เข้าสู่ระบบ“Ya ampun, Tuan Samudera... bukankah kita baru berpisah beberapa waktu lalu? Jangan bilang Anda sudah merindukanku lagi?” kekeh Celina santai. Tidak ada raut tegang ataupun cemas yang membayang di wajah cantiknya saat menatap ekspresi murka Samudera. Sudut bibirnya justru melengkung manis, memamerkan senyuman menggoda yang selama tiga tahun terakhir selalu berhasil melucuti akal sehat pria di hadapannya.
Napas Samudera memburu kasar. Sorot matanya yang gelap dan menusuk seolah ingin menelanjangi seluruh rahasia yang disembunyikan wanita itu di balik topeng kepolosannya. “Jangan banyak bicara! Ikut denganku sekarang!” tegas Samudera dingin. Tanpa menunggu persetujuan, jemari kokoh pria itu mencengkeram pergelangan tangan Celina dengan dominasi mutlak. Tarikannya begitu bertenaga hingga tubuh ramping Celina terhuyung menabrak dada bidang Samudera yang berbalut kemeja putih kusut. “Celina!” panggil Dinda cemas dari balik ambang pintu, bola matanya membulat ngeri melihat sahabatnya diperlakukan kasar oleh konglomerat paling ditakuti di kota ini. Celina menoleh ke belakang, memasang raut wajah tenang seolah semua drama ini hanyalah lelucon kecil. “Tunggu aku kembali, Dinda. Jangan kunci pintunya!” Samudera tidak memberi ruang bagi mereka untuk bertukar kata lebih jauh. Ia menyentak tangan Celina, menyeret langkah wanita itu menyusuri lorong lantai apartemen. Celina sempat berusaha memelintir pergelangan tangannya untuk melepaskan diri, namun cengkeraman Samudera bagai borgol baja yang mengunci pergerakannya. Kulit putihnya memerah, tetapi Celina menolak untuk meringis kesakitan. Sepertinya dia sudah membacanya, gumam Celina dalam hati seraya menatap punggung tegap Samudera yang diselimuti aura permusuhan pekat. Waktu yang tepat untuk membuka kartu. Ting. Pintu lift berdenting pelan, membuka jalan menuju kotak logam sempit berdinding cermin. Samudera menarik Celina masuk ke dalam, lalu menekan tombol menuju lantai dasar dengan sentakan kasar. Pintu menutup rapat, mengurung keduanya dalam ruang kedap suara yang mendadak terasa begitu sempit dan mencekik. Suasana di dalam lift hening, hanya ada deru napas Samudera yang berat dan bergetar menahan amarah. Dari pantulan dinding kaca cermin, Celina bisa melihat rahang tegas Samudera mengeras sempurna hingga urat-urat di leher kokohnya menonjol jelas. Bayangan janggut tipis di wajah pria itu semakin menegaskan kegelapan yang berkobar di dalam matanya. Celina melirik tangannya yang masih dicengkeram erat di samping tubuh Samudera. Alih-alih gemetar, detak jantung Celina justru berdegup kencang karena sensasi ketegangan yang membakar. Lift meluncur turun dengan kecepatan konstan, membenturkan keheningan yang sarat akan teka-teki tak terucap. Samudera tidak menoleh sedikit pun, pandangannya lurus ke depan, tetapi cengkeraman tangannya memberi sinyal bahwa ia tidak akan membiarkan Celina menghilang lagi dari jangkauannya. Begitu pintu lift terbuka di area parkir bawah tanah yang temaram, Samudera kembali melangkah cepat menyeret Celina menuju sedan Maybach hitam metalik miliknya yang terparkir tepat di depan pintu lobi. Pria itu menyentakkan pintu belakang hingga terbuka lebar. “Masuk!” titah Samudera dingin, mendorong tubuh ramping Celina masuk ke dalam jok kulit mewah. Celina mendarat di atas kursi empuk dengan anggun, segera merapikan mantel krem dan rambut bergelombangnya yang sedikit berantakan. Sebelum Samudera sempat menutup pintu dari luar, Celina menyandarkan tubuhnya ke sandaran jok, melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menatap pria itu dengan tatapan mengejek yang tajam. “Tuan Samudera, sepertinya Anda lupa. Bukankah perjanjian kita sudah berakhir beberapa jam yang lalu? Kertas sudah ditandatangani, black card sudah berpindah tangan. Kenapa Anda datang lagi dan membawa saya pergi seperti buronan?” suara Celina meluncur begitu tenang, namun setiap katanya dirancang untuk menusuk ego sang miliarder. Samudera tidak menjawab. Pria itu justru melangkah masuk ke kursi belakang di samping Celina, menutup pintu dengan bantingan keras yang menggema di seluruh area parkir, lalu menekan tombol pengunci otomatis. Ruangan kabin mobil seketika berubah menjadi arena interogasi privat yang menyesakkan. “Jalan, Hadi. Keluar dari area kota,” perintah Samudera dengan suara parau yang rendah kepada sopir pribadinya di balik sekat kaca hitam. Mobil itu pun melesat mulus membelah keheningan malam. Di dalam kabin belakang, Samudera memutar tubuhnya menghadap Celina. Jarak di antara mereka terhapus seketika saat Samudera mencondongkan tubuhnya ke depan, mengurung wanita itu di antara sandaran kursi dan tubuh kekarnya. Aroma maskulin cedarwood dan sisa aroma cerutu yang pekat langsung mengepung indra penciuman Celina. “Perjanjian berakhir?” Samudera tertawa sinis, tawa dingin yang bergetar penuh kemarahan terpendam. Tangannya terangkat, mencengkeram dagu Celina dan mengangkat wajah wanita itu agar menatap lurus ke dalam matanya yang memerah. “Perjanjian mana yang kamu maksud, Nona Celina Sanjaya? Perjanjian di mana kamu berpura-pura menjadi mahasiswi miskin yang membutuhkan uang kuliah, atau perjanjian palsu yang kamu rancang untuk membodohiku selama tiga tahun ini?!” Nama Sanjaya meluncur dari bibir Samudera bagai desisan belati. Celina tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Dagu cantiknya tetap terangkat menantang cengkeraman jemari Samudera. Tatapan matanya yang biasanya memancarkan kepatuhan lembut kini berkilat berbahaya, memantulkan keberanian seorang putri bangsawan yang siap merebut kembali mahkotanya yang tercuri. “Ah... jadi kamu sudah tahu nama asliku,” bisik Celina, bibirnya terangkat membentuk seringai tipis yang sarat akan racun memikat. “Investigasi orang-orangmu ternyata cukup lambat, Samudera. Butuh waktu seribu hari lebih hanya untuk menyadari bahwa wanita yang tidur di sampingmu setiap malam adalah calon pemilik sah dari dinasti yang ingin kamu hancurkan.” “Kenapa aku, Celina?!” raung Samudera tertahan, suaranya tercekat di tenggorokan saat rasa sakit akibat dikhianati dan amarah bercampur menjadi satu. Jemarinya yang menahan dagu Celina sedikit mengendur, perlahan naik membelai garis rahang halus wanita itu dengan sentuhan yang sarat akan frustrasi. “Dari sekian banyak konglomerat di negeri ini... kenapa kamu memilih tidur di ranjangku? Kenapa kamu membiarkan aku menyentuhmu, membiarkan aku terikat padamu, jika sejak awal aku hanya pion di papan catur balas dendammu?!” Celina menatap tepat ke dalam manik mata hitam Samudera yang berkabut luka. Alih-alih merasa bersalah, Celina justru mencondongkan wajahnya lebih dekat, membiarkan bibir ranumnya menyapu lembut rahang Samudera yang kaku, membakar kulit pria itu dengan hembusan napasnya yang hangat. “Karena kamu adalah pion terkuat, Samudera,” bisik Celina tepat di depan bibir pria itu, suaranya terdengar begitu manis namun mematikan. “Ibu tiriku—Helena—dan saudara tiriku yang licik, Agatha, begitu terobsesi dengan Alexander Corporation. Mereka ingin menggunakan pernikahan bisnis besok malam untuk menutupi kebangkrutan Sanjaya Group dan menendang keluargaku ke liang lahad. Aku hanya mengambil langkah lebih awal: merebut pria yang mereka idam-idamkan dan menaruhnya di bawah telapak kakiku sebelum mereka sempat menyentuhmu.” Samudera membeku. Tubuhnya menegang mendengar pengakuan yang begitu jujur dan tanpa penyesalan. Di bawah temaram lampu kabin mobil yang melaju kencang, ia menyadari satu hal yang mengerikan: wanita di depannya bukanlah korban yang membutuhkan perlindungan, melainkan seorang predator anggun yang telah menjebaknya ke dalam jaring tak kasatmata. Namun, alih-alih melempar Celina keluar dari mobil, ego dan rasa kepemilikan Samudera justru terbakar semakin liar. Ketertarikan yang selama ini terikat dalam kontrak ranjang kini berevolusi menjadi obsesi berbahaya. Tangan Samudera meluncur turun dari rahang Celina, merengkuh pinggang ramping itu dengan satu sentakan kuat hingga tubuh Celina menempel rapat di pangkuannya. “Kamu pikir permainanmu berhasil, Celina?” Samudera berbisik dengan nada rendah yang sarat intimidasi, pupil matanya melebar mengunci tatapan Celina. “Kamu memanfaatkan kekayaanku, fasilitas dariku, dan tubuhku untuk menghancurkan keluarga Sanjaya. Tapi kamu melupakan satu hal penting.” “Apa itu?” tentang Celina, menolak untuk gentar meski napas pria itu terasa membakar di permukaan kulit lehernya. “Aku bukan pion yang bisa kamu buang setelah permainan selesai,” seringai dingin terbit di wajah tampan Samudera. Pria itu merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan selembar cek kosong yang telah dibubuhi tanda tangan resminya, lalu menyelipkannya perlahan di antara belahan mantel krem Celina. “Besok malam, kamu tidak akan menonton dari balik bayangan. Kamu akan berdiri di sampingku di atas panggung pertunangan itu, menghancurkan Agatha di depan seluruh media... sebagai partner resmiku.” Celina memiringkan kepalanya, menatap cek kosong di dadanya lalu kembali menatap Samudera dengan senyum menantang. "Jangn konyol Tuan SamuderaPagi itu, Celina sudah duduk manis di kursi belakang mobil bersama Dinda dengan sebuah black card berkilau di antara jemarinya, sementara senyum keduanya perlahan berubah semakin lebar ketika mobil mewah tersebut berhenti tepat di depan butik desainer paling eksklusif di pusat kota.“Celina, aku masih tidak percaya kamu benar-benar membawa kartu milik Samudera untuk belanja hari ini,” ujar Dinda sambil menatap kartu hitam tersebut dengan mata berbinar, seolah benda kecil itu merupakan tiket menuju surga bagi dua perempuan yang sudah terlalu lama hidup dengan perhitungan anggaran.Celina tertawa kecil sambil membuka pintu mobil. “Bukan membawa kartu milik Samudera untuk belanja, Din, tetapi memanfaatkan fasilitas kontrak baru yang memang sudah dia setujui.”“Kalau begitu, berapa batas nominalnya?” tanya Dinda dengan antusias.“Tidak ada,” jawab Celina.Dinda langsung tersenyum lebar muncul di wajahnya. “Aku suka kontrak baru kalian.”Celina tertawa renyah sebelum melangkah memasuki but
“Kenapa tertawa?!” bentak Samudera dengan suara rendah yang terdengar jauh lebih kasar daripada biasanya. Sementara napasnya masih memburu akibat perjalanan tergesa-gesa menuju apartemen wanita itu. Tangan Samudera masih mencengkeram pergelangan tangan Celina dengan kuat ketika wanita itu justru tertawa renyah. Celina tidak menjawab pertanyaan tersebut secara langsung. Dia malah mengangkat tangan satunya, merapikan kerah kemeja putih Samudera yang berantakan akibat pria itu keluar dari mobil tanpa memperhatikan penampilannya sendiri. Kemudian menepuk-nepuk bagian dada kemeja tersebut dengan gerakan santai seolah sedang merapikan pakaian seorang pria yang baru saja selesai melakukan perjalanan bisnis. “Lucu sekali melihat Tuan Samudera seperti ini,” ujar Celina dengan senyum penuh kemenangan yang perlahan menghiasi bibirnya. “Selama tiga tahun, aku selalu melihatmu sebagai pria paling tenang, paling terkendali, dan paling sulit ditebak di dunia ini, tetapi malam ini kamu bahkan
“Ya ampun, Tuan Samudera... bukankah kita baru berpisah beberapa waktu lalu? Jangan bilang Anda sudah merindukanku lagi?” kekeh Celina santai. Tidak ada raut tegang ataupun cemas yang membayang di wajah cantiknya saat menatap ekspresi murka Samudera. Sudut bibirnya justru melengkung manis, memamerkan senyuman menggoda yang selama tiga tahun terakhir selalu berhasil melucuti akal sehat pria di hadapannya. Napas Samudera memburu kasar. Sorot matanya yang gelap dan menusuk seolah ingin menelanjangi seluruh rahasia yang disembunyikan wanita itu di balik topeng kepolosannya. “Jangan banyak bicara! Ikut denganku sekarang!” tegas Samudera dingin. Tanpa menunggu persetujuan, jemari kokoh pria itu mencengkeram pergelangan tangan Celina dengan dominasi mutlak. Tarikannya begitu bertenaga hingga tubuh ramping Celina terhuyung menabrak dada bidang Samudera yang berbalut kemeja putih kusut. “Celina!” panggil Dinda cemas dari balik ambang pintu, bola matanya membulat ngeri melihat sahabatnya
"Jadi kalian benar-benar selesai?” tanya Dinda, menatap sahabatnya dengan sorot mata tak percaya. “Minggu depan dia akan bertunangan. Lihat ini, aku mendapat black card sebagai kompensasinya.” Celina menunjukkan kartu hitam berkilau di jemarinya dengan senyum tipis yang getir. Ia menjatuhkan tubuhnya yang ramping dan padat berisi ke atas sofa beludru apartemennya yang temaram. Kepalanya bersandar lelah pada bantal sofa yang empuk, memejamkan mata sejenak untuk menahan denyut perih yang tiba-tiba menusuk dadanya. Dinda menyambar kartu hitam tanpa batas itu dengan bola mata berbinar takjub, namun segera menatap Celina dengan raut cemas. “Apa kamu tidak akan menyesal, Celina? Melepaskan tambang emas begitu saja?” Celina membuka matanya perlahan, menghela napas panjang yang terasa begitu berat membebani rongga dadanya. Ia menatap Dinda lekat-lekat. “Lalu kamu ingin aku bagaimana? Menangis meraung-raung, menjerit histeris, atau bersujud di bawah kakinya dan memohon agar dia tidak
“Setelah malam ini kontrak kita berakhir?” Celina yang masih berada di atas ranjang sutra itu mengerutkan kening dengan senyum tipis yang sarat misteri. Rambut hitam bergelombangnya tergerai berantakan di atas bantal, membingkai wajah cantiknya yang masih memancarkan sisa-sisa peluh kenikmatan. “Kenapa?” bisik Celina dengan nada malas, seolah tidak ada beban sedikitpun dalam nada suaranya. Pria di hadapannya tidak langsung menjawab. Ia sibuk merapikan penampilannya, mengancingkan kemeja putihnya satu per satu dengan gerakan presisi dan tenang. Tubuh kekar dan atletis itu terbungkus sempurna di balik bahan katun mahal, menyembunyikan tato samar di balik punggung yang baru saja dicakar Celina beberapa puluh menit lalu. “Minggu depan aku akan bertunangan,” jawab Samudera dengan nada datar, dingin seperti es di kutub utara. Tidak ada jeritan histeris. Tidak ada air mata dramatis. Celina justru menyibak selimut satin yang membungkus tubuhnya, membiarkan udara dingin penthouse menyentu







