Share

Bab 7

Author: D Lista
last update Last Updated: 2025-12-26 20:00:20

Bab 7

"Maag kamu kambuh, kan? Buruan masuk! Kita ke rumah sakit!" 

"Tapi, Mas?" 

"Sasti, perlu aku paksa masuk mobil?" 

"TIDAK!" teriak Sasti. Disaat yang sama Nina menuntun motornya keluar. Netranya membelalak melihat perdebatan dua insan di depannya. 

"Sasti, Pak Agha? Kalian berdua...."

Sasti yang barusaja membuka pintu belakang berhenti sejenak. Mendadak ia salah tingkah bagaimana harus mengaku di depan sahabatnya. Lalu disusul Agha keluar dari mobil. 

Nina masih tak percaya tiba-tiba ada Agha di depan kosnya. 

"Nin, ini Pak Agha..." Sasti berujar sambil meringis memegangi perutnya.

Belum selesa bicara, Agha sudah menyahut. 

"Saya tadi kebetulan lewat, lihat kalian sepertinya ada masalah." Sasti bernapas lega, Agha membantunya beralasan. 

"Oh iya, Pak Agha. Bisa minta tolong anter Sasti, kayaknya maag dia kambuh," ucap Nina setengah gugup. 

"Ya, ayo masuk ke mobil," 

Akhirnya Sasti dan Nina duduk di kursi penumpang. Agha tidak mendebat seperti sebelum ke resto. Sebab ia tidak tega melihat Sasti yang mulai gemetaran. Bahkan sesekali wanita itu membetulkan jilbabnya yang mungkin sudah berkeringat. 

Tidak lama, mereka sampai di IGD. 

"Perlu pakai kursi roda?" tawar Agha dijawab Sasti dengan gelengan kepala. 

"Saya papah saja, Pak." 

"Oya hati-hati. Saya parkirkan mobil dulu." Nina sedikit menaruh curiga dengan Agha. Lelaki itu terlihat kawatir sama halnya dengan dosennya yang mengkawatirkan Sasti sakit saat jadi maba (mahasiswa baru) dulu. 

"Ayo, Sas hati-hati." 

"Ada apa ini, Mbak?" tanya seorang suster yang menerima kedatangan. 

"Ini teman saya mual perutnya perih, Bu." 

"Silakan berbaring dulu. Mbak boleh bantu ke pendaftaran." 

"Baik, Bu. Sas, aku tinggal dulu nggak papa ya?" 

"Iya, maaf ngrepotin lagi," balas Sasti dengan senyum terasa berat. Sesekali ia masih meringis menahan sakit. Nina hanya memberi kode dengan tangan, ok nggak masalah. 

"Saya ukur suhu dan tensi dulu ya, Mbak." Sasti mengangguk. Ia yang awalnya meringkuk langsung membenarkan posisi menjadi telentang. Tak lama kemudian, Agha datang menghampiri dengan langkah lebar. Wajahnya tersirat kekawatiran. Namun, Sasti yang tadinya bersitatap reflek beralih menatap suster. 

"Hufh, kenapa dia harus panik begitu. Ingat Sasti bisa saja dia cuma php. Dia sudah punya pasangan. Jangan berharap ketinggian." Kata hati Sasti mengingatkan. 

"Apa kondisinya baik-baik saja?" tanya Agha dengan suara sedikit serak. Suster menjawab suhu dan tensinya normal. Lalu dokter jaga IGD datang dan memeriksa. 

"Sepertinya penyakit lama kambuh, nih," celetuk dokter. 

"Tadi habis makan apa?" tanya dokter sambil tersenyum. Sepertinya dokter dengan nametag Arini sudah hafal dengan Sasti. 

"Sayur asem dan ikan pedas," sahut Agha cepat. Sasti hanya bisa melihat lelaki itu dengan dahi mengernyit. 

"Sudah saya peringatkan tapi dia keras kepala, Dok." Lagi, Sasti hanya memejamkan mata melihat sikap Agha. 

"Pasien habis makan pedas dan asem. Asam lambungnya pas naik. Jadi memicu mual dan ingin m*ntah." terang dokter. 

"Berikan obat yang terbaik, Dok." Agha lagi-lagi yang merespon. Dokter Arini tersenyum singkat. 

"Sejak kapan kambuh lagi, Mbak? Kayaknya terakhir setahun yang lalu, kan? Pas kamu diantar ke IGD pak dosen ganteng," celetuk Dokter Arini. 

Sontak saja Agha diam dan mengernyitkan keningnya. Wajahnya mendadak dingin. Pikirannya berkelana entah kemana. 

"Baru saja kambuh, Dok. Biasanya makan asam dan pedas aman," jawab Sasti lirih. Ia tak enak hati melihat perubahan sikap Agha saat dokter menyebut kata pak dosen. Namun, sudut hatinya justru mendukung. 

'Apa dia marah? Ah, biar saja. Toh dia nggak ada perasaan apa-apa sama aku.' 

"Oh mungkin sedang banyak pikiran, ya," ujar dokter sambil melirik Agha yang masih terdiam. 

"Banyak pemicu asam lambung naik. Tidak hanya makanan tapi juga stres atau banyak pikiran. Misalnya tugas kuliah menumpuk, dikejar deadline, ketemu orang yang menyebalkan, atau bisa juga lagi patah hati." Ucapan terakhir dokter diikuti tawa kecil. Nadanya menggoda Sasti yang langsung tersipu malu. Ia selesai memberi suntik anti mual lalu hendak menuliskan resep obat. 

"Ngomong-ngomong Mas ini keluarganya Mbak Sasti? Atau pac..." 

"Bukan, Dok. Dia..." Seolah tahu kalimat sambungan yang mau diucaokan dokter, Sasti gercep memotong. Dokter Arini hanya mengulas senyum. 

"Saya koleganya, Dok." Agha menjawab singkat dengan nada dingin. 

"Baik saya resepkan obatnya. Nanti diminum dan istirahat yang cukup ya. Jangan lupa hindari stres, Mbak Sasti." Sasti hanya meringis mendengar saran dokter. 

"Sasti, sudah saya bilang kenapa nekat makan asem dan pedas?" Agha lanjut menegur Sasti seolah ingin meluapkan emosinya. Entah karena ucapan dokter tadi atau hal lain. 

"Mas Agha kenapa berlebihan? Orang aku udah lama nggak apa-apa juga makan itu. Barusan tadi aja hari apes." Sasti menjawab dengan sedikit ketus. Pikirnya sudah sakit malah dimarahin. Lucu sekali. 

"Hari apes nggak ada di kalender, Sasti." 

"Iya-iya," balas Sasti sambil mengerucutkan bibir membuat Agha sedikit bisa tersenyum. Gunung es pun seolah mencair. 

"Lalu kenapa bisa kambuh? Lagi banyak pikiran? Apa karena ketemu saya?" 

'Dih, kegeeran nih orang. Iya sih kayaknya jadi nggak sehat aku sejak ketemu dia,' gumam Sasti. 

"Sasti." 

"Eh iya, Mas." 

"Ini obatnya dari suster. Malah ngalamun." 

Sasti hanya meringis melihat suster yang sudah menjauh. 

"Lain kali diperhatikan. Jangan nekat, kalau perutnya kosong ya hati-hati makan pedas dan asem." Agha sudah mula nerocos lagi setelah tadi sempat jadi sosok pendiam. 

"Iya-iya, dokternya itu Mas Agha atau dokter Arini, sih," ujar Sasti kesal. 

Agha justru tertawa kecil membuat Sasti makin sebal. 

"Udah ah, orang lagi sakit malah diceramahin. Makin nggak sembuh nanti aku, Mas." 

"Iya Maaf." 

"Sas, udah membaik? Parah enggak? Kok bisa kambuh lagi, sih." 

"Satu-satu, Nin. Orang sakit kan nggak tahu datangnya kapan." 

"Eh iya ya. Kalau udah selesai, ayo pulang!" 

"Saya bantu!" 

"Saya bisa sendiri, Mas." 

"Mas?" Nina bertanya heran. 

"Hmm, maksudnya Pak." Nina terkikik geli mendengar Sasti salah sebut. 

"Coba kamu keliru nyebut gitu sama Pak Rizky. Bakal syukuran tujuh hari tujuh malam, Sas," celetuk Nina yang dipelototi Sasti. 

"Jangan ember, Nin. Awas kamu ya," ancam Sasti membuat Nina menahan tawa. 

Sasti melirik Agha yang berjalan di sampingnya. Tatapan tajamnya seolah menahan sesuatu. Bara api mungkin sedang mulai berkobar. Api cemburu. 

Tiba-tiba ponsel Sasti berdering, Nina bermaksud membantu mengangkatnya 

"Pak Rizky, Sas." Keduanya saling pandang. Melihat Agha yang menatap tajam ke arahnya Sasti langsung meminta Nina yang angkat. Mereka berdiri agak menepi di depan ruang IGD. 

"Halo, Sasti kamu baik-baik saja? Kok bisa masuk IGD? Maag kamu kambuh kah? Saya ke rumah sakit sekarang ya. Mama kawatir sama calon mantunya, nih." 

"NINA, kenapa di loudspeaker?!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jadi Cantik Setelah Dimaki Burik   Bab 40 Spesial Pre Ending

    Bab 40 SpesialDi luar ruangan, Sasti berdiri bersama Nina di batas antara pengantar dan penumpang. Netranya mengedar kesana kemari mencari keberadaan seseorang. Ia lalu menerima ponsel Nina yang telah terhubung dengan Adam."Halo, Pak Adam. Ini Sasti, Mas Agha bersama Pak Adam?""Maaf Sasti, saya sedang sendiri sekarang. Ada pesan untuknya?""Oh. Bilang aja saya kirim pesan ke nomernya. Terima kasih."Sasti membungkukkan badan sambil memegangi lututnya yang terasa kebas akibat berlarian mengejar waktu. Nyatanya, usahanya untuk bertemu Agha gagal. Sasti masih berusaha menetralkan napasnya yang ngos-ngosan."Gimana, Sas?" tanya Nina trenyuh. Sasti hanya menggelengkan kepala."Terlambat, mereka sudah masuk pesawat, Nin.""Sabar ya, Sas! Tapi kamu sudah pesan ke Pak Adam, kan? Kalau kamu nyari Pak Agha.""Iya. Aku tanya Pak Agha ada nggak tapi Pak Adam lagi sendiri. Trus aku bilang aja udah kirim pesan ke nomer Pak Agha.""Syukurlah. Semoga terbaca dan segera dibalas ya. Setidaknya kita

  • Jadi Cantik Setelah Dimaki Burik   Bab 39 Pre Ending

    Bab 39 Pre Ending 1Panas terik tak menyurutkan niat Sasti mengejar Agha ke bandara. Menurut info dari dosennya, pesawat satu jam lagi. Ia kahirnya diantar oleh Nina naik motor. Sebab Rizky ada kelas pada jam itu."Ayo buruan, Nin! Nanti telat." Sasti membonceng Nina. Karena sahabatnya itu tak mengizinkannya mengendarai di depan. Sasti kalau sudah terburu bisa-bisa naik motornya tak beraturan dan membahayakan."Sabar, Sas. Rada macet ini jalannya. Tahu sendiri kan jam makan siang. Lagian siapa suruh nggak peduli sama Kapten. Jelas-jelas pas di mall udah tak kasih kesempatan ngobrol. Raga dimana jiwanya dimana," omel Nina pada Sasti yang hanya bisa memutar bola mata jengah.Sasti ikut kesal pada dirinya sendiri yang tidak acuh saat diajak ngobrol sama Agha."Sasti, Sasti bisa-bisanya hal penting malah ga ngerti sama sekali." Sasti makin gemas seiring motor Nina yang hampir sampai bandara Adisucipto yang ada di Yogya. Namun belum juga masuk area parkiran, Nina menghentikan mendadak moto

  • Jadi Cantik Setelah Dimaki Burik   Bab 38 Berakhir

    Bab 38 Berakhir"Sasti, lusa saya ada tugas. Saya mungkin akan lama..." Agah berucap lirih. Namun, Sasti masih sibuk dengan ponselnya membalas pesan Rizky."Hmm, gimana? Mas Agha tadi bilang apa?" Wajah Sasti melongo karena begitu beralih dari fokus melihat layar HP, tatapan Agha tak berkedip mengarah padanya. Sekelebat rasa bersalah menghantui.'Tadi Mas Agha ngomong apa, sih? Duh, kacau aku malah nggak konsen.'"Sasti, kalau kamu pergi dari Rizky, kembalilah pada saya!"Bersamaan kalimat lirih itu, notif pesan di ponsel Sasti berbunyi."Gimana, Mas?" ulang Sasti sambil fokus membalas pesan dari Rizky.Agha berdecak seraya menghela napas panjang. Ia sedikit tertawa mengejek diri sendiri. Teringat lima tahun lalu, ia di posisi Sasti sekarang. Mengabaikan lawan bicara saat sedang mengutarakan perasaannya."Gimana kalau kamu balikan sama saya aja, Sas! Biarkan Rizky kembali dengan Andini." Kali ini Agha memberi tawaran dengan nada bercanda. Entah karena dia sudah jengah atau sebenarnya

  • Jadi Cantik Setelah Dimaki Burik   Bab 37 Kembali Padaku

    Bab 37 Kembali PadakuSampai di mall akhirnya Nina menemani Sasti. Mereka berdua sudah lebih dulu datang di resto Nusantara yang ada di bagian dalam mall itu. Keduanya memesan minuma lebih dulu sambil menunggu Rizky. Sepuluh menit kemudian dosen yang ditunggunya sudah dtaang dengan pakaian kasual. Sasti mengulas senyum melihat penampilan dosennya berbeda dari biasanya."Pak Rizky kelihatan cool, Sas," celetuk Nina sambil menyikut Sasti."Ishhh, bisa diam nggak?""Maaf lama menunggu.""Tidak kok, Pak. Baru juga sepuluh menit," ujar Sasti."Ayo pesan makan dan minumnya lagi ya. Itu sudah hamoir habis," pinta Rizky. Sasti mengangguk lalu menuliskan menu yang ia dan Nina pilih lalu juga pilihan Rizky.Setelah tak sampai 15 menit, makanan mereka datang. Sasti, Rizky dan Nina menikmati makan bersama.Dari kejauhan ada sosok yang tidak diduga Sasti sedang berjalan menuju tempatnya. Penampilannya terlihat berbeda. Mengenakan kaos putih dipadu rompi hitam dan sepatu ketz. Topi yang biasanya di

  • Jadi Cantik Setelah Dimaki Burik   Bab 36 Jangan Salah Pilih

    Bab 36 Jangan Salah PilihKeesokan harinya..."Sasti. Gimana kabarnya? Sudah sehat, ya?" tanya seorang laki-laki paruh baya. Dia ditemani istrinya yang tak lain adalah Bu Santi. Mereka berdua merupakan orang tua Agha."Om, Tante. Alhamdulillah saya sudah baikan. Apa kabar Om dan Tante?" tanya balik Sasti. Netranya tak berhenti melirik kanan kiri dan dekat pintu masuk ruangan. Ia merasa penasaran apakah beliau berdua datang sendiri atau ada lagi orang lain di luar sana.'Ckk, apa yang kamu harapkan sih, Sas. Nggak mungkin Mas Agha datang juga sih. Dia kan sibuk ngurusin kasus di kantornya.' Sasti hanya membatin pikirannya yang terlalu jauh. Sebenarnya ia ingin tahu kabar polisi itu. Hingga rasa kawatirnya hilang. Ia juga ingin berterima kasih. Sebab saat malam kejadian, ia terlanjur pingsan sebelum berucap terima kasih."Om dan Tante baik, Sasti." Pak Projo mewakili. Bu Santi tersenyum lalu duduk di sofa tak jauh dari brangkar. Melihat Sasti mengepaki barang-barang, Pak Projo langsung

  • Jadi Cantik Setelah Dimaki Burik   Bab 35 Bangunlah

    Bab 35 BangunlahDi sebuah bangsal VIP, Sasti dirawat setelah pingsan karena syok melihat kondisi Yuan yang tragis. Beberapa kali ia masih menyalahkan dirinya sendiri hingga dokter harus memberinya obat penenang.Detik termakan oleh menit, menit pun termakan oleh jam. Hingga beberapa hari berlalu, Sasti baru menunjukkan kondisi stabil. Ia mengerjapkan mata di pagi hari setelah melewatkan dua hari tiduran di brangkar."Sasti bangun. Bangunlah Sasti, aku temani di sini." Suara maskulin itu memaksa kedua mata Sasti membuka lebih lebar.Mengerjap kembali, Sasti berusaha mengumpulkan kesadarannya. Masih terlihat samar dan membayang wajah lelaki yang duduk menungguinya."Sasti, ini saya," ujarnya."Hah, Mas...eh hmm ma..maaf, Pak Rizky. Saya tidak salah lihat, kan? Bapak Pak Rizky?" ucap lirih Sasti sambil mengucek matanya."Iya, ini saya. Saya tungguin kamu sadar sudah dua hari ini kata dokter kamu tiduran terus," ucap Rizky dengan nada bercanda."Dua hari?" Ucapan Sasti berjeda. Sepertiny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status