Share

PART 06

Author: Kalang Langit
last update Last Updated: 2026-02-06 11:15:32

        Pada saat ia melangkah dari rimbunan pohon jambu itu, Bara melihat daun jendela yang menghadap barat itu terbuka. Setahunya, itu merupakan kamar dari anak perempuan dari Tante Liana, yaitu Mbak Sinta.  

       Saat pandangannya bentrok dengan pandangan Tante Liana, Bara langsung mengangguk dan tersenyum serta menyapa, “Tan …? Oh ya, saya petik beberapa biji buah jambu, Tan.”

     “Ya gak apa-apa, Dik Dik Bara. Ambil saja daripada rontok begitu saja.”

     “Terima kasih, Tan.”

       Bara kemudian melangkah ke utara melalui bagian belakang rumah. Jalan di sini cukup sempit, namun telah dikonblok juga.  Dari belakang itu akan melewati kamar tidurnya Tante Liana dan Om Hendra. Saat melewati kamar dengan jendela kata yang terbuka itu, ia mencoba melihat ke dalam kamar itu. Tapi kamar itu itu kosong. Tante Liana belum kembali dari kamar barat. Sementara Om Hendra sudah keluar sejak pukul sepuluh pagi tadi.

       Akan tetapi, ketika ia menarik pandangannya dari isi kamar itu, Bara dibuat agak kaget. Karena pada saat yang sama ia melihat Tante Liana sudah ada dalam kamarnya. Dan lebih membuatnya kaget laget lagi adalah,  ternyata Tante Liana saat itu hanya memakai celana pendek yang sedikit longgar dari kain yang tipis dengan atasan baju kaos leher rendah namun pendek, sehingga perut  yang putih milik wanita itu terpampang nyata. Perut itu memang agar sedikit berlemak, tetapi kondisi itu justru terlihat sangat seksi dan menggairahkan di mata Bara.

       “Eh, Tante. Kirain Om,” ucap Bara sambil mengangguk dan tersenyum. “Maaf, Tan,  tadi saya kira Tante sudah pergi bersama Om.”

      “Tidak. Om pergi keluar kota, ntar malam baru pulang. Oh ya, ntar kan malam Minggu, berarti Dik Bara ke sini saja, ya?”

     “Oh iya baik, Tan. Atau Tante WA saya dulu, biar saya langsung datang. Kan gak enak saya kalau langsung datang. Biasanya, Tan, malam pertama untuk langganan.”

     “Bai, Dik Bara. Tapi ntar malam Dik Bara gak ada acara keluar, kan?”

     “Oh gak ada kok, Tan. Enakan di kos kalau gak ada kegiatan penting di luar.”

     “Iya, soalnya hujan masih terus turun saja.”

     “Nah itu, Tan. Ya sudah, Tan, saya balik ke kamar dulu.”

     “Silakan, Dik Bara.” 

       Sesampai di kamarnya, Bara malah tidak memperdulikan jambu yang baru saja diambilnya. Yang ada dalam pikirannya adalah pusar, perut, dan bodi Tante Liana yang benar-benar sangat mengusik pikirannya. Ia tidur bersandar dalam kasurnya dengan bantal yang ditinggikan, memandang langit-langit kamarnya. Bayangan Tante Liana yang super seksi tadi memenuhi angannya. Tangan bergerak otomatis ke bagian bawah tubuhnya, mengusap-usap milik kebangaannya yang telah kaku.

       Namun bunyi panggilan di ponselnya membuatnya secara otomatis menarik tangannya dan meraih benda itu. Itu dari Tante Liana. Bara  pun segera menerimanya.

       “Halo, Tan …,” sapa Bara dengan berpura-pura mengeluarkan suara yang sewajar mungkin walau detak jantungnya lebih cepat dari normalnya.

      “Halo juga, Dik Bara. Memangnya hari ini Dik Bara gak ada kegiatan? Ke tempat pelanggan misalnya?”

     “Oh gak, Tan. Kebetulan pesanan sedang kosong. Kenapa, Tan?” Seketika Bara merasa heran. Namun ada semacam riak senang dalam hatinya. Suara itu adalah suara wanita yang sedang ia khayalkan dan fantasikan.

       “Oh gitu? Oh ya, gimana jambunya? Manis gak?” Suaranya Tante Liana terdengar akrab dan begitu indah dalam lorong telinga Bara. 

        “Oh, kebetulan aku belum sempat memakannya, Tan. Baru keluar dari kamar mandi  soalnya. Tapi dari warnanya yang merah menyala, sepertinya enak dan manis sih, Tan,” sahut Bara mencoba untuk berakrab-akrab ria.

       “Oh gitu? Nanti kalau Dik Bara merasakannya, bilang ke Tante, ya?  Kalau enak dan manis, Tante akan petik juga.”

        “Baik, Tan. Memang Tante belum pernah ya merasakan jambu itu?”

      “Belum, Dik Bara. Soalnya Tante tidak menyukai buah yang ada kecutnya.”

     “Oh gitu. Iya deh, ntar kalau saya sudah merasakannya saya akan kasih tau Tante.”

     “Ok, Dik Bara.”

***

      Malam hari Bara tidak ke mana-mana. Tidak ada orderan untuk jasa massage-nya. Kebetulan juga malam itu hujan cukup deras. Musim hujan sedang berlangsung. Malah mungkin sedang puncaknya. Saat itu di pertengahan bulan Januari.  Ia pun menutup dan mengunci kembali kamarnya, lalu baring-baring sembari bercengkerama dengan layar ponselnya. Hanya saja, yang ada dalam pikirannya adalah sosok Tante Liana, dan bukan sosok Maya yang terang-terangan menantangnya.   Ia membayangkan, andaikata dirinya adalah Om Hendra, pasti ia pasti akan selalu menikmati nikmatnya syurga dunia bersama wanita itu. Ia akan bercinta dengan wanita itu  di sepanjang waktu.

     Fantasinya itu nyaris membuatnya lena. Namun ia sedikit terhenyak oleh bunyi ponselnya. Ada sebuah panggilan. Ia segera meraih ponselnya. Ternyata dari Tante Liana. Jam di layar ponselnya menunjukkan pukul dua puluh lebih lima belas menit.

     Tanpa berpikir panjang, ia pun menerima panggilan itu.

    “Selamat malam, Tan ….”

    “Malam juga, Dik Bara. Dik Bara sekarang sedang apa?” terdengar suara datar dari Tante Liana.

    “Hanya tiduran saja, Tan.  Ada apa, Tan?”

    “Ini, Om mau mijet. Mungkin Tante juga. Kamu ada waktu sekarang?”

    “Oh tentu ada, Tan. Sekarang?”

    “Iya sekarang.”

    “Baik, Tan. Saya ganti pakain dulu.”

    “Yups.”

      Tadinya Tante Liana sedang memikirkan Bara ketika suaminya, Om Hendra, mengeluh badannya kecapaian dan agak ngilu-ngilu. Tante Liana pun mengusulkan agar suaminya mijet saja.

    “Ya Papa mau juga mijet. Sudah cukup lama Papa belum lagi merasakan mijet. Sejak Engkong Syawal meninggal setahun yang lalu, Papa belum pernah lagi merasakan pijitan.”

     “Ya kalau begitu panggil saja Dik Bara, Pap. Dia masseur yang cukup professional,” usul Tante Liana.

     “Oh ya? Siapa yang bilang?”

     “Dia yang cerita. Dia itu kuliah sembari mencari tambahan dengan menerima jasa massage panggilan. Coba saja, Pap.”

     “Oh begitu? Ya sudah, dipanggil saja dia ke sini.”

     “Iya, Pap.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 07

    Malam itu Bara memenuhi panggilan Tante Liana. Sebelum menuju acara inti, Om Hendra mengajaknya ngobrol sambil bercanda. Walau ia jarang bertemu dan mengobrol dengan laki-laki yang berusia lima puluhan tahun itu, namun Bara sudah merasa akrab dengan beliau. Usia Om Hendra memang terpaut cukup jauh dengan usia istrinya, Tante Liana. Wanita itu duduk di dekat suaminya, menemaninya. Tikar plastik sudah digelar di samping sofa, disiapkan untuk tempat memijat. Lalu, sembari memulai pemijatan, Om Hendra mulailah bercerita ngalor-ngidul, namun terbuka, dan santai. Saat itu Tante Liana duduk di sofa sembari nonton TV yang volumennya dikecilkan. Walau matanya tertuju pada layar datar yang besar di depannya, namun sepertinya telinganya mendengarkan obrolan suaminya dengan Bara. Tiba-tiba, tanpa tedeng aling-aling, Om Hendra mulai bercerita agak serius, bahwa setelah melawati usia empat puluh lima tahun, intensitas hubungan ranjangnya dengan istrinya, Tante Liana, sudah j

  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 06

    Pada saat ia melangkah dari rimbunan pohon jambu itu, Bara melihat daun jendela yang menghadap barat itu terbuka. Setahunya, itu merupakan kamar dari anak perempuan dari Tante Liana, yaitu Mbak Sinta. Saat pandangannya bentrok dengan pandangan Tante Liana, Bara langsung mengangguk dan tersenyum serta menyapa, “Tan …? Oh ya, saya petik beberapa biji buah jambu, Tan.” “Ya gak apa-apa, Dik Dik Bara. Ambil saja daripada rontok begitu saja.” “Terima kasih, Tan.” Bara kemudian melangkah ke utara melalui bagian belakang rumah. Jalan di sini cukup sempit, namun telah dikonblok juga. Dari belakang itu akan melewati kamar tidurnya Tante Liana dan Om Hendra. Saat melewati kamar dengan jendela kata yang terbuka itu, ia mencoba melihat ke dalam kamar itu. Tapi kamar itu itu kosong. Tante Liana belum kembali dari kamar barat. Sementara Om Hendra sudah keluar sejak pukul sepuluh pagi tadi. Akan tetapi, ketika ia menarik pandangannya dari isi kamar itu, Bara

  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 05

    Lalu tiba-tiba kedua tangan Bara memegang pangkal pahanya, beliau menurut saja. Hingga akhirnya benar-benar berlutut membelakangi sang brondong nakal. Hal itu menyebabkan Tante Sherly membenamkan wajahnya pada bantal, dan membiarkan Bara mempermainkan swahnya dengan jari-jarinya. “Ooouuhh …” Tante Sherly melenguh panjang ketika ia merasakan dua jari Bara menyusup masuk ke dalam tubuhnya. Semakin tinggi ia Tante Sherly menjerit dan melenguh, makan semakin cepat pula tangan Bara bekerja, sampai akhirnya wanita yang ditanganinya jatuh tertelungkup setelah menjerit kuat dan panjang yang disertai semburan air bening berkali-kali. Bara membiarkan sang ‘pasien’-nya untuk menikmati sisa-sisa kebahagiaannya dengan damai dan senyap. Setelah beberapa lama Bara membiarkan Tante Sherly senyap dalam tengkurap, Bara tiba-tiba mengangkat kedua pinggangnya, sehingga ia kembali pada posisi semula, yaitu berlutut. Dan selanjutnya, Tante Sherly merasakan ada sesuatu yang menempel di gerba

  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 04

    “Oh ya, menurut teman Tante, kamu masih kuliah, ya?” “Iya benar, Tan. Tapi masih semester enam.” “Kamu hebat, Dik Bara. Kuliah dibiayai sendiri, ya?” “Begitulah, Tan.” Percakapan itu terhenti ketika Bara berkata, “Maaf, Tan, dasternya saya naikkan lagi, ya?” Tante Sherly tidak jadi menjawab, karena saat itu Bara sudah menaikkan ujung dasternya ke atas. Ia tau jika Bara sempat melihat miliknya karena ia tidak mengenakan cd. Namun ia diam saja, tetapi jantungnya berdetak lebih kencang dari normalnya. Setelah memijat betis dan bagian paha, Bara ternyata langsung beralih ke punggung Tante Sherly. Namun demikian, pijatan dan urutan lembut dari tangan Bara tetap saja membuat detak jantungnya cepat dan suhu tubuhnya naik. Apalagi saat itu ia hanya berdua dalam kamar yang tertutup. Pijetan Bara memang aslinya terasa sangat enak. Saat kemudian tiba-tiba Bara meminta izin agar daster bagian atas diturunkan saja, Tante Sherly pun tidak menolak. Ia langsung bangun

  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 03

    Malam itu Bara berangkat menuju kediamannya Tante Sherly. Alamat yang dikasih berada di wilayah Jaktim, jadi dia harus berangkat lebih awal, khawatir terhalang macet. Ia ke sana dengan menggunakan sepeda motor berikut box tempat menyimpan peralatan kerjanya. Ia sampai di depan rumah yang dituju pukul delapan lebih lima menit. Rumah itu adalah sebuah rumah di sebuah komplek yang cukup elite. Rumah dengan model minimalis dan berlantai dua itu tampak tertutup rapat. Tetapi terlihat sebuah mobil mewah berwarna merah di depan rumah itu. Setelah memasang standar sepeda motornya, Bara memencet tombol bel di samping pintu rumah itu. Tak lama kemudian muncul seorang wanita yang mengenakan sejenis daster pendek yang bagian depannya lebih tinggi, sehingga kedua kaki dan paha indah dan putih terpampang nyata di depan matanya. Ia menaksir, usia wanita wanita itu sekitar tiga puluhan tahun. Artinya dia bukan Tante Sherly, mungkin saudaranya. Padahal barusan ia menelepon Tante Sherly.

  • JASA PIJAT BRONDONG NAKAL   PART 02

    Kamar kosnya itu berhadapan langsung dengan kamarnya Tante Liana dan Om Hendra. Kaca besar di dinding kamar itu tertutup oleh dua lapis tirai, yaitu tirai putih transparan lalu dilapisi dengan tirai gulung yang terbuat dari kain blackout warna biru. Saat itu tirai gulung itu tampak belum dibuka. Selanjutnya Bara menikmati baksonya sembari menonton video tentang tema kuliah di sebuah kanal YouTube. Namun saat menikmati dua hal itu, ekor matanya melihat pergerakan di samping, yang membuatnya spontan menoleh. Ternyata Tante Liana yang sedang menggeser tirai gulungnya ke salah satu jendela kacanya. Karena lampu kamar dalam kondisi menyala, maka ia bisa melihat wanita itu dengan cukup jelas di balik tirai putih trasparan itu. Wanita itu mengenakan handuk kimono biru muda. Sepertinya dia baru selesai mandi. Selanjutnya wanita itu duduk menghadap kaca rias besar, sehingga membelakanginya. Bara menarik wajahnya dan kembali pada mangkok baksonya dan layar ponselnya. Ada panggi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status