LOGINPada saat ia melangkah dari rimbunan pohon jambu itu, Bara melihat daun jendela yang menghadap barat itu terbuka. Setahunya, itu merupakan kamar dari anak perempuan dari Tante Liana, yaitu Mbak Sinta.
Saat pandangannya bentrok dengan pandangan Tante Liana, Bara langsung mengangguk dan tersenyum serta menyapa, “Tan …? Oh ya, saya petik beberapa biji buah jambu, Tan.”
“Ya gak apa-apa, Dik Dik Bara. Ambil saja daripada rontok begitu saja.”
“Terima kasih, Tan.”
Bara kemudian melangkah ke utara melalui bagian belakang rumah. Jalan di sini cukup sempit, namun telah dikonblok juga. Dari belakang itu akan melewati kamar tidurnya Tante Liana dan Om Hendra. Saat melewati kamar dengan jendela kata yang terbuka itu, ia mencoba melihat ke dalam kamar itu. Tapi kamar itu itu kosong. Tante Liana belum kembali dari kamar barat. Sementara Om Hendra sudah keluar sejak pukul sepuluh pagi tadi.
Akan tetapi, ketika ia menarik pandangannya dari isi kamar itu, Bara dibuat agak kaget. Karena pada saat yang sama ia melihat Tante Liana sudah ada dalam kamarnya. Dan lebih membuatnya kaget laget lagi adalah, ternyata Tante Liana saat itu hanya memakai celana pendek yang sedikit longgar dari kain yang tipis dengan atasan baju kaos leher rendah namun pendek, sehingga perut yang putih milik wanita itu terpampang nyata. Perut itu memang agar sedikit berlemak, tetapi kondisi itu justru terlihat sangat seksi dan menggairahkan di mata Bara.
“Eh, Tante. Kirain Om,” ucap Bara sambil mengangguk dan tersenyum. “Maaf, Tan, tadi saya kira Tante sudah pergi bersama Om.”“Tidak. Om pergi keluar kota, ntar malam baru pulang. Oh ya, ntar kan malam Minggu, berarti Dik Bara ke sini saja, ya?”
“Oh iya baik, Tan. Atau Tante WA saya dulu, biar saya langsung datang. Kan gak enak saya kalau langsung datang. Biasanya, Tan, malam pertama untuk langganan.”
“Bai, Dik Bara. Tapi ntar malam Dik Bara gak ada acara keluar, kan?”
“Oh gak ada kok, Tan. Enakan di kos kalau gak ada kegiatan penting di luar.”
“Iya, soalnya hujan masih terus turun saja.”
“Nah itu, Tan. Ya sudah, Tan, saya balik ke kamar dulu.”
“Silakan, Dik Bara.”
Sesampai di kamarnya, Bara malah tidak memperdulikan jambu yang baru saja diambilnya. Yang ada dalam pikirannya adalah pusar, perut, dan bodi Tante Liana yang benar-benar sangat mengusik pikirannya. Ia tidur bersandar dalam kasurnya dengan bantal yang ditinggikan, memandang langit-langit kamarnya. Bayangan Tante Liana yang super seksi tadi memenuhi angannya. Tangan bergerak otomatis ke bagian bawah tubuhnya, mengusap-usap milik kebangaannya yang telah kaku.Namun bunyi panggilan di ponselnya membuatnya secara otomatis menarik tangannya dan meraih benda itu. Itu dari Tante Liana. Bara pun segera menerimanya.
“Halo, Tan …,” sapa Bara dengan berpura-pura mengeluarkan suara yang sewajar mungkin walau detak jantungnya lebih cepat dari normalnya.“Halo juga, Dik Bara. Memangnya hari ini Dik Bara gak ada kegiatan? Ke tempat pelanggan misalnya?”
“Oh gak, Tan. Kebetulan pesanan sedang kosong. Kenapa, Tan?” Seketika Bara merasa heran. Namun ada semacam riak senang dalam hatinya. Suara itu adalah suara wanita yang sedang ia khayalkan dan fantasikan.
“Oh gitu? Oh ya, gimana jambunya? Manis gak?” Suaranya Tante Liana terdengar akrab dan begitu indah dalam lorong telinga Bara.
“Oh, kebetulan aku belum sempat memakannya, Tan. Baru keluar dari kamar mandi soalnya. Tapi dari warnanya yang merah menyala, sepertinya enak dan manis sih, Tan,” sahut Bara mencoba untuk berakrab-akrab ria. “Oh gitu? Nanti kalau Dik Bara merasakannya, bilang ke Tante, ya? Kalau enak dan manis, Tante akan petik juga.” “Baik, Tan. Memang Tante belum pernah ya merasakan jambu itu?”“Belum, Dik Bara. Soalnya Tante tidak menyukai buah yang ada kecutnya.”
“Oh gitu. Iya deh, ntar kalau saya sudah merasakannya saya akan kasih tau Tante.”
“Ok, Dik Bara.”
***
Malam hari Bara tidak ke mana-mana. Tidak ada orderan untuk jasa massage-nya. Kebetulan juga malam itu hujan cukup deras. Musim hujan sedang berlangsung. Malah mungkin sedang puncaknya. Saat itu di pertengahan bulan Januari. Ia pun menutup dan mengunci kembali kamarnya, lalu baring-baring sembari bercengkerama dengan layar ponselnya. Hanya saja, yang ada dalam pikirannya adalah sosok Tante Liana, dan bukan sosok Maya yang terang-terangan menantangnya. Ia membayangkan, andaikata dirinya adalah Om Hendra, pasti ia pasti akan selalu menikmati nikmatnya syurga dunia bersama wanita itu. Ia akan bercinta dengan wanita itu di sepanjang waktu.
Fantasinya itu nyaris membuatnya lena. Namun ia sedikit terhenyak oleh bunyi ponselnya. Ada sebuah panggilan. Ia segera meraih ponselnya. Ternyata dari Tante Liana. Jam di layar ponselnya menunjukkan pukul dua puluh lebih lima belas menit.
Tanpa berpikir panjang, ia pun menerima panggilan itu.
“Selamat malam, Tan ….”
“Malam juga, Dik Bara. Dik Bara sekarang sedang apa?” terdengar suara datar dari Tante Liana.
“Hanya tiduran saja, Tan. Ada apa, Tan?”
“Ini, Om mau mijet. Mungkin Tante juga. Kamu ada waktu sekarang?”
“Oh tentu ada, Tan. Sekarang?”
“Iya sekarang.”
“Baik, Tan. Saya ganti pakain dulu.”
“Yups.”
Tadinya Tante Liana sedang memikirkan Bara ketika suaminya, Om Hendra, mengeluh badannya kecapaian dan agak ngilu-ngilu. Tante Liana pun mengusulkan agar suaminya mijet saja.
“Ya Papa mau juga mijet. Sudah cukup lama Papa belum lagi merasakan mijet. Sejak Engkong Syawal meninggal setahun yang lalu, Papa belum pernah lagi merasakan pijitan.”
“Ya kalau begitu panggil saja Dik Bara, Pap. Dia masseur yang cukup professional,” usul Tante Liana.
“Oh ya? Siapa yang bilang?”
“Dia yang cerita. Dia itu kuliah sembari mencari tambahan dengan menerima jasa massage panggilan. Coba saja, Pap.”
“Oh begitu? Ya sudah, dipanggil saja dia ke sini.”
“Iya, Pap.”
“Belum, Teh. Tentunya Teteh bisa menilainya?” “Ya kalau menurut penilaian Teteh, Dik Bara itu seperti pemuda yang sudah berpengalaman,” jawab Salwa dengan wajah serius dan suara kecil namun jelas terdengar. “Tetapi memang, semburan laharmu sangat kuat. Teteh belum pernah merasakan persitiwa seperti itu sebelumnya. Bahkan dari suami Teteh ketika pertama kali kami melakukannya. Maka Teteh pun berpikir, bahwa Dik Bara adalah seorang perjaka. Tetapi di satu sisi, Teteh juga berpikir dan merasa heran ….” “Heran kenapa, Teh?” “Ya heran, di satu sisi permainan kamu seperti orang yang sudah sangat berpengalaman. Teteh pun sempat berpikir jika Dik Bara sudah biasa melakukannya.” “Oh itu? Ya kan akan otomatis saja, Teh, hukum alam. Sebagian besar juga karena aku sudah pernah melihat di film-film dewasa. Jadi aku tahu. Tapi semua adegan yang aku lihat, satu pelajaran yang aku dapat, yaitu model permainannya ya gitu-gitu saja. Yang berbeda adalah gaya permainannya, ada yang
Salwa terdiam, namun akhirnya mengangguk pelan. Ia yakin, jika penginapan itu sejenis losmen atau hotel melati seperti yang sering ia dengar dari teman-temannya jika sedang berkumpul. Tempat di mana kadang bisa dipakai untuk mencapai kebahagiaan bersama pasangan gelap. “Dik Bara mau melakukan apa di sini?” tanya Salwa dengan suara sedikit mendesah. Sebenarnya itu hanya sebuah pertanyaan pura-pura saja. Sejatinya, saat itu perasaannya sedang degdegan dan panas dingin karena ia sudah sangat ingin digumuli oleh anak kuliahan itu. Bara tidak menjawab pertanyaan itu, namun tangannya langsung menyeberang melewati pinggul Salwa untuk meraih setelan jok tempat duduknya. Jok itu langsung bergerak ke bawah dan Salwa tergolek di atasnya. Lalu, yang dirasakan oleh Salwa selanjutnya adalah bibir Bara yang sudah melumat bibirnya. “Uh uh uuukh ….” Tindakan Bara yang tiba-tiba dengan hawa yang langsung panas itu, membuat Salwa tergagap sesaat. Namun kemudia
Ketika tangan Bara berada di bagian gundukan termahalnya, Salwa langsung menatap sayu ke wajahnya Bara. “Dik Baraa …,” desisnya. Namun tiba-tiba sebuah sepeda motor yang datang dari arah belakang langsung mendahulu dengan cara memotong jalan, membuat Bara sedikit kaget. Otomatis tangannya yang sedang berada pada bagian gundukan Salwa ditarik, meraih presneling dan melepas injakan gas. Mobil pun seperti terangguk, membuat tubuh Salwa sampai terdiring ke depan. Pasca kejadian itu, tangan Bara tidak lagi berada di atas paha Salwa, dan ia konsentrasi pada pada kemudi dan jalan di depannya yang saat itu makin terlihat macet, Bara menjadi lebih sering memindah presneling, mengerem, menginjak gas, dan mengatur kemudi. Saat itu Salwa menyandarkan tubuhnya ke jok. Ia menjadi tidak banyak bersuara. Padahal saat itu ia ingin Bara meletakkan kembali tangannya di pahanya dan di bagian yang ia banggakan, lalu meremasinya. Dan, seumpama tangan pemuda di sampingnya
Bara manggut-manggut, antara memikirkan sesuatu atau memikirkan jalan yang akan dilaluinya di depannya. “Maaf, kalau maninya Dik Bara encer atau kental?” Pertanyaan itu sontak membuat Bara menoleh. Lalu dengan ragu-ragu ia menjawab, “Kalau soal itu saya kurang paham, Teh. Maksud saya, yang jenis mani encer dengan mani normal itu seperti apa?” “Maaf, Dik Bara pernah melakukan ….” Salwa mengerakkan kepalan tangan kananya ke atas ke bawah, sebagai kode on*ni. Namun Bara masih berpura-pura bloon dan bertanya, “Apa itu, Teh.” “On*ni.” “Oh itu? Yang seringlah, Teh. Hehehe, ikh malu mengatakannya.” “Gak apa-apa. Katanya Dik Bara buat mencari pengetahuan.” “Iya juga sih.” “Sering? Maksudnya tiap berapa kali seminggu?” “Wah, gak mingguan, Teh. Harian, malah. Kalau mengikuti desakan bir*hi, ya bisa tiap beberapa jam.” “Wah, itu tandanya kamu itu normal. Malah mungkin tergolong abnormal.” “Abnormal? Gila, gitu?” Salwa sontak tertaw
Terkadang di saat sepi yang melanda, sering tidur sendirian, ia terkadang suka menghayal, berfantasi, betapa nikmatnya dalam sepi jika ada seorang pemuda perkasa yang mampu memuaskannya, dan bahkan membuahinya. Jika sudah berada dalam kondisi dan suasana batin seperti itu, membuat libido Salwa naik. Dan apabila ia sudah tidak mampu menahan gairahnya, ia akan melakukan aksi swalayan, mast**basi sembari membayangkan melakukan hubungan ranjang dengan seorang pemuda perkaca. Karena jika membayangkan main dengan suaminya, Wahid, tentu aksinya akan gagal, karena dalam permainan nyata pun Wahid lebih banyak gagal untuk mengantarkannya di puncak kenikmatan yang tertinggi. Pukul sebelas siang mereka berangkat menuju Cimahi. Jarak rumah dengan Kota Cimahi sekitar tiga belas kilometer dan akan butuh waktu sekitar empat puluh menit. Karena kondisi jalan yang saat itu cukup padat, kemungkinan mereka akan sampai dalam waktu satu jam. Yang bertindak sebagai driver adalah Bara, sementa
Bagi Pak Anwar, berseng**ma adalah memasukan batang kemal**nnya yang tegang ke dalam kemal**n istri dengan tujuan mengeluarkan air mani di dalam lorong rahim secepatnya, dan tidak perlu bertanya apakah istrinya puas atau tidak. Sehingga selama bertahun-tahun, Bunda Yasmin tidak lebih dari hanya sebuah boneka pemuas saja bagi sang suami, setidaknya dalam dua tahun terakhir. Dan Bunda Yasmin sebagai seorang perempuan, yang ternyata mempunyai hasrat besar dan cenderung hyper, hanya bisa berkhayal bisa bercumbu dengan lelaki muda perkasa yang bisa memberikan kenikmatan dan kepuasan maksimal. Ya, yang mampu menghempaskannya ke hamparan langit gelap yang penuh bintang gemintang. Karena itu, ketika pada akhirnya laki-laki perkasa itu benar-benar hadir, yaitu Bara, ia seolah-olah menemukan destinasi fantasinya selama ini. Bara itu seolah hadir dengan membawa telaga bening dan segar kepadanya yang sedang dalam kondisi sangat haus dan dahaga. Sebenarnya, dalam satu tahun
Bara menyebutkan nama kampusnya. Sebuah kampus ternama juga, baik di kota itu maupun di Indonesia. “Wah hebat, Nak Bara. Ambil fakultas apa? Maaf.” “Saya pertambangan, Bu.” “Wah mantap itu. Anak saya yang kerja di Turki itu dulu alumni situ juga, tapi dia di jurusan teknik informat
Tante Liana sendiri jadi curiga dengan kondisinya. Karena kondisi seperti itu pernah ia alami ketika ia hamil muda kedua anaknya. Om Hendra, suaminya, yang melihat kondisi istrinya, dibuat kaget juga, dan bertanya apa yang terjadi, “Mama baik-baik saja?” “Entahlah, Pap. Aku kok seperti m
Setelah Om Hendra mandi dan berpakaian, Tante Liana belum dulu dipijat oleh Bara, agar ia bisa mengantar suaminya itu pergi hingga di ruangan depan, seperti biasa. Om Hendra resmi keluar dari rumahnya sekitar dua puluh menit kemudian. Setelah mobil suaminya pergi, Tante Liana mengunci pi
Malam itu juga, setelah satu jam Bara balik ke kamar kosnya, Tante Liana mengirimkan pesan WA, memberitahukan kepada Bara jika suaminya, Om Hendra, memuji hasil pijatannya. “Jadi Om merasa cocok dengan pijetan saya, Tan?” balas Bara. “Cocok sekali katanya. Bahkan Om menyuruh







