LOGIN“Kenapa tertawa?!” bentak Samudera dengan suara rendah yang terdengar jauh lebih kasar daripada biasanya. Sementara napasnya masih memburu akibat perjalanan tergesa-gesa menuju apartemen wanita itu.
Tangan Samudera masih mencengkeram pergelangan tangan Celina dengan kuat ketika wanita itu justru tertawa renyah. Celina tidak menjawab pertanyaan tersebut secara langsung. Dia malah mengangkat tangan satunya, merapikan kerah kemeja putih Samudera yang berantakan akibat pria itu keluar dari mobil tanpa memperhatikan penampilannya sendiri. Kemudian menepuk-nepuk bagian dada kemeja tersebut dengan gerakan santai seolah sedang merapikan pakaian seorang pria yang baru saja selesai melakukan perjalanan bisnis. “Lucu sekali melihat Tuan Samudera seperti ini,” ujar Celina dengan senyum penuh kemenangan yang perlahan menghiasi bibirnya. “Selama tiga tahun, aku selalu melihatmu sebagai pria paling tenang, paling terkendali, dan paling sulit ditebak di dunia ini, tetapi malam ini kamu bahkan datang ke apartemenku dengan rambut berantakan dan napas ngos-ngosan hanya karena mengetahui identitas asliku.” Samudera tampak makin kesal. “Jangan bermain-main denganku, Celina.” “Siapa bilang aku sedang bermain-main?” Celina mendongakkan wajahnya, menatap lurus ke dalam mata pria itu dengan keberanian yang nyaris membuat Samudera semakin kehilangan kendali. “Aku justru sedang sangat serius karena akhirnya kamu mengetahui sesuatu yang selama ini sengaja kusembunyikan darimu.” Samudera melepaskan pergelangan tangannya, tetapi tubuhnya masih berdiri sangat dekat sehingga Celina bisa merasakan hawa panas yang terpancar dari pria tersebut. “Jadi benar?” tanyanya dengan suara lebih rendah. “Kamu adalah Celina Sanjaya?” Celina tersenyum. “Ya, aku Celina Sanjaya.” Pengakuan itu keluar begitu ringan bibirnya, seolah nama tersebut bukanlah identitas yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu rahasia terbesar keluarga konglomerat. Samudera menatapnya tanpa berkedip. Celina justru menyilangkan kedua tangan di depan dada, kemudian memiringkan kepalanya dengan ekspresi menggoda. “Jadi bagaimana, Tuan Samudera?” tanyanya santai. “Kamu kecewa, ya, karena mantan peliharaannmh ternyata pewaris yang sah?” Tatapan Samudera langsung berubah gelap. “Mantan peliharaan?” “Bukankah begitu anggapanmu selama ini?” Celina terkekeh kecil. “Gadis miskin yang membutuhkan biaya kuliah, lalu bersedia menemani konglomerat kesepian setiap kali dia membutuhkan hiburan.” “Jangan pernah menyebut dirimu seperti itu lagi.” Suara Samudera terdengar begitu tegas sampai senyum Celina sempat tertahan beberapa detik. Pria itu menarik napas panjang, kemudian menatap wajah Celina dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan. “Aku memang mengira kamu hanya membutuhkan uangku,” lanjutnya perlahan. “Aku juga mengira hubungan kita akan berakhir begitu saja ketika kontrak selesai, tetapi ternyata selama tiga tahun aku tidur bersama perempuan yang menyimpan identitas sebagai pewaris keluarga Sanjaya tepat di bawah kungkunganku.” Celina mengangkat alis. “Tidur bersama?” “Jangan memelintir kalimatku.” “Bukankah itu kenyataannya?” Samudera mengusap wajahnya kasar, lalu tertawa pendek tanpa humor. “Aku mulai mengerti kenapa tidak ada seorang pun yang pernah berhasil memenangkan perdebatan denganmu.” “Karena aku selalu benar.” Celina mengetahui dirinya telah memenangkan satu ronde kecil, sehingga senyumnya semakin lebar. Namun beberapa detik kemudian, Samudera justru memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan menatap wanita itu dengan ketenangan baru yang jauh lebih berbahaya. “Kalau begitu, kita bicara bisnis.” Celina mengerutkan kening. “Bisnis?” “Aku sudah mengetahui seluruh persoalanmu.” Samudera melangkah masuk setelah Celina memberikan ruang, kemudian duduk santai di sofa ruang tamu seolah apartemen tersebut adalah tempat miliknya sendiri. “Aku tahu ayahmu menghapus namamu dari garis pewaris, aku tahu Agatha menikmati seluruh aset yang seharusnya menjadi hakmu, dan aku tahu kamu sudah mengumpulkan bukti selama bertahun-tahun untuk menjatuhkan keluarga Sanjaya.” Celina tidak lagi tersenyum. “Seberapa banyak yang kamu ketahui?” “Cukup banyak untuk membuatmu kehilangan keuntungan jika bergerak sendirian.” Celina menatapnya tajam. Samudera kemudian menyandarkan punggungnya pada sofa. “Aku bisa membantumu.” “Kenapa?” “Karena aku tidak suka dipermainkan.” Celina terkekeh kecil. “Jadi ini soal gengsi?” “Sebagian.” “Lalu bagian lainnya?” Samudera menatap matanya dalam-dalam. “Aku belum selesai denganmu.” Celina berjalan menuju sofa di hadapan Samudera, kemudian duduk sambil menyilangkan kaki dengan tenang. “Baiklah, jelaskan tawaranmu.” “Aku akan membantumu merebut kembali aset keluarga Sanjaya, membongkar kebohongan Agatha, dan memastikan pertunangan besok malam berubah menjadi mimpi buruk yang tidak akan pernah dilupakan keluarga mereka.” Mata Celina berkilat. “Sebagai gantinya?” “Kamu kembali bekerja untukku.” Samudera mengambil ponselnya, membuka sebuah dokumen digital, lalu meletakkannya di atas meja. “Mobil dengan sopir pribadi, apartemen baru, akses penuh ke jaringan perusahaan, kartu kredit tanpa batas, dan bonus berdasarkan keuntungan yang kita dapatkan dari proses perebutan asetmu.” Celina mengusap dagunya sambil berpura-pura berpikir. “Dua kali lipat.” Samudera mengangkat alis. “Dua kali lipat dari apa?” “Semua fasilitas yang baru saja kamu sebutkan.” Samudera menatapnya beberapa detik sebelum menggeleng kecil. “Baik.” Celina tersenyum puas. “Pembagian keuntungan lima puluh persen.” “Tidak mungkin.” “Empat puluh lima.” “Dua puluh.” “Empat puluh.” “Dua puluh lima.” “Empat puluh.” “Celina, kamu sedang menawar perusahaan atau sedang menjual dirimu sendiri?” “Kalau kamu ingin mendapatkan partner terbaik, jangan pelit.” Samudera mendengus. “Baik, tiga puluh lima persen.” “Deal!” Celina langsung bersemangat. Samudera terdiam cukup lama, kemudian tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. “Perempuan ini benar-benar iblis.” “Terima kasih atas pujiannya.” Celina mengambil sebuah kertas kosong dari meja dan mulai menulis beberapa aturan menggunakan pulpen. Samudera memperhatikan dengan tatapan heran. “Apa lagi?” “Peraturan kontrak.” “Kamu membuat aturan untukku?” “Tentu saja.” Celina menyerahkan kertas tersebut kepadanya. “Pertama, kamu tidak boleh mengatur kehidupan pribadiku di luar pekerjaan. Kedua, kamu tidak boleh membawa masalah perusahaan ke ranjang. Ketiga, kamu tidak boleh menyentuh barang pribadiku tanpa izin. Keempat, semua keuntungan dibagi sesuai kesepakatan.” Samudera membaca sampai bagian terakhir. Kemudian dia berhenti. “Dan ini apa?” “Peraturan paling penting.” Samudera membacanya sekali lagi. “Samudera Vance Alexander dilarang baper atau jatuh cinta kepada Celina Sanjaya.” Dia perlahan mengangkat wajah. “Kamu serius?” “Sangat.” “Kenapa aku yang dilarang jatuh cinta?” “Karena aku tidak punya waktu menghadapi pria posesif yang patah hati.” “Aku tidak akan jatuh cinta padamu.” “Bagus.” “Aku bahkan tidak tertarik.” “Lebih bagus lagi.” “Kalau begitu hapus aturan ini.” “Tidak.” Samudera menatap Celina lama sekali, kemudian mengambil pulpen dan membubuhkan tanda tangannya di bagian bawah kontrak. “Baik.” Celina tersenyum puas. Namun, sebelum dia sempat mengambil dokumen tersebut, Samudera mengeluarkan sebuah buku cek dari saku jasnya. Dia membuka halaman pertama, menandatangani bagian bawah sebuah cek kosong, kemudian mendorongnya perlahan ke arah Celina. “Untuk modal perangmu.” Celina menatap cek itu dengan mata membesar. “Ini cek kosong?” “Isi sendiri jumlahnya.” “Kalau aku menulis seratus miliar?” Samudera tersenyum tipis. “Jangan membuatku menyesal sudah memberimu cek kosong.” Celina tertawa renyah, lalu mengambil cek tersebut. Namun, ketika dia hendak berdiri, tangan Samudera tiba-tiba melingkar di pinggangnya. Tubuh Celina tertarik mendekat hingga jarak mereka kembali menipis. Senyum wanita itu perlahan menghilang. Samudera menatapnya dengan sorot mata penuh tantangan, sementara jemarinya masih bertahan di pinggang ramping Celina seolah sengaja menguji aturan yang baru saja mereka sepakati. “Lepaskan aku,” bisik Celina dengan suara yang tetap tenang meskipun jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Samudera justru mendekatkan wajahnya, lalu membisikkan kalimat yang membuat seluruh keberanian Celina seolah mendapat tantangan baru. Tatapan mereka bertemu begitu dekat hingga tidak ada ruang bagi kebohongan. “Tapi bersiaplah, Celina... karena aku yang akan membuatmu melanggar aturan itu lebih dulu.”“Pulanglah, Tuan Samudera. Aku sedang ingin sendirian.”Cengkeraman tangan Samudera di rahang Celina mengendur perlahan. Ruang di antara mereka terasa menyempit oleh napas yang memburu dan sisa ketegangan yang belum sepenuhnya mereda. Dengan tatapan dingin tanpa getaran sedikit pun di manik matanya, Celina memangkas keheningan lift yang telah berdenting di lantai dasar.Samudera berdiri kaku. Terasa luka di dadanya yang telak menerima penolakan mentah-mentah kini berpadu dengan gejolak amarah posesif yang mendidih di balik kulit. Pria bertubuh tegap itu menatap wanita di hadapannya seolah ingin menelannya bulat-bulat.Sebelum benar-benar memutar tubuh dan melangkah keluar dari kotak baja tersebut, Samudera menunduk. Dia merapatkan bibirnya ke tepi telinga Celina, membisikkan sebuah kalimat berat yang tidak menerima penolakan dalam bentuk apa pun.“Baik, aku akan pulang … tapi kamu harus ingat satu hal, Celina, kamu hanya milikku. Jangan pernah berpikir untuk berpaling.”Tanpa menunggu
“Apa aku tidak salah dengar? Seorang Tuan Samudera Alexander bisa merasa cemburu? Apalagi ... cemburu dengan seorang dokter yang tidak seterkenal kamu.”Tawa dingin Celina pecah, bergema di antara dinding sempit lift yang terus meluncur turun ke lantai dasar. Tawa itu penuh luka dan ketidakpercayaan. Dengan gerakan tegas, Celina mendorong pelan dada bidang Samudera, melepaskan diri dari pelukan erat yang sempat membuat pertahanannya goyah.Dia mendongak, menatap lurus mata pria di hadapannya dengan sorot yang menusuk. “Jangan lupa, Tuan Samudera … Anda sendiri yang membuat aturan sejak awal untuk tidak pernah melibatkan perasaan dalam transaksi ini. Kita berdua terikat oleh kesepakatan dan dendam, bukan cinta. Tidak ada cinta berarti tidak ada rasa cemburu.”Samudera terpaku. Alih-alih melepaskan Celina, tangan pria bertubuh tegap itu justru bergerak kembali dengan cepat. Dia meraih tubuh Celina tanpa ampun dan memenjarakannya jauh lebih erat ke dalam dekapannya, seakan-akan takut ke
“Tutup mulutmu! Jangan bicara seolah kamu tahu segalanya!” geram Samudera dengan suara berat yang menggetarkan fondasi ruangan.Gigi sang CEO berkerut keras hingga rahangnya menegang kaku. Tatapan matanya yang merah padam memancarkan kilatan pembunuh yang sangat pekat. Namun, Alih-alih gemetar atau mundur selangkah, Yudha justru menyunggingkan senyuman tipis yang sangat memprovokasi. Tatapan sang dokter tetap tenang, lurus membalas sorot mata murka pria di hadapannya tanpa ada setitik pun rasa gentar.“Saya tahu semuanya, Tuan Samudera,” balas Yudha dengan intonasi datar yang teratur, menelanjangi kenyataan yang selama ini disembunyikan. “Hubungan Anda dengan Celina hanya sebatas perjanjian di atas kertas. Anda memaksanya berada di sisi Anda menggunakan kekuasaan, bukan karena dia menginginkannya.”Bugh!Pukulan mentah menghantam telak rahang kiri Yudha. Benturan keras itu menggema nyaring di dalam apartemen yang semula tenang. Kepala Yudha terlempar ke samping, beberapa tetes darah s
“Wah, kelihatannya sedap sekali aroma sup ini. Kalau bukan karena Dokter Yudha tadi, gaunmu pasti sudah hancur total, Cel.”Suara tawa renyah Dinda memecah ketegangan di dalam dapur apartemen Celina, saat uap masakan beraroma harum membubung ke udara. Dinda menyenggol lengan Celina pelan seraya berbisik dengan nada khawatir yang tertahan di balik senyumnya.“Ngomong-ngomong, apa tidak masalah mengundang Dokter Yudha langsung ke apartemenmu, Celina? Maksudku … bagaimana kalau Tuan Samudera tahu? Kamu tahu sendiri pria itu pencemburu kalau sudah menyangkut dirimu.”Celina yang baru saja menyeka sisa noda kotor di ujung gaunnya, kini sudah berganti dengan sweater rajut longgar yang nyaman. Dia menjawab dengan tenang sambil menuangkan air ke dalam gelas kaca tanpa menunjukkan ekspresi cemas.“Dokter Yudha sudah menolongku di jalan tadi, Dinda. Mana mungkin aku membiarkannya pergi begitu saja setelah kemejanya ikut terkena cipratan kopi gara-gara membelaku? Lagi pula, gara-gara amukan gadi
Tepat setelah suara tut-tut panjang mengakhiri panggilan secara sepihak dari Tuan Galen, Samudera menghempaskan ponselnya ke atas meja porselen. Bunyi benturan keras itu memecah keheningan ruang kerja eksekutif, memantulkan ketegangan pekat yang kini menyelimuti dirinya.“Hadi!” panggil Samudera dengan nada bariton rendah yang bergetar menahan gejolak amarah.Asisten kepercayaannya itu melangkah masuk dengan cepat dari balik pintu kayu mahoni, membungkuk hormat. “Saya di sini, Tuan Samudera.”“Minta tim cyber security SINS Group meretas dan membatasi penyebaran video viral itu dalam waktu sepuluh menit. Pastikan nama perusahaan kita bersih total dari kekacauan murahan yang dibuat Agatha,” titah Samudera dingin, matanya menyipit tajam. “Lalu … lacak keberadaan Dokter Yudha dan Celina sekarang juga. Aku ingin laporan akurat dalam genggamanku sebelum aku tiba di mansion utama.”“Baik, Tuan. Segera dilaksanakan.” Hadi mengangguk patuh, memutar tubuh dan bergegas keluar untuk menjalankan p
"Kenapa Celina selalu saja menang? Kenapa selalu banyak orang yang membelanya."Agatha mengepalkan tangan hingga kukunya memutih. Rahangnya mengeras, bola matanya merah penuh amarah dan emosi. Lagi dan lagi Celina berhasil mengalahkannya. Padahal bukan itu yang Agatha harapkan saat ia dengan sengaja membuat baju Celina kotor oleh air kotor. “Agatha! Apa lagi yang kamu lakukan hari ini, hah?!”Suara histeris Anjelina dari speaker ponsel memotong alunan musik mobil sport merah yang melaju kencang di jalan raya. Ponsel di dasbor itu mendadak berdering nyaring dengan nama “Mama” yang berkedip ganas, memecah keheningan tegang di dalam kabin kendaraan mewah tersebut.Agatha yang masih sibuk menyeka sisa noda kopi pekat di wajah dan rambutnya mendengus kesal. Tanpa rasa bersalah sedikit pun, gadis itu menjawab panggilan ibunya dengan nada ketus. “Memangnya ada apa, Ma? Agatha lagi di jalan mau pulang! Baju Agatha kotor semua gara-gara orang sialan tadi!”Anjelina yang nyaris gila karena ba







