LOGIN“Ooouuhh …” Tante Sherly melenguh panjang ketika ia merasakan dua jari Bara menyusup masuk ke dalam tubuhnya.
Semakin tinggi ia Tante Sherly menjerit dan melenguh, makan semakin cepat pula tangan Bara bekerja, sampai akhirnya wanita yang ditanganinya jatuh tertelungkup setelah menjerit kuat dan panjang yang disertai semburan air bening berkali-kali.Bara membiarkan sang ‘pasien’-nya untuk menikmati sisa-sisa kebahagiaannya dengan damai dan senyap.
Setelah beberapa lama Bara membiarkan Tante Sherly senyap dalam tengkurap, Bara tiba-tiba mengangkat kedua pinggangnya, sehingga ia kembali pada posisi semula, yaitu berlutut. Dan selanjutnya, Tante Sherly merasakan ada sesuatu yang menempel di gerbang sawahnya. Ternyata Bara telah mengarahkan bata bajaknya. Dan ketika mata bajak itu didorong, sawahnya yang sudah berlumpur meresponnya. Benda itu sempat terpendam sebagian, dan Tante Sherly menyambutnya dengan lenguhan panjang.Akan tetapi, bunyi panggilan di ponselnya membuatnya sontak terhenti. Bara pun mematung. Ketika Tante Sherly meraih ponselnya, mata bajak itu otomatis terlepas.
Ternyata suaminya yang menghubunginya dengan video call. Tante Sherly tidak panik, hanya menoileh kepada Bara, sebelum ia segera memakai kembali dasternya, lalu duduk di mini sofa di dalam ruangan itu sembari menerima panggilan itu.Bara yang memahami siapa yang sedang menelepon, langsung melangkah ke arah kamar mandi. Cukup lama ia ada dalam kamar itu, sampai Tante Sherly selesai bicara.Saat ia keluar kamar mandi, ada telepon lagi yang masuk. Bara menatap ke arah Tante Sherly. Wanita itu dengan santai mengangkat ponselnya.“Iya, Dik, gimana? Oh gitu. Iya ini barusan Kakak dipijit dan mau selesai. Ya sudah, lain kali saja.”Tante Sherly menatap ke arah Bara, sekaligus melihat ke arah bagian tubuh pemuda itu yang tampak begitu perkasa.
“Siapa, Tan?”
“Itu adiknya Tante. Katanya dia pulang ntar jam dua belas malam karena ada acara lagi di rumah temannya. Jadi ia gak jadi ikut mijet. Lain kali katanya.”
“Boleh, Tan.”Karena merasa nanggung dan keinginan mereka masih sama-sama membuncah, keduanya pun melakukan apa yang harus mereka lakukan. Pertarungan dan hasil yang sangat luar biasa. Walaupun berlangsung satu kali, namun bagi Tante Sherly seperti melakukannya berkali-kali. Bara berhasil mengantarkannya ke puncak kebahagiaan dan menghempaskannya ke hamparan langit kelam yang bertabur ribuan bintang-gemintang sampai beberapa kali, sebelum Bara sendiri menuntaskan permainan dengan sebuah hentakan yang kuat dari arah belakang sembari meledakkan lahar hangatnya yang mengandung jutaan bakal kehidupan.Ketika akan pamit, keduanya membuat janji untuk bertemu lagi. Namun bukan di rumah itu, tapi di suatu tempat yang akan dipilih oleh Tante Sherly.Tiba di kosnya, jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Bara segera masuk ke kamar mandi, melepaskan semua pakaiannya dan menyimpannya di dalam ember yang bertutup. Setelah itu ia mengguyur tubuhnya dengan air yang terasa sangat dingin. Namun demikian ia mandi cukup lama. Usai mandi ia mengenakan pakaian santai dan menikmati sebatang rokok di kursi-meja belajarnya. Ia tidak keluar untuk makan, karena tadi ia mampir makan di sebuah warteg.Seperti biasanya, ia tidak sampai menghabiskan satu batang rokok secara langsung. Ia mematikannya lalu leyeh-leyeh di tempat tidur. Ia membayangkan kembali apa yang dilakukannya tadi bersama Tante Sherly. Wanita itu sangat luar biasa. Ia seperti seekor singa betina yang sudah lama tidak bertarung. Jika dibandingkan dengan Tante Riani, Tante Sherly memiliki kelebihan di beberapa hal dalam urusan yang satu itu.
Bayangan wajah Tante Sherly buyar oleh suara panggilan di hapenya.Ketika ia meraih dan melihat layar ponselnya, nomor itu belum terdaftar di daftar panggilan. Namun ia tetap mengangkatnya.
“Ya halo ...?” Tetapi tidak ada sahutan di seberang. Malah tiba-tiba terputus.
“Siapa sih?” gumam Bara, seolah-olah pada dirinya sendiri. “Kok masih ada saja panggilan yang nyasar di jam segini.”
Ia pun meletakkan ponselnya, dan membalikkan badannya dan meraih guling, hendak tidur.Tetapi ponselnya berbunyi lagi. Sebuah panggilan. Ia meraih kembali ponselnya dan melihat layarnya. Ternyata nomor tadi.“Siapa, ya, kok iseng banget?” gumamnya lagi. Namun ia tetap mengankatnya.
“Ya halo. Maaf, ini dengan siapa, ya?” “Halo. Dik Bara lagi apa?”
Mendengar suara itu membuat Bara langsung membalikkan tubuhnya, tidur telentang. Bahkan ia kembali menegakkan bantal agar ia bisa duduk bersandar lagi.
“Oh, ternyata Tante. Ini lagi leyeh-leyeh saja, Tan.” Bara merasakan suhu tubuhnya naik. Ada rasa senang yang tiba-tiba bergejolak dalam dirinya. “Tante nelepon di mana?”“Telepon di lantai atas. Oh ya, Di Bara barusan habis dari mana?”“Oh dari mijet pelanggan, Tan.”
“Oh gitu? Pelanggannya cewek apa cowok, tuh?”
“Cowok, Bu, bapak-bapak. Saya belum pernah menerima pelanggan cewek.” Jelas itu sebuah kebohongan. Itu lebih baik, daripada mengaku secara jujur tapi bakal panjang pertanyaannya.“Oh laki-laki. Memangnya belum pernah dapat pelanggan cewek?”“Oh pernah dulu. Ibu-ibu tua.” Karena tidak ingin bahasan berkanjut, Bara pun mengalihkan topik dengan bertanya, “Oh ya, memangnya Om gak dengar Tante nelpon seperti ini?” “Gak kok, kan dia di bawah. Suidah tidur juga.”“Oh gitu?”“Iya. Oh ya, bagaimana rasa baksonya, enak gak?” “Oh enak, Tan. Tapi pentolannya besar-besar, jadi saya hanya mampu makan satu biji. Yang satu biji buat aku makan nanti lagi. Terima kasih ya, Tan, buat baksonya. Tante sendiri belum dimakan baksonya?”“Belum, Dik Bara. Nanti mau dipanaskan dulu. Ya sudah, nanti lagi, ya? Tante mau turun dulu.”“Baik, Tan.”
***
Hari itu Bara tidak ke kampus. Tidak juga keluar untuk memenuhi panggilan masasse, karena belum ada pesan. Bangun tidur siang, ia berjalan ke samping rumah utama bagian barat. Tiga pintu kos di sisi itu terlihat tertutup rapat. Penghuninya sedang ke kampus. Tadi Maya sempat mengirim pesan WA jika ia akan ke kampus dan membawa dulu laptopnya. Saat itu terasa sepi, hanya ditemani beberapa batang pohon jambu air Taiwan yang sedang berbuah lebat. Buahnya besar-besar. Warnanya merah cerah atau merah menyala, disebut Red Taiwan. Buahnya besar-besar dan rendah-rendah. Hanya dengan mengangkat sedikit tangannya, ia bisa memetik buah-buah yang manis itu. Ia pun memetik beberapa buah jambu itu. Tante Liana dan Om Hendra memang tidak melarang anak-anak kosnya untuk mengambil buah-buahan itu. Karena kadang-kadang anak-anak kos juga ikut membantu mengurusi tanaman-tanaman tersebut, termasuk menyapu dedaunan yang rontok.
Malam itu Bara memenuhi panggilan Tante Liana. Sebelum menuju acara inti, Om Hendra mengajaknya ngobrol sambil bercanda. Walau ia jarang bertemu dan mengobrol dengan laki-laki yang berusia lima puluhan tahun itu, namun Bara sudah merasa akrab dengan beliau. Usia Om Hendra memang terpaut cukup jauh dengan usia istrinya, Tante Liana. Wanita itu duduk di dekat suaminya, menemaninya. Tikar plastik sudah digelar di samping sofa, disiapkan untuk tempat memijat. Lalu, sembari memulai pemijatan, Om Hendra mulailah bercerita ngalor-ngidul, namun terbuka, dan santai. Saat itu Tante Liana duduk di sofa sembari nonton TV yang volumennya dikecilkan. Walau matanya tertuju pada layar datar yang besar di depannya, namun sepertinya telinganya mendengarkan obrolan suaminya dengan Bara. Tiba-tiba, tanpa tedeng aling-aling, Om Hendra mulai bercerita agak serius, bahwa setelah melawati usia empat puluh lima tahun, intensitas hubungan ranjangnya dengan istrinya, Tante Liana, sudah j
Pada saat ia melangkah dari rimbunan pohon jambu itu, Bara melihat daun jendela yang menghadap barat itu terbuka. Setahunya, itu merupakan kamar dari anak perempuan dari Tante Liana, yaitu Mbak Sinta. Saat pandangannya bentrok dengan pandangan Tante Liana, Bara langsung mengangguk dan tersenyum serta menyapa, “Tan …? Oh ya, saya petik beberapa biji buah jambu, Tan.” “Ya gak apa-apa, Dik Dik Bara. Ambil saja daripada rontok begitu saja.” “Terima kasih, Tan.” Bara kemudian melangkah ke utara melalui bagian belakang rumah. Jalan di sini cukup sempit, namun telah dikonblok juga. Dari belakang itu akan melewati kamar tidurnya Tante Liana dan Om Hendra. Saat melewati kamar dengan jendela kata yang terbuka itu, ia mencoba melihat ke dalam kamar itu. Tapi kamar itu itu kosong. Tante Liana belum kembali dari kamar barat. Sementara Om Hendra sudah keluar sejak pukul sepuluh pagi tadi. Akan tetapi, ketika ia menarik pandangannya dari isi kamar itu, Bara
Lalu tiba-tiba kedua tangan Bara memegang pangkal pahanya, beliau menurut saja. Hingga akhirnya benar-benar berlutut membelakangi sang brondong nakal. Hal itu menyebabkan Tante Sherly membenamkan wajahnya pada bantal, dan membiarkan Bara mempermainkan swahnya dengan jari-jarinya. “Ooouuhh …” Tante Sherly melenguh panjang ketika ia merasakan dua jari Bara menyusup masuk ke dalam tubuhnya. Semakin tinggi ia Tante Sherly menjerit dan melenguh, makan semakin cepat pula tangan Bara bekerja, sampai akhirnya wanita yang ditanganinya jatuh tertelungkup setelah menjerit kuat dan panjang yang disertai semburan air bening berkali-kali. Bara membiarkan sang ‘pasien’-nya untuk menikmati sisa-sisa kebahagiaannya dengan damai dan senyap. Setelah beberapa lama Bara membiarkan Tante Sherly senyap dalam tengkurap, Bara tiba-tiba mengangkat kedua pinggangnya, sehingga ia kembali pada posisi semula, yaitu berlutut. Dan selanjutnya, Tante Sherly merasakan ada sesuatu yang menempel di gerba
“Oh ya, menurut teman Tante, kamu masih kuliah, ya?” “Iya benar, Tan. Tapi masih semester enam.” “Kamu hebat, Dik Bara. Kuliah dibiayai sendiri, ya?” “Begitulah, Tan.” Percakapan itu terhenti ketika Bara berkata, “Maaf, Tan, dasternya saya naikkan lagi, ya?” Tante Sherly tidak jadi menjawab, karena saat itu Bara sudah menaikkan ujung dasternya ke atas. Ia tau jika Bara sempat melihat miliknya karena ia tidak mengenakan cd. Namun ia diam saja, tetapi jantungnya berdetak lebih kencang dari normalnya. Setelah memijat betis dan bagian paha, Bara ternyata langsung beralih ke punggung Tante Sherly. Namun demikian, pijatan dan urutan lembut dari tangan Bara tetap saja membuat detak jantungnya cepat dan suhu tubuhnya naik. Apalagi saat itu ia hanya berdua dalam kamar yang tertutup. Pijetan Bara memang aslinya terasa sangat enak. Saat kemudian tiba-tiba Bara meminta izin agar daster bagian atas diturunkan saja, Tante Sherly pun tidak menolak. Ia langsung bangun
Malam itu Bara berangkat menuju kediamannya Tante Sherly. Alamat yang dikasih berada di wilayah Jaktim, jadi dia harus berangkat lebih awal, khawatir terhalang macet. Ia ke sana dengan menggunakan sepeda motor berikut box tempat menyimpan peralatan kerjanya. Ia sampai di depan rumah yang dituju pukul delapan lebih lima menit. Rumah itu adalah sebuah rumah di sebuah komplek yang cukup elite. Rumah dengan model minimalis dan berlantai dua itu tampak tertutup rapat. Tetapi terlihat sebuah mobil mewah berwarna merah di depan rumah itu. Setelah memasang standar sepeda motornya, Bara memencet tombol bel di samping pintu rumah itu. Tak lama kemudian muncul seorang wanita yang mengenakan sejenis daster pendek yang bagian depannya lebih tinggi, sehingga kedua kaki dan paha indah dan putih terpampang nyata di depan matanya. Ia menaksir, usia wanita wanita itu sekitar tiga puluhan tahun. Artinya dia bukan Tante Sherly, mungkin saudaranya. Padahal barusan ia menelepon Tante Sherly.
Kamar kosnya itu berhadapan langsung dengan kamarnya Tante Liana dan Om Hendra. Kaca besar di dinding kamar itu tertutup oleh dua lapis tirai, yaitu tirai putih transparan lalu dilapisi dengan tirai gulung yang terbuat dari kain blackout warna biru. Saat itu tirai gulung itu tampak belum dibuka. Selanjutnya Bara menikmati baksonya sembari menonton video tentang tema kuliah di sebuah kanal YouTube. Namun saat menikmati dua hal itu, ekor matanya melihat pergerakan di samping, yang membuatnya spontan menoleh. Ternyata Tante Liana yang sedang menggeser tirai gulungnya ke salah satu jendela kacanya. Karena lampu kamar dalam kondisi menyala, maka ia bisa melihat wanita itu dengan cukup jelas di balik tirai putih trasparan itu. Wanita itu mengenakan handuk kimono biru muda. Sepertinya dia baru selesai mandi. Selanjutnya wanita itu duduk menghadap kaca rias besar, sehingga membelakanginya. Bara menarik wajahnya dan kembali pada mangkok baksonya dan layar ponselnya. Ada panggi







