh …” Tante Sherly melenguh panjang ketika ia merasakan dua jari Bara menyusup masuk ke dalam tubuhnya. Semakin tinggi ia Tante Sherly menjerit dan melenguh, makan semakin cepat pula tangan Bara bekerja, sampai akhirnya wanita yang ditanganinya jatuh tertelungkup setelah menjerit kuat dan panjang yang disertai semburan air bening berkali-kali. Bara membiarkan sang ‘pasien’-nya untuk menikmati sisa-sisa kebahagiaannya dengan damai dan senyap. Setelah beberapa lama Bara membiarkan Tante Sherly senyap dalam tengkurap, Bara tiba-tiba mengangkat kedua pinggangnya, sehingga ia kembali pada posisi semula, yaitu berlutut. Dan selanjutnya, Tante Sherly merasakan ada sesuatu yang menempel di gerba

  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 04

    “Oh ya, menurut teman Tante, kamu masih kuliah, ya?” “Iya benar, Tan. Tapi masih semester enam.” “Kamu hebat, Dik Bara. Kuliah dibiayai sendiri, ya?” “Begitulah, Tan.” Percakapan itu terhenti ketika Bara berkata, “Maaf, Tan, dasternya saya naikkan lagi, ya?” Tante Sherly tidak jadi menjawab, karena saat itu Bara sudah menaikkan ujung dasternya ke atas. Ia tau jika Bara sempat melihat miliknya karena ia tidak mengenakan cd. Namun ia diam saja, tetapi jantungnya berdetak lebih kencang dari normalnya. Setelah memijat betis dan bagian paha, Bara ternyata langsung beralih ke punggung Tante Sherly. Namun demikian, pijatan dan urutan lembut dari tangan Bara tetap saja membuat detak jantungnya cepat dan suhu tubuhnya naik. Apalagi saat itu ia hanya berdua dalam kamar yang tertutup. Pijetan Bara memang aslinya terasa sangat enak. Saat kemudian tiba-tiba Bara meminta izin agar daster bagian atas diturunkan saja, Tante Sherly pun tidak menolak. Ia langsung bangun

  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 03

    Malam itu Bara berangkat menuju kediamannya Tante Sherly. Alamat yang dikasih berada di wilayah Jaktim, jadi dia harus berangkat lebih awal, khawatir terhalang macet. Ia ke sana dengan menggunakan sepeda motor berikut box tempat menyimpan peralatan kerjanya. Ia sampai di depan rumah yang dituju pukul delapan lebih lima menit. Rumah itu adalah sebuah rumah di sebuah komplek yang cukup elite. Rumah dengan model minimalis dan berlantai dua itu tampak tertutup rapat. Tetapi terlihat sebuah mobil mewah berwarna merah di depan rumah itu. Setelah memasang standar sepeda motornya, Bara memencet tombol bel di samping pintu rumah itu. Tak lama kemudian muncul seorang wanita yang mengenakan sejenis daster pendek yang bagian depannya lebih tinggi, sehingga kedua kaki dan paha indah dan putih terpampang nyata di depan matanya. Ia menaksir, usia wanita wanita itu sekitar tiga puluhan tahun. Artinya dia bukan Tante Sherly, mungkin saudaranya. Padahal barusan ia menelepon Tante Sherly.

  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 02

    Kamar kosnya itu berhadapan langsung dengan kamarnya Tante Liana dan Om Hendra. Kaca besar di dinding kamar itu tertutup oleh dua lapis tirai, yaitu tirai putih transparan lalu dilapisi dengan tirai gulung yang terbuat dari kain blackout warna biru. Saat itu tirai gulung itu tampak belum dibuka. Selanjutnya Bara menikmati baksonya sembari menonton video tentang tema kuliah di sebuah kanal YouTube. Namun saat menikmati dua hal itu, ekor matanya melihat pergerakan di samping, yang membuatnya spontan menoleh. Ternyata Tante Liana yang sedang menggeser tirai gulungnya ke salah satu jendela kacanya. Karena lampu kamar dalam kondisi menyala, maka ia bisa melihat wanita itu dengan cukup jelas di balik tirai putih trasparan itu. Wanita itu mengenakan handuk kimono biru muda. Sepertinya dia baru selesai mandi. Selanjutnya wanita itu duduk menghadap kaca rias besar, sehingga membelakanginya. Bara menarik wajahnya dan kembali pada mangkok baksonya dan layar ponselnya. Ada panggi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status