เข้าสู่ระบบBab 6
"Sasti, Maaf ya saya tadi nggak sempat jemput kamu dan Nina. Mama minta diantar arisan dengan teman-temannya. Jadi, Saya minta Pak Agha yang jemput karena sejalan," ungkap Rizky dengan wajah penuh penyesalan. "Tidak apa-apa, Pak. Lagipula saya dan Nina naik motor pun nggak masalah," balas Sasti dengan sopan. Nina turut mengangguk. "Ya, janganlah. Malam-malam nggak baik keluar naik motor." "Iya betul kata Pak Rizky," ujar Agha sependapat. Ia masih mengamati dengan seksama sikap sepupunya yang memberi perhatian lebih pada Sasti. Sejak pertama menyambut di acara sosialisasi, Rizky terlihat berbeda perlakuan terhadap Sasti. Ternyata sampai detik ini pun sama. Nina sendiri hanya tersenyum mengamati sambil membati. Dia sudah hafal kalau Sasti adalah mahasiswi kesayangan dosennya. Ia pun tidak cemburu atau iri hati justru mengompori agar Sasti membalas serupa. Namun, Sasti terlihat enggan, dan memilih fokus kuliahnya. "Baiklah, ayo Pak Agha kita ajak masuk. Sepertinya makanan sudah siap." "Reservasi atas nama Pak Rizky," ucap salah satu petugas yang mengenakan seragam. "Betul." "Mari silakan." Petugas mengarahkan mereka duduk di meja bundar dengan 6 kursi. "Terima kasih, Pak," ujar Sasti dan Nina sopan ke petugas. Mereka berempat duduk santai dengan hidangan sudah tersedia di depannya. Sasti dan Nina saling pandang melihat hidangan lengkap dari Resto Nusantara. Resto yang jarang atau bahkan tidak akan emreka kunjungi kalau bukan dari acara kampus. Mengingat mereka harus merogoh kocek tebal untuk harganya. "Maaf Pak Agha, sebenarnya ada dua orang lagi yang saya undang, tapi beliau berdua ada keperluan mendadak. Ketua departemen Sains dan ketua divisi riset. Saya mewakili mereka mohon maaf dan sekaligus mengucapkan terima kasih sudah berkenan menjadi narsum," terang Rizky. "Tidak masalah Pak Rizky. Saya sangat senang memberikan inspirasi dan berbagi ilmu pada mahasiswa. Tentunya akan lebih baik kalau ilmu yang sudah mereka dapat disebarkan luas kembali ke kawula muda. Bukankah betul begitu Mbak Sasti dan Mbak Nina?" Reflek Sasti dan Nina merasa terpanggil. Pembicaran diawali hal serius. Keduanya mengulas senyum. "Iya betul sekali, Kapten," balas Sasti dengan menarik sudut bibirnya. Netranya tak sengaja bertatapan dengan Agha yang sedari tadi mencuri pandang padanya. Gegas ia mengalihkan pandangan ke arah hidangan di depannya. "Kira-kira kegiatan follow up apa yang bisa dikerjakan departemen atau mahasiswa, Pak Agha." Agha tampak berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan dosen muda itu. Selain mengamati Sasti, ternyata ia punya hobi baru mengamati tingkah Rizky yang terlihat bucin sama mahasiswinya. "Hmm, kampus bisa memasukkan agenda itu di Kuliah Kerja Nyata (KKN) atau bisa juga kegiatan pengabdian masyarakat. Sasaran nanti anak muda atau pelajar." "Oh ya ide bagus. Besok bisa dijadikan bahan rapat dulu. Sasti dan Nina siap jadi tim satgas dari mahasiswa, ya?" pinta Rizky. "Eh iya, Siap Pak Rizky," jawab kedua mahasiswi kompak. "Ngomong-ngomong mari dinikmati hidangannya. Nanti keburu dingin. Kalau ngobrol terus tidak akan habisnya," canda Rizky. Sasti mengamati sajian makanan selera nusantara sesuai nama restonya. Ada sayur asem yang sudah menggoda selera. Bahkan ia sudah melupakan maagnya yang setahun terakhir tidak kambuh. Dilengkapi ikan goreng sambal balado, ayam saus mentega. "Lengkap sekali menunya, nih," seru Agha sambil mengamati makanan yang tidak pedas. Namun, netranya tidak menemukan lauk yang tanpa olahan cabe. "Ada menu yang tidak pedas dan tdiak asam, nggak?" Rizky menautkan alisnya. Menelisik penasaran, sejak kapan sepupunya tidak suka pedas. "Pak Agha tidak suka pedas dan asam?" Agha tersentak, ia menyadari kekonyolannya sendiri. Teringat lima tahun lalu, Sasti paling anti makan pedas dan asam karena punya maag. "Oh, tidak. Menunya sangat lezat. Hanya saja biasanya mahasiswa kan pantang makan pedas dan asam ya Mbak Sasti?" Sasti yang ditegur langsung terkejut. Ia merasa ingatan masa lalu terulang. Sesaat sebelum perseteruan dengan Agha terjadi. "Ini sayur asam dan ikan laut sambal tomat enak sekali masakan nenekku, Mas." "Oya, Sasti terima kasih. Kamu nggak ikut makan sama kami," ajak Agha kala itu bersama rekannya. "Tidak, Mas. Lambungku perih nanti. Kalian makan saja." "Sas, kamu sudah aman kan makan-makanan ini?" Nina menyikut lengan Sasti yang memang duduk sampingan. Di seberangnya Rizky hanya memperhatikan dengan raut khawatir. "Sakit maagmu sudah nggak pernah kambuh lagi kan, Sas?" Sasti tersenyum kikuk karena semua mata tertuju padanya. Kentara sekali dosennya itu menatap penuh kawatir padanya. Ia jadi nggak enak ditatap Agha dengan penuh tanda tanya. "Alhamdulillah enggak, Pak," jawab Sasti sungkan. "Iya kan, beberapa kali acara di kampus Sasti juga aman makan pedas kok, ya." Rizky menjawab hingga mampu menghilangkan kekawatiran Agha. "Biasanya mahasiswa seperti kami suka pedas Pak Agha, biar makan banyak," canda Nina yang dibalas colekan Sasti. "Oh syukurlah." Agha hanya menatap Sasti yang mulai ragu dengan makanan di depannya. Ia semakin penasaran sejauh mana sepupunya memberi perhatian lebih. Entah kenapa sudut hatinya merasa ada yang mengganjal. Setitik nyeri menyergap. Apakah ia cemburu? Entahlah. Akhirnya mereka makan dengan lahap. Satu setengah jam berlalu. Makan malam mereka selesai. Sastu merasa ada yang aneh dengan lambungnya. Sayur asem masuk, lauk ikan balado, ditambah es jeruk. Sudah lama maagnya tidak kambuh ini tiba-tiba saja menyapa. "Duh, apa gara-gara obrolan tadi. Padahal memang maag aku udah lama nggak kambuh." Ia mengusap-usap perutnya sambil menghela napas panjang. "Sas, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Nina khawatir. "Ia nggak pa pa. Ayo pulang." "Hey kalian mau kemana, saya antar," seru Rizky. "Terima kasih Pak Agha. Semoga ada kesempatan bekerja sama lagi," ungkap Rizky. "Dengan senang hati, Pak Rizky. Mereka saya antar lagi saja tidak apa biar sejalan," tawar Agha. "Jangan, ini sudah tanggung jawab saya. Tadi harusnya saya yang jemput malah nggak bisa." "Baiklah." Agha akhirnya mengalah. Sasti dan Nina diantar oleh dosennya. Sepuluh menit perjalanan sampai kos, Sasti hanya diam menahan perih perutnya. "Kamu kenapa, Sas?" tanya Rizky heran. Tidak biasanya mahasiswinya itu irit bicara. "Kamu beneran nggak sakit, kan?" lanjutnya. Rizky justru dibuat kawatir oleh Sasti yang pendiam. "Kekenyangan kayaknya Pak. Maaf," ungkap Sasti malu-malu. "Oh, ya sudah. Selamat istirahat. Kalian jangan begadang harus jaga kesehatan. Besok ada periapan diskusi riset kolaborasi." "Siap, Pak." Jawab Sasti sambil mencolek Nina. "Iya, kami siap menunggu perintah," imbuh Nina. Rizky melajukan mobilnya meninggalkan kos Sasti dan Nina. Setelah tak terlihat mobil dosennya, Sasti duduk membungkuk menahan perih perutnya. "Sas, kamu kenapa?" tanya Nina kawatir. Ia turut jongkok mensejajari Sasti yang merintih. "Nggak tahu nih, Nin. Perutku perih dan mual." "Jangan-jangan maag kamu kambuh. Padahal udah aman makan pedas dan asam kan?" Sasti hanya bisa mengangguk. "Aku juga nggak tahu, Nin." "Ya udah aku anter ke RS aja, yuk. Naik motor bisa, kan?" ajak Sasti sambil membantu Sasti berdiri. Lagi, Sasti hanya mengangguk. Ia paling anti mual sampai muntah. Sebab, lambungnya pasti merespon berlebihan hingga makanan di perut keluar semua. "Aku ambil motor dulu. Kamu tunggu di sini," pesan Nina. Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti tepat di tempat Sasti berdiri agak membungkuk sambil memegangi perutnya. "Masuk!" titah seorang pengemudi yang telah menurunkan kaca mobilnya. "Hah, Pak Agha kenapa di sini?" "Menurut kamu? Bisa nggak manggilnya nggak formal gitu." "Hmm, itu Mas." "Maag kamu kambuh kan? Buruan masuk! Kita ke rumah sakit!" "Tapi, Mas?" "Sasti, perlu aku paksa masuk mobil?" "TIDAK!" teriak Sasti. Disaat yang sama Nina menuntun motornya keluar. Netranya membelalak melihat perdebatan dua insan di depannya. "Sasti, Pak Agha! Kalian berdua...." ____________Bab 43 Extra Part 2"Halo, Mas Agha." Almira akhirnya menelpon Agha."Ada apa, Al? Sasti sudah kamu antar sampai rumah?" tanya Agha."Ckk, nih istrimu lagi ngidam atau apa sih, Mas. Aku disuruh nganter buat mbuntutin kamu. Pokoknya kamu keluar sini. Aku udah gerah mau pulang mandi." Almira sudah mengomel di telpon.Agha pun keluar dari kantornya. Ia memandang keheranan mobil sepupunya terparkir tak jauh dari kantor."Kenapa diantar kesini?""Tuh, tadi di lampu merah lihat Mas Agha naik mobil sama polwan cantik. Dia nggak mau pulang. Maunya ngikutin mobil Mas Agha. Eh tahunya sampai sini malah ketiduran. Tanggung jawab nih, Mas. Aku mau pulang.""Ya sudah. Sana pulang bawa mobilku. Nanti atau besok tak tukar. Biarkan Sasti tidur, kasian kalau dibangunin.""Ckk, hari ini aku dikerjain dua pasangan bener, nih. Nggak Mas Rizky, Mas Agha juga. Hufh."Agha tertawa lebar mendengarnya. Ia bergegas menepuk bahu sepupunya."Sabar, ya. Semoga jodohnya disegerakan."Almira hanya mendecis lalu men
Bab 42 Extra Part 1Satu tahun kemudian..."Ayo buruan sarapannya dipercepat, Sayang. Mas harus mimpin upacara ini," ucap Agha dengan nada halus sambil melihat arloji di tangan kanannya. Sementara sang istri hanya tersenyum sambil menyelesaikan proses mengunyah makanannya dengan santai.Satu bulan sudah mereka resmi menjadi pasangan suami istri. Selesai rangkaian acara pernikahan, mereka sebentar lagi harus kembali ke tempat bertugas yaitu di kampung halaman Sasti. Entah kenapa akhir-akhir ini Sasti manjanya nggak ketulungan. Minta ini itu yang aneh-aneh.Terlihat berbeda sekali dengan watak asli Sasti yang mandiri dan tak pernah manja. Mereka berdua masih tinggal sementara di rumah Pak Projo. Seperti keinginan Bu Santi, Mama Agha. Ia pengin ditemani menantunya sebelum ditinggal bertugas ke kampung halaman. Agha bertugas di kepolisian dan Sasti menjalankan KKN di kampungnya."Sabar, Mas! Aku nggak bisa makan cepat, nih. Nanti kalau mual muntah gimana?""Asam lambung kamu kambuh lagi?
Bab 41 Ending"Maaf, beliau yang akan mengisi acara. Ini spesial karena beliau khusus menangani masalah tema hari ini," ucap polwan itu dengan lembut tapi nadanya tegas.Netra Sasti terbelalak. Gugup langsung menderanya. Ia beberapa kali mengucek mata. Berharap salah melihat bayangan seseorang."Mas Agha?! Ah, mungkin hanya ilusiku saja. Aku terlalu mengharapkan bertemu dia," rutuk Sasti dalam hati. Ia menunduk sedikit lalu menengadah kembali tapi tak sanggup melihat kedatangan narsum. Ia merasa takut hanya bermimpi. Memilih memandang ke arah MC sebentar, ia menunggu kode dari panitia. Sampai tidak ia sadari, narasumber sudah duduk di sampingnya."Apa kabar?" Suara maskulin itu begitu mengganggu konsentrasi Sasti. Mendadak ia gugup setengah mati.'Ya Rabb, kenapa wajah dan suaranya menghantui aku,' batin Sasti masih belum menoleh ke samping kiri."Mbak Sasti Ayuandira, saya sudah siap. Bisa dimulai?"Deg.'Kenapa dia tahu nama lengkapku? Oh, iya tadi kan MC menyebutkan. Tapi kan cuma
Bab 40 SpesialDi luar ruangan, Sasti berdiri bersama Nina di batas antara pengantar dan penumpang. Netranya mengedar kesana kemari mencari keberadaan seseorang. Ia lalu menerima ponsel Nina yang telah terhubung dengan Adam."Halo, Pak Adam. Ini Sasti, Mas Agha bersama Pak Adam?""Maaf Sasti, saya sedang sendiri sekarang. Ada pesan untuknya?""Oh. Bilang aja saya kirim pesan ke nomernya. Terima kasih."Sasti membungkukkan badan sambil memegangi lututnya yang terasa kebas akibat berlarian mengejar waktu. Nyatanya, usahanya untuk bertemu Agha gagal. Sasti masih berusaha menetralkan napasnya yang ngos-ngosan."Gimana, Sas?" tanya Nina trenyuh. Sasti hanya menggelengkan kepala."Terlambat, mereka sudah masuk pesawat, Nin.""Sabar ya, Sas! Tapi kamu sudah pesan ke Pak Adam, kan? Kalau kamu nyari Pak Agha.""Iya. Aku tanya Pak Agha ada nggak tapi Pak Adam lagi sendiri. Trus aku bilang aja udah kirim pesan ke nomer Pak Agha.""Syukurlah. Semoga terbaca dan segera dibalas ya. Setidaknya kita
Bab 39 Pre Ending 1Panas terik tak menyurutkan niat Sasti mengejar Agha ke bandara. Menurut info dari dosennya, pesawat satu jam lagi. Ia kahirnya diantar oleh Nina naik motor. Sebab Rizky ada kelas pada jam itu."Ayo buruan, Nin! Nanti telat." Sasti membonceng Nina. Karena sahabatnya itu tak mengizinkannya mengendarai di depan. Sasti kalau sudah terburu bisa-bisa naik motornya tak beraturan dan membahayakan."Sabar, Sas. Rada macet ini jalannya. Tahu sendiri kan jam makan siang. Lagian siapa suruh nggak peduli sama Kapten. Jelas-jelas pas di mall udah tak kasih kesempatan ngobrol. Raga dimana jiwanya dimana," omel Nina pada Sasti yang hanya bisa memutar bola mata jengah.Sasti ikut kesal pada dirinya sendiri yang tidak acuh saat diajak ngobrol sama Agha."Sasti, Sasti bisa-bisanya hal penting malah ga ngerti sama sekali." Sasti makin gemas seiring motor Nina yang hampir sampai bandara Adisucipto yang ada di Yogya. Namun belum juga masuk area parkiran, Nina menghentikan mendadak moto
Bab 38 Berakhir"Sasti, lusa saya ada tugas. Saya mungkin akan lama..." Agah berucap lirih. Namun, Sasti masih sibuk dengan ponselnya membalas pesan Rizky."Hmm, gimana? Mas Agha tadi bilang apa?" Wajah Sasti melongo karena begitu beralih dari fokus melihat layar HP, tatapan Agha tak berkedip mengarah padanya. Sekelebat rasa bersalah menghantui.'Tadi Mas Agha ngomong apa, sih? Duh, kacau aku malah nggak konsen.'"Sasti, kalau kamu pergi dari Rizky, kembalilah pada saya!"Bersamaan kalimat lirih itu, notif pesan di ponsel Sasti berbunyi."Gimana, Mas?" ulang Sasti sambil fokus membalas pesan dari Rizky.Agha berdecak seraya menghela napas panjang. Ia sedikit tertawa mengejek diri sendiri. Teringat lima tahun lalu, ia di posisi Sasti sekarang. Mengabaikan lawan bicara saat sedang mengutarakan perasaannya."Gimana kalau kamu balikan sama saya aja, Sas! Biarkan Rizky kembali dengan Andini." Kali ini Agha memberi tawaran dengan nada bercanda. Entah karena dia sudah jengah atau sebenarnya







