LOGINCerita ini mengisahkan tentang pertemuan tak sengaja dari dua insan berbeda kasta. Pada suatu malam, seorang gadis bernama Viola baru saja pulang dari butik baru miliknya dan nasib naas menimpa dirinya. Seorang pria yang mengendarai motor dengan kecepatan lumayan, menyerempet tubuh gadis itu. Beruntung Viola bisa sedikit menghindar, jadi dia tidak harus terseret jauh di atas aspal. Namun tetap saja serempetan itu meninggalkan beberapa luka di tubuhnya. Usut punya usut, ternyata pria itu memang sedang melarikan diri dari kejaran polisi yang merazia tempat dia biasa mengikuti balapan liar. Nama pria itu herga. Dia bukan berasal dari keluarga kaya seperti Viola. Banyak sekali kepahitan hidup yang harus dia jalani bersama keluarganya. Pertemuan itu pada awalnya tidak membuat keduanya suka sama lain. Viola yang terlahir dengan sendok perak alias keluarga berada telah memiliki kriteria pria idaman untuknya dan yang pasti bukan bad boy seperi Herga. Begitu juga dengan Herga. Dia menilai Viola hanyalah gadis kaya yang manja dan tidak bisa diandalkan. Namun seiring berjalannya waktu dan tanpa sadar mereka sering bertemu, benih-benih cinta mulai muncul di hati keduanya. Dan saat cinta itu hampir menyatu, masalah demi masalah menghampiri. Cinta itu berjalan tidak seperti seharusnya. Terlebih saat kenyataan pahit yang menjadi awal kehancuran keluarga Herga ada hubungannya dengan keluarga Viola. Akankah keduanya bisa bersatu?
View MorePagi itu Viola bangun dengan perasaan campur aduk. Waktu masih menunjukkan pukul 6 pagi tapi matanya sudah jernih dan nggak merasakan ngantuk lagi. Ia duduk di atas tempat tidur sambil menatap layar ponsel di tangannya. Di daftar riwayat pangilan ada empat panggilan tak terjawab yang berasal dari nomor Herga. Namun hatinya kembali dibuat pias saat menghubungi nomor tersebut dan ternyata tidak aktif. Jari Viola bergulir ke aplikasi pesan singkat WhatsApp dan di sana Herga mengirimkan pesan. Viola membuka pesan itu dan membaca dalam hati. "Viola, Terimakasih untuk semua yang pernah kamu beri ke aku dan keluargaku. Tapi tetap saja itu tidak akan pernah bisa mengembalikan Ayahku untuk bisa bersama kami kembali. Aku mungkin terlalu polos dan bodoh untuk melihat seseorang yang baru kukenal tiba-tiba berbuat banyak hal baik untukku dan keluargaku. Kini aku tahu alasannya. Sekarang, mari kita sama-sama melupakan apa yang pernah terjadi, khususnya di antara kita. Anggap saja kita tidak per
Sassy dan Icha cuma bisa melongo setelah mendengar semua cerita dari mulut Viola. Mereka prihatin dengan nasib Viola sekarang. Orang yang sangat ia cintai menghilang tanpa kabar bak ditelan bumi. "Gue yakin. Entah kapan itu Herga pasti bakalan hubungi gue lagi. Gue ngertiin dia kalau emang sekarang dia belum bisa ketemu sama gue atau bicara sama gue. Tapi suatu saat nanti, dia pasti bakal temui gue. Iya kan Sas, Cha...???" ucap Viola bernada sedih. Sassy dan Icha saling tatap dan sama-sama mengangguk demi menenangkan hati Viola. Meski sebenarnya mereka tak yakin itu akan terjadi. Menjadi Herga pasti sakit dengan kenyataan yang ada. Tapi kalau karena cinta, siapa yang tahu? Semoga saja harapan Viola bukan sekedar harapan. "Lo jangan ngerasa sendiri ya Vi, ada kita di sini," kata Icha mengelus pundak Viola. "Gue juga. Oh iya, kata Bi Asih lo sama sekali belum makan sejak dateng ke sini," sambung Sassy. Ia mengeluarkan sebungkus bagelen berukuran sedang dari dalam tasnya. "Lo makan i
Herga dan Steffan saling berhadapan. Awalnya, mereka tampak saling diam sampai kemudian mulai berbincang beberapa hal. Beberapa kali terlihat Herga menunduk dan Steffan yang menghela napas. Bu Rasti yang khawatir memilih untuk diam di dalam mobil memperhatikan keduanya. Beberapa saat kemudian, setelah perbincangan cukup lama, tampak Herga dan Steffan saling berjabat tangan. Steffan menepuk-nepuk pundak Herga sebelum akhirnya cowok itu kembali menghampiri ibu dan adiknya di dalam taksi. Taksi berlalu meninggalkan Steffan yang masih berdiri di tempatnya. Tangannya lantas melambai seolah mengucapkan selamat tinggal saat taksi itu menghilang di tikungan. Sementara di tempat lain, yaitu di depan gerbang rumah Steffan, Sassy dan Icha hati-hati bergantian memencet bel. Setelah bunyi bel ke tiga, seorang satpam berlari tergopoh-gopoh mendekati pintu gerbang. Pria bernama Asep itu memperhatikan kedua gadis cantik di depannya dengan seksama. "Kalian siapa?" tanya Asep. "Mau cari siapa?""Ka
Viola membuka matanya perlahan. Pandangannya langsung tertuju pada jam dinding di depan ranjang. Waktu menunjukkan pukul 11 siang. Baru saja ia hendak meraih ponsel dari atas nakas, telfon rumahan yang ada di atas nakas berdering. "Halo?" sapa Viola datar. Suaranya terdengar parau."Kamu udah bangun, Vi?" suara Steffan terdengar dari seberang. Viola melirik ponselnya yang ternyata masih nonaktif. "Baru aja. Ada apa kak?""Kamu kalau mau makan atau butuh sesuatu, minta tolong sama bibik ya. Atau kamu mau kakak bawain makanan dari luar?" Steffan menawarkan. "Aku nggak laper kok kak. Nanti kalau aku udah laper, aku cari makanannya sendiri."Terdengar gemuruh hembusan napas dari ujung telfon. "Ya sudah. Kalau gitu, kamu istirahat aja dulu. Nanti mungkin kakak pulang agak malem.""Iya kak. Nggak pa-pa kok.""Oke, bye..."Klik! Tanpa membalas, Viola langsung meletakkan gagang ponsel. Ia meraih ponselnya, mengaktifkan kembali dan merebahkan diri. Saat ponsel itu aktif, ada sejumlah noti
"Daaaa... aku berangkat dulu ya Buk, Kak," Nana berpamitan dengan Ibu dan kakaknya sebelum masuk ke mobil Mila."Hati-hati di jalan. Kalau udah sampai Bali, jangan lupa kasih kabar ke kakak kamu," pesan Bu Rasti."Siap!" ucap Nana sembari bergaya hormat.
Waktu telah menunjukkan pukul 11 malam, tapi Viola masih terjaga. Dia baru saja menyelesaikan tugas kuliahnya dua jam yang lalu sehabis makan malam bersama papa dan mama. Semenjak pulang dari urusan pekerjaan kemarin, kedua orang tua Viola masih berada di rumah. Tapi kabarnya, lusa mere
Dari hasil penelusuran singkatnya, Steffan berhasil menemukan sedikit informasi tentang Herga. Setelah semalam mengintai dan tak membuahkan hasil, siang ini Steffan kembali datang ke komplek itu. ngobrol-ngobrol ringan sambil menikmati kopi dan gorengan di warteg yang tak jauh dar
Seolah mengabaikan Nessa, malam itu Steffan kembali secara diam-diam mendatangi rumah Herga. Lebih tepatnya mengintai. Namun sebenarnya bukan maksud Steffan melakukan semua itu untuk membuat Nessa kecewa karena dianggap telah mengabaikan kemauannya. Hanya saja dari dasar hatinya, Steffa












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore