LOGIN
Pernikahan adalah hubungan yang sakral bagi umat manusia. Baik lelaki maupun perempuan menginginkan kehidupan rumah tangga yang harmonis bersama orang tercinta, tak terkecuali Muniratri Wasista.
Sayangnya, takdir yang baik tak selalu berpihak pada setiap orang. Muniratri yang berstatus sebagai tunangan Putra Mahkota Badra harus merelakan hubungannya kandas. Kasus korupsi yang menjerat sang ayah merupakan penyebab utama.
“Sebelum Pangeran Adipati Agung Hadiwangsa datang ke kamar pengantin, silakan Anda pelajari buku ini terlebih dahulu.” Dayang yang bernama Wulan meletakkan buku berjudul Suami Istri Berbagi Kebahagiaan di atas ranjang.
Muniratri membuka buku bergambar tersebut. Tiap kali ia membalik halaman, dirinya menutup mata yang berbinar menggunakan jari-jemari yang dibentangkan lebar-lebar.
“Buku ini ... sungguh tidak bermoral!” Muniratri mencuri pandang ke halaman yang dia buka.
“Bagaimana bisa laki-laki dan perempuan melakukan ... itu ....” Muniratri melempar buku tersebut ke atas meja, setelah membacanya hingga halaman terakhir.
“Mengapa hidup begitu kejam?!” Wanita itu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Ia merengek, pura-pura meratapi nasibnya yang baru saja menikah dengan Damarteja, sang Pangeran Adipati Karaton Badra.
“Setelah malam ini, apakah aku masih punya muka untuk bertemu Yang Mulia Putra Mahkota?” imbuhnya, masih sama seperti sikap awal, pura-pura menangis.
Wulan tak peduli apakah Muniratri menangis sungguhan atau hanya pura-pura. Ia hanya memedulikan satu hal, menjalankan tugas dari Prameswari Badra dengan baik.
“Anda sudah menjadi istri Pangeran Adipati Agung, tidak pantas berpikir sembrono terhadap Yang Mulia Putra Mahkota. Beliau bukan tunangan Anda lagi.” Wulan diam-diam memasukkan obat perangsang ke dalam arak pernikahan.
Terangnya kamar pengantin berbanding terbalik dengan raut wajah Wulan. Air mukanya menggelap, tak tahan dengan tingkah Muniratri yang tak henti merengek.
Sejatinya, pernikahan Muniratri dan Putra Mahkota tak bisa dibatalkan begitu saja. Pernikahan tersebut diputuskan oleh Ratu Badra yang sebelumnya. Membatalkan pernikahan tersebut sama artinya dengan menentang dekret keraton.
Di sisi lain, keluarga inti Karaton Badra pada pemerintahan saat ini, mengharuskan calon putri mahkota bersih dari segala skandal. Muniratri jelas tak memenuhi standar yang ditetapkan.
Demi menjaga martabat keluarga keraton sekaligus menepati titah mendiang ratu sebelumnya, Gusti Kanjeng Prabu Bahuwirya, Ratu Badra yang berkuasa saat ini pun mengambil jalan tengah. Ia menikahkan Muniratri dengan pangeran yang sudah jatuh, Damarteja.
“Hapus air mata Anda, sebentar lagi Pangeran Adipati datang.” Wulan memberikan sapu tangan pada Muniratri.
Dayang itu kemudian meletakkan satu pisau kecil di bawah bantal pengantin. “Jangan lupa melakukan tugas Anda malam ini.”
“Tunggu sebentar!” Muniratri memberikan sepiring kudapan pernikahan pada si dayang, sebelum yang bersangkutan meninggalkan lokasi.
“Bawa ini keluar. Aku tidak mau Pangeran Adipati menganggapku sebagai perempuan rakus.” Wanita yang masih berpakaian pengantin secara lengkap itu memonyongkan bibir.
Tak ingin mendengar Muniratri merengek, Wulan pun menerima kudapan dari Muniratri. Ia keluar ruangan pengantin yang didominasi warna hijau dan emas.
Tepat setelah Wulan menutup pintu, raut wajah Muniratri berubah seratus delapan puluh derajat. Ia tak melanjutkan aksi pura-pura menangis.
Muniratri membuka kembali buku Suami Istri Berbagi Kebahagiaan. Kali ini, dia mempelajarinya dengan serius.
‘Aku harus menguasai isi buku ini untuk mendapatkan hati Pangeran,’ batinnya.
Muniratri memperhatikan gambar dan instruksi yang ada di dalam buku dengan fokus maksimal. Ia tak menyadari satu hal, bahwa suaminya sudah masuk ke kamar.
“Kelihatannya mudah, tinggal berbaring saja, kan?” gumam wanita yang berbalut kain sutra hijau bercampur coklat dan emas saat melihat halaman yang memperlihatkan gaya wanita di bawah.
“Aku dengar ... putri mantan Wakil Perdana Menteri adalah wanita mulia yang menjunjung tinggi kesusilaan,” bisik Damarteja.
Udara lembut yang berembus tepat di telinga Muniratri membuatnya spontan menengok ke sumber suara. Mereka saling bertukar pandang.
“Ternyata ... itu hanya rumor belaka.” Damarteja tersenyum mengejek.
Ia merebut buku yang sedang dibaca oleh Muniratri. “Mereka pasti tidak akan pernah menyangka bahwa Anda adalah orang mesum.”
Sorot mata Damarteja sukses mengubah Muniratri menjadi patung untuk beberapa saat. Tubuhnya membeku, bahkan berkedip pun tak kuasa.
‘Jadi ... orang ini adalah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Agung Hadiwangsa?’ tanya wanita si patung hidup.
‘Tidak mengecewakan. Beliau benar-benar ... lebih enak dipandang daripada Putra Mahkota,’ batinnya.
“Putri ...?” Damarteja melambaikan tangan ke kanan dan ke kiri di depan wajah Muniratri.
Sang Pangeran Adipati memanggil istrinya ragu-ragu. Ia khawatir jika wanita yang baru saja dia nikahi kemasukan makhluk halus.
“Putri!” seru Damarteja kembali.
Muniratri tak memberi respons apa pun terhadap panggilan Damarteja. Perhatiannya terarah pada tubuh lelaki itu, dari wajah hingga kaki. Terutama kaki ketiga yang terletak di antara kedua pahanya.
“Putri!” Kali ini suara Damarteja terdengar lebih keras karena disertai dengan emosi.
Lelaki itu mengetatkan tangannya di leher Muniratri. “Beraninya putri koruptor melihatku dengan tatapan mesum!” ucapnya dengan suara rendah, tanpa menggerakkan rahang dan gigi. Hanya kedua bibirnya yang bergerak.
Meski Damarteja mencekik sang istri, Muniratri tahu bahwa suaminya tak memiliki niat membunuh. Hal itu terlihat jelas dari cara lelaki tersebut mencekik.
Jari-jemari sang Pangeran hanya menempel di leher Muniratri. Gerakannya kaku, menandakan bahwa yang bersangkutan sedang menahan kekuatan supaya wanita di depannya tak bertemu dengan maut.
Di saat yang sama, jemari Muniratri merayap di lengan kanan bagian dalam sang suami. Ia menjelajahinya mulai dari biseps hingga pergelangan tangan.
Wajah Damarteja semakin menggelap ketika gerakan matanya mengekor di belakang jari sang istri. Namun Muniratri tak peduli akan hal itu.
Wanita itu mendongak, mengunci pandangannya pada sang Pangeran. Ia dengan percaya diri melepaskan jari-jemari milik Damarteja yang menempel di lehernya, satu per satu.
Setelah usahanya berhasil, Muniratri menangkupkan telapak tangan Damarteja ke wajahnya. Ada sensasi hangat dan nyaman tercipta di sana.
‘Aku harus mendapatkan hati Pangeran Adipati, lalu menggunakan tangan ini untuk sebagai pedang untuk balas dendam pada mereka yang telah membunuh keluargaku,’ batin Muniratri.
Tatapan Muniratri tak mau berpaling dari wajah Damarteja. Ia menuntun tangan suaminya, dari pipi turun ke leher, lalu ke bawah.
“Paduka ... tidak ingin membukanya?” goda Muniratri ketika tangan sang suami bermuara di kain benting yang membelit pinggang.
Jantung sang Pangeran berdetak cepat tak karuan. Ada sesuatu yang mengeras. Ia tak bisa mengendalikannya.
“Putri! Baru kali ini Saya bertemu dengan wanita tidak tahu malu seperti Anda!” Damarteja memasang tatapan menghina.
Lelaki itu terdesak. Ia harus pergi dari sana jika tak ingin tertangkap basah. Sayangnya saat sang Pangeran berjalan menuju pintu keluar, Muniratri mendekapnya dari belakang.
‘Bagaimanapun caranya, Pangeran Adipati harus bersamaku malam ini,’ Tatapan Muniratri berkobar.
“Jangan pergi, Paduka,” pintanya. Suaranya lirih, khas wanita rapuh.
Muniratri menyandarkan kepala di punggung Damarteja, meraba-raba dada sang suami dari belakang. Ia mengecupnya sekilas, lalu berpindah ke depan. Mereka saling berhadapan.
Ia menciumi leher Damarteja. Sontak saja lelaki tersebut membeku.
‘Orang-orang bilang mereka saling mencintai, tapi kenapa dia melakukan ini padaku?’ Sang Pangeran menatap lurus ke depan. Sorot matanya kosong.
“Paduka?” panggil Muniratri lirih.
“Paduka Pangeran?” Muniratri menggoyang lengan suaminya.
Masih tak ada jawaban. Wanita itu kemudian mengalungkan kedua tangan ke leher sang suami. Ia mencium bibir Damarteja, dua kali.
“Putri!” Damarteja tersentak.
Tiap sentuhan Muniratri membuat aset berharga sang Pangeran meronta. Ia terus mendesak, meminta dimanjakan.
***
Hi! Makasih sudah mampir. Aku memiliki harapan yang besar kalian menikmati cerita yang kutulis dan lanjut ke chapter berikutnya ^_^
“Kanjeng Putri!”Muniratri yang sudah terlelap kembali membuka mata. Ia bangkit begitu mendengar seruan Ningsih dan bergegas menuju ke pintu masuk sel.“Bagaimana kamu bisa ke sini?” Muniratri meraba-raba tangan Ningsih yang kotor oleh tanah.“Hamba menyusup lewat jalan tikus.” Wanita yang membawa pedang obsidian itu menggaruk rambutnya yang tak gatal.Cengengesan itu hanya sebentar. Begitu sorot mata Ningsih menangkap penampilan majikannya yang lusuh, wanita itu langsung menitikkan air mata.“Kanjeng Putri, maafkan hamba.” Ningsih menyeka pipinya yang basah.“Seandainya hamba ke sini lebih awal, Anda tidak perlu tinggal di tempat terkutuk ini lebih lama.” Ningsih menggenggam erat jeruji besi di hadapannya.“Jangan khawatir. Aku sudah pernah dikurung di penjara bawah tanah bersama mendiang keluargaku. Sel biasa seperti ini ... bukan apa-apanya bagiku.” Muniratri t
“Ibu Suri!”Endah berlari tergesa-gesa membawa sepucuk surat. Begitu mendesaknya surat yang ia bawa, membuat dayang tersebut bahkan berani membangunkan wanita paling agung di Badra.“Ibu Suri.” Endah menggoyang badan Tarisujana.“Hm ... Ada apa?” Ibu Suri masih memejamkan mata.“Ada surat mendesak dari mata-mata di bawah,” ujar dayang yang sudah senior itu.Ibu Suri Tarisujana membuka lipatan kertas kecil yang diberikan oleh Endah. Ia membaca surat itu dengan teliti. Air mukanya menjadi merah.“Bocah sialan!” Ibu Suri Tarisujana meremas surat dalam genggamannya.“Panggil Raden Apta kemari!” Mata Ibu Suri berair karena panasnya emosi dalam dada.“Tapi ini masih dini hari. Raden Apta mungkin masih tidur,” ujar Endah.“Hmmmmm ...!” Ibu Suri melotot.Sebelum Tarisujana menunjukkan amarahnya, dayang tersebut bangkit. Ia berl
“AH!”Muniratri dijebloskan ke dalam sel yang dibangun dengan batu bata. Tak ada jendela. Tak ada lampu. Hanya obor di lorong yang menjadi sumber cahaya.“Kanjeng Putri, maafkan kami kasar. Kami hanya mematuhi perintah.” Seorang penjaga mengunci sel.“Kalau kami memperlakukan Anda dengan baik, nantinya malah kami yang bernasib buruk. Mohon Kanjeng Putri tidak menaruh dendam,” ucap penjaga yang lain.Muniratri hanya membalas perkataan mereka hanya dengan memutar bola mata seraya berdecap. Ia kemudian duduk dengan tenang di ujung ruangan.Wanita itu bersandar di dinding sambil menutup mata. Seiring waktu berlalu, ia malah tertidur lelap.“Ck ck ck. Memang pantas disebut perempuan bandit. Bahkan sudah ditempatkan di sel yang busuk pun masih bisa tidur nyenyak,” cibir Endah.Wanita tua itu datang bersama dengan Ibu Suri. Wanita tersebut membawa segentong air dingin di tangannya.&ldqu
“Aku tidak mau memasuki Ibu Kota sebelum bertemu dengan Yang Mulia Prameswari,” celetuk Muniratri ketika kereta yang dinaikinya sampai di gerbang masuk Ibu Kota.Masyarakat yang berada di sana saling berbisik membicarakan kereta yang dinaiki Muniratri. Pasalnya ia menggunakan kereta mewah bertatahkan emas yang mencuri perhatian semua orang.“Pangeran dari negara mana ya?”“Kalau menurutku bukan Pangeran, tapi Putri. Lihat saja gaya keretanya, banyak ukiran bunga-bunga.”“Tidak penting mau pangeran atau putri. Pertanyaannya kenapa beliau tidak langsung masuk saja?”“Mungkin sedang mengurus dokumen.”“Masa kunjungan negara mengecek dokumennya lama begitu? Bukannya sudah dipersiapkan dengan baik. Lihat saja siapa yang mengawal kereta itu?”“Siapa memangnya?”“Yang pakai emas bentuk Dwara itu ... beliau adalah Wakil Perdana Menteri.”
Jantung Kasmirah tak bisa berdegup secara normal ketika berhadapan dengan Pangeran Adipati Agung. Matanya menengadah ke arah lelaki itu tanpa berkedip.“Paduka ingin saya melakukan apa?” Kasmirah menelan ludahnya dengan berat.Di depan wanita itu telah tersedia beberapa lembar kulit lembu tipis berkualitas tinggi. Tinta dan pena juga sudah siap digunakan.Damarteja menunjuk kertas yang terbuat dari kulit. “Tulis surat untuk Yang Mulia Prameswari. Katakan padanya untuk membebaskan Putri Hadiwangsa serta menjaga keselamatannya.”Sang Adipati Agung mencondongkan tubuh ke depan. Ia sedikit menundukkan kepala agar wajahnya dan milik Kasmirah berada pada ketinggian yang sama.“Kalau sampai Putri terluka sedikit saja, akan pastikan kekuasaan Perdana Menteri akan runtuh,” ucapnya dengan suara lebih pelan.Wajah sang Pangeran yang menggelap membuat napas Kasmirah sesak. Padahal dahulu ia berani menghadapi lelaki it
“Kanjeng Putri! Tetap di belakang hamba.” Ningsih merentangkan kedua tangan.Jeri-jemari sang Senapati Gupati bergerak pelan, tanpa diketahui orang lain. Dia bersiap meraih belati yang tersembunyi di balik bajunya.Di belakang Ningsih, Muniratri melihat ke arah tembok pertahanan kota. Di sana, para prajurit sudah siap meluncurkan anak panah. Damarteja yang memimpin komando.“Kanjeng Putri! Akhirnya kita bertemu lagi,” seru Raden Apta.Sang Wakil Perdana Menteri Badra maju ke arah Muniratri. Ningsih dan juga prajurit yang berada di atas tembok mengambil posisi siap.Mereka hanya perlu komando sang Pangeran. Sekali perintah itu turun, pintu gerbang Agratampa akan menjadi hujan anak panah.“Ada urusan apa Wakil Perdana Menteri datang ke sini?” tanya Muniratri dingin.Tak ada senyuman di wajah sang Putri Hadiwangsa. Hanya tatapan malas yang dia tunjukkan kepada Raden Apta.“Saya ke sini unt
“Aku tidak peduli dengan orang lain. Asalkan bisa memeluk Nimas, itu sudah cukup,” ucap Kamakarna.Jika orang yang memeluknya bukan anggota keluarga keraton, Muniratri tak akan ragu melukai orang tersebut menggunakan cunduk atau benda apa pun yang bisa ia pakai menjadi senjata.Masalahnya, orang itu
Di hadapan para pejabat, Damarteja menjelma bak elang yang sedang mengintai mangsanya. Ia bersikap tenang dan berwibawa, pandangannya memancarkan ancaman.Namun di balik sorot matanya yang dingin, tak seorang pun menyadari bahwa rasa bersalah dan kemarahan tengah bergolak dalam batin sang Pangeran.
Penampilan yang cantik dan rapi, membuat seorang wanita lebih dihargai, daripada mereka yang berpenampilan asal-asalan. Oleh sebab itu, setiap dua menit, Muniratri meraih cermin kecil dan memeriksa riasannya.Bercermin bukan sekadar untuk memastikan penampilan tetap sempurna. Bagi Muniratr
Damarteja bukannya mengantar Muniratri ke kamar, malah membawa wanita tersebut ke petirtaan yang berada di dalam kompleks Keraton. Padahal malam itu, suasana di Badra tak jauh beda dengan ujung utara Antartika.“Masuk!” Damarteja menunjuk kolam di petirtaan menggunakan gerakan







