Share

Bab 6

Author: D Lista
last update Last Updated: 2025-12-25 20:35:28

Bab 6

"Sasti, Maaf ya saya tadi nggak sempat jemput kamu dan Nina. Mama minta diantar arisan dengan teman-temannya. Jadi, Saya minta Pak Agha yang jemput karena sejalan," ungkap Rizky dengan wajah penuh penyesalan.

"Tidak apa-apa, Pak. Lagipula saya dan Nina naik motor pun nggak masalah," balas Sasti dengan sopan. Nina turut mengangguk.

"Ya, janganlah. Malam-malam nggak baik keluar naik motor."

"Iya betul kata Pak Rizky," ujar Agha sependapat. Ia masih mengamati dengan seksama sikap sepupunya yang memberi perhatian lebih pada Sasti. Sejak pertama menyambut di acara sosialisasi, Rizky terlihat berbeda perlakuan terhadap Sasti. Ternyata sampai detik ini pun sama.

Nina sendiri hanya tersenyum mengamati sambil membati. Dia sudah hafal kalau Sasti adalah mahasiswi kesayangan dosennya. Ia pun tidak cemburu atau iri hati justru mengompori agar Sasti membalas serupa. Namun, Sasti terlihat enggan, dan memilih fokus kuliahnya.

"Baiklah, ayo Pak Agha kita ajak masuk. Sepertinya makanan sudah siap."

"Reservasi atas nama Pak Rizky," ucap salah satu petugas yang mengenakan seragam.

"Betul."

"Mari silakan." Petugas mengarahkan mereka duduk di meja bundar dengan 6 kursi.

"Terima kasih, Pak," ujar Sasti dan Nina sopan ke petugas. Mereka berempat duduk santai dengan hidangan sudah tersedia di depannya.

Sasti dan Nina saling pandang melihat hidangan lengkap dari Resto Nusantara. Resto yang jarang atau bahkan tidak akan emreka kunjungi kalau bukan dari acara kampus. Mengingat mereka harus merogoh kocek tebal untuk harganya.

"Maaf Pak Agha, sebenarnya ada dua orang lagi yang saya undang, tapi beliau berdua ada keperluan mendadak. Ketua departemen Sains dan ketua divisi riset. Saya mewakili mereka mohon maaf dan sekaligus mengucapkan terima kasih sudah berkenan menjadi narsum," terang Rizky.

"Tidak masalah Pak Rizky. Saya sangat senang memberikan inspirasi dan berbagi ilmu pada mahasiswa. Tentunya akan lebih baik kalau ilmu yang sudah mereka dapat disebarkan luas kembali ke kawula muda. Bukankah betul begitu Mbak Sasti dan Mbak Nina?" Reflek Sasti dan Nina merasa terpanggil. Pembicaran diawali hal serius. Keduanya mengulas senyum.

"Iya betul sekali, Kapten," balas Sasti dengan menarik sudut bibirnya. Netranya tak sengaja bertatapan dengan Agha yang sedari tadi mencuri pandang padanya. Gegas ia mengalihkan pandangan ke arah hidangan di depannya.

"Kira-kira kegiatan follow up apa yang bisa dikerjakan departemen atau mahasiswa, Pak Agha." Agha tampak berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan dosen muda itu. Selain mengamati Sasti, ternyata ia punya hobi baru mengamati tingkah Rizky yang terlihat bucin sama mahasiswinya.

"Hmm, kampus bisa memasukkan agenda itu di Kuliah Kerja Nyata (KKN) atau bisa juga kegiatan pengabdian masyarakat. Sasaran nanti anak muda atau pelajar."

"Oh ya ide bagus. Besok bisa dijadikan bahan rapat dulu. Sasti dan Nina siap jadi tim satgas dari mahasiswa, ya?" pinta Rizky.

"Eh iya, Siap Pak Rizky," jawab kedua mahasiswi kompak.

"Ngomong-ngomong mari dinikmati hidangannya. Nanti keburu dingin. Kalau ngobrol terus tidak akan habisnya," canda Rizky.

Sasti mengamati sajian makanan selera nusantara sesuai nama restonya. Ada sayur asem yang sudah menggoda selera. Bahkan ia sudah melupakan maagnya yang setahun terakhir tidak kambuh. Dilengkapi ikan goreng sambal balado, ayam saus mentega.

"Lengkap sekali menunya, nih," seru Agha sambil mengamati makanan yang tidak pedas. Namun, netranya tidak menemukan lauk yang tanpa olahan cabe.

"Ada menu yang tidak pedas dan tdiak asam, nggak?"

Rizky menautkan alisnya. Menelisik penasaran, sejak kapan sepupunya tidak suka pedas.

"Pak Agha tidak suka pedas dan asam?"

Agha tersentak, ia menyadari kekonyolannya sendiri. Teringat lima tahun lalu, Sasti paling anti makan pedas dan asam karena punya maag.

"Oh, tidak. Menunya sangat lezat. Hanya saja biasanya mahasiswa kan pantang makan pedas dan asam ya Mbak Sasti?"

Sasti yang ditegur langsung terkejut. Ia merasa ingatan masa lalu terulang. Sesaat sebelum perseteruan dengan Agha terjadi.

"Ini sayur asam dan ikan laut sambal tomat enak sekali masakan nenekku, Mas."

"Oya, Sasti terima kasih. Kamu nggak ikut makan sama kami," ajak Agha kala itu bersama rekannya.

"Tidak, Mas. Lambungku perih nanti. Kalian makan saja."

"Sas, kamu sudah aman kan makan-makanan ini?" Nina menyikut lengan Sasti yang memang duduk sampingan.

Di seberangnya Rizky hanya memperhatikan dengan raut khawatir.

"Sakit maagmu sudah nggak pernah kambuh lagi kan, Sas?" Sasti tersenyum kikuk karena semua mata tertuju padanya. Kentara sekali dosennya itu menatap penuh kawatir padanya. Ia jadi nggak enak ditatap Agha dengan penuh tanda tanya.

"Alhamdulillah enggak, Pak," jawab Sasti sungkan.

"Iya kan, beberapa kali acara di kampus Sasti juga aman makan pedas kok, ya." Rizky menjawab hingga mampu menghilangkan kekawatiran Agha.

"Biasanya mahasiswa seperti kami suka pedas Pak Agha, biar makan banyak," canda Nina yang dibalas colekan Sasti.

"Oh syukurlah." Agha hanya menatap Sasti yang mulai ragu dengan makanan di depannya. Ia semakin penasaran sejauh mana sepupunya memberi perhatian lebih. Entah kenapa sudut hatinya merasa ada yang mengganjal. Setitik nyeri menyergap. Apakah ia cemburu? Entahlah.

Akhirnya mereka makan dengan lahap. Satu setengah jam berlalu. Makan malam mereka selesai. Sastu merasa ada yang aneh dengan lambungnya. Sayur asem masuk, lauk ikan balado, ditambah es jeruk. Sudah lama maagnya tidak kambuh ini tiba-tiba saja menyapa.

"Duh, apa gara-gara obrolan tadi. Padahal memang maag aku udah lama nggak kambuh." Ia mengusap-usap perutnya sambil menghela napas panjang.

"Sas, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Nina khawatir.

"Ia nggak pa pa. Ayo pulang."

"Hey kalian mau kemana, saya antar," seru Rizky.

"Terima kasih Pak Agha. Semoga ada kesempatan bekerja sama lagi," ungkap Rizky.

"Dengan senang hati, Pak Rizky. Mereka saya antar lagi saja tidak apa biar sejalan," tawar Agha.

"Jangan, ini sudah tanggung jawab saya. Tadi harusnya saya yang jemput malah nggak bisa."

"Baiklah." Agha akhirnya mengalah. Sasti dan Nina diantar oleh dosennya.

Sepuluh menit perjalanan sampai kos, Sasti hanya diam menahan perih perutnya.

"Kamu kenapa, Sas?" tanya Rizky heran. Tidak biasanya mahasiswinya itu irit bicara.

"Kamu beneran nggak sakit, kan?" lanjutnya. Rizky justru dibuat kawatir oleh Sasti yang pendiam.

"Kekenyangan kayaknya Pak. Maaf," ungkap Sasti malu-malu.

"Oh, ya sudah. Selamat istirahat. Kalian jangan begadang harus jaga kesehatan. Besok ada periapan diskusi riset kolaborasi."

"Siap, Pak." Jawab Sasti sambil mencolek Nina.

"Iya, kami siap menunggu perintah," imbuh Nina.

Rizky melajukan mobilnya meninggalkan kos Sasti dan Nina. Setelah tak terlihat mobil dosennya, Sasti duduk membungkuk menahan perih perutnya.

"Sas, kamu kenapa?" tanya Nina kawatir. Ia turut jongkok mensejajari Sasti yang merintih.

"Nggak tahu nih, Nin. Perutku perih dan mual."

"Jangan-jangan maag kamu kambuh. Padahal udah aman makan pedas dan asam kan?"

Sasti hanya bisa mengangguk.

"Aku juga nggak tahu, Nin."

"Ya udah aku anter ke RS aja, yuk. Naik motor bisa, kan?" ajak Sasti sambil membantu Sasti berdiri.

Lagi, Sasti hanya mengangguk. Ia paling anti mual sampai muntah. Sebab, lambungnya pasti merespon berlebihan hingga makanan di perut keluar semua.

"Aku ambil motor dulu. Kamu tunggu di sini," pesan Nina.

Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti tepat di tempat Sasti berdiri agak membungkuk sambil memegangi perutnya.

"Masuk!" titah seorang pengemudi yang telah menurunkan kaca mobilnya.

"Hah, Pak Agha kenapa di sini?"

"Menurut kamu? Bisa nggak manggilnya nggak formal gitu."

"Hmm, itu Mas."

"Maag kamu kambuh kan? Buruan masuk! Kita ke rumah sakit!"

"Tapi, Mas?"

"Sasti, perlu aku paksa masuk mobil?"

"TIDAK!" teriak Sasti. Disaat yang sama Nina menuntun motornya keluar. Netranya membelalak melihat perdebatan dua insan di depannya.

"Sasti, Pak Agha! Kalian berdua...."

____________

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jadi Cantik Setelah Dimaki Burik   Bab 32 Kabur

    Bab 32 Kabur "Ka...kalian berdua ternyata bersekongkol menghancurkan keluargaku, hah?" Tunjuk Almira bergantian pada Yuan dan Sasti. "YA. Memang kenapa?! Keluarga kalian duluan lah yang salah. Ada seseorang menghilangkan nyawa orang tuaku. Lantas kalau dibalas, salahnya dimana?" ucap Sasti dengan semangat berapi-api. Hingga membuat Almira menunjuk lagi muka Sasti. "Kamu..." Hampir saja kedua tangan Almira menarik jilbab Sasti. Namun, Yuan segera menahannya supaya tidak terjadi adu fisik. "Lepasin Yuan! Aku mau beri dia pelajaran." Almira berusaha memberontak. Namun dengan sigap dua pengawal Yuan memeganginya. "Ikat saja dia biar diam!" titah Yuan pada pengawalnya. Dengan sigap pengawal itu mengeluarkan tali lalu mendudukkan Almira pada salah satu kursi dan mengikatnya. "Apa?! Yuan...kamu!" seru Almira sambil menatap tajam ke arah Yuan. Karena masih teriak-teriak, mulut wanita itu pun diplester. Tak ayal Almira meronta-tonta dengan wajah merah padam. Kedua mata melotot tajam ke

  • Jadi Cantik Setelah Dimaki Burik   Bab 31 Jangan Sentuh

    Bab 31 Jangan Sentuh "Sudah terpasang.""Pastikan sudah diaktifkan."Iya sudah.""Segeralah keluar dari situ."Gegas Sasti hendak keluar kamar Yuan. Ponsel ia masukkan ke saku belum sempat dimatikan. Baru saja sampai ambang pintu. Sepasang tangan dingin menyentuh bahunya. Mengagetkan hingga membuat Sasti terlonjak. Yuan dengan sigap membalik tubuh Sasti hingga mereka berdua berhadapan. Yuan menapakkan kakinya maju sedikit demi sedikit memaksa Sasti mundur hingga membentur pintu."Yu...Yuan.""Apa yang kamu lakukan di kamarku Sasti?"DEG."Hmm, itu Yuan. Ma...maaf. Aku..." Sasti memberanikan diri menahan dada Yuan yang hanya memakai kaos singlet. Rambutnya masih basah membuat otaknya sempat beku.'Astaghfirullah. Kenapa momennya harus begini. Gimana caranya lepas darinya saat ini.'"Aaargh. Yuan!" Tanpa aba-aba Yuan menarik dan menjatuhkan Sasti ke ranj4ng kingsize di kamarnya."Yuan...""Kamu sudah menggodaku Sasti. Apa boleh buat. Aku akan..."Di tempat lain, Adam ngomong sendiri se

  • Jadi Cantik Setelah Dimaki Burik   Bab 30 Apartemen

    Bab 30 ApartemenDi bangsal, Sasti masih sabar menanti Nina yang tak kunjung bangun. Setiap bangun dia merasa kesakitan, dan akan menerima suntikan obat pereda nyeri kata perawat. Lalu tertidur kembali.Sudah 24 jam Sasti menunggu untuk mendapatkan informasi dari Nina tapi nihil. Hanya genggaman tangan yang erat seolah minta tolong padanya saja yang ia rasakan. Wajah ketakutan juga masih tersirat di raut muka Nina. Terlihat keningnya yang sering berkerut."Tunggulah Nina, aku pasti akan mencari kebenarannya." Sasti mematri janji dalam hatinya."Sasti." Sebuah sapaan dari Dokter Yuan mengagetkan Sasti pagi ini."Ya, Dok." Sasti berdiri membenahi pakaiannya juga jilbabnya yang berantakan. Ia sempat terlelap tadi karena rasa kantuk semalam tidak bisa tidur saat menjaga Nina."Sepertinya kamu harus ikut aku hari ini. Gimana?""Tapi saya masih nunggu Nina membaik.""Jangan kawatir. Nina sudah semakin bagus kondisinya. Nanti ada perawat yang menjaga. Aku juga akan mengkontak Dokter Arini bu

  • Jadi Cantik Setelah Dimaki Burik   Bab 29 Pesanmu

    Bab 29 Pesanmu"Lepaskan Dia, brengs*k!" Agha menoleh ke arah sumber suara. Melihat sosok yang mengatainya, juga menyentak tangannya dari memegang bahu Sasti, seperti ada bara api menyesakkan dadanya, reflek Agha menarik kerah orang itu."Kamu yang brengs*k, Yuan! Kamu sudah mencuci otak, Sasti?! Kamu....""Sudah, sudah! Berhenti! Kalian kenapa sih? Seperti anak kecil!" teriak Sasti. Ia berusaha melerai dua lelaki di depannya yang hampir baku hantam. Aura permusuhan di wajah keduanya masih menggebu. Tiba-tiba terdengar suara rintihan dari dalam ruangan. Gegas Sasti meninggalkan dua orang yang masih berdiri mematung itu."Nina! Nina sadar! Bangun, Nina!""Sakit. Sakit," rintih Nina. Sasti merasa trenyuh mendengarnya. Tubuhnya terasa ikut merasakan ngilu. Melihat luka bakar yang ada di tubuh Nina, Sasti tak kuasa menahan tangis. Memang luka Nina lebih sedikit dibanding Rizky. Tetapi luka yang sedikit itupun terasa menyakitkan."Nina, bagian mana yang sakit?" Sasti kebingungan menenenang

  • Jadi Cantik Setelah Dimaki Burik   Bab 28 Lepaskan

    Bab 28 Lepaskan "Yakin mau ke rumah sakit sekarang atau aku antar ke kos dulu?" Yuan menawarkan pilihan lain melihat kondisi Sasti yang murung."Ke rumah sakit saja, Yuan.""Baiklah." Kedua tangan Yuan siap memegang setir. Sasti yang menoleh ke samping mengerutkan dahinya. Menatap lekat pergelangan tangan kanan Yuan. Ada terlihat dua tanda merah di sana."Tanganmu masih sakit, Yuan?" tanya Sasti masih fokus melihat ke samping."Oh, ini cuma sedikit nyeri tidak masalah," sahut Yuan lalu melepaskan kemeja yang dilipatnya sesiku hingga menutupi lukanya."Beneran nggak apa-apa?""Aman, Sasti. Dokternya aku atau kamu?" canda Yuan. Sasti pun mulai bisa sedikit tertawa melihat Yuan yang berkelakar.Sepanjang perjalanan, Yuan sesekali mengajak bicara Sasti supaya tidak diam melamun."Jadi bagaimana? Apa perlu bantuan Papa untuk menyelidiki kasus ayah dan ibumu?" tawar Yuan dengan wajah serius. Sasti tampak berpikir, lalu menarik napas panjang."Ya Yuan, aku butuh bantuanmu kali ini. Aku berh

  • Jadi Cantik Setelah Dimaki Burik   Bab 27 Percaya

    Bab 27 Percaya"Sasti, saat ini yang jauh darimu belum tentu tak suka padamu. Yang dekat denganmu bisa jadi bahaya mengancammu. Tolong pahami kata-kata saya.""Apaan sih? Kapten Agha yang terhormat, tenang saja, saya segera balik setelah urusan di sini selesai.""Sasti. Aku mencintaimu sejak dulu.""Halo, halo, Mas tadi mau ngomong apa?""Oh tidak, lupakan saja! Jaga diri baik-baik. Segera kembali jika urusan sudah selesai. Rizky kondisinya kurang stabil." Ucapan Agha nadanya lirih membuat irama degup jantung Sasti meningkat.'Pak Rizky, semoga tidak terjadi apa-apa dengannya,' batin Sasti sambil menghela napas panjang. Ia menyudahi panggilan dengan Agha."Ada apa?""Kondisi Pak Rizky kurang stabil, aku harus segera balik ke rumah sakit, Yuan." Wajah Sasti terlihat tidak tenang. Namun, Yuan berusaha menghiburnya."Ayo ke ruang kerja Papa. Semoga Papa sudah selesai dengan kerjaannya.""Kalau belum selesai jangan diganggu Yuan, aku nggak enak," ujar Sasti."Tidak Sasti, aku sudah janji

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status