Share

Bab 3. Pion Celina

Author: Nanitamam
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-28 15:41:32

“Ya ampun, Tuan Samudera... bukankah kita baru berpisah beberapa waktu lalu? Jangan bilang Anda sudah merindukanku lagi?” kekeh Celina santai. Tidak ada raut tegang ataupun cemas yang membayang di wajah cantiknya saat menatap ekspresi murka Samudera. Sudut bibirnya justru melengkung manis, memamerkan senyuman menggoda yang selama tiga tahun terakhir selalu berhasil melucuti akal sehat pria di hadapannya.

Napas Samudera memburu kasar. Sorot matanya yang gelap dan menusuk seolah ingin menelanjangi seluruh rahasia yang disembunyikan wanita itu di balik topeng kepolosannya.

“Jangan banyak bicara! Ikut denganku sekarang!” tegas Samudera dingin.

Tanpa menunggu persetujuan, jemari kokoh pria itu mencengkeram pergelangan tangan Celina dengan dominasi mutlak. Tarikannya begitu bertenaga hingga tubuh ramping Celina terhuyung menabrak dada bidang Samudera yang berbalut kemeja putih kusut.

“Celina!” panggil Dinda cemas dari balik ambang pintu, bola matanya membulat ngeri melihat sahabatnya diperlakukan kasar oleh konglomerat paling ditakuti di kota ini.

Celina menoleh ke belakang, memasang raut wajah tenang seolah semua drama ini hanyalah lelucon kecil.

“Tunggu aku kembali, Dinda. Jangan kunci pintunya!”

Samudera tidak memberi ruang bagi mereka untuk bertukar kata lebih jauh. Ia menyentak tangan Celina, menyeret langkah wanita itu menyusuri lorong lantai apartemen. Celina sempat berusaha memelintir pergelangan tangannya untuk melepaskan diri, namun cengkeraman Samudera bagai borgol baja yang mengunci pergerakannya. Kulit putihnya memerah, tetapi Celina menolak untuk meringis kesakitan.

Sepertinya dia sudah membacanya, gumam Celina dalam hati seraya menatap punggung tegap Samudera yang diselimuti aura permusuhan pekat. Waktu yang tepat untuk membuka kartu.

Ting.

Pintu lift berdenting pelan, membuka jalan menuju kotak logam sempit berdinding cermin. Samudera menarik Celina masuk ke dalam, lalu menekan tombol menuju lantai dasar dengan sentakan kasar. Pintu menutup rapat, mengurung keduanya dalam ruang kedap suara yang mendadak terasa begitu sempit dan mencekik.

Suasana di dalam lift hening, hanya ada deru napas Samudera yang berat dan bergetar menahan amarah.

Dari pantulan dinding kaca cermin, Celina bisa melihat rahang tegas Samudera mengeras sempurna hingga urat-urat di leher kokohnya menonjol jelas. Bayangan janggut tipis di wajah pria itu semakin menegaskan kegelapan yang berkobar di dalam matanya. Celina melirik tangannya yang masih dicengkeram erat di samping tubuh Samudera. Alih-alih gemetar, detak jantung Celina justru berdegup kencang karena sensasi ketegangan yang membakar.

Lift meluncur turun dengan kecepatan konstan, membenturkan keheningan yang sarat akan teka-teki tak terucap. Samudera tidak menoleh sedikit pun, pandangannya lurus ke depan, tetapi cengkeraman tangannya memberi sinyal bahwa ia tidak akan membiarkan Celina menghilang lagi dari jangkauannya.

Begitu pintu lift terbuka di area parkir bawah tanah yang temaram, Samudera kembali melangkah cepat menyeret Celina menuju sedan Maybach hitam metalik miliknya yang terparkir tepat di depan pintu lobi. Pria itu menyentakkan pintu belakang hingga terbuka lebar.

“Masuk!” titah Samudera dingin, mendorong tubuh ramping Celina masuk ke dalam jok kulit mewah.

Celina mendarat di atas kursi empuk dengan anggun, segera merapikan mantel krem dan rambut bergelombangnya yang sedikit berantakan. Sebelum Samudera sempat menutup pintu dari luar, Celina menyandarkan tubuhnya ke sandaran jok, melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menatap pria itu dengan tatapan mengejek yang tajam.

“Tuan Samudera, sepertinya Anda lupa. Bukankah perjanjian kita sudah berakhir beberapa jam yang lalu? Kertas sudah ditandatangani, black card sudah berpindah tangan. Kenapa Anda datang lagi dan membawa saya pergi seperti buronan?” suara Celina meluncur begitu tenang, namun setiap katanya dirancang untuk menusuk ego sang miliarder.

Samudera tidak menjawab. Pria itu justru melangkah masuk ke kursi belakang di samping Celina, menutup pintu dengan bantingan keras yang menggema di seluruh area parkir, lalu menekan tombol pengunci otomatis. Ruangan kabin mobil seketika berubah menjadi arena interogasi privat yang menyesakkan.

“Jalan, Hadi. Keluar dari area kota,” perintah Samudera dengan suara parau yang rendah kepada sopir pribadinya di balik sekat kaca hitam. Mobil itu pun melesat mulus membelah keheningan malam.

Di dalam kabin belakang, Samudera memutar tubuhnya menghadap Celina. Jarak di antara mereka terhapus seketika saat Samudera mencondongkan tubuhnya ke depan, mengurung wanita itu di antara sandaran kursi dan tubuh kekarnya. Aroma maskulin cedarwood dan sisa aroma cerutu yang pekat langsung mengepung indra penciuman Celina.

“Perjanjian berakhir?” Samudera tertawa sinis, tawa dingin yang bergetar penuh kemarahan terpendam. Tangannya terangkat, mencengkeram dagu Celina dan mengangkat wajah wanita itu agar menatap lurus ke dalam matanya yang memerah. “Perjanjian mana yang kamu maksud, Nona Celina Sanjaya? Perjanjian di mana kamu berpura-pura menjadi mahasiswi miskin yang membutuhkan uang kuliah, atau perjanjian palsu yang kamu rancang untuk membodohiku selama tiga tahun ini?!”

Nama Sanjaya meluncur dari bibir Samudera bagai desisan belati.

Celina tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Dagu cantiknya tetap terangkat menantang cengkeraman jemari Samudera. Tatapan matanya yang biasanya memancarkan kepatuhan lembut kini berkilat berbahaya, memantulkan keberanian seorang putri bangsawan yang siap merebut kembali mahkotanya yang tercuri.

“Ah... jadi kamu sudah tahu nama asliku,” bisik Celina, bibirnya terangkat membentuk seringai tipis yang sarat akan racun memikat. “Investigasi orang-orangmu ternyata cukup lambat, Samudera. Butuh waktu seribu hari lebih hanya untuk menyadari bahwa wanita yang tidur di sampingmu setiap malam adalah calon pemilik sah dari dinasti yang ingin kamu hancurkan.”

“Kenapa aku, Celina?!” raung Samudera tertahan, suaranya tercekat di tenggorokan saat rasa sakit akibat dikhianati dan amarah bercampur menjadi satu. Jemarinya yang menahan dagu Celina sedikit mengendur, perlahan naik membelai garis rahang halus wanita itu dengan sentuhan yang sarat akan frustrasi. “Dari sekian banyak konglomerat di negeri ini... kenapa kamu memilih tidur di ranjangku? Kenapa kamu membiarkan aku menyentuhmu, membiarkan aku terikat padamu, jika sejak awal aku hanya pion di papan catur balas dendammu?!”

Celina menatap tepat ke dalam manik mata hitam Samudera yang berkabut luka. Alih-alih merasa bersalah, Celina justru mencondongkan wajahnya lebih dekat, membiarkan bibir ranumnya menyapu lembut rahang Samudera yang kaku, membakar kulit pria itu dengan hembusan napasnya yang hangat.

“Karena kamu adalah pion terkuat, Samudera,” bisik Celina tepat di depan bibir pria itu, suaranya terdengar begitu manis namun mematikan. “Ibu tiriku—Selena—dan saudara tiriku yang licik, Agatha, begitu terobsesi dengan SINS Corporation. Mereka ingin menggunakan pernikahan bisnis besok malam untuk menutupi kebangkrutan Sanjaya Group dan menendang keluargaku ke liang lahad. Aku hanya mengambil langkah lebih awal: merebut pria yang mereka idam-idamkan dan menaruhnya di bawah telapak kakiku sebelum mereka sempat menyentuhmu.”

Samudera membeku. Tubuhnya menegang mendengar pengakuan yang begitu jujur dan tanpa penyesalan. Di bawah temaram lampu kabin mobil yang melaju kencang, ia menyadari satu hal yang mengerikan: wanita di depannya bukanlah korban yang membutuhkan perlindungan, melainkan seorang predator anggun yang telah menjebaknya ke dalam jaring tak kasatmata.

Namun, alih-alih melempar Celina keluar dari mobil, ego dan rasa kepemilikan Samudera justru terbakar semakin liar. Ketertarikan yang selama ini terikat dalam kontrak ranjang kini berevolusi menjadi obsesi berbahaya.

Tangan Samudera meluncur turun dari rahang Celina, merengkuh pinggang ramping itu dengan satu sentakan kuat hingga tubuh Celina menempel rapat di pangkuannya.

“Kamu pikir permainanmu berhasil, Celina?” Samudera berbisik dengan nada rendah yang sarat intimidasi, pupil matanya melebar mengunci tatapan Celina. “Kamu memanfaatkan kekayaanku, fasilitas dariku, dan tubuhku untuk menghancurkan keluarga Sanjaya. Tapi kamu melupakan satu hal penting.”

“Apa itu?” tentang Celina, menolak untuk gentar meski napas pria itu terasa membakar di permukaan kulit lehernya.

“Aku bukan pion yang bisa kamu buang setelah permainan selesai,” seringai dingin terbit di wajah tampan Samudera. Pria itu merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan selembar cek kosong yang telah dibubuhi tanda tangan resminya, lalu menyelipkannya perlahan di antara belahan mantel krem Celina. “Besok malam, kamu tidak akan menonton dari balik bayangan. Kamu akan berdiri di sampingku di atas panggung pertunangan itu, menghancurkan Agatha di depan seluruh media... sebagai partner resmiku.”

Celina memiringkan kepalanya, menatap cek kosong di dadanya lalu kembali menatap Samudera dengan senyum menantang.

"Jangn konyol Tuan Samudera

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS   Bab 54. Bayang masa lalu

    “Pulanglah, Tuan Samudera. Aku sedang ingin sendirian.”Cengkeraman tangan Samudera di rahang Celina mengendur perlahan. Ruang di antara mereka terasa menyempit oleh napas yang memburu dan sisa ketegangan yang belum sepenuhnya mereda. Dengan tatapan dingin tanpa getaran sedikit pun di manik matanya, Celina memangkas keheningan lift yang telah berdenting di lantai dasar.Samudera berdiri kaku. Terasa luka di dadanya yang telak menerima penolakan mentah-mentah kini berpadu dengan gejolak amarah posesif yang mendidih di balik kulit. Pria bertubuh tegap itu menatap wanita di hadapannya seolah ingin menelannya bulat-bulat.Sebelum benar-benar memutar tubuh dan melangkah keluar dari kotak baja tersebut, Samudera menunduk. Dia merapatkan bibirnya ke tepi telinga Celina, membisikkan sebuah kalimat berat yang tidak menerima penolakan dalam bentuk apa pun.“Baik, aku akan pulang … tapi kamu harus ingat satu hal, Celina, kamu hanya milikku. Jangan pernah berpikir untuk berpaling.”Tanpa menunggu

  • JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS   Bab 53. Pengakuan

    “Apa aku tidak salah dengar? Seorang Tuan Samudera Alexander bisa merasa cemburu? Apalagi ... cemburu dengan seorang dokter yang tidak seterkenal kamu.”Tawa dingin Celina pecah, bergema di antara dinding sempit lift yang terus meluncur turun ke lantai dasar. Tawa itu penuh luka dan ketidakpercayaan. Dengan gerakan tegas, Celina mendorong pelan dada bidang Samudera, melepaskan diri dari pelukan erat yang sempat membuat pertahanannya goyah.Dia mendongak, menatap lurus mata pria di hadapannya dengan sorot yang menusuk. “Jangan lupa, Tuan Samudera … Anda sendiri yang membuat aturan sejak awal untuk tidak pernah melibatkan perasaan dalam transaksi ini. Kita berdua terikat oleh kesepakatan dan dendam, bukan cinta. Tidak ada cinta berarti tidak ada rasa cemburu.”Samudera terpaku. Alih-alih melepaskan Celina, tangan pria bertubuh tegap itu justru bergerak kembali dengan cepat. Dia meraih tubuh Celina tanpa ampun dan memenjarakannya jauh lebih erat ke dalam dekapannya, seakan-akan takut ke

  • JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS   Bab 52. Perkelahian dua predator

    “Tutup mulutmu! Jangan bicara seolah kamu tahu segalanya!” geram Samudera dengan suara berat yang menggetarkan fondasi ruangan.Gigi sang CEO berkerut keras hingga rahangnya menegang kaku. Tatapan matanya yang merah padam memancarkan kilatan pembunuh yang sangat pekat. Namun, Alih-alih gemetar atau mundur selangkah, Yudha justru menyunggingkan senyuman tipis yang sangat memprovokasi. Tatapan sang dokter tetap tenang, lurus membalas sorot mata murka pria di hadapannya tanpa ada setitik pun rasa gentar.“Saya tahu semuanya, Tuan Samudera,” balas Yudha dengan intonasi datar yang teratur, menelanjangi kenyataan yang selama ini disembunyikan. “Hubungan Anda dengan Celina hanya sebatas perjanjian di atas kertas. Anda memaksanya berada di sisi Anda menggunakan kekuasaan, bukan karena dia menginginkannya.”Bugh!Pukulan mentah menghantam telak rahang kiri Yudha. Benturan keras itu menggema nyaring di dalam apartemen yang semula tenang. Kepala Yudha terlempar ke samping, beberapa tetes darah s

  • JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS   Bab 51. Kedamaian yang terganggu

    “Wah, kelihatannya sedap sekali aroma sup ini. Kalau bukan karena Dokter Yudha tadi, gaunmu pasti sudah hancur total, Cel.”Suara tawa renyah Dinda memecah ketegangan di dalam dapur apartemen Celina, saat uap masakan beraroma harum membubung ke udara. Dinda menyenggol lengan Celina pelan seraya berbisik dengan nada khawatir yang tertahan di balik senyumnya.“Ngomong-ngomong, apa tidak masalah mengundang Dokter Yudha langsung ke apartemenmu, Celina? Maksudku … bagaimana kalau Tuan Samudera tahu? Kamu tahu sendiri pria itu pencemburu kalau sudah menyangkut dirimu.”Celina yang baru saja menyeka sisa noda kotor di ujung gaunnya, kini sudah berganti dengan sweater rajut longgar yang nyaman. Dia menjawab dengan tenang sambil menuangkan air ke dalam gelas kaca tanpa menunjukkan ekspresi cemas.“Dokter Yudha sudah menolongku di jalan tadi, Dinda. Mana mungkin aku membiarkannya pergi begitu saja setelah kemejanya ikut terkena cipratan kopi gara-gara membelaku? Lagi pula, gara-gara amukan gadi

  • JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS   Bab 50. Cemburu

    Tepat setelah suara tut-tut panjang mengakhiri panggilan secara sepihak dari Tuan Galen, Samudera menghempaskan ponselnya ke atas meja porselen. Bunyi benturan keras itu memecah keheningan ruang kerja eksekutif, memantulkan ketegangan pekat yang kini menyelimuti dirinya.“Hadi!” panggil Samudera dengan nada bariton rendah yang bergetar menahan gejolak amarah.Asisten kepercayaannya itu melangkah masuk dengan cepat dari balik pintu kayu mahoni, membungkuk hormat. “Saya di sini, Tuan Samudera.”“Minta tim cyber security SINS Group meretas dan membatasi penyebaran video viral itu dalam waktu sepuluh menit. Pastikan nama perusahaan kita bersih total dari kekacauan murahan yang dibuat Agatha,” titah Samudera dingin, matanya menyipit tajam. “Lalu … lacak keberadaan Dokter Yudha dan Celina sekarang juga. Aku ingin laporan akurat dalam genggamanku sebelum aku tiba di mansion utama.”“Baik, Tuan. Segera dilaksanakan.” Hadi mengangguk patuh, memutar tubuh dan bergegas keluar untuk menjalankan p

  • JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS   Bab 49. Video viral

    "Kenapa Celina selalu saja menang? Kenapa selalu banyak orang yang membelanya."Agatha mengepalkan tangan hingga kukunya memutih. Rahangnya mengeras, bola matanya merah penuh amarah dan emosi. Lagi dan lagi Celina berhasil mengalahkannya. Padahal bukan itu yang Agatha harapkan saat ia dengan sengaja membuat baju Celina kotor oleh air kotor. “Agatha! Apa lagi yang kamu lakukan hari ini, hah?!”Suara histeris Anjelina dari speaker ponsel memotong alunan musik mobil sport merah yang melaju kencang di jalan raya. Ponsel di dasbor itu mendadak berdering nyaring dengan nama “Mama” yang berkedip ganas, memecah keheningan tegang di dalam kabin kendaraan mewah tersebut.Agatha yang masih sibuk menyeka sisa noda kopi pekat di wajah dan rambutnya mendengus kesal. Tanpa rasa bersalah sedikit pun, gadis itu menjawab panggilan ibunya dengan nada ketus. “Memangnya ada apa, Ma? Agatha lagi di jalan mau pulang! Baju Agatha kotor semua gara-gara orang sialan tadi!”Anjelina yang nyaris gila karena ba

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status